Kriteria umum para nabi


دیدگاه تربیتی اهل بیت - روز سوم - جمادی الاول 1437 - مسجد جامع بازار -  



Kriteria-kriteria para nabi sering disebut dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an; di sini kita akan membahasnya:

1. Manusia

Al-Qur’an begitu menekankan bahwa semua orang tidak dapat menjadi nabi dan menerima ajaran-ajaran suci Ilahi dari Allah SWT. secara langsung; namun di sisi lain, seorang nabi yang diutus harus dari golongan manusia. Penkanan Al-Qur’an bahwa para nabi adalah manusia sejenis dengan umatnya adalah jawaban untuk alasan-alasan dan kekeraskepalaan sebagian kaum yang enggan untuk beriman.

Sebagian dari mereka beralasan bahwa karena nabi yang diutus adalah seorang yang sama seperti mereka (dari jenis mereka, yakni manusia), mereka enggan mengimaninya:

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?” (QS. Al-Israa’ [17] : 94)

Dalam Al-Qur’an mengenai nabi Nuh AS. disebutkan:

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 24)

Mereka seringkali mempermasalahkan mengapa nabi yang diutus kepada mereka adalah seorang manusia yang sama seperti mereka, makan, minum, berjalan di pasar-pasar dan jalanan umum; mengapa Tuhan tidak mengutus seorang malaikat bersamanya sehingga mereka berdua bersama-sama menghidayahi manusia? Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan  di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan atan bersama- sama dengan dia?, atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil) nya?” (QS. Al-Furqaan [25] : 7-8). Al-Qur’an menjawab bahwa kalian tidak dapat melihat malaikat, kecuali di saat kalian sedang berpindah dari alam ini ke alam berikutnya (seperti saat sedang diturunkan adzab kepada mereka—pent.): Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. (QS. Al-Hijr [15] : 8)

Dalam ayat yang lain Allah SWT. berfirman:

Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun). (QS. Al-An’aam [6] : 8)

Malaikat hanya dapat disaksikan di akhir hayat manusia dan ketika sudah bukan waktunya untuk beramal lagi. Lagipula meskipun jika seandainya Tuhan mengutus seorang malaikat sebagai nabi di tengah-tengah mereka, Tuhan pasti membuatnya berwujud seperti manusia; namun tetap saja mereka akan beralasan “mengapa dia seperti manusia?” Dalam Al-Qur’an disebutkan:

Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri. (QS. Al-An’aam [6] : 9)

Ia juga berfirman bahwa malaikat tidak dapat hidup di tengah-tengah manusia bagai mereka sehingga dapat memberi hidayah layaknya para nabi yang ada. Para malaikat hanya bisa berinteraksi dengan malaikat lainnya; jika seandainya penduduk bumi adalah malaikat, nabi mereka pasti malaikat juga:

Katakanlah: “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.” (QS. Al-Israa’ [17] : 95)

Lagipula, diutusnya seorang nabi dari jenis manusia, adalah sebuah ujian agar nampak siapa saja yang memang beriman dan siapa saja yang sombong dan mengkufuri. Karena dengan ditunjukkannya mukjizat oleh seorang nabi lalu bukti-bukti kenabiannya telah nampak, orang yang berhati bersih pasti menerima dan mengimaninya. Ia berfirman:

Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS. Al-Furqaan [25] : 20)

Dengan demikian, umat manusia diuji apakah di saat mereka menyaksikan kebenaran di depan mata mereka mengimani atau malah mengingkari dengan berbagai alasan? Dan juga dengan demikian para nabi diuji apakah mereka akan bersabar jika umat mereka enggan untuk beriman?

Berdasarkan penjelasan sebelumya, hikmah Ilahi menuntut terhidayahinya manusia; namun manusia biasa tidak bisa menerima wahyu dari Allah SWT. dan para malaikat pun tidak dapat menjadi nabi bagi mereka; maka Ia harus mengutus manusia-manusia pilihan-Nya untuk mengemban risalah ini: Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. Al-An’aam [6] : 124).

 

2. Lelaki

Salah satu kriteria para nabi dalam Al-Qur’an adalah mereka semua lelaki:

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. (QS. Yusuf [12] : 109)

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl [16] : 43)

Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 7)

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut, tidak ada seorang perempuan yang diutus sebagai nabi.

 

3. Satu Bahasa dengan Kaummnya

Kriteria lainnya adalah, para nabi yang diutus kepada kaum tertentu harus berbicara dengan bahasa kaumnya. Allah SWT. berfirman:

Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran. (QS. Ad-Dukhaan [44] : 85)

dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 193-195)

Ayat kedua menunjukkan bahwa Al-Qur’an Al-Karim ini diturunkan dengan bahasa Arab.

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibrahim [14] : 4)

Tujuan diutusnya para nabi adalah memberi hidayah. Hidayah tidak mungkin disampaikan keapada umat manusia jika nabi yang diutus ke tengah-tengah mereka tidak berbicara dengan bahasa yang sama.

 

4. Tidak Meminta Imbalan

Para nabi tidak meminta imbalan apapun dari umatnya atas risalah yang mereka jalankan. Acapkali para nabi berkata: “Kami tidak meminta apapun atas apa yang kami lakukan terhadap kalian. Karena hanya Allah SWT. yang akan memberi imbalan kepada kami.” Surah Asy-Syu’araa’ adalah surah yang paling lengkap penjelasannya mengenai masalah ini; dalam surah ini diceritakan kisah nabi Nuh AS., Hud AS., Shaleh AS., Luth AS., dan Syu’aib AS., kemudian diakhiri dengan ayat yang berbunyi:

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 109, 127, 145, 164, 180)

Banyak pula ayat-ayat yang lain yang menggambarkan bahwa Rasulullah SAW. juga tidak pernah meminta apapun dari umatnya:

Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (QS. Yusuf [12] : 104)

Namun di ayat lainnya, ada beberapa pengecualian bagi Rasulullah SAW.; ia tidak meminta apa-apa dari umatnya melainkan beberapa hal:

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kecintaan terhadap keluargaku.” (QS. Asy-Syuura [42] : 23)

Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. (QS. Al-Furqaan [25] : 57)

Mungkin saja kita beranggapan mengapa Rasulullah SAW. meminta imbalan padahal di ayat sebelumnya secara umum disebutkan bahwa para nabi tidak meminta apa-apa? Jika kita sedikit berfikir lebih jauh, kita akan sadari bahwa apa yang diminta beliau pada dasarnya bukanlah imbalan yang bersifat materi sebagaimana imbalan-imbalan yang diminta oleh orang-orang yang bekerja dengan pamrih. Rasulullah SAW. tidak mencari manfaat dari imbalan yang ia minta; karena itu demi kepentingan umatnya sendiri.

Kedua permintaan Rasulullah SAW. di atas kembali kepada satu tujuan yang sama dengan tujuan pengutusan para nabi, yaitu hidayah. Allah SWT. memerintahkan beliau untuk mengenalkan Ahlul Bait-nya kepada umatnya dan meminta mereka untuk berpegangan kepada manusia-manusia suci tersebut, yang tujuannya adalah hidayah juga. Penafsiran kedua ayat diatas dapat menjadi jelas dengan mebaca ayat ini:

Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Saba’ [34] : 47)

Menarik sekali, dalam doa Nudbah, tiga ayat terakhir saling dikaitkan satu sama lain seperti ini:

“Kemudian, wahai Tuhanku, dalam kitab-Mu Engkau menjadikan kecintaan terhadap keluarga Muhammad SAW. sebagai upah baginya (Muhammad), lalu Engkau berfirman: “Katakanlah, aku tidak meminta upah apapun dari kalian melainkan kecintaan terhadap keluargaku.” Dan Engkau berfirman: “Apa yang aku minta sebagai imbalan adalah untuk kalian sendiri.’ Lalu Engkau berfirman: “Katakanlah, aku tidak meminta upah apapun dari kalian kecuali berjalanlah di jalan Allah SWT.” Kemudian Engkau jadikan Ahlul Bait sebagai jalan menuju-Mu dan keridhaan-Mu.”

 


5. 6. 7. Rasul, Nabi, dan Pembawa Peringatan

Allah SWT. menyebutkan tiga sifat bagi semua nabi: rasul, nabi, dan pembawa peringatan. Meskipun ada sifat-sifat lainnya, namun bukan sifat umum para nabi; ataupun jika sifat-sifat itu umum, tapi tidak terbatas untuk para nabi saja.

Rasul adalah seorang yang memiliki risalah dan diutus dari seseorang (Tuhan) kepada orang lain (umat manusia). Dengan penuh keyakinan dapat dikatakan bahwa kebanyakan para nabi diutus oleh Allah SWT. untuk mengemban suatu risalah tertentu. Tuhan adalah mursil (pengutus), dan umat manusia adalah mursal ilaihim (orang yang rasul diutus kepadanya), sedangkan nabi adalah mursal atau rasul (yang diutus).

Nabi bermakna orang yang mengetahui dan memiliki hal ghaib, yakni kabar-kabar dan berita ghaib.

 

Perbedaan antara Nabi dan Rasul

Sebagaimana yang dapat difahami dari ayat dan riwayat, hubungan antara nabi dan rasul adalah: semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul.

Tepatnya, apa perbedaan antara keduanya? Allamah Thabathabai berkata: nabi dan rasul memiliki artian yang benar-benar berbeda. Yakni pengertian kenabian tidak selalu ditemukan dalam pengertian risalah. Rasul adalah orang yang menyampaikan sesuatu dari seseorang ke orang lain; tapi nabi, hanyalah orang yang mengetahui dan memiliki kabar ghaib. Jadi pengertian dua kata itu berbeda satu sama lain; rasul lebih umum dari nabi. Seseorang yang memiliki kabar-kabar ghaib dan memiliki tugas untuk menyampaikannya adalah rasul. Jadi rasul tidak hanya sekedar nabi, tapi lebih dari itu. Demikianlah pengertian kata nabi dan rasul dari segi istilah.[1]

Namun dari segi bahasa, nabi (orang yang memiliki berita ghaib) dan rasul (orang yang bertugas menyampaikan berita) tidaklah umum dan khusus kaitannya. Karena bisa jadi ada pembawa berita yang tidak mengetahui isi berita yang ia bawa.

 

CATATAN :

[1] Dalam sebagian riwayat disebutkan: rasul adalah orang yang melihat malaikat wahyu dalam keadaan terjaga dan berbicara dengannya, tapi nabi adalah orang yang menerima wahyu di saat ia tidur. (Silahkan merujuk: Syaikh Kulaini:  Al-Kafi (Al-Ushul), Kitab Al-Hujjah, bab Al-Farqu Baina Ar-Rasul wa An-Nabi wa Al-Muhaddath.

سخنرانی های مرتبط
پربازدیدترین
سخنرانی استاد انصاریان سخنرانی مکتوب استاد انصاریان سخنرانی ها سخنرانی تهران مسجد بازار - دهه اول فاطمیه 94 سخنرانی سوم