Indonesian
Thursday 4th of March 2021
70
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Putus Asa Atas Rahmat Allah adalah Kekafiran

Putus Asa Atas Rahmat Allah adalah Kekafiran

 

Sumber :

Buku : taubat dalam naungan kasih sayang

Karya : Ayatullah Husein Ansariyan

Ayat-ayat al-Quran dan Hadis-hadis Ahlulbait as, menginformasikan kepada kita bahwa dosa yang menyelimuti diri kita, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, merupakan sebuah penyakit yang diderita oleh manusia. Dan penyakit tersebut tentunya dapat diobati dan dapat berada dalam naungan rahmat dan pengampunan Allah Swt. Orang-orang yang berdosa harus berusaha semaksimal mungkin  untuk mengeluarkan dirinya dari lubang berbahaya ini, dan mereka harus mempunyai harapan bahwa Allah Swt akan mengampuni dosa hamba-hambanya yang bertaubat. Dengan bersandar kepada harapan positif ini, mereka harus tobat dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada Allah Swt, serta mengganti kesalahan yang telah ia perbuat. Manusia mampu melakukan hal ini. Bahkan, aksi tobat dan kembali kepada Allah serta mengganti kesalahan yang telah diperbuat, merupakan sebuah kewajiban. Dan sebaliknya, kelemahan tekad dan sikap putus asa atas rahmat dan ampunan Allah Swt, adalah haram dan sama dengan kekafiran.

Terkait hal ini, Allah Swt dalam al-Quran, berfirman,

يا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَ أَخيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكافِرُونَ    

Hai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87) 

Tentu saja, seseorang yang berharap meraih ampunan dan rahmat Allah Swt, harus melakukan hal-hal penunjang yang dapat mewujudkan harapan tersebut, seperti penyesalan yang sungguh-sungguh atas segala dosa, meninggalkan dosa, mengganti kesalahan yang telah diperbuat, mengembalikan hak orang-orang yang telah diambil, menunaikan ibadah-ibadah yang telah ditinggalkan, dan memperbaiki tingkah laku.

Dinukil dari buku taubat dalam naungan kasih sayang, karya Ayatullah Husein Ansariyan.

 

 

70
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Diantara Karomah Imam Ali bin Musa Ar-ridha as
Apakah Nabi Ibrahim memiliki seorang istri yang bernama Qanthura atau Qathura dan kaum Madyan ...
Kadar Kemukjizatan Al-Quran
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 7-10
Apakah ada literatur-literatur Ahlusunnah yang menyinggung masalah tahrif (distorsi) pada ayat-ayat ...
Iffah Dalam Pandangan Islam
Rahasia Keagungan Sayidah Fatimah as
Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 120-124
Larangan Allah Mendekati Perbuatan Keji
Mengapa Abdul Mutthalib memberikan nama anaknya dengan nama Abdul Uzza?

 
user comment