Indonesian
Sunday 2nd of October 2022
0
نفر 0

Sekilas Tentang Paham Bahaiyyah dan Babiyah

Sekilas Tentang Paham Bahaiyyah dan Babiyah

Bukanlah dari wajah yang indah kan membawa hati
Bukanlah dari yang membuat cermin adalah pemimpi
Bukanlah dari orang yang memasang topi miring dengan kuat
Bukanlah dari yang memakai topi aturan kepemimpinannya kuat
Ribuan titik yang lebih gelap dari rambut terdapat disini
Dan bukan dari yang tak berambut dunia tak ada disini

Dengan sebuah pandangan berencana, kita akan menemukan masyarakat yang senantiasa dinamis, bergerak menuju kesempurnaan, yang berjasa dengan peran-peran yang berbeda dari setiap orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Satu hal yang terabaikan bahwa aktivitas-aktivitas ini menurut pandangan pengaruh dan dampak yang dihasilkan dapat kita bagi menjadi beberapa bagian yang berbeda dan tentunya nilai penyucian dan pengultusan pekerjaan ini akan berbeda pula. Para utusan Ilahi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diembankan adalah sebuah pekerjaan yang mulia dalam menghidayahi umat manusia, sebuah tugas yang amat berat dan sangat bernilai telah mereka pikul di pundak mereka, sebuah peran insaniyah yang paling cantik telah mereka jalankan.
Pada posisi ini kita menemukan orang-orang yang tidak memiliki sandaran kebenaran, telah mengambil posisi mereka dengan kecurangan dan kebohongan yang dikarang semata, sementara mereka mengambil alih peran para nabi dan menisbahkan kepada diri mereka ataukah mereka beralih memiliki kemampuan dan keahlian tersebut.
Hal-hal seperti ini kita temukan dengan mudah dalam alam pemikiran masyarakat. Namun, satu hal yang disayangkan sepanjang sejarah peradaban manusia, akan kita temukan orang-orang yang dalam lingkaran kehidupan spiritual manusia memiliki peranan yang baik dari para nabi telah menipu dengan muslihat tanpa alasan. Sebuah permasalahan yang menurut pandangan masyarakat awam adalah satu hal yang sulit dan tidak mudah untuk dicerna, apalagi menafikan itu sebagai sebuah peristiwa yang pahit dan kita pun akhirnya tidak menemukan jalan keraguan di dalamnya. Untuk orang-orang yang paham akan informasi, orang-orang dalam sejarah seperti Aswad Anasi, Musailamah Kadzdzab, Thalaihah, Sajaah, adalah orang-orang yang mengaku sebagai nabi seperti Nabi Besar Islam saw dan tak dipungkiri sebagian orang ini telah merusak dan menghilangkan keseimbangan dalam agama Islam. Dalam sejarah Mazhab Ahlulbait atau Syi'ah kita akan menemukan orang-orang yang pada zaman para maksumin mengaku sebagai wakil mereka. Bahkan mereka telah dipilih oleh para imam tadi. Akan tetapi, Imam sendiri tidak mengakui keberadaan mereka, bahkan mengutuk mereka. Dalam sejarah, orang-orang seperti ini kita temukan dalam pribadi seperti Abu Khaththab, Abu Harun Makfuf, Muhammad bin Basyir, Muhammad bin Firat….. dan lain-lain. Dari orang-orang yang seperti inilah yang kemudian memunculkan paham Bahaisme dan Baabiisme.
Persoalan ini tidak hanya menjadi penggerak, tetapi juga sebuah hal yang mengejutkan bahkan mendapat sambutan di masyarakat dunia. Keyakinan akan paham ini tiba pada sebuah tahapan yang di dalamnya penjelasan akan kondisi yang ada sekarang adalah satu hal yang sangat penting karena menyangkut akan ontologi keislaman, kepribadian Islam itu sendiri bahkan terkait dengan hakikat dan kebenaran dan layak mendapat jawabannya. Kondisi budaya yang terbuka dari satu sisi, kemudian faktor media informasi dari sisi lainnya, sementara sosial kemasyarakatan dari sisi yang lain telah menjadi penyebab dimana kecenderungan budaya yang cenderung dicermati tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang benar. Makalah ini diusahakan dapat memenuhi kebutuhan pembaca pada tingkat pengenalan akan paham Bahaisme dan paham Baabiisme serta pada posisi yang memungkinkan membawa kita pada rujukan-rujukan yang ada dan secara sadar dapat memilih persoalan-persoalan yang ada, baik pada masalah pemikiran yang berkaitan dengan keyakinan yang hanya bersandar pada naluri semata, ataukah berdasarkan pilihan sadar dari pengetahuan manusia itu tadi. Satu hal yang jelas, tak akan kita pernah temukan pada sebuah pemikiran yang hanya berdasarkan paksaan untuk menjadi sebuah keyakinan. Syarat sebuah pilihan yang baik adalah dengan pelajaran, penelitian yang cermat yang manusia lakukan telah membawanya pada sebuah keyakinan yang benar dari apa yang ia pilih.
Pada awal mukadimah makalah ini, kami akan mengutarakan asal-muasal munculnya paham Bahaisme dan paham Baabisme yang tentunya dengan merujuk pada sumber-sumber yang terpercaya. Selanjutnya di akhir pembahasan, kami akan mengutarakan kritikan-kritikan dan menyampaikan beberapa poin penting terkait dengan paham ini.
Firqah atau kelompok Bahaisme dimulai sekitar abad ke-13 H atau abad ke-19 M yang diusung oleh seorang yang bernama Sayyid Ali Muhammad. Pada tahun 1235 atau 1236 atau sekitar tahun 1820 ia lahir di daerah Syiraz dan pada tahun 1266 H tepatnya 27 Sya'ban ditembak mati atas pelanggaran dan kekafiran yang telah dia lakukan. Dia memulai awal-awal pelajarannya dan sebagian kecil dari pelajaran bahasa Arabnya di kota Syiraz. Lima tahun di Kota Busher melakukan aktivitas berdagang bersama ayahnya. Setelah itu, beberapa tahun di Karbala menjadi murid dari Sayyid Muhammad Kazhim Rasyti (1203-1259 H). Sepeninggal Sayyid Muhammad Kazhim Rasyti, dia memulai awal pahaman Zikriyah, kemudian mengaku Baabiisme yakni sebuah keyakinan yang menyatakan dirinya sebagai pintu pengetahuan dan makrifat ketuhanan dan jalan ketersambungan dengan Imam Yang Dijanjikan. Selanjutnya, dia menyatakan dirinya sebagai Imam Yang Dijanjikan. Pelan-pelan tapi pasti, dia mengaku sebagai penentu syariat dan nabi dan akhirnya telah membawa sebuah ajaran agama baru.
Dalam sebuah kitabnya dengan tema "Ahsanul-Qisas", Ali Muhammad berkata, "Wahai segenap manusia, aku adalah pintu Imam Mahdi." Pada pertemuan Tabriz, secara tegas dia menyatakan diri sebagai Imam Mahdi, "Aku adalah Imam Mahdi yang telah kalian nantikan selama seribu tahun." Disebutkan juga dalam karyanya kitab Al-Bayân dalam bahasa Arab dan Persia, ia membatalkan Islam juga ujung dari kenabian Nabi Muhammad saw. Dalam buku ini dia mengatakan, "Pada setiap zaman Tuhan menurunkan kitab dan hujjah bagi makhluk-Nya dan dari terutusnya Nabi Muhammad seribu dua ratus tujuh puluh tahun yang lalu Dia telah membahasakan kitabnya dan hujjah dari Ali Muhammad." Dalam bahasa Persia dia menyatakan diri lebih mulia dari Nabi Besar Muhammad Saw, dan kitab yang ia bawa jauh lebih tinggi dari Al-Quranul Karim. Dalam kitab Luh Haikal Ad-Din, dia menyatakan diri sebagai Zat Tuhan dan wujud Tuhan itu sendiri yang kita dapat mencium uluhiyah ketuhanan dari apa yang dikatakannya.
Setelah merebaknya pahaman Bahaiat dan Baaiat di Iran menimbulkan banyak kejadian di Iran yang kami tidak ungkapkan dalam pembahasan kali ini. Aktivitas paham ini telah membuat waswas dan mengkhawatirkan para ulama dan pemerintah pada masa itu. Karena itu, Ali Muhammad atau Baab dibawa dari Kota Busher menuju Kota Syiraz. Di kota inilah terjadi perdebatan dan diskusi yang sengit antara dia dengan para ulama kota Syiraz hingga Ali Muhammad menyatakan penyesalannya atas keyakinan yang telah dia katakan. Selanjutnya dia menyatakan taubat di tengah para pengikutnya di Mesjid Kota Syiraz. Namun tak lama kemudian Ali Muhammad Baab mengulang kembali pengakuannya dan mendakwahkannya kepada masyarakat yang kemudian menyebabkannya ditangkap dan dibui. Setelah itu ia dipindahkan dari Kota Syiraz menuju Kota Isfahan kemudian dibawa ke wilayah Azerbaijan dan dikurung di Penjara Cahrik pada tahun 1263 H. Pada akhirnya ia dipindahkan ke Tabriz dan di tengah-tengah dewan ulama yang dihadiri oleh Natsiruddin Mirza vonis hukum kafir ditimpakan kepadanya. Ia pun dijatuhi hukuman tembak pada tahun 1266 H. Ali Muhammad Baab memiliki beberapa tulisan di antaranya Quyumul Asmâ, dan kitab yang paling terkenal adalah kitab Al-Bayân.
Peristiwa-Peristiwa Setelah Kematian Ali Muhammad Baab
Mirza Husain Ali Baha bersama dengan saudara angkatnya Yahya Sobhe Azal adalah dua wajah yang telah dikenal dalam pahaman ini. Kedua orang ini telah terlibat dengan Ali Muhammad pada masa hidupnya. Mirza Husain Ali Baha lahir pada tahun 1232 di sebuah desa di wilayah Mazandaran Iran. Pada tahun 1310 di desa kelahirannya, ia melepaskan nafasnya yang terakhir karena penyakit yang dideritanya dan dikubur di daerah kelahirannya pula. Pendidikan dasar baca tulis diperolehnya melalui sekolah rakyat masa itu. Begitu pula dengan pelajaran bahasa Arab, kemudian dia menjadi sekretaris dalam pemerintah dan setelah beberapa waktu dia bergabung dengan kelompok Sufi sampai kemudian dia bertemu dengan Ali Muhammad Baab.
Satu hal yang mesti diperhatikan di sini adalah para mubalig dari sekte Bahai ini seperti Mirza Husain Ali Baha adalah orang yang dikatakan tidak pernah masuk dalam sebuah sekolah resmi sebagaimana yang ia katakan: "Kami adalah orang-orang yang tak pernah pergi ke madrasah untuk mempelajari cabang-cabang pengetahuan." Akan tetapi, bukti-bukti lain menyatakan bahwa dia adalah orang yang berpendidikan, sebagaimana yang disampaikan juga oleh para penulis dari paham Bahai ini.
Pesan yang ingin disampaikan dari tulisan Husain Ali Baha ini adalah bahwa dia telah mengikuti Nabi Muhammad saw yang mendapat pengetahuan seperti halnya Nabi. Pengetahuan yang dimilikinya itu tidaklah diperoleh dari seorang guru atau dipelajari. Hasil kejadian ini adalah bahwa Ali Muhammad Baab semasa hidupnya telah menjadikan Yahya Zobhe Azal sebagai pengganti setelahnya. Terkait dengan pembahasan ini kami memiliki bukti-bukti kuat yang para pembaca dapat merujuk pada rujukan yang kami sebutkan di bawah.
Semula Mirza Husain Ali Baha menerima apa yang disampaikan oleh gurunya Ali Muhammad Baab. Namun setelah beberapa waktu berlalu terjadilah persaingan di antara keduanya hingga dia mengatakan bahwa Ali Muhammad Baab adalah pengawas yang menjadi pembuka dari kedatangannya dan dia memiliki kitab dan syariat yang berbeda. Pada kalimat yang dimaksud "Man yashuruh Allah" [ayat atau apa?] itu merujuk kepada dirinya.
Pada akhirnya dengan tekanan yang diberikan oleh para ulama Muslim, seketika itu juga pemerintah mengumpulkan kedua orang ini beserta beberapa orang pengikutnya kemudian dikirim ke Bagdad. Di Irak pun timbul perselisihan panjang di antara kedua kelompok ini. Akibatnya, kedua saudara angkat ini beserta dengan para pengikutnya dibawa pemerintah ke pengadilan yang pada saat itu adalah pengadilan pemerintah Utsmani. Pengadilan pemerintah Utsmani memutuskan mengasingkan mereka di dua daerah jauh yang berbeda. Yahya Zobhe Azal bersama keluarga dan pengikutnya diasingkan ke wilayah Qabars, sedangkan Husain Ali Baha diasingkan ke wilayah Aqa di daerah Palestina. Jarak yang jauh ini ternyata tidak menyelesaikan persoalan dari dua saudara angkat ini. Bahkan mereka saling mengafirkan. Pada akhirnya kejadian ini memberikan keuntungan pada Husain Ali Baha dan para pengikutnya yang akhirnya menjadi pengikut mayoritas dari paham Bahai ini.
Sepeninggal Husain Ali Baha, Abbas Aqandi yang bergelar Abdul Baha mengambil alih kepemimpinan kepemimpinan agama Bahai dan menyusun hubungan yang baik dengan negara-negara Barat. Abbas Aqandi adalah anak lelaki tertua dari Husain Ali Baha yang lahir pada tahun 1844 M dan meninggal pada 1921. Disebutkan pula berdasarkan persoalan administrasi dia bertikai dengan saudara kandungnya Mirza Muhammad Ali yang kemudian saling mengafirkan antara satu dengan yang lain. Secara umum dari kejadian ini kami jelaskan sebagai berikut: Husain Ali Baha memberikan gelar pada putranya Abbas Aqandi dengan nama Ghasanu A'zam, sementara untuk Mirza Muhammad Ali dengan gelar Ghasanu Akbar. Dalam surat wasiatnya, ia menulis bahwa kepemimpinan agama Bahai setelah meninggalnya dilanjutkan oleh Abbas Aqandi dan selanjutya digantikan oleh Mirza Muhammad Ali dan ini merupakan perintah dari Tuhan.
Dari perselisihan yang ada ternyata dimenangkan oleh Abbas Aqandi. Bertentangan dengan wasiat yang ditulis oleh ayahnya, Abbas Aqandi mengganti penerus setelahnya kepada Syauqi Aqandi yang merupakan cucu wanita dari Husain Ali Baha dan bukan kepada adiknya Mirza Muhammad Ali, sebagaimana pendapat dari kaum Bahai. Hal ini tidak berakhir sampai di sini karena Abbas Aqandi menambahkan dua puluh empat orang dari keturunan Syauqi akan menjadi pemimpin dari agama Bahai ini dan menjadi penerus rumah keadilan (Baitul Adl) dari agama Bahai. Namun sayangnya, Syauqi tidak memiliki anak yang tersisa. Sampai tahun 1957 Syauqi Aqandi menjadi penerus dari agama Bahai. Setelah dia meninggal, sembilan orang telah terpilih untuk melanjutkan kepemimpinan rumah keadilan yang berpusat di kota Hayfa Israel menjadi pusat kendali dan manajemen dari agama Bahai ini. Pusat agama Bahai yang lain adalah di wilayah Turkmenistan bekas wilayah Rusia yang bernama Haziratul Quds di wilayah Asyqe Abadi dan wilayah Masyreqel Azkar di daerah Chicago, Amerika.
Menurut pendapat agama Bahai dan Baabiat, agama Islam sudah tidak memiliki otentitas keaslian lagi dan masa kenabian Nabi Muhammad saw telah berlalu. Setelah Nabi Muhammad, yang pertama muncul adalah Ali Muhammad Baab dan selanjutnya Husain Ali Baha menjadi zhuhur ilahi (perwujudan Tuhan) di alam semesta ini. Paling minimalnya sampai seribu tahun yang akan dating, perwujudan Tuhan tidak akan datang. Kitab Ayqan dalam bahasa Persia telah diturunkan untuknya di kota Bagdad. Demikian juga kitab Aqdas juga telah diwahyukan untuknya di kota Aqa dengan berbahasa Arab.
Ukuran balig dalam agama Bahai adalah lima belas tahun untuk anak laki-laki dan perempuan tanpa ada perbedaan di antara keduanya. Kiblat mereka adalah kota Aqa di wilayah Palestina yang di sana terdapat kuburan Mirza Husain Ali Baha. Haji mereka terletak di kota Syiraz (salah satu kota di Iran). Kota ini adalah kota kelahiran Muhammad Ali Baha atau rumah yang pernah ditempati oleh Mirza Husain Ali Baha di Irak. Segala sesuatu adalah suci termasuk anjing, babi, dan kotoran manusia.

Kritik Atas Aliran Bahaisme dan Baabisme
Dari pembahasan sebelumnya dapat kita pahami bahwa paham Bahai dan paham Baab bersandar kepada pengakuan dari Ali Muhammad Baab. Segenap firqah yang muncul setelahnya bersandarkan pada syarat dan kebenaran-kebenaran yang diambil dari Ali Muhammad Baab yang dia dijadikan sebagai media perantara selanjutnya dari firqah kelompok ini. Dengan alasan tersebut, segenap penjelasan selanjutnya terkait dengan paham ini akan kami dasarkan pada Ali Muhammad Baab.
1. Kontradiksi dalam Pesan dan Pemberitaan yang disampaikan.
Pada awal munculnya paham ini, Ali Muhammad Baab mengaku sebagai pintu Imam Mahdi dan dia berhubungan dengan Imam Mahdi sendiri. Selanjutnya dia mengaku sebagai Imam Mahdi sendiri dan pada akhirnya mengaku sebagai pembawa wahyu dan risalah kenabian. Ini merupakan dalil yang sangat jelas yang tersembunyi dari pernyataan Ali Muhammad Baab ini. Dari pernyataan ini, kita menemukan tiadanya kejujuran dari apa yang telah dia sampaikan. Orang yang mengaku sebagai pintu Imam Mahdi tidaklah mungkin sebagai Imam Mahdi itu sendiri. Para mubalig dari paham ini mencoba meluruskan dan membenarkan kontradiksi-kontradiksi yang ada namun justru memunculkan persoalan baru bagi mereka.
2. Riwayat-riwayat terkait dengan Mahdiisme dalam Pahaman Baabisme Tidaklah benar
Riwayat tentang Mahdiisme yang disandarkan dalam pahaman Baabisme bahkan menjadi bumerang bagi pahaman ini. Dengan melihat manfaat riwayat yang ada baik dari kitab-kitab hadis Syi'ah maupun Sunni, kami akan coba buktikan kesalahan-kesalahan tersebut. Imam Mahdi yang dimaksudkan dalam ajaran agama Islam adalah beliau (Imam Mahdi-red.) akan memenuhi dunia dengan keadilan, kasih sayang, dan akan memerintah dunia mulai dari timur sampai barat. Sementara Ali Muhammad Baab setelah pengakuan akan kemahdiannya, selama setahun tiga bulan sebelas hari ia bahkan ditangkap oleh pemerintah pada saat itu, pada hari Senin tanggal 27 Sya'ban 1265 H atau 28 Sya'ban di tahun yang sama.
Imam Mahdi (salam Allah atasnya), sesuai dengan riwayat yang ada, dikatakan bahwa ibu beliau adalah seorang budak sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarah Nahj al-Balâghah jilid 7 hal 59. Di dalamnya, dia menyatakan banyaknya riwayat yang berbicara perihal masalah ini. Dalam riwayat Ahlulbait juga kita temukan banyak hadis yang berbicara tentang persoalan yang sama. Sementara Ali Muhammad Baab ibunya bukanlah seorang budak. Menurut riwayat Syi'ah, Imam Mahdi adalah anak Imam Hasan Askari (salam atasnya) dan lahir pada tahun 255 H. Terkait dengan hal ini, banyak riwayat kita temukan dan untuk orang-orang yang ingin meneliti, silahkan merujuk kepada kitab-kitab riwayat yang menyampaikan berita ini. Sementara, Ali Muhammad Baab tentunya tidak termasuk dari yang disampaikan dalam riwayat tadi.
Sebuah kenyataan yang dapat kita temukan disini adalah bahwa paham Bahaisme atau Baabisme yang menyandarkan riwayat-riwayat tentang Mahdiisme telah terjebak dengan periwayatan yang mereka sendiri akui terkait dengan pembahasan akan Mahdiisme. Sementara kalau mereka kemudian tidak menerima riwayat-riwayat yang mereka sampaikan sendiri maka tentunya dasar dan pondasi dari pahaman atau keyakinan ini aka roboh dan hancur. Pasalnya, awal dari keyakinan ini mulai dari pengakuan akan "pintu Imam Mahdi" yang selanjutnya menjadi "Imam Mahdi" itu sendiri. Dan, Nabi Besar Muhammad saw telah membahasakan kedatangan Imam Mahdi. Kalau kemudian mereka--kaum Baab dan Bahai-tidak menerima riwayat tersebut, secara otomatis Ali Muhammad Baab tidak akan pernah menjadi misdaq atau orang yang dimaksud sebagai al-Mahdi.
Cara selanjutnya yang bisa kita lakukan untuk membuktikan akan kebohongannya yang dilakukan oleh Ali Muhammad Baab adalah dengan cara menafsirkan hadis-hadis tersebut dengan cara penafsiran berdasarkan manfaat yang dapat diperoleh oleh si penafsir. Katakanlah, bahwa orang yang dimaksud sebagai al-Mahdi itu adalah Ali Muhammad Baab. Maka bagi orang-orang yang berakal akan melihat persoalan ini sebagai bunuh diri karena bertentangan dengan akal sehat. Selanjutnya, kalau dari riwayat-riwayat yang ada terdapat kemungkinan akan lingkupan dari paham Mahdawiyat ini mencakup Ali Muhammad Baab dengan perantaraan dari pendapat para ulama maka ini adalah satu hal yang kontradiktif juga antara riwayat-riwayat yang lain dari keyakinan kamu Bahai atau Baab sendiri. Dan kesemestaan dari persoalan ini adalah bahwa dari riwayat-riwayat yang ada, saling berseberangan satu sama lain. Ini tentunya disebabkan oleh riwayat-riwayat yang sampai ke tangan kaum Bahai dan Baab, melalui perantara ulama-ulama Islam sendiri. Pada posisi seperti ini segenap ahli hadis atau para muhaddis dalam agama Islam, tentunya akan diragukan dan pada akhirnya pengakuan akan keimamahdian dari Ali Muhammad Baab tidak akan memiliki sandaran sama sekali, sementara Ali Muhammad Baab sendiri dalam pengakuan akan keimammahdiannya disandarkan pada riwayat-riwayat akan Mahdiisme yang diambil dari agama Islam.
Paham Bahaisme dan Baabisme adalah sebuah kejadian baru yang pada awal-awal Islam para ulama Islam sendiri tidak pernah mengakui adanya ketidakautentikan dari ajaran agama Islam itu sendiri. Kalau para mubalig agama Bahai dan Baab memerhatikan secara cermat apa yang disebutkan oleh ulama-ulama Islam baik dari mazhab Syi'ah maupun mazhab Sunni, maka akan ditemukan bahwa pada masa-masa lalu sebelum pengakuan Ali Muhammad Baha tentang pengabaran ulama-ulama Islam akan Mahdiisme dan riwayat-riwayat dari Nabi Besar Muhammad saw terkait dengan Imam Mahdi, maka dengan memerhatikan masalah yang dikemukakan oleh Ali Muhammad Baha, kita akan mendapati riwayat-riwayat asing yang diberitakan sendiri oleh Ali Muhammad Baha.
3. Pengakuan kenabian dengan membatalkan syariat agama Islam dengan Islam itu sendiri tidaklah berkesesuaian
Dengan memerhatikan bahwa paham Bahai ini menerima pintu keislaman, dan menyakini bahwa agama Islam adalah salah satu dari agama samawi, satu hal yang pasti ketika Baab atau Bahai dengan isi dari ajaran yang mereka bawa bertentangan dengan Islam itu sendiri, maka akan muncul sebuah pertanyaan di alam pikiran setiap orang awam bahkan mungkin kafir sekalipun adalah: apakah kita meragukan kebenaran dalam agama Islam itu sendiri atau kebenaran akan pengakuan kenabiannya? Kalau Nabi Muhammad saw merupakan utusan nabi dan mengakui agama yang beliau bawa yang akhir kenabian adalah salah satu dari dasar agama ini, lantas bagaimana kita dapat menggabungkan kedua pahaman ini? Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa syariat yang dibawa itu telah batal, sementara kita menerimanya?
Bahwa akhir kenabian Rasulullah saw dapat kita temukan dari berbagai macam dalil dan alasan baik naqli maupun aqli yang membutuhkan sebuah makalah dengan pembahasan tersendiri, kami tidak singgung dalam pambahasan kali ini. Namun sebagai contoh akan kami angkat sebuah hadis yang dikenal dengan nama hadis Manzilah di mana ulama-ulama Sunni maupun Syi'ah mengakui hadis ini. Dalam hadis ini, Rasulullah saw bersabda, "Yaa 'Ali, anta minni bi manzilati Haruna min musa illa annahu laa nabiya ba'di." (Wahai Ali, kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, kecuali tidak ada lagi nabi setelahku.)
Hadis di atas dari sisi apa saja kita lihat, tidak akan kita dapati persangkaan atau praduga di dalamnya. Sepanjang sejarah Islam, alam pemikiran kaum muslim tentang akhir kenabian Nabi Besar Muhammad saw diyakini sebagai satu hal yang kuat dalam pondasi islam itu sendiri. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 40 dikatakan dengan jelas akan akhir dari kenabian Nabi Besar Muhammad saw. Riwayat yang berbicara tentang hal ini banyak kita dapati. Misalnya, dalam kitab Ma'alim an- Nubuwwah kurang lebih 135 riwayat yang berbicara tentang hal ini dan para pembaca dapat merujuk ke kitab yang dimaksud.
Terkhusus dengan keabadian syariat dalam Islam, dapat kita temukan kalam perbandingan yang dapat diteliti oleh para ahlinya. Kenabian yang terakhir akan memiliki keselarasan dengan syariat yang abadi. Di samping itu, riwayat-riwayat naqli dalam bidang ini pun sangat banyak. Kitab-kitab hadis menyebutkan riwayat-riwayat yang bersumber pada riwayat-riwayat wahyu Ilahi. Dalam sebuah riwayat dikatakan, "Apa yang dihalalkan oleh Muhammad untuk selamanya sampai hari Kiamat adalah halal dan haramnya juga sampai hari Kiamat adalah haram, dan tidak akan pernah berubah menjadi selainnya. Begitu pun sebaliknya."
Dengan memerhatikan apa yang telah berlalu dalam pembahasan kita, dalil ketiga yang kami gunakan di sini, jelaslah perihal kebatilan pengakuan Ali Muhammad Baab. Begitu pun dengan orang-orang yang memiliki pengakuan yang sama baik dari Husain Ali Baha, Abbas Aqandy, Syauqi Aqandi dan lain-lainya yang mengaku nabi dan membawa syariat baru. Lebih-lebih, ketika kita memerhatikan alih kepemimpinan dari Ali Muhammad Baab yang kita dapati keraguan di dalamnya dan bahkan akan semakin menambah silsilah pertanyaan dan akhirnya akan membatalkan apa yang menjadi pengakuan dari Ali Muhammad Baab, orang-orang yang setelahnya yang mengaku pewaris dari ajaran yang dia bawa tentunya akan menjadi tidak berdasar. Poin selanjutnya dari apa yang diserukan oleh Ali Muhammad Baab adalah pengingkarannya akan hari Kebangkitan dan hari Pembalasan ketika hal ini bagi agama-agama samawi baik Islam, Masehi, dan Yahudi meyakini konsep ini. Tentunya ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Ali Muhammad Baab, dalam al-Quran dalam surah-surah yang berbeda, terkait dengan konsep ini seperti Surah al-An'am ayat 29 dan 30, Surah Yasin ayat 51-52, Surah Ahkaf ayat 33.
Permasalahan lain yang muncul dari paham Bahai adalah kepemimpinan dari Abbas Aqandi seperti yang telah kami utarakan pada pembahasan di atas. Semua ini merupakan peristiwa pertentangan dua saudara kandung yang kemudian berakhir dengan pengafiran antara yang satu dengan yang lain setelah meninggalnya Husain Ali Baha. Peristiwa pertentangan ini adalah sebuah saksi yang sangat jelas bahwa agama ini atau paham ini sama sekali tidak memiliki dasar Ilahi atau sandaran akan wahyu Ilahi karena pilihan Tuhan tidak akan pernah dilihat sebagai satu hal yang remeh dan dapat dianggap mudah. Kalau Husain Ali Baha mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya, maka urusan pergantian kepemimpinan akan berlanjut sesuai dengan wasiat dari ayah mereka, namun demikian bagaimana bisa kedua dari saudara ini bertikai antara satu dengan yang lain? Bagaimana mereka bisa mengafirkan sesamanya? Bagaimana Abbas Aqandi tidak melaksanakan perintah dari ayahnya dan memilih Syauqi Aqandi sebagai pengganti setelahnya dengan dua puluh empat keturunan pengganti setelahnya? Bagaimana mungkin Abbas Aqandi dengan ramalan pengganti setelah Syauqi ada dua puluh empat keturunan pengganti darinya sementara Syauqi tidak pernah punya anak sampai akhir hayatnya?
Poin-poin peringatan:
1. Salah satu poin dari kehidupan Ali Muhammad Baab yang dapat kita lihat yang kaum Bahai juga mengakuinya adalah surat taubat yang dikirimkan untuk raja Iran pada waktu itu. Isi surat sangat jelas dan pembaca dapat merujuk pada alamat yang dimaksud di bawah. Surat ini memiliki posisi sangat penting karena dalam agama-agama samawi sebelumnya tidak pernah kita temukan seorang nabi yang menyatakan taubatnya dengan surat seperti itu sampai menyebabkan lemahnya keimanan seseorang.
2. Dari sejarah agama Bahai kita menemukan pemimpin-pemimpin mereka dalam perlindungan negara-negara asing dan penjajah, dan bagi para peneliti hal ini akan menyisakan ribuan pertanyaan, seperti pada saat Husain Ali Baha tertangkap dan dipenjarakan duta besar Rusia berusaha keras untuk membebaskannya, Syauqi Aqandi dalam kitab (Qarn Badi) mengutarakan masalah ini. Pada kitab lain Qaule Husain Ali Baha ia juga mengutarakan masalah yang sama. Pada masa Perang Dunia Kedua pada saat perayaan Inggris Abbas Aqandi mendapatkan medali penghargaan dari Nite hood dan hal ini juga diakui oleh Syauqi Aqandi.
3. Makalah ini berusaha menyajikan persoalan dari dua arah dengan sumber-sumber yang diakui dari kedua pihak pula dan akhirnya para pembacalah yang akan memberikan penilaian. Menurut pendapat penulis tanpa mengenal Islam, lebih-lebih dalam pembahasan Mahdiisme, kita tidak akan pernah mampu memberikan penilaian tentang hubungan Bahaisme dan makalah ini mencoba menyajikan itu. Disebutkan bahwa pada awalnya beliau adalah seorang yang menyakini paham Bahai dan menulis sebuah buku untuk mempertahankan kebenaran agama Bahai. Buku itu berjudul Al-Kawakibu Dirayah. Setelah itu dia kembali kepada Islam dan menulis sebuah buku untuk menentang paham Bahai dengan judul Kasyful Hayal. Untuk buku yang berbahasa Arab sebuah buku yang ditulis oleh Allamah Balaghi dengan judul Nashaihul huda wa Din ila man kana musliman wa sara babiyat adalah sebuah kitab terbaik untuk melawan paham Bahaisme. Para mubalig dari paham Bahai sebagian menyadari dan mayoritasnya tidak menyadari bahwa mereka mengatakan kalau dalam pahaman Bahai tidak akan ditemukan pertentangan. Sementara dalam Islam begitu banyaknya pertentangan yang muncul hingga menyebabkan dalam memilih akan membuat kita bingung. Sementara apa yang telah kita kupas sebelumnya bahwa di antara para pemimpin dari kaum Bahai sendiri perselisihan dan pengkafiran antara pemimpin yang satu dengan yang lain dapat kita saksikan. Berdasarkan perselisihan dan pertikaian dari para pemimpin agama Bahai, maka pengikut-pengikut dari Yahya Zobhe Azal membentuk sebuah kelompok sendiri yang dikenal dengan nama Azaliah sementara pengikut-pengikut dari Husain Ali Baha membentuk pahaman Bahai, dan orang-orang yang tidak mengakui kedua paham ini tadi menyatakan diri sebagai Baabiat. Setelah dua abad berlalu, paham ini dan Islam tidaklah dapat dibandingkan baik dari sisi zaman maupun dari jumlah pengikut. Berlalunya waktu dari pahaman dan keyakinan Bahai atau baabiat telah memunculkan pertikaian yang didasarkan pada kesukaan diri dan kesenangan dari tiap pemimpin sekte ini.[]

0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Imam Jalaluddin As-Suyuthi Tentang Peristiwa Karbala
Peristiwa-peristiwa yang terjadi sepeninggal Rasulullah saw
Penyebab Manusia Takut Mati
Mubahalah, Bukti Kebenaran Islam
Hati-Hati, Inilah Pintu-Pintu Setan Untuk Menggoda Manusia
Arti Fatimah bagi Putri Rasulullah
Jarak Antara Kebenaran dan Kebatilan
Asyura dalam Ucapan Maksumin a.s. (Bag. 3)
Mengenal Imam Ali Zainal Abidin as
Hadis Nabi saw: “Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali”

 
user comment