Indonesian
Wednesday 22nd of September 2021
215
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Menyoroti Perjanjian Lama

Menyoroti Perjanjian Lama

Sebelum tersusun menjadi kumpulan pasal-pasal, Perjanjian Lama merupakan tradisi rakyat yang tidak mempunyai sandaran, kecuali dalam ingatan manusia, satu-satunya faktor untuk tersiarnya idea, tradisi-tradisi tersebut selalu dinyanyikan.

Edmond Jacob menulis: “Dalam tahap permulaan, semua orang menyanyi; di Israil seperti di tempat lain, puisi lebih dahulu daripada prosa. Bani Israil menyanyi baik dan banyak. Nyanyian itu mempunyai bermacam-macam ekspresi, tergantung kepada kejadian-kejadian dalam sejarah dengan enthusiasme yang memuncak atau putus asa yang menenggelamkan.” Mereka menyanyi dalam keadaan yang bermacam-macam, dan Edmond Jacob menyebutkan sebagian di mana nyanyian yang menyertainya terdapat dalam Perjanjian Lama: nyanyian makan pagi, nyanyian akhir panen, nyanyian yang menyertai pekerjaan, seperti nyanyian Sumur (Bilangan 21, 17), nyanyian perkawinan, nyanyian kematian, nyanyian perang yang sangat banyak dalam Bibel seperti nyanyian Debarah (Hakim-hakim 5, 1-32) yaitu nyanyian yang memuja kemenangan Israil yang dikehendaki oleh Yahweh dalam suatu peperangan yang dipimpin oleh Yahweh sendiri (Bilangan 10, 35). Ketika Peti Suci sudah pergi, Musa berkata-kata: “Bangunlah Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuhmu terserak-serak. Mudah-mudahan mereka yang benci kepadamu akan lari tunggang langgang di hadapan wajahmu.”

Nyanyian-nyanyian itu juga merupakan kata-kata mutiara serta perumpamaan kata-kata yang berisi berkat atau laknat, peraturan-peraturan yang dibikin untuk manusia oleh para Nabi sesudah mereka itu menerima perintah Ilahi.

Edmond Jacob mengatakan bahwa kata-kata tersebut diwariskan melalui media keluarga atau melalui rumah-rumah ibadat dalam bentuk sejarah Bangsa yang terpilih oleh Tuhan. Sejarah ini kemudian menjadi dongeng seperti dongengan Jatam (Kitab Hakim-hakim 9, 7-21) dimana tertulis: “Pohon-pohon itu berjalan untuk mengusapkan minyak kesturi kepada raja mereka dan mereka berkata kepada pohon Zaitun, pohon Tien, pohon anggur dan pohon duri.” Hal tersebut mendorong Edmond Jacob untuk menulis “karena dijiwai oleh fungsi dongeng, maka penyajian hikayat seperti tersebut di atas tidak dirasakan janggal karena mengenai soal-soal dan periode-periode yang sejarahnya tak dikenal orang.”

Edmond Jacob kemudian menyimpulkan: “Adalah sangat mungkin bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama tentang Nabi Musa dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi tidak sesuai dengan yang terjadi dalam sejarah, akan tetapi para tukang dongeng dalam masa riwayat secara lisan sudah dapat mengisikan keindahan dan imaginasi untuk merangkai episode yang bermacam-macam, sehingga mereka berhasil menyajikannya sebagai sejarah yang nampak besar kemungkinan kebenarannya bagi pikiran-pikiran yang kritis, yaitu sejarah yang mengenai asal alam dan manusia.”

Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di Kan’an, yaitu kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al-Masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan meriwayatkan dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara tepat, meskipun yang dikatakan itu mengenai hal-hal yang harus tepat sekali, yakni soal hukum. Mengenai hukum ini, perlu diterangkan bahwa hukum sepuluh (Dekalog) yang dikatakan telah datang langsung dari tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam Perjanjian Lama menurut dua versi yakni: Kitab Keluaran (Exodus 20, 1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30). Jiwanya sama, tetapi perbedaan tetap ada. Kemudian muncul keinginan untuk menetapkan dokumentasi-dokumentasi penting seperti kontrak, surat-surat, daftar orang-orang (hakim-hakim, pegawai-pegawai tinggi di kota-kota), daftar silsilah keturunan, daftar kurban-kurban dan daftar harta jarahan. Dengan begitu terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yang kemudian mengisi kitab-kitab (pasal-pasal) Perjanjian Lama yang sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap pasal terdapat bentuk literer yang tercampur. Para ahli kemudian menyelidiki sebab-sebab yang mendorong untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda menjadi satu.

Adalah sangat menarik untuk membandingkan penyusunan Perjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan apa yang terjadi di bidang lain dan pada zaman yang berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.

Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada zaman Kerajaan Perancis. Tradisi-tradisi lisan telah muncul lebih dahulu sebelum peristiwa sejarah besar dicatat dalam sejarah, yakni kejadian seperti perang untuk mempertahankan agama Kristen, drama tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah. Dengan cara begitu mulai abad XI M timbul nyanyian dan tarian dimana yang benar dan yang khayal menjadi satu dan menjadi satu epik (syair kepahlawanan). Di antara epik situ yang termasyhur adalah syair Roland (Chanson de Roland), tentang pahlawan perang yang bernama Roland yang menjadi komandan penjaga Kaisar Charlemagne (Karl yang Agung) waktu kembali dari berperang di Spanyol. Pengorbanan Roland bukannya satu dongengan yang dibikin-bikin untuk sekedar dongengan; pengorbanan Roland terjadi pada tanggal 5 Agustus tahun 778, yaitu pada waktu serangan orang Basque (Penduduk pegunungan Pyrenes). Karya kesusasteraan tidak semata-mata bersifat legenda, tetapi mempunyai dasar sejarah; walaupun begitu ahli-ahli sejarah, tidak-memahaminya secara harfiah.

Persamaan antara lahirnya Bibel dan kesusasteraan yang non-agamis nampaknya memang riil. Hal ini tidak berarti bahwa kita menolak keseluruhan teks Bibel yang dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kumpulan buku-buku mitologi, yakni seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan; orang dapat percaya kepada kebenaran bahwa Tuhan menciptakan alam, bahwa Tuhan menyerahkan sepuluh perintah kepada Musa, bahwa Tuhan mencampuri urusan-urusan manusia, umpamanya pada ajaran Raja (Nabi) Sulaiman; orang dapat percaya bahwa essensi dari kejadian-kejadian tersebut telah disampaikan kepada kita, akan tetapi kita harus ingat bahwa rincian penyajian soal tersebut harus diperiksa dengan teliti, dengan kritik yang ketat, karena sumbangan manusia dalam menjadikan tradisi lisan, menjadi buku tertulis adalah sangat besar.



Siapa Pengarang Perjanjian Lama?

Kebanyakan pembaca Perjanjian Lama yang menerima pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan mengulangi apa yang pernah mereka baca dalam Kata Pengantar Bibel, yaitu yang mengatakan bahwa pasal itu semua adalah karangan Tuhan, walaupun ditulis oleh orang-orang yang mendapat wahyu dari Ruhul Kudus.

Kadang-kadang orang yang memperkenalkan Bibel tadi menganggap cukup dengan keterangan singkat tersebut, dan dengan begitu ia menutup kemungkinan untuk pertanyaan lebih lanjut; tetapi kadang-kadang ia menambah penjelasan bahwa mungkin ada perincian-perincian yang ditambahkan orang dalam teks lama, akan tetapi meskipun begitu, perbedaan faham tentang sesuatu ayat, tidak merubah kebenaran

keseluruhan dari ayat tersebut. Orang selalu menekankan kepada “Kebenaran” yang dijamin oleh Kepala Gereja, yaitu orang yang mendapat bantuan dari Ruhul Kudus, satu-satunya pihak yang berhak menerangkan sesuatu kepada orang-orang yang percaya. Bukankah Gereja, semenjak konsili-konsili abad ke IV telah meresmikan daftar Kitab Suci yaitu daftar yang dikuatkan oleh konsili Florence (1441), Trente (1546) dan Vatikan I (1870) untuk menjadi Kanon (Injil Induk).

Belum lama ini, setelah mengeluarkan bermacam-macam dekrit, Paus telah mengumumkan suatu keterangan tentang Revelasi (wahyu) dalam bentuk suatu teks yang sangat penting yang disusun selama tiga tahun (1962 - 1965). Kebanyakan orang yang membaca Bibel mendapatkan keterangan-keterangan yang menenteramkan hati itu pada permulaan cetakan modern serta merasa puas dengan jaminan kebenaran yang telah diberikan selama beberapa abad dan mereka itu tak pernah memikirkan bahwa orang dapat mendiskusikan isi Bibel.

Akan tetapi jika seseorang membaca buku-buku yang ditulis oleh ahli-ahli agama, yaitu buku-buku yang tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh orang awam, ia akan menyadari bahwa soal otentitas kitab dalam Bibel itu jauh lebih kompleks daripada pemikiran orang biasa. Jika salah seorang membaca umpamanya, cetakan modern Bibel yang diterjemahkan ke bahasa Perancis di bawah asuhan Lembaga Bibel di Yerusalem dan diterbitkan dalam bagian-bagian terpisah, ia akan mendapatkan suara yang sangat berbeda, dan ia akan mengerti bahwa Perjanjian Lama, seperti juga Perjanjian Baru, telah menimbulkan problema-problema dimana para ahli tafsir tidak menyembunyikan unsur-unsurnya yang menimbulkan khilaf.

Kita juga mendapatkan unsur-unsur yang pasti dalam pembahasan yang lebih ringkas akan tetapi obyektif, seperti dalam buku karangan Professor Edmond Yacob “Perjanjian Lama,” yang diterbitkan oleh Presse Universitaire de France, dalam seri yang berjudul: Que Sais-je, (Apakah yang saya ketahui?). Buku tersebut memberi gambaran yang menyeluruh.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa pada permulaannya, seperti yang dikatakan Edmond Jacob, terdapat beberapa teks Perjanjian Lama dan bukan teks tunggal. Pada abad III SM sedikitnya ada tiga teks Ibrani, yaitu teks massorethique, teks yang dipakai untuk terjemahan Yunani dan teks kitab Torah (Pentateuch) Samaria. Pada abad pertama SM, ada kecenderungan untuk membentuk teks tunggal, akan tetapi hal tersebut baru terlaksana satu abad kemudian.

Jika kita mempunyai tiga teks tersebut di atas, tentu kita dapat melakukan studi perbandingan dan kita mungkin dapat mempunyai idea tentang teks yang asli, akan tetapi kita tak mempunyai teks tersebut di atas. Selain gulungan-gulungan yang terdapat di gua Qumran pada tahun 1947, yaitu gulungan yang berasal dari zaman sebelum timbulnya agama Kristen, dan masa dekat sebelum munculnya Nabi Isa, telah terdapat Papyrus Decalogue berasal dari abad II M, dan mengandung perbedaan-perbedaan dari teks klasik, begitu juga fragmen Perjanjian Lama, yang ditulis orang pada abad kelima M. (Fragmen Geniza, Cairo); selain itu semua, teks Bibel Ibrani yang paling tua adalah teks abad IX M.

Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani terjadi pada abad III sebelum Masehi. Teksnya dinamakan Septante (berarti tujuh puluh; yakni jumlah orang yang menerjemahkan). Terjemahan tersebut dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Alexandria. Pengarang-pengarang Perjanjian Baru bersandar kepada teks tersebut, dan teks tersebut dipakai orang sampai abad VII M. Pada waktu sekarang teks Yunani yang dipakai Dunia Kristen adalah manuskrip (tulisan tangan) yang dinamakan Codex Vaticanus yang disimpan di Vatican dan Codex Sinaiticus (berasal dari Sinai) yang disimpan di British Museum di London. Manuskrip tersebut ditulis pada abad IV M.

Terjemahan dalam bahasa Latin dilakukan oleh Jerome dari dokumen-dokumen Ibrani pada permulaan abad V M. Terjemahan Latin ini kemudian dinamakan Vulgate lantaran telah tersebar di seluruh Dunia sesudah abad VII M.

Perlu kita ketahui juga bahwa ada terjemahan Aramaik dan Syriaks akan tetapi terjemahan itu hanya mengenai beberapa bagian dari Perjanjian Lama.

Bermacam-macam terjemahan tersebut telah diolah oleh beberapa orang ahli dan dijadikan teks tengah-tengah; yakni yang merupakan kompromi antara bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Ada pula yang mengumpulkan bermacam-macam terjemahan disamping Bibel Ibrani seperti terjemahan Yunani, Latin, Syriak, Aramaik dan Arab. Kumpulan itulah yang tersohor dengan nama Bibel Walton (London tahun 1657).

Perlu kita tambahkan pula bahwa di antara Gereja-gereja itu tidak menerima pasal-pasal yang sama dalam Bibel, dan Gereja-gereja tersebut juga tidak mempunyai pengesahan yang sama mengenai terjemahan-terjemahan dalam satu bahasa. Usaha-usaha untuk mempersatukan masih dilakukan dan terjemahan Ekumenik (persatuan)yang dilakukan oleh ahli-ahli Katolik dan Protestan mengenai Perjanjian Lama ternyata akan menghasilkan sintesa (perpaduan). Dengan begitu maka usaha manusia mengenai teks Perjanjian Lama ternyata sangat besar, dan dengan mudah kita mengetahui bahwa sebagai akibat koreksi-koreksi antara versi yang bermacam-macam dan terjemahan yang bermacam-macam, teks yang asli sudah berubah selama dua ribu tahun.



Kitab-kitab Perjanjian Lama

Perjanjian Lama merupakan kumpulan pasal-pasal yang panjangnya tidak sama dan isinya bermacam-macam, ditulis selama lebih dari sembilan abad dalam beberapa bahasa dan dimulai dengan tradisi lisan. Pasal-pasal itu banyak yang telah dikoreksi dan dilengkapkan sesuai dengan kejadian-kejadian atau kebutuhan-kebutuhan tertentu, pada waktu-waktu yang berjauhan jaraknya antara satu dengan lainnya. Sangat boleh jadi bahwa munculnya literatur yang melimpah ini terjadi pada permulaan monarki Yahudi pada abad XI SM, yaitu pada waktu timbulnya kelompok pegawai-pegawai Raja yang merupakan sekretaris-sekretaris, yakni orang-orang pandai yang pekerjaannya tidak terbatas dalam sekedar menulis. Dari zaman itulah bermula tulisan-tulisan parsial yang tersebut dalam pasal-pasal sebelum ini, yakni tulisan-tulisan yang penting untuk ditetapkan waktunya, seperti nyanyian-nyanyian yang tersebut di atas, kata-kata yang diucapkan oleh Nabi Ya’kub dan Nabi Dawud, Sepuluh Perintah dan lebih umum lagi teks-teks legislatif yang membentuk tradisi keagamaan sebelum tersusunnya undang-undang. Teks-teks tersebut merupakan bagian-bagian yang terpisah disana-sini dalam bagian-bagian Perjanjian Lama.

Kemudian kira-kira abad X SM tersusunlah teks “Yahwist” dari Pentateuque (Torat) yang merupakan lima pasal pertama. Kemudian orang menambahkan kepada teks tersebut, bagian-bagian yang dinamakan “versi Elohist” dan versi “Sakerdotal” (Teks Yahwist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan dinamakan Yahweh. Teks Elohist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan dinamakan Elohim. Teks Sakerdotal yakni teks yang berasal dari pendeta-pendeta di temple Yerusalem). Teks Yahwist membicarakan periode permulaan alam sampai matinya Yakob. Teks tersebut berasal dari Kerajaan Selatan (Israel Selatan) atau Yuda.

Pada akhir abad IX dan pertengahan abad VIII SM, dalam Kerajaan Yahudi Utara (Israil, Kerajaan Utara dinamakan Negara Israil, terdiri dari 10 suku; berasal dari 10 orang anak Ya’kub. Kerajaan Selatan dinamakan Negara Yuda, terdiri dari 2 suku, berasal dari 2 orang anak Ya’kub) telah tersiar pengaruh Elia dan Elisa; yakni dua orang nabi yang kita jumpai tulisannya dalam Perjanjian Lama. Periode teks Elohist lebih singkat daripada teks Yahwist; karena teks Elohist hanya menceritakan kejadian-kejadian tentang Abraham (Ibrahim), Yacob (Ya’kub) dan Yosef (Yusuf). Kitab (pasal) Yusak dan Hakim-hakim juga berasal dan zaman ini. Abad VIII SM adalah abad nabi-nabi penulis, yaitu Amos dan Hosea di Israil(Kerajaan Utara) dan Isaiah dan Mikah dalam Kerajaan Selatan (Yuda). Pada tahun 721 SM Kerajaan Samaria mencaplok Negara Israil, dan dengan begitu maka Kerajaan Yuda mengambil alih warisan keagamaan. Kumpulan peribahasa tersusun pada periode ini dan menunjukkan campuran antara teks Yahwist dan Elohist. Dengan begitu tersusunlah kitab Torah (Pentateuch). Penyusunan Kitab Ulangan juga terjadi dalam periode ini.

Pemerintahan Yosias dalam pertengahan kedua abad VII SM bersamaan dengan permulaan zaman Nabi Jeremia, akan tetapi karangan Jeremia ini baru berbentuk yang definitif satu abad kemudian.

Kenabian- Zefanya, Nahum dan Habakuk terjadi sebelum orang Israil dideportasi (diasingkan) ke Babylon pada takun 598 SM, yakni karena Babylon menang atas Samaria yang mencaplok Israil pada tahun 721 SM. Pada waktu itu Nabi Yehezkiel sudah menyelesaikan tugas kenabiannya. Deportasi kedua terjadi ketika Yerusalem jatuh pada

tahun 587 SM, dan pengasingan itu baru selesai pada tahun 538 SM.

Kitab (pasal) Yehezkiel, seorang nabi Yahudi yang besar pada zaman pengasingan ke Babylon baru dibukukan setelah ia meninggal. Para penulis pasal Yehezkiel tersebut juga menulis versi sakerdotal mengenai Kitab Kejadian, yakni mengenai periode dari waktu Dunia diciptakan oleh Tuhan sampai matinya Ya’kub. Dengan begitu maka di antara teks Yahwist dan teks Elohist telah diselipkan teks ketiga yang perbedaan umurnya adalah empat dan dua abad lebih dahulu. Pada waktu itu sudah terdapat kitab “Nudub“ (tangisan) atau Lamentation.

Karena perintah raja Persia, Cyrus yang mengalahkan Babylonia, pengasingan ke Babylon diakhiri pada tahun 538 SM. Orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan mendirikan lagi tempel mereka di kota itu. Nampak pula nabi-nabi baru dan kitab (pasal) baru seperti kitab (pasal) Hagai, Zakarya, Israil, Maleachi, Daniel dan Baruch.

Setelah Bani Israil diasingkan ke Babylon terkumpullah pasal-pasal dalam perjanjian lama sebagai berikut: Amstal Sulaiman (Proverbs) kurang lebih pada tahun 480 SM, pasal Ayub pada pertengahan abad V SM, al-Khatib (chronick), pada abad III SM bersamaan dengan nyanyian (song of Salomon), dua pasal Berita, pasal Esdras, pasal Nehemia; seracide baru muncul pada abad II SM, pasal kebijaksanaan Sulaiman, dua pasal Maccabees ditulis pada abad I SM, pasal Ruth Esther, Yunus; Tobias dan Yudit adalah sukar untuk dipastikan abad penulisannya.

Keterangan-keterangan tersebut masih dapat berubah jika ada riset-riset baru, oleh karena Perjanjian Lama seluruhnya baru terkumpul pada abad I SM dan secara definitif, baru pada abad I M.

Dengan begitu maka Perjanjian Lama merupakan satu monumen literatur bangsa Yahudi, yang terkumpul sedikit demi sedikit sehingga periode Agama Nasrani. Kitab-kitab (pasal-pasal)nya telah ditulis, disempurnakan dan ditinjau kembali antara abad X dan abad I SM. Faktor ini bukan sekedar pendapat saya pribadi akan tetapi saya kutip dari Encyclopedia Universalis, cetakan tahun 1974, jilld III halaman 246 - 253, ditulis oleh S.P Sandraz guru besar pada fakultas dominikan di Soulchoir; untuk memahami apakah

Perjanjian Lama itu, kita harus ingat hasil-hasil penyelidikan para spesialis yang sangat kompeten.

Sebuah wahyu telah tercampur dengan tulisan-tulisan itu, akan tetapi pada waktu ini yang kita miliki hanya hal-hal yang ditinggalkan oleh orang-orang yang telah merubah teks asli menurut situasi dan kondisi yang dihadapi mereka. Jika kita bandingkan hal-hal obyektif tersebut di atas dengan hal-hal yang tersebut dalam mukaddimah atau kata pengantar bermacam-macam Bibel yang dicetak untuk awam, kita rasakan ada perbedaan. Dalam kata pengantar itu tak disebutkan hal-hal yang mengenai pembukuan Bibel; hal-hal yang samar-samar dan kabur tidak diberi penjelasan sehingga membingungkan pembaca, dan banyak soal-soal yang diperkecil sehingga memberi gambaran yang salah. Dengan begitu maka pengantar-pengantar itu banyak yang merubah kebenaran. Banyak kitab (pasal) yang dirubah beberapa kali; seperti dalam kasus Torah (Pentateuch), tetapi dalam edisi hanya diterangkan, mungkin ada perinci-perinci yang ditambahkan. Kadang-kadang ada pengarang yang mengadakan diskusi tentang sesuatu bagian yang tidak penting, akan tetapi ia melupakan bagian yang sangat penting dan menolak pembahasan yang mendalam. Sungguh menyedihkan jika kita melihat hal-hal yang tidak benar dilakukan oleh orang-orang yang menyiarkan Bibel untuk awam.



Torah

Torah (Pentateuch) adalah sebuah nama dalam bahasa Semit. Kalimat Yunani yang sekarang dipakai dalam bahasa Inggris adalah Pentateuch yang artinya kitab yang terdiri dari lima bagian: Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, Bilangan dan Ulangan, yaitu lima pasal yang pertama dari 37 pasal yang terdapat dalam Perjanjian Lama.

Kumpulan teks ini membicarakan asal alam, sampai masuknya bangsa Israil di Kana’an, tanah yang dijanjikan sesudah mereka menjadi budak di Mesir; atau lebih tepat lagi sampai wafatnya Nabi Musa. Tetapi riwayat kejadian-kejadian sejarah itu dipergunakan sebagai kerangka untuk menerangkan kehidupan keagamaan dan sosial bangsa Yahudi. Dari sinilah nama Hukum atau Torah (Pentateuch) bermula.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen selama berabad-abad berpendapat bahwa pengarang Torah (Pentateuch) (lima bagian pertama daripada Perjanjian Lama) adalah Nabi Musa sendiri. Barangkali pendapat tersebut didasarkan atas ayat (Keluaran 17, 14) yang berbunyi: “Tulislah itu (kekalahan kaum Amalek) dalam Kitab,” atau atas ayat (Bilangan 33, 2) tentang keluarnya orang Yahudi dari Mesir yang berbunyi “Musa menerangkan dengan stulisan tempat-tempat mereka berangkat,” atau dalam (kitab Ulangan 3, 9) yang berbunyi: “Musa menulis aturan (hukum) ini.” Semenjak abad Pertama SM banyak orang yang mempertahankan anggapan bahwa seluruh Pentateuque ditulis oleh Nabi Musa, di antara orang-orang itu adalah: Flavius Joseph dan Philon dari Alexandria.

Pada waktu sekarang anggapan seperti tersebut di atas sudah ditinggalkan orang. Tetapi meskipun begitu, Perjanjian Baru masih mempertahankannya. Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Rum (10, 5) mengutip kata-kata orang Levi: “Musa sendiri menulis tata-aturan yang datang dari Torah (Pentateuch).” Yahya, pengarang Injil yang keempat, dalam pasal 5, ayat 46-47 meriwayatkan bahwa Yesus berkata: “Jika kamu telah melihat Musa, kamu tentu akan percaya kepadaku karena ia (Musa) telah menulis tentang diriku. Kalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulis oleh Musa, bagaimana kamu dapat percaya kepada apa yang aku katakan?”

Di sini kekeliruan timbul daripada redaksi; teks asli bahasa Yunani adalah “episteute” yang berarti “pasal” dan bukan “menulis.” Dengan begitu maka Yahya, penulis Injil ke empat telah memberi keterangan salah yang digambarkan telah diucapkan oleh Yesus.

Saya meminjam bahan-bahan di atas dari R.P. de Vaux, direktur Lembaga Bibel di Yerusalem. Dalam terjemahan “kitab Kejadian” tahun 1962 ia memberi pengantar umum

yang memuat argumentasi yang bertentangan dengan keterangan Injil mengenai siapa yang menulis “Pentateuch “ (lima pasal pertama dalam Perjanjian Lama).

R.P. de Vaux memperingatkan bahwa tradisi Yahudi yang menjadi pedoman bagi Yesus dan para rasul (sahabat)nya telah diterima sampai akhir abad pertengahan. Pada abad XII, Aben Isra adalah satusatunya orang yang menentang anggapan itu. Pada abad XVI, Carlstadt memperingatkan kita bahwa Nabi Musa tentu tidak dapat menulis berita tentang kematiannya, seperti yang tersebut dalam kitab (pasal) Ulangan 34, 512. Pengarang kemudian menyebutkan kritik-kritik lainnya yang mengatakan bahwa tidak semua Torah (Pentateuch) itu karangan Musa; secara khusus disebutkan buku karangan Richard Simon yang berjudul: Histoire Critique du Vieux Testament (Sejarah Kritik tentang Perjanjian Lama) tahun 1678 yang menonjolkan kesulitan-kesulitan kronologis (urutan Sejarah), ulangan-ulangan,

tulisan-tulisan yang tak teratur tentang riwayat-riwayat, serta perbedaan-style (tata bahasa) dalam Torah (Pentateuch). Karangan R. Simon tersebut telah menyebabkan heboh, tetapi orang tidak lagi mengikuti argumentasi R. Simon; buku-buku sejarah dari permulaan abad 18 selalu menyebutkan: “Apa yang telah ditulis oleh Musa” untuk menunjukkan sumber yang sangat kuno.

Kita dapat mengerti betapa susahnya menentang suatu dongengan (Legend) yang berdasarkan atas sandaran yang (digambarkan) telah diberikan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru. Kita berhutang budi kepada Yean Astruc, tabib pribadi Raja Louis XV yang telah memberikan argumen yang kuat.

Pada tahun 1753 ia menerbitkan bukunya: Dugaan tentang catatan-catatan asli, yang dipakai oleh Nabi Musa untuk menulis kitab (pasal) Kejadian. Dalam buku itu, ia menitik beratkan adanya bermacam-macam sumber. Ia sudah terang, bukannya orang pertama yang menulis hal ini, akan tetapi ia adalah orang pertama yang berani mengumumkan suatu kenyataan yang sangat penting, yaitu bahwa mengenai kitab: (pasal) Kejadian terdapat dua teks yang berbeda-beda; yang satu menamakan Tuhan dengan kata Yahwe, yang lainnya menyebut Tuhan dengan kata Elohim. Eichhorn (1780-1783) mengungkapkan penemuan yang sama mengenai empat kitab (pasal) lainnya dalam Torah (Pentateuch). Kemudian pada tahun 1798, Ilgen merasa bahwa satu daripada dua teks yang diselidiki oleh Astruc yaitu teks yang di dalamnya Tuhan dinamakan Elohim, harus dibagi menjadi dua. Dengan begitu maka Pentateuque menjadi benar-benar terpecah-pecah.

Pada abad XIX telah dilakukan penelitian yang telah mantap mengenai sumber-sumber Perjanjian Lama. Pada tahun 1854, orang berpendapat bahwa ada 4 sumber, yaitu: dokumen Yahwist, dokumen Elohist, Deuteronomy, kitab-(pasal) Ulangan dan kode Sakerdotal (hukum para pendeta). Dokumen Yahwist telah ditulis di Kerajaan Yuda pada abad IX SM. Dokumen Elohist adalah lebih baru, dan ditulis di kerajaan Israil Deuteronomy (Kitab Ulangan) menurut Edmond Yacob ditulis pada abad VIII SM, dan menurut R.P. de Vaux ditulis pada abad VII SM pada zaman Yosias. Dan akhirnya, Code Sakerdotal (hukum-hukum pendeta) ditulis pada abad VI SM, yakni pada zaman pengasingan Israil di Babylon atau sesudahnya. Dengan begitu maka teks Torah (Pentateuch) telah berangsur-angsur tertulis selama sedikitnya tiga abad.

Akan tetapi masalahnya jauh lebih kompleks. Pada tahun 1941, A. Lods mengatakan bahwa document Yahwist mempunyai 3 sumber, dokumen Elohist mempunyai 4 sumber, kitab ulangan mempunyai 6 sumber dan hukum-hukum pendeta mempunyai 9 sumber, di samping tambahan-tambahan yang dibagi-bagi antara 8 penulis, sebagaiman yang dikatakan oleh R.P. de Vaux.

Kemudian orang mulai berfikir bahwa banyak hukum-hukum dalam Torah (Pentateuch) yang sama dengan hukum-hukum lama di luar Bibel, dan banyak riwayat-riwayat dalam Torah (Pentateuch) yang memberi kesan berasal dari lingkungan lain yang lebih kuno; dengan demikian maka persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.

Sumber-sumber yang banyak itu menyebabkan perbedaan-perbedaan dan ulangan-ulangan. R.P. de Vaux memberi contoh tentang tercampurnya tradisi yang berbeda- beda mengenai penciptaan alam, anak keturunan Cain (Habil), banjir Nabi Nuh, penculikan Nabi Yusuf, petualangannya di Mesir, perbedaan nama seseorang, penyajian yang berbeda-beda mengenai sesuatu kejadian.

Dengan begitu maka Torah (Pentateuch) nampak tersusun dari tradisi bermacam-macam yang dihimpun secara baik oleh penyusun-penyusunnya, yang kadang-kadang menjajarkan kumpulan mereka dan kadang-kadang merubah kumpulan-kumpulan itu dengan maksud menimbulkan sintesa di antaranya; meskipun dalam melakukan hal terakhir ini mereka tidak menghilangkan perbedaan serta keragu-raguan sehingga hal-hal ini menarik perhatian orang-orang zaman sekarang untuk mengadakan penelitian mengenai sumber-sumber asli. Dalam rangka kritik mengenai teks, Torah (Pentateuch) memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacam-macam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi terdahulu.

Torah (Pentateuch) bermula pada abad X atau IX SM dengan tradisi Yahwist yang menceriterakan permulaan penciptaan alam, kemudian menyusun sejarah bangsa Israil, dan seperti kata R.P de Vaux, menempatkannya dalam rencana Tuhan untuk seluruh kemanusiaan. Akhirnya Torah (Pentateuch) terus tersusun pada abad VI SM dengan tradisi spendeta-pendeta, yang mementingkan tahun dan silsilah keturunan (Genealogi). (Pada bagian mendatang, pembaca dapat melihat kekeliruan-kekeliruan yang menjadi jelas setelah dihadapkan dengan bahan-bahan baru dari sains; kekeliruan-kekeliruan tersebut mengenai umur manusia di bumi, keadaan-keadaan pada waktu Tuhan menciptakan alam; kekeliruan-kekeliruan tersebut adalah disebabkan oleh perubahan-perubahan teks yang dilakukan oleh manusia).

Pernyataan-pernyataan yang sedikit atau jarang yang tetap terdapat dalam tradisi ini, menurut R.P. de Vaux, menunjukkan perhatian besar yang mengenai hukum seperti istirahat pada hari Sabtu setelah menciptakan alam, aliansi dengan Nuh, aliansi dengan Ibrahim, khitan, pembelian gua Makpeh yang memberi hak milik kepada pendeta-pendeta di Kana’an. Kita perlu ingat bahwa tradisi sakerdotal (pendeta-pendeta) muncul setelah

bangsa Israil kembali dari pengasingannya di Babylon dan mendiami Palestina mulai tahun 583 S.M. Jadi soal agama dan soal politik tercampur.

Mengenai kitab (pasal) Kejadian, pembagian dalam tiga sumber pokok telah dianggap benar: R.P. de Vaux dalam terjemahannya membawakan teks-teks yang menjadi dasar bagi teks yang ada sekarang dalam pasal Kejadian. Dengan mendasarkan penyelidikan kepada teks-teks tersebut, siapa saja dapat menunjukkan hubungan antara teks dalam pasal Kejadian dengan teks dalam tiga sumber pokok tersebut di atas. Umpamanya, mengenai yang berhubungan dengan penciptaan alam, dengan banjir dan periode semenjak banjir sampai munculnya Ibrahim, yaitu ceritera dalam 11 bagian yang pertama dalam kitab (pasal) Kejadian, kita dapat menemukan sebagian teks Yahwist dan sebagian lainnya teks Sakerdotal.

Teks Elohist tak terdapat dalam 11 bagian pertama. Percampuran antara teks Yahwist dan Sakerdotal nampak dengan jelas. Adapun yang mengenai penciptaan alam sampai Zaman Nabi Nuh (5 bagian yang pertama), susunannya lebih mudah; satu bagian Yahwist bergantian dengan satu susunan Sakerdotal dari permulaan sampai akhir. Mengenai Banjir, khususnya mengenai bagian 7 dan 8, potongan-potongan teks menurut sumber asli memisahkan beberapa bagian-bagian yang sangat pendek.

Dalam meneliti 100 baris teks Prancis, kita beralih dari satu teks kepada teks yang lain lebih dari 17 kali. Dari sinilah timbulnya perbedaan-perbedaan dan kontradiksi dalam pembacaan Torah (Pentateuch) dalam Injil yang ada sekarang. (Lihatlah tabel yang menjelaskan pembagian sumber-sumber di bawah ini).

Perincian Pembagian Teks Yahwist dan Teks Sakerdotal dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian Angka pertama menunjukkan pasal (Bagian).

Angka kedua antara dua kurung menunjukkan nomornya kata-kata (phrase) yang kadang-kadang dibagi menjadi dua bagian, a dan b.

Huruf Y menunjukkan teks Yahwist.

Huruf S menunjukkan teks Sakerdotal.

Contoh: baris pertama daripada tabel ini menunjukkan bahwa dari pasal (bagian) pertama, kata-kata (phrase) 1 sampai bagian 2 kata-kata (phrase) 4a, teks yang ada sekarang dalam Bibel adalah teks Sakerdotal.

Pasal(bagian) Phrase s/d Pasal Phrase Teks

1 (1) 2 (4a) S

2 (4b) 4 (2b) Y

5 (1) 5 (32) S

6 (1) 6 (8) Y

6 (9) 6 (22) S

7 (1) 7 (5) Y

7 (6) … … S

7 (7) 7 (10) Y

7 (11) … … S

7 (12) … … Y

7 (13) 7 (16a) S

7 (16B) 7 (17) Y

7 (18) 7 (21) S

7 (22) 8 (23) Y

7 (24) 8 (2a) S

8 (2b) … … Y

8 (3) 8 (5) S

8 (6) 8 (12) Y

8 (13a) … … S

8 (13b) … … Y

8 (14) 8 (19) S

8 (20) 8 (22) Y

9 (1) 9 (17) S

9 (18) 9 (27) Y

9 (28) 10 (7) S

10 (8) 10 (19) Y

10 (20) 10 (23) S

10 (24) 10 (30) Y

10 (31) 10 (32) S

11 (1) 11 (9) Y

11 (10) 11 (32) S

Ini semua adalah gambaran yang sangat jelas tentang permainan yang dilakukan oleh manusia terhadap Bibel.



Bagian-bagian Mengenai Sejarah

Dalam bagian-bagian yang mengenai Sejarah dalam Bibel, kita dapatkan sejarah bangsa Yahudi semenjak masuk ke daerah yang dijanjikan (kira-kira pada abad XIII S.M.) sampai deportasi (pengasingan) ke Babylon pada abad VI S.M.

Dalam sejarah itu ditekankan “kejadian nasional” yang digambarkan sebagai pelaksanaan janji Tuhan. Akan tetapi dalam hikayat ini tak terdapat ketelitian historis. Suatu pasal seperti pasal Yusak hanya mempunyai dasar teologi. Dalam hal ini, professor Edmond Yacob mengingatkan kita tentang adanya kontradiksi yang jelas antara arkeologi dan teks Perjanjian Lama mengenai kerusakan kota Jericho dan Ay.

Kitab (pasal) Hakim-hakim dimaksudkan untuk mempertahankan bangsa yang terpilih terhadap musuh-musuh yang melingkunginya, yakni dengan pertolongan Tuhan Pasal itu berkali-kali dirubah; hal sini dijelaskan oleh R.P.A. Lefevre dalam mukaddimah Bibel Crampon. Kata-kata pengantar yang bercampur aduk susunannya serta tambahan-tambahan di belakang, menunjukkan fakta tersebut. Sejarah Ruth ada hubunganya dengan pasal Hakim-hakim.

Pasal Samuel dan Pasal Raja-raja merupakan kumpulan-kumpulan biografik yang menarik bagi Samuel, Saul, David dan Salomon. Tetapi nilai sejarahnya disangsikan. Edmond Yacob menemukan di dalamnya banyak kesalahan-kesalahan; kadang-kadang sesuatu kejadian diriwayatkan dua atau tiga kali. Nabi-nabi Elia, Elisa, Yesaya dalam bagian itu juga mendapat tempat, tetapi sejarah mereka tercampur dengan legenda, walaupun menurut R.P.A. Lefevre nilai sejarahnya sangat penting.

Bagian pertama dan kedua dari kitab (pasal) Tawarikh, pasal-pasal Ezra dan Nehemia ditulis oleh satu orang yang hidup pada akhir abad IV S.M. Ia meriwayatkan sejarah dari masa penciptaan Tuhan sampai waktu itu, akan tetapi silsilah keturunan (genealogi) hanya sampai nabi Dawud. Ia mengambil dan menjiplak dari pasal Samuel dan pasal Raja-raja dengan tidak memperhatikan kepincangannya; begitulah kata E. Yacob; akan tetapi ia menambah hal-hal yang pasti yang dikuatkan oleh arkeologi. Dalam pasal-pasal tersebut, sejarah disesuaikan dengan teologi. Edmond Yacob berkata: kadang-kadang pengarang menulis sejarah bersandar kepada teologi. Umpamanya, untuk menerangkan bahwa Raja Manassi, seorang yang fasiq dan menganiaya pemeluk-pemeluk agama tetapi memerintah lama dan masa pemerintahannya penuh dengan kemakmuran, pengarang Injil mengatakan bahwa raja tersebut telah mengikuti agama Yahudi ketika berada di Assyrie (Tawarikh, pasal dua, 33/11), padahal soal tersebut tak terdapat baik dalam sumber-sumber Bibel atau di luarnya.

Pasal Ezra dan Nehemia telah menjadi sasaran kritik yang banyak oleh karena pasal itu penuh dengan kekaburan dan karena pasal-pasal tersebut menceritakan tentang suatu periode sejarah yang sampai sekarang belum terang benar kecuali jika kita pakai dokumen di luar Bibel, yaitu periode abad IX S.M.

Di antara pasal-pasal yang mengenai sejarah terdapat pasal Tobias, Yudith dan Ester. Dalam pasal-pasal tersebut terdapat perubahan-perubahan terhadap sejarah seperti penggantian nama-nama orang, dan kejadian yang tak pernah ada; semua itu untuk sesuatu maksud keagamaan. Pasal-pasal tersebut lebih merupakan berita-berita yang bersifat petunjuk-petunjuk moral akan tetapi penuh dengan kekeliruan sejarah.

Mengenai dua pasal tentang Maccabee yang membicarakan kejadian-kejadian abad II S.M., dapat dikatakan bahwa pasal itu meriwayatkan sejarah dengan baik dan mempunyai nilai yang besar.

Dengan begitu maka kesimpulan-kesimpulan pasal-pasal sejarah: merupakan kumpulan yang pincang. Sejarah ditulis, sebagian secara ilmiah dan sebagian lagi secara imaginatif (khayalan).



Pasal-pasal Mengenai Kenabian

Pasal-pasal Kenabian ini memuat ajaran-ajaran nabi-nabi yang namanya tersebut dalam Perjanjian Lama terpisah dari nama-nama nabi-nabi yang besar dan yang ajarannya dimuat dalam pasal lain seperti pasal nabi Musa, Samuel, Elia dan Elisa.

Pasal-pasal kenabian ini meliputi periode dari abad VIII sampai abad II S.M.

Pada abad VIII S.M., kita dapatkan pasal Amos, Hosea, Yesaya dan Micha. Amos, mashur karena ia telah melakukan kesalahan keagamaan sehingga ia terpaksa menderita dengan badannya, yaitu ketika ia kawin dengan seorang pelacur suci (pelacur yang berkhidmat di dalam temple) dalam agama kafir. Ia menderita sebagaimana Tuhan menderita karena makhluk-Nya yang tidak mengikuti petunjukNya, tetapi Tuhan tetap mencintai mereka. Isaiah adalah seorang tokoh politik; ia menguasai kejadian-kejadian karena raja-raja minta nasehat kepadanya. Ia adalah seorang Nabi besar. Di samping karya pribadinya, petuah-petuahnya disiarkan oleh murid-muridnya sampai abad III S.M., seperti protes terhadap ketidakadilan, takut kepada hukum Tuhan, pengumuman tentang akan adanya pembebasan pada waktu orang Yahudi dalam pengasingan, pengumuman bahwa orang Yahudi akan kembali ke Palestina. Dalam Isaiah II dan III, persoalan kenabian berbarengan dengan persoalan Politik. Ramalan Micha yang hidup pada waktu yang sama dengan Isaiah, bertitik tolak dari idea, yang sama.

Pada abad VII S. M., Zefanya, Jeremia, Nahum, Habakuk menjadi masyhur dalam kenabian. Jeremie mati dibunuh. Petuah-petuahnya dikumpulkan oleh Baruch, mungkin ia

adalah pengarang pasal Tangisan (Nudub).

Pengasingan di Babylon pada permulaan abad VI S.M. menyebabkan adanya aktivitas kenabian yang intensif. Tokoh besarnya adalah Yehezkiel sebagai seorang yang menenteramkan teman-temannya dan memberikan harapan kepada mereka. Pasal Abdias ada hubungannya dengan Yerusalem yang telah jatuh di tangan musuh.

Sesudah pengasingan yang selesai pada tahun 538 S.M., Nabi Hagai dan Zakora menunjukkan aktivitas dalam menganjurkan membina temple kembali. Setelah Temple

dibina kembali, kita dapatkan pasal Malaoko yang berisi petuah-petuah spiritual.

Mengapa pasal Yunus dimasukkan dalam pasal nabi-nabi meskipun Perjanjian Lama tidak menyebutkan teks khusus?

Jawabnya, Yunus adalah suatu sejarah yang dapat memberi kesimpulan pokok yaitu: menyerahkan diri kepada Kehendak Tuhan.

Pasal Daniel adalah suatu pasal yang kabur, dan menurut ahli tafsir Kristen, ia merupakan pasal yang sulit, tertulis dalam 3 bahasa, yakni Ibrani, Aramean dan Yunani. Pasal Daniel adalah suatu karangan dari abad II S.M, Pengarangnya ingin meyakinkan bangsanya yang hidup dalam zaman kesusahan yang mendalam bahwa saat kebebasan sudah dekat. Ini adalah untuk menjaga keimanan mereka (Edmond Yacob).



Pasal Mengenai Syair dan Hikmah

Pasal-pasal ini merupakan kumpulan tulisan yang mempunyai keseragaman literer yang nyata.

Yang pertama adalah Psaumen (nyanyian) yang merupakan puncak daripada puisi Ibrani. Sebagian terbesar disusun oleh Nabi Dawud, sebagian lagi oleh para pendeta dan orang-orang Lewi. Themanya adalah memuja Tuhan, mendoa (memohon) dan meditasi. Fungsinya adalah liturgi, yakni dibaca waktu sembahyang.

Pasal Job (Ayub) merupakan pasal hikmah dan taqwa; tertulis pada tahun 400 atau 500 S.M.

Pasal Nudub (Tangisan) karena jatuhnya Yerusalem, ditulis pada permulaan abad VI S.M. mungkin ditulis oleh Jeremia.

Kita juga harus menyebutkan pasal Cantiqus des Cantiques (suatu kumpulan nyanyian tentang cinta kepada Tuhan), pasal peribahasa, kumpulan kata-kata Nabi Sulaeman dan orang-orang bijaksana di Istana, Imam (Eclesiast) dimana orang memperdebatkan antara kebahagiaan dunia dan kebijaksanaan.

Bagaimana kumpulan yang sangat berbeda-beda dari segi isinya, yang pasal-pasalnya ditulis selama paling sedikit 700 tahun, dan mempunyai sumber-sumber yang sangat berbeda, kemudian semua itu dipadukan dan dimasukkan dalam satu buku, bagaimana kumpulan semacam itu dalam beberapa abad dapat merupakan kesatuan yang tak terpisah-pisah dan menjadi Kitab Wahyu Yahudi Kristen (dengan sedikit perbedaan-perbedaan menurut kelompok) dan menjadi hukum (Kanon) yakni suatu kalimat Yunani yang mengandung arti (tidak boleh disentuh).

Pengumpulan bahan-bahan Perjanjian Lama tidak terjadi pada zaman Kristen, akan tetapi masih dalam zaman Yahudi, dan dimulai secara pasti pada abad VII S.M.

Pasal-pasal lainnya dimuat sesudah pasal-pasal pertama. Tetapi perlu kita ingat bahwa 5 pasal pertama yang merupakan Torah (Pentateuch) (Pentateuk) selalu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada pasal-pasal lain. Kemudian orang menambah pasal-pasal Torah (Pentateuch) itu dengan Pengumuman-pengumuman para Nabi (siksaan Tuhan bagi orang yang berdosa), serta janji-janji mereka, karena Torah (Pentateuch) sudah merupakan pasal-pasal yang diterima rakyat pada abad II S.M., Kanon para Nabi sudah jadi.

Pasal-pasal lain seperti nyanyian Nabi Dawud yang dipakai untuk sembahyang, ditambahkan pula bersama dengan pasal Tangisan dan hikmat Suleman atau Ayub.

Agama Kristen, atau lebih tepat pada permulaannya, agama Yahudi Kristen, sebagai yang akan kita lihat nanti, yaitu agama yang telah banyak dipelajari oleh sarjana-sarjana modern seperti Kardinal Danielou, agama Kristen sebelum mengalami perubahan-perubahan pokok yang disebabkan oleh pengaruh Paulus, telah menerima warisan Perjanjian Lama. Para pengarang Injil sangat tertarik kepada Perjanjian Lama.

Akan tetapi jika kita melakukan pembersihan-pembersihan terhadap Injil empat dengan menghilangkan hal-hal yang apokrif (yang misterius, tidak benar, tidak autentik), kita tidak perlu melakukan hal yang sama untuk Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa kita menerima seluruh atau hampir seluruh isi Perjanjian Lama.

Siapakah yang berani mempersoalkan sesuatu mengenai kumpulan-kumpulan yang pincang ini sampai akhir abad Pertengahan, sedikitnya di Barat? Tak ada atau hampir tak ada. Mulai akhir abad Pertengahan sampai permulaan abad modern telah timbul beberapa kritik. Kita sudah membaca sebagian kritik tersebut pada permulaan buku ini, akan tetapi gereja-gereja selalu dapat memaksakan kekuasaannya . Suatu kritik autentik mengenai teks memang sudah ada sekarang, akan tetapi jika para pendeta-pendeta spesialis dapat mempergunakan pikiran lebih banyak untuk menyelidiki perincian-perincian dari bermacan-macam persoalan, mereka kemudian berpendapat bahwa lebih baik jangan masuk terlalu jauh ke dalam “hal-hal yang sukar.” Nampaknya mereka itu tidak menyelidiki “hal-hal yang sukar itu” dengan sinar pengetahuan modern. Jika kita mau mengadakan perbandingan dalam sejarah, apalagi kalau terdapat persesuaian antara mereka dan Bibel, maka sebetulnya mereka itu belum berhasrat sungguh-sungguh untuk melakukan perbandingan yang mendalam dan blak-blakan dengan idea-idea ilmiah yang mereka rasakan akan menyanggah idea-idea tentang kebenaran isi Injil yang sampai waktu ini tidak pernah dibantah.

215
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Kautsar Muhammadi
Berapa banyak surah dalam al-Qur’an yang menggunakan nama-nama para Nabi Ilahi?
Dibelahnya Dada Rasulullah saw: Fakta atau Fiksi
Imamah dan Ahlulbait
Pengaruh Iman Kepada Hari Akhir bagi Akhlak Manusia
Apakah maksud dari qaulan tsaqila (firman yang berat) dalam ayat “Inna sanulqi ‘alaika qaulan ...
Inilah Wujud Keadilan Allah bagi Makhluk-Nya
Peringatan Allah dalam Al-Quran: Mengharamkan yang Dihalalkan Allah
Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir
3 Universitas di Indonesia Ajak Universitas Tehran Tingkatkan Kerjasama

latest article

Kautsar Muhammadi
Berapa banyak surah dalam al-Qur’an yang menggunakan nama-nama para Nabi Ilahi?
Dibelahnya Dada Rasulullah saw: Fakta atau Fiksi
Imamah dan Ahlulbait
Pengaruh Iman Kepada Hari Akhir bagi Akhlak Manusia
Apakah maksud dari qaulan tsaqila (firman yang berat) dalam ayat “Inna sanulqi ‘alaika qaulan ...
Inilah Wujud Keadilan Allah bagi Makhluk-Nya
Peringatan Allah dalam Al-Quran: Mengharamkan yang Dihalalkan Allah
Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir
3 Universitas di Indonesia Ajak Universitas Tehran Tingkatkan Kerjasama

 
user comment