Indonesian
Monday 28th of September 2020
  70
  0
  0

Keindahan yang dilihat Zainab

Bagaimana kita bisa memahami keindahan Asyura dan memahami makna ucapan Sayidah Zainab as. yang berbunyi, “Aku tidak melihat apa-apa selain keindahan.”?[1]
Keindahan yang dilihat Zainab



Bagaimana kita bisa memahami keindahan Asyura dan

memahami makna ucapan Sayidah Zainab as. yang

berbunyi, “Aku tidak melihat apa-apa selain

keindahan.”?[1]

Jika terkadang, sebagaimana yang diungkapkan sebagian

orang, dikatakan bahwa keagungan ada pada cara

memandang dan bukan pada apa yang dipandang, maka

keindahan pun juga demikian, keindahan terkadang ada

pada cara memandang meskipun tidak ada keindapan pada

apa yang dipandang.

Ketika seseorang memandang dunia ini dengan kacamata

Nidzam Ahsan, maka ia akan melihat banyak hal dan ia

melihat semuanya indah; sehingga ia tidak perlu

kebingungan lagi untuk memandang alam semesta dari

sudut pandang yang mana.

Keindahan dalam hidup selain memberikan ketenangan

dalam jiwa, ia juga memberikan kelanggengan dan

kekuatan untuk memikul beban berat serta kesusahan.

Jika kita memandang Asyura dengan cara pandang yang

indah, sebagaimana Sayidah Zainab as. memandang, maka

peristiwa itu memanglah indah.

Kata-kata Sayidah Zainab as., “Aku tidak melihat

apapun selain keindahan.” adalah ungkapan yang pernah

dikatakan oleh Imam Husain as. bahwa apapun yang akan

terjadi, baik kalah atau mati, semuanya adalah

kebaikan.[2]

Seorang adik memandang Asyura dengan pandangan

keindahan dan kakaknya memandang apa yang dilakukannya

dengan pandangan kebaikan; keduanya saling

menyempurnakan. Banyak sekali perwujudan keindahan

dalam peristiwa Asyura yang mana di sini kita akan

menyinggung beberapa di antaranya:

1. Simbol Kesempurnaan Insani

Seorang manusia dapat terbukti apakah ia telah

mencapai kesempurnaannya, menyatu dengan Tuhannya,

fana pada dzat—Nya, ketika ia berada di medan amal.

Pada peristiwa Karbala terlukis sampai setinggi

manakah derajat seorang manusia. Pada peristiwa

tersebut terbukti bahwa Imam Husain as. adalah figut

kesempurnaan. Poin penting ini begitu indah bagi para

pencari makna peristiwa Asyura.

2. Keindahan Ridha Akan Qadha

Dalam perjalanan maknawiah ifrani, mencapai maqam

keridhaan terhadap qadha Ilahi adalah perjalanan yang

sangat berat dan sukar. Tak perlu heran jika Sayidah

Zainab as. memandang semua yang terjadi di hari Asyura

indah; karena beliau melihat indahnya lukisan yang

menggambarkan Imam Husain as. dan para sahabatnya

telah mencapai derajat keridhaan ini.

Sesungguhnya Imam Husain as. dan para sahabatnya sama

seperti kita; mereka menyukai kesenangan dan membenci

kesusahan. Tapi mereka ridha dengan apa yang

digariskan Tuhan. Karbala menggambarkan keridhaan

mereka. Imam Husain as. di akhir nafasnya berkata, “Ya

Allah, aku ridha dengan qadha-Mu.” Beliau juga pernah

mewasiatkan kepada saudarinya Sayidah Zainab as. dan

berkata, “Relakanlah dan ridhalah atas qadha Allah.”

Derajat keirfanan ini adalah derajat yang sangat

tinggi; yakni tidak menganggap diri sebagai apa-apa

dan hanya melihat Allah serta menganggap selain-Nya

hampa. Dalam khutbahnya ketika beliau memulai

perjalanannya menuju Kufah, beliau berkata, “Kerdihaan

Allah adalah keridhaan Ahlul Bait.”[3]

Inilah dasar kecintaan Al Husain as. dan adiknya

Sayidah Zainab as. tidak memandangnya kecuali sebagai

suatu keindahan.

3. Melukiskan Kebenaran dan Kebatilan

Salah satu keindahan Asyura adalah terlukiskannya

garis-garis kebenaran dan kebatilan, terlukiskannya

sifat-sifat manusia bersifat malaikat dan manusia

bersifat iblis.

Ketika kebenaran dan kebatilan bercampur, kegelapan

yang dimiliki kebatilan membuat cahaya kebenaran

terselimut kabut. Keindahan Asyura adalah, Imam Husain

as. menyalakan lilin yang bercahaya terang benderang

sehingga nampak jelas perbedaan jalan yang benar dan

salah serta menyingkap keburukan musuh-musuh Allah

sehingga tidak ada lagi keburukan yang mengakar.

Inilah keindahan.

Asyura ibarat sebuah lukisan berharga yang

menggambarkan jalur kebenaran dan kebatilan,

memisahkan antara pemeluk Islam yang sejati dari

musli-muslim munafik. Jikalau pengorbanan Imam Husain

as. itu pun kurang menyingkap tira-tirai yang mentupi

kebatilan, khutbah-khutbah Zainab as. di Syam dan

Kufah lah yang telah menyingkapnya sehingga semuanya

nampak jelas di mata umat Muhammad saw. Inilah

keindahan Asyura.

4. Indahnya Kemenangan Hakiki

Salah satu keindahan Asyura adalah munculnya

pengertian baru tentang kemenangan. Selama ini banyak

yang berfikiran salah, mereka menganggap kemenangan

adalah kemenangan militer dan kekalahan adalah

kematian. Asyura membuktikan bahwa keterzaliman, darah

dan kematian di jalan Allah dapat menjadi tombak

kemenangan. Imam Husain as. telah mencapai

kemenangannya dengan peristiwa Asyura; dan betapa

indah kemenangan itu.

Inilah arti kemenangan darah atas pedang-pedang yang

juga pernah disinggung oleh Imam Khumaini dalam

peristiwa revolusi, “Bangsa yang menganggap kesyahidan

sebagai kebahagiaan adalah bangsa yang menang… Kita

menang dalam membunuh dan dibunuh di jalan Allah.”[4]

Orang yang menjalankan tugasnya, dia adalah orang yang

menang dan kemenangan itu adalah kemenangan hakikinya.

Pola pikir seperti inilah yang dimiliki oleh Imam

Husain as., Imam Sajjad as. dan Sayidah Zainab as. Di

mata mereka, meskipun secara lahiriah semua yang

terjadi di hari Asyura menyakitkan, tapi karena

tegaknya Islam hanya dengan cara pengorbanan tersebut,

maka kepahitan itu terasa manis dan indah.

Ketika Ibrahim bin Talhah bertanya kepada Imam Sajjad

as., “Siapakah yang menang?” Beliau menjawab, “Ketika

tiba waktu shalat, kumandangkan adzan dan iqamah, lalu

saat itulah engkau tahu siapa yang menang.”[5] Inilah

keindahan Asyura.

5. Berjalan di Jalur Masyiyah Tuhan

Tidak ada yang lebih indah dari seorang hamba yang

berusaha berperilaku sesuai dengan masyiyah dan

kehendak Allah. Telah tertulis di lauhul mahfudz bahwa

Imam Husain as. serta para sahabatnya terbunuh dan

Sayidah Zainab as. ditawan; dan betapa indah melihat

sekelompok orang seperti mereka berjalan di jalan yang

telah digariskan?

Bukankah sebelumnya secara ghaib Imam Husain as. telah

diberitahu bahwa Allah ingin melihatnya mati syahid?

Bukankah masyiyah Allah menghnedaki keturunan suci

Rasulullah ditawan demi tegaknya agama-Nya? Lalu untuk

apa bersedih akan kematian dan penawanan ini?

Keduanya harus dilaksanakan demi tegaknya agama

Rasulullah saw.; itupun dengan penuh cinta dan sabar!

Bagi Sayidah Zainab as. betapa indah perjalanan yang

mereka lakukan tersebut sesuai dengan apa yang

temaktub di lauhul mahfudz. Ia memandang segala yang

terjadi dari awal hingga akhir sebagai perwujudan apa

yang termaktub di sisi Allah. Ia melihat semua itu

indah. Apakah jika kita memandang Asyura dengan sudut

pandang seperti ini kita tidak menemukan keindahan di

dalamnya?

6. Malam-Malam Penuh Keindahan

Peristiwa ini adalah salah satu manifestasi keindahan.

Mereka adalah orang-orang yang memilih untuk berhenti

dan diam—yang merupakan symbol kesetiaan dan

pengorbanan—ketika berhadapan dengan dua persimpangan

jalan. Mereka lebih memilih untuk menyertai Imam

Husain as. dan di mata mereka hidup tanpa Al Husain

as. adalah kematian dan kehinaan.

Banyak keindahan yang dapat kita temukan di Asyura.

Kita mendengar pujian Imam Husain as. terhadap para

sahabatnya yang setia, bincang-bincang beliau dengan

Qasim, para sahabat yang tidak tidur semalaman hingga

pagi hari, terdengarnya tilawah Qur’an dari bibir-

bibir sahabat di setiap kemah, ungkapan kesetiaan para

sahabat di hadapan Sayidah Zainab as. dan Imam Husain

as., semua itu sangatlah indah; bangaimana Sayidah

Zainab as. tidak melihat keindahan?

Perjuangan Imam Husain as. menjadi suri tauladan bagi

perjuangan-perjuangan melawan kebatilan yang lainnya;

bukankah ini keindahan?

Detik-detik Asyura telah berubah menjadi pelajaran-

pelajaran berharga bagi umat manusia tentang

kebebasan, kesetiaan, iman, keberanian, pemahaman dan

lain sebagainya; apakah ini bukan keindahan?

Darah yang tertumpah di hari itu telah menjadi cambuk

adzab bagi kezaliman dan orang-orang yang zalim;

bukankah ini keindahan?

Musuh-musuh Allah mengira bahwa dengan membantai Imam

Husain as. beserta sahabatnya mereka dapat menggapai

impian mereka. Tapi di mata Sayidah Zainab as., justru

mereka telah menggali kuburan untuk diri mereka

sendiri. Justru cahaya Ahlul Bait as. semakin bersinar

terang mengalahkan gemerlap sinar yang lainnya; nama

mereka kekal dikenang dan agama Allah tegak terjaga.

Sayidah Zainab as. mengerti arti semua pengorbanan

besar ini. Dengan jiwa yang besar, ketika wali Kufah

dengan lidah najisnya berkata, “Apa pendapatmu

terhadap apa yang telah dilakukan Tuhan terhadap

saudara dan keluargamu?”, beliau menjawab, “Aku tidak

melihat apapun selain keindahan.”

 

CATATAN :

[1] Jawaban permasalahan ini adalah penjelasan Jawad

Muhadisi.

[2] A’yanus Syiah, jilid 1, halaman 597.

[3] Mausu’ah Kalimatil Imam Husain as, halaman 328.

[4] Sahife e Nur, jilid 13, halaman 65.

[5] Amali, Syaikh Thusi, halaman 66.


source : alhassanain
  70
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (2)
Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (I)
Perspektif Umat Islam, Antara Nabi yang Bengis atau Penuh Kasih
Imam Jawad, Mutiara Ilmu dan Akhlak
Kewajiban Umat Islam Terhadap Rasul Saw
Manajemen Waktu Perspektif Imam Ali as
Siapa yang Menghilangkan Nama Ali bin Abi Thalib as dalam Sejarah Islam?
Ali bin Abi Thalib di Mata Ibnu Taimiyah
Datangkan Malaikat!
Kautsar Muhammadi

latest article

Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (2)
Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (I)
Perspektif Umat Islam, Antara Nabi yang Bengis atau Penuh Kasih
Imam Jawad, Mutiara Ilmu dan Akhlak
Kewajiban Umat Islam Terhadap Rasul Saw
Manajemen Waktu Perspektif Imam Ali as
Siapa yang Menghilangkan Nama Ali bin Abi Thalib as dalam Sejarah Islam?
Ali bin Abi Thalib di Mata Ibnu Taimiyah
Datangkan Malaikat!
Kautsar Muhammadi

 
user comment