Indonesian
Saturday 24th of July 2021
273
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Keadilan yang Tertukar

Pada Zaman Khilafah Imam Ali as, saudara beliau Aqil datang menemui sang Imam dan meminta jatah lebih untuk keluarganya. Aqil dari kecil matanya buta, sehingga beliau tidak mampu mendapatkan uang banyak untuk menafkahi keluarganya, selain itu dia juga orang yang dermawan sehingga apapun yang ia punya
Keadilan yang Tertukar

Pada Zaman Khilafah Imam Ali as, saudara beliau Aqil datang menemui sang Imam dan meminta jatah lebih untuk keluarganya. Aqil dari kecil matanya buta, sehingga beliau tidak mampu mendapatkan uang banyak untuk menafkahi keluarganya, selain itu dia juga orang yang dermawan sehingga apapun yang ia punya selalu Ia kasih kepada yang membutuhkan.

Aqil berkata kepada saudaranya, “ Wahai saudaraku Ali, tanggunganku sangatlah banyak,sehingga uang baitul mal tidaklah mencukupi kebutuhanku?”

Imam Ali as berkata, “ Wahai saudaraku Aqil, aku tidak memiliki apa-apa untuk hari ini. Bulan depan pembagian baitul mal. Sahamku untukmu wahai saudaraku.”

Aqil berkata, “ Wahai saudaraku, engkau adalah Khalifah memiliki hak mutlak terhadap baitul mal, sehingga itu bisa engkau pakai untuk menutupi kebutuhanku?”

Imam Ali as berkata, “ Lebih baik engkau angkat pedangmu dan aku angkat pedangku, kita sama-sama menuju pasar Muslimin disana terdapat saudagar-saudagar kaya yang kita bisa jarah hartanya.”

Aqil berkata, “ Wahai saudaraku! Engkau mengajak aku mencuri?

Imam Ali as berkata, “ Wahai saudaraku Aqil, Mencuri dari satu orang lebih baik dari mencuri harta seluruh kaum muslimin.” (Manaqib Ali Abi Thalib Juz.2 hal.109)

Dalam Riwayat lain Imam Ali as meletakan tangan Aqil kedalam api, sehingga Aqil yang buta itu menjerit kesakitan. Kemudian Imam Ali as berkata, “ Wahai Saudaraku Aqil, jika engkau mampu menahan panas Api neraka kelak, saya akan berikan Harta Baitul mal kepadamu.”

Aqil terlihat menyesal dan meminta maaf kepada Imam Ali as kemudian pamit.

Imam Ali as sangat tegas sebagai pemimpin walaupun itu terhadap saudara kandungnya yang telah buta sejak lahir. Imam Ali as lebih takut dengan hitungan dihari Kiamat kelak ketika Allah swt menghisab segala amal perbuatan kita dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Islam mengajarkan kebaikan, keadilan, kedermawanan, pengorbanan dan tenggang rasa. Ketika Islam yang diusung oleh Ahlul-bayt dipraktekan dimasyarakat, maka masyarakat baik Muslim maupun non Muslim akan merasakan keindahan dan kesempurnaan Agama Allah swt tersebut.

Namun jika yang diusung adalah Islam Umawi, maka masyarakat akan semakin benci dan semakin muak sehingga melahirkan pertikaian, perseteruan, kejahatan, pencurian, korupsi, nepotisme dan lain sebagainya.

Keadilan adalah Sifat Ilahiah yang Allah swt karenanya, menciptakan Surga dan neraka, Pahala dan Siksa, Turunnya para Nabi, Rasul, Imam dan kitab-kitab langit.

Jika keadilan sudah tidak ada lagi diantara kaum Muslimin, maka sesungguhnya itulah masa kehancuran Islam. Rasulullah saww bersabda, “ Akan datang suatu zaman dimana keadilan adalah suatu yang asing bagi kaum muslimin, dikarenakan kedhaliman sudah menjadi hal biasa dan lumrah serta sebuah hal yang dianggap normal, ketika itu dari keturunanku akan datang untuk memenuhi alam ini dengan keadilan.”

Tentunya Memenuhi dunia ini dengan keadilan bukanlah tugas Imam Mahdi as semata, melainkan tugas kita semua agar semakin kita tegas dalam membela keadilan sehingga Imam Mahdi as segera hadir ditengah-tengah kita.

Imam Ali as berkata, Ambilah Hikmah, walaupun itu dari orang Kafir.  (Nahjul balaghah hikmah no.1122)

Keadilan adalah Hikmah terbesar Islam, namun kini telah hilang dari tubuh Islam. Negara-negara Arab sibuk dengan membeli saham club sepak bola atau Saudi yang kini sibuk memerangi Negara miskin Yaman, adalah contoh keadilan sudah tidak ada lagi, bahkan dibumi Islam itu dilahirkan.

Indonesia Negara tercinta kita sebagai muslimin terbesar diseluruh dunia sedang menapaki stadium akhir krisis keadilan, sehingga efek dari krisis itu dimanfaatkan oleh orang-orang non Muslim dengan bersikap Adil dijantung Indonesia, Jakarta.

Keadilan yang dipraktekan tanpa mengenal ampun itu seakan memberi angin segar kepada perindu keadilan sekaligus tamparan untuk kita sebagai muslim.

Mari kita ambil kembali Hikmah yang hilang dari kita itu. Mari kita perangi kader keadilan dengan kader keadilan, tidak dengan demo atau sikap anarkis sehingga semakin membuat mereka tertawa dan memberikan kesan bahwa kaum Muslimin tidak mampu bersikap elegant hanya mampu menimbulkan kerusakan.

Apakah saya mendukung Ahok? Saya tidak mendukung Ahok, namun saya mendukung sifat Keadilan yang memberikan manfaat kepada seluruh kalangan dan lapisan tanpa membeda-bedakan.

Mau itu Kristen, Budha, Hindu, Yahudi atau Atheis sekalipun, selama dia menjaga nilai-nilai keadilan untuk rakyat Indonesia maka silahkan dukung? Mereka kan bukan Muslim? Negara kita bukanlah Negara Islam, melainkan Negara Demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Tapi kita kan Mayoritas Muslim, masa dipimpin Kafir? Kalau seperti itu, mulai sekarang silahkan Kader pemimpin Muslim yang Adil lagi bertakwa, keberkahan tuhan kepada mereka yang Adil dan bertakwa. Tidak perlu anarkis dan membuat malu Allah swt dan RasulNya.

Tidak perlu takut kalah karena ketika ada kader Muslim Adil, pasti akan terpilih karena kita Mayoritas, dan selama sistem demokrasi, maka yang diuntungkan adalah Mayoritas. Lalu kenapa sekarang dari tubuh Muslim sendiri sampai mendukung non Muslim?  Karena Muslim sudah sedemikian rindunya dengan keadilan dan telah letih dengan Pemimpin Muslim yang berkutat untuk keuntungan kelompok dan partainya, sehingga ketika keadilan ditampilkan oleh non Muslim, masyarakat hanya melihat keadilannya bukan sosoknya.

Apa yang kita katakan kelak kepada Allah swt ketika memilih pemimpin non Muslim? Ya Allah swt, aku memilih dia, karena keadilannya bermanfaat untuk kaum Muslimin, adapun kekafirannya itu adalah urusanmu dengannya.  Namun, jika aku memilih pemimpin muslim itu, dan saya yakin belum tentu ia berbuat adil, maka ketika ia menzalimi rakyatnya saya memiliki saham dalam kezalimannya karena memilihnya, karena memberikan ia kuasa terhadap masyarakat sehingga ia berbuat dhalim.

Apakah yang antum maksud adalah Ahok? Saya tidak memaksudkan Ahok, karena saya tidak mengetahui sepak-terjangnya di Jakarta. Saya hanya memberikan kaidah Universal yang bisa masuk kesemua kasus. Baik itu di Nigeria ketika memilih presiden yang Muslim, malah semakin parah dan memberikan jalan bebas terhadap Boko Haram untuk membunuhi Muslimin atau Non Muslim. Bahkan mereka menyesal memilih muslim, padahal ketika dipimpin oleh Kristen sebelum president yang sekarang keamanan Nigeria untuk seluruh masyarakat terjamin. Tidak ada pembunuhan ataupun penculikan dan penyiksaan terhadap Tokoh Muslim seperti Syeikh Zakzaki dan pengikutnya.


source : abna24
273
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Aktivis Perempuan Pakistan Menuntut Stop Genocida atas Syiah
HUKUM-HUKUM TAKLID
Pengkhianatan Arab Saudi Kepada Kaum Muslimin
Pembatal-Pembatal Puasa (Bagian Terakhir)
Ibadah karena terbiasa, atau karena Tuhan?
Eropa Menikam Iran dari Belakang
Berteman dengan Cobaan (Bag 1)
Merenungi Paradigma Puasa
Aktivis Muslim Swedia Protes Bungkamnya Dunia atas Kezaliman di Bahrain
Hukum Mengucapkan Selamat Natal kepada Umat Kristiani

latest article

Aktivis Perempuan Pakistan Menuntut Stop Genocida atas Syiah
HUKUM-HUKUM TAKLID
Pengkhianatan Arab Saudi Kepada Kaum Muslimin
Pembatal-Pembatal Puasa (Bagian Terakhir)
Ibadah karena terbiasa, atau karena Tuhan?
Eropa Menikam Iran dari Belakang
Berteman dengan Cobaan (Bag 1)
Merenungi Paradigma Puasa
Aktivis Muslim Swedia Protes Bungkamnya Dunia atas Kezaliman di Bahrain
Hukum Mengucapkan Selamat Natal kepada Umat Kristiani

 
user comment