Indonesian
Tuesday 31st of January 2023
0
نفر 0

Agama Kristen dalam Neraca [2]

Agama Kristen dalam Neraca [2]

Keyakinan Kristen
Teologi dengan aneka manifestasinya, dalam pandangan kaum Kristiani merupakan upaya untuk memahami iman. Para teolog yang menyusun pondasi studi ini, menegaskan bahwa kita tidak bisa mengenal Tuhan, kecuali Dia sendirilah yang memperkenalkan diri-Nya pada kita. Berdasarkan pandangan ini, teologi merupakan sebuah disiplin ilmu yang lebih tepat disebut ilmu wahyu. Teologi dalam kaca mata penganut Kristen, adalah media yang mencakup berbagai kajian keagamaan. Makna teologi tersebut, lebih luas dari pada ilmu Kalam dalam tradisi Islam.

Beragam tema yang berada dalam ranah ilmu teologi, mencakup antara lain:

1. Kajian seputar pengajaran Alkitab;

2. Berbagai upaya untuk memahami hakikat, dalam koridor pengajaran Kristen;

3. Peralihan sejarah yang mengungkapkan peta keimanan Kristen dalam berbagai abad;

4. Penjelasan apa saja yang menjadikan akal secara mandiri bisa memahami Tuhan;

5. Penjelasan makna suci Kristen dan berbagai jalan mencapainya;

6. Prinsip fundamental moral dan pengaruh praktis pengajaran Kristen dalam kehidupan para penganutnya.

Ajaran agama Kristen begitu dekat dengan politeisme. Ketika kaum Kristiani menyaksikan mata air keagamaan mereka yaitu Taurat dan Injil, mengupas pembahasan tentang Tuhan secara tidak layak dan tidak relevan dengan dzat sucinya, mereka melakukan justifikasi terhadap masalah tersebut dengan melepaskan lahir (apa yang tersurat) teksnya.

Pada saat membicarakan tentang Tuhan dan dunia makna, kita terbentur dengan keterbatasan teks. Berangkat dari sini, kiranya tidak perlu mencari-cari kesalahan. Di sisi lain, karena berbagai kitab tersebut produk tangan manusia, maka kaum Muslimin tidak memiliki kewajiban untuk menjustifikasi berbagai redaksi teks tersebut. Namun, sejatinya setiap muslim memilih jalan bijak, terlebih al-Qur'an sendiri memerintahkan secara khusus untuk berdialog dengan ahli Kitab melalui cara yang terbaik (Qs. al-Ankabut [29]:46).

Nampaknya, kita juga melihat berbagai redaksi sejenis tersebut, terdapat dalam al-Qur'an, (seperti berbagai upaya makar, khianat dan tipu muslihat terhadap Tuhan yang Maha Agung) dengan perbedaan bahwa redaksi teks tersebut datang dari Tuhan sendiri. Penjelasan tentang hal ini, menjadi tanggung jawab rasional dan tekstual setiap muslim.

Ahli kitab, meyakini bahwa teks kitab langit mereka, merupakan produk tangan manusia yang tiada daya dan tidak luput dari dosa. Inilah yang menjadi kekurangan kitab tersebut. Walaupun demikian, keyakinan ini tidak menyebabkan ahli kitab melakukan introspeksi terhadap keyakinanya sendiri. Bahkan sebaliknya, alih-alih melakukan otokritik, mereka malah bahu-membahu melakukan justifikasi terhadap berbagai redaksi teks yang nampak ambigu tersebut.

Sebagian masalah mistis yang sangat tajam dan teliti, bisa ditemukan dalam khazanah pemikiran keagamaaan ahli kitab. Salah satu yang paling indah adalah apophatic Theology, yang berupaya menegasikan setiap sifat manusia dari Tuhan. Walaupun pandangan ini pada akhirnya meyakini Tuhan pasti ada, namun penggunaan terma wujud dan maujud untuk Tuhan menurut mereka tidak tepat. Nampaknya bagi kaum muslimin, berbagai upaya untuk mentransedensikan kembali Tuhan ini harus disambut hangat. Barangkali, inilah salah satu syarat untuk menempuh kerjasama dengan ahli kitab.[i]


Melacak Akar Kristen
Dalam al-Qur'an kita membaca:

Dan Orang-orang Yahudi berkata,”Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, ”Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (Qs. at-Taubah [9]:30).

Pada kurun terakhir, sebagian dari para pemikir Barat melihat adanya kedekatan yang menakjubkan antara keyakinan kaum Kristiani dengan agama Hindu. Berdasarkan fakta yang ditemukan, mereka mengatakan bahwa berbagai doktrin Kristen seperti trinitas, pengorbanan dan penyaliban serta keyakinan lainnya terdapat dalam keyakinan para penyembah berhala. Pandangan tersebut tidak pernah ditemukan dalam keyakinan Bani Israil.

Para peneliti, mengkaji berbagai redaksi teks yang terdapat dalam Injil dan kedekatannya dengan agama Hindu serta Budha hingga mampu melacak berbagai keajaibannya. Mereka menemukan berbagai kemiripan, bahkan penamaan pun memiliki kesamaan seperti domba Tuhan, putra Tuhan, penebusan dosa, keselamatan dan selainnya yang dilekatkan pada sosok Isa, sebelumnya terdapat pada agama-agama tersebut. Karena usia agama itu lebih tua dari agama Kristen, para peneliti meyakini bahwa keyakinan dan berbagai terminologi Kristen diambil dan diadopsi dari agama-agama tersebut.

Pada tahun 1947 M di gurun sahara Palestina tepatnya di salah satu goa sekitar pantai Laut Mati, ditemukan beberapa gulungan naskah kuno. yang kemudian membentuk adanya gerakan pemikiran di tubuh Kristen. Gulungan naskah kuno ini, mencakup beberapa pembahasan dari Alkitab, tafsir dan doa-doanya yang telah berusia sekitar 2000 tahunan. Naskah tua tersebut ditulis pada masa kehidupan Nabi Isa As.

Para pemikir setelah mengkaji berbagai gulungan naskah tua tersebut, meyakini bahwa naskah tersebut berkaitan dengan salah satu sekte Yahudi bernama Essenian. Sekte ini, hidup di gurun, memiliki berbagai pandangan mistis dan tengah menanti mesiah bani Israil. Mereka menyimpan tulisannya pada kendi yang di simpan dalam gua, yang berada di sekitar pantai Laut Mati. Namun sayang sekali, naskah tua tersebut jatuh ke tangan orang yang tidak jelas. Sejak saat itu, kita tidak mengetahui lebih jauh tentang peristiwa tersebut.

Penemuan gulungan naskah tua ini, menciptakan berbagai reaksi yang menakjubkan di pentas konstalasi pemikiran dunia. Pada awalnya sebagian menduga, penemuan gulungan ini hanyalah rekaan belaka. Namun, setelah dilakukan pengujian laboratorium lebih jauh, ternyata validitas dan keabsahannya tidak diragukan.

Hingga kini, beribu-ribu buku tentang gulungan naskah tua tersebut telah ditulis. Salah satu di antaranya, sebuah buku dengan judul The Meaning of the Dead Sea Scrolls, yang ditulis secara apik dan sangat menarik oleh seorang Ruhaniawan liberal Kristen bernama Davies, A. Powell. Setelah meneliti kandungan dari gulungan naskah tua tersebut, dalam bukunya ia mengatakan:

"Pandangan seorang pemeluk agama Kristen awam tentang terbentuknya agama Kristen, mengikuti keyakinan tentang Isa yang menyampaikan ajarannya sebagai Almasih, sang penyelamat (messiah) yang telah mati. Ia bangkit dari kematian dan mendirikan gereja Kristen di segenap penjuru dunia, yang semakin luas dengan berbagai aktivitas murid-muridnya........"

Demikian pula seorang penganut Kristen awam, meyakini bahwa Isa seorang Yahudi yang mewarisi dengan baik tradisi dan budaya Yahudi. Selain pandangan tersebut, para rasul memahami berita baik Isa dan pengajarannya mengalami perluasan. Mereka mengatakan bahwa para rasul yang hidup bersama dengan beliau, melihat dan mendengar perkataannya. Dengan demikian, berdasarkan pengalaman pribadi yang dialami oleh masing-masing, mereka memahami bahwa beliaulah penyelamat dan Tuhan umat manusia sekaligus putra Tuhan.

Bagaimanapun, seorang awam demikian meyakini kepercayan Kristen. Selamanya, tidak akan pernah hadir dalam benak mereka bahwa keyakinan tersebut telah ada sebelum lahirnya agama Kristen. Selain itu, banyak pula dari mereka yang tidak mengetahui bahwa berbagai prinsip dan asas tersebut, tidak ditemukan dalam Alkitab.

Hal yang tidak diketahui oleh seorang awam, namun diketahui oleh seorang pemikir bahwa pada masa kehidupan Almasih dan setelahnya, para penyembah berhala menyebut tuhan-tuhan yang mereka percayai, dengan nama-nama yang juga menjadi keyakinan agama Kristen. Seperti Mithra sang penyelamat umat manusia, demikian juga dengan Tammuz, Adonis dan Osiris. Keyakinan terhadap Almasih sebagai penebus dosa memasuki pintu agama Kristen, bukan berasal dari agama Yahudi, dan tidak pula Kristen generasi pertama di Palestina.

Messiah yang dinanti kalangan Yahudi dan Kristen yang pada awalnya Yahudi, bukanlah anak Tuhan. Tetapi, seorang nabi yang diutus oleh Tuhan. Ia, tidak datang sebagai penebus dosa orang lain dengan darahnya. Namun, ia datang dengan tujuan membentuk pemerintahan Almasih di dunia ini, untuk menyelamatkan masyarakat. Kaum Kristiani yang sebelumnya merupakan penganut Yahudi, memandang sebelah mata terhadap penyelamatan yang ia bawa menuju singgasana langit. Namun, mereka meyakini penyelamatan dengan sistem baru yang didirikan di dunia. Inilah yang ingin dicapai, walaupun mereka sendiri meyakini ruh tidak fana dan jiwa akan abadi.

Keyakinan Kristen terlihat begitu dekat dengan keyakinan penyembah berhala, ketika mereka meyakini sosok Isa sebagai Tuhan penyelamat. Pandangan ini sama dengan keyakinan terdahulu, terutama pandangan tentang Mithra. Demikian pula dengan peringatan tanggal 25 Desember, sebelumnya merupakan hari kelahiran Mithra yang kemudian dalam Kristen berganti menjadi hari kelahiran Isa. Bahkan, hari sabtu yang merupakan hari ketujuh orang Yahudi yang ditentukan oleh Tuhan melalui syariat Musa (Taurat) dan Tuhan mensucikannya dan lain sebagainya. Inilah pengaruh pemikiran Mithra yang menetapkan hari Minggu sebagai hari kemenangan matahari.

Pada masa perluasan agama Kristen, di kawasan Mediterania tidak terdapat pemikiran tentang ibu yang masih dara dan anaknya yang mati sebagai penebus dosa. Pandangan ini, pada dasarnya berangkat dari prinsip Dewi bumi yang setiap musim semi kembali menjadi dara. Anak-anaknya adalah buah-buahan tanah yang lahir untuk mati. Setelah mati, lalu dikubur di atas tanah hingga biji dari buah selanjutnya tumbuh dan periode baru kembali lahir. Inilah mitos tumbuhan yang merupakan cerita lara tentang Dewa pembebas dan Ibu yang berduka cita, yang tampil secara sangat mengesankan.

Perputaran musim di bumi dan siklus lainnya di langit, sangat bergandengan erat. Muncul keyakinan bahwa Dewi dara adalah bintang Virgo, yang tepat berada ketika bintang Sirius di timur, yang mengumumkan kembali lahirnya matahari. Bintang ini, terbit di bagian timur langit. Adapun diletakannya garis ufuk di antara bintang, sebagai rumus diterimanya ibu dara, yang diberikan melalui matahari. Maka terjadilah perkawinan antara mitos bumi dan mitos langit, dan keduanya bercampur dengan pemikiran tentang para pahlawan sejati dan pendekar fiktif zaman purbakala. Dari sinilah lahir cerita seputar hero yang mengorbankan dirinya.

Goa yang diduga sebagai tempat kelahiran Isa, sebelumnya merupakan goa Cyrus yang kemudian besar menjadi Osiris. Ia rela mati untuk membebaskan kaumnya. Kebanyakan dari berbagai alur cerita ini, meyakini adanya pengorbanan. Para pakar mitologi seperti Fritz dalam bukunya The Golden Bough dan para pemikir besar dan para pakar sastra Yunani dan Romawi seperti Prof. Zilbr, memberikan komentar panjang lebar tentang masalah ini.

Berdasarkan alur ini, muncul berbagai keyakinan yang kemudian dikenal dengan doktrin Kristen. Ekaristi atau Jamuan Terakhir di antaranya, berkaitan dengan Mithraisme yang mengalami perkawinan silang dengan tradisi makan malam Kristen Palestina. Tidak hanya itu, bahkan serangkaian doktrin Kristen seperti Blood of the Lamb, juga meminjam dari ajaran Mithraisme. Tidak hanya keyakinan keagamaan, bahkan beberapa pandangan moralnya pun menarik bagi seorang penganut Kristen. Selain ajaran moral dari aliran tersebut, Kristen juga mengadopsi pandangan aliran lainnya seperti ajaran Stoicism.

Relasi antara Kristen dan politeisme, nampak begitu kuat. Jika pada prinsipnya kristen Yahudi melakukannya, Kristen kini sedikit mendapatkan pengaruh tersebut. Nampaknya, setelah Isa jarang sekali orang yang memanggilnya guru; dialah Almasih, sang penyelamat dan penolong kaum Kristiani.[ii]

Powell dalam buku tersebut kembali menuturkan,

"Paulus menjadi penyebab utama bagi Kristen Yahudi, dalam memenangkan persaingan dengan aliran yang meyakini pengorbanan. Dialah sosok kebanggaan Yunani nan suci dan seorang Yahudi yang memperoleh wahyu, dilengkapi dengan pemahaman yang dalam tentang politeisme. Paulus, merupakan orang yang ahli dalam mengawinkan antara Bani Israil dan Athena dan Sinagog Yerusalem, sebagai tempat pengorbanan Mithraisme dan Yahudi sekte Essenian terhadap Tuhan yang tidak dikenal di perbukitan Areopagus."

Para pemikir Barat, menulis berbagai buku dengan kuantitas yang besar, tentang masalah tersebut. Rangkaian konklusi dari beragam karya mereka, dipetakan kembali oleh Muhammad Thahir Tinir dalam bukunya Afsaneh ha-ye But Parasti dar Ayin Kelisa. Dalam buku tersebut, ditayangkan berbagai potret di antaranya gambar salah satu berhala Hindu, lengkap dengan ciri-ciri khususnya berupa tiga kepala lambang trinitas.

Salah satu panggilan Nabi Isa adalah Logos (kalimah) yang berasal dari filsafat klasik Yunani. Kaum Kristiani, terutama yang bersandar pada Injil Yohanes, meyakini bahwa Isa adalah manusia yang logos Tuhan hidup di dalamnya. Ia menjadi pesan abadi dari Tuhan yang Maha Bijaksana, yang segala sesuatu diciptakan melalui perantaraannya. Pesan azali, berada dalam diri Isa yang hidup sebagai manusia sebagaimana masyakarat biasa; bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, makan dan minum, memiliki keluarga dan sahabat, bekerja keras dan mati.


Tuhan, Tuan dan Putra Tuhan
Penggunaan terma “Tuhan” dalam agama Islam, memiliki batasan area khusus, yang tidak dimiliki oleh agama lainnya. Sebagai contoh dalam Taurat kini disebutkan, Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: lihatlah, aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun dan Harun abangmu, akan menjadi nabimu. (Keluaran 7:1)[iii] Apa yang sudah disebutkan tersebut, hanya khusus untuk terma Tuhan. Sedangkan terma tuan, dalam bahasa Arab setara dengan rabb atau lord dalam bahasa Inggris, yang meliputi makhluk (ciptaan) dan khalik (pencipta). Dengan dasar ini, Nabi Yusuf As menggunakan terma tersebut berkaitan dengan raja Mesir. Al-Qur'an merekam peristiwa tersebut sebagai berikut,

"Ya shâhibayi as-Sijni ammâ ahadukumâ Fayasqî Rabbahu Khamran (Wahai kedua penghuni penjara, adapun salah seorang di antara kamu, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya)..... wa qâla lilladzi zhanna annahu nâjin minhumâ dzkurnî 'inda rabbaka ( Dan ia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua,“Terangkanlah keadaanku pada tuanmu”) (Qs. Yusuf :41- 42).

Dalam kalimat ini bermakna tuan, raja dan pemilik. [iv]

Nama panggilan mulia ”putra Tuhan” yang terdapat dalam beragam agama, ditujukan kepada para nabi dan orang-orang mukmin. Berkaitan dengan ini, Alkitab menuturkan janji Tuhan kepada Nabi Sulaiaman As,

"Ia telah berfirman kepadaku: Solomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku sebab aku telah memilih dia menjadi anak-Ku dan Aku menjadi bapanya” (Tawarikh, 28:6) dan tentang Bani Israil,”Maka harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung” (Keluaran, 4:22).

Dalam keempat Injil dan kitab Perjanjian Baru lainnya, terma tersebut diulang kembali. Misalnya pernyatan Isa sebagaimana dituturkan oleh Matius,

"Tetapi Aku berkata padamu: kasihanilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan tidak benar." (Matius, 5:44-45).

Yohanes, penulis Injil keempat, juga menuturkan tentang orang-orang yang beriman kepada Isa,

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yohanes, 1:12)

Dalam al-Qur'an, kita juga membaca, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan,”Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya...............” (Qs. al-Maidah [5]:18)[v]

Islam, walaupun menerima beberapa nama panggilan sebagai bentuk penghormatan, seperti yadullah dan baitullah, namun, mengharamkan panggilan “putra Tuhan”. Karena, terma ini terbukti yang menjadikan ahli kitab menyimpang. Pengharaman ini, memiliki kategori sekunder seperti pelarangan kata “ra’ina” dalam surat al-Baqarah (2) ayat 104.[vi]

Dalam kitab Perjanjian Baru, tidak ditemukan teks yang bisa dijadikan dasar untuk menjustifikasi konsep Trinitas. Adapun redaksi teks “Bapa, Anak dan Ruh Kudus” (Matius, 28:19), bagi siapa saja yang dengan pikiran kosong memasuki redaksi tersebut, tidak bisa mengkonstruksi konsep demikian. Selain itu, tidak bisa pula ribuan bukti lainnya dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru disodorkan untuk menghapus ketauhidan. Sebagaimana pula dengan teks Tuhan, rasul dan malaikat dalam berbagai ayat al-Qur'an, yang tidak menunjukan Trinitas.

Walaupun tidak ditemukan teks tentang Trinitas dalam kitab Perjanjian Baru, tetap saja sebagian orang-orang yang tidak bertanggung jawab melakukan tipu muslihat, supaya kitab buatan manusia itu terdistorsi. Sehingga, Trinitinas mendapatkan justifikasi dari kitab tersebut. Namun, mereka tidak bisa membuktikan pengkhianatan ini, berdasarkan keempat injil yang ada. Lalu, mereka menggunakan Surat Pertama Yohanes (5:7-8) sebagai sandaran, untuk menetapkan kesatuan antara Bapa, Firman dan Ruh Kudus. Di luar itu, para peneliti Barat yang mengkaji berbagai tulisan tangan klasik, mengemukakan bahwa redaksi ini hanya terdapat pada tulisan tangan mutakhir, yang tidak pernah ditemukan pada berbagai naskah sebelumnya.

Ketika terbentur dengan nihilnya teks yang jelas tentang Trinitas, serta keterbatasan area dan pandangan global terhadap redaksi teks tentang ketuhanan Isa, akhirnya kaum Kristiani mengalihkan makna terma “Putra Tuhan” yang berkaitan dengannya, dari makna penghormatan menjadi makna sejati. Walaupun demikian, selama tiga kurun berlalu mereka masih berselisih pandangan seputar ketuhanan Yesus. Menjelang kurun keempat, Uskup terkemuka bernama Arrives[vii] bangkit melawan keyakinan ketuhanan Yesus dan terjadilah perdebatan sengit. Namun tidak lama setelah itu, pada tahun 325 M sekitar 300 Uskup diundang oleh Constantine[viii] sang kaisar Kristen I, di kota Nicaea Asia Kecil dan membentuk sebuah dewan. Dalam dewan ini, pandangan ketuhanan Yesus diterima oleh kebanyakan peserta yang hadir ketika itu, sekaligus mengumumkan gugurnya pendapat Arrives. Dalam ketetapan Dewan gereja yang terkenal dengan nama Councils of Nicaea[ix] tentang Isa mengatakan demikian,

"Isa Almasih adalah putra Tuhan, lahir dari Bapa, terlahir tunggal dari dzat Bapa, Tuhan dari Tuhan, cahaya dari cahaya, Tuhan absolut dari Tuhan absolut, yag lahir bukan sebagai makhluk, dari sebuah dzat dengan Tuhan, Ia turun dan berinkarnasi sebagai manusia karena umat manusia, untuk membebaskan kita umat manusia........ terlaknat bagi siapa saja yang mengatakan Ia pernah tidak ada, atau sebelum wujud terlebih dahulu tiada, maupun dari tiada mengada dan siapa saja yang mengakui bahwa Ia dari zat genus lainnya atau putra Tuhan yang terlahir atau yang bisa dirubah maupun diganti."[x]

Berdasarkan dukungan teks dari para Maksum As dan pandangan para ulama Islam, juga pendapat para pemikir Barat, tidak diragukan lagi bahwa keyakinan Kristen kini, merupakan produk jerih payah Paulus.

Hal ini tepat, sebagaimana dalam surat Paulus kepada Kolose (1:15) bahwa Isa adalah ciptaan pertama dan utama dari segala sesuatu. Namun, dalam suratnya kepada Filipus (2:1-11) ia menyebutkan berikut,

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yag terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaran dengan Allah itu sendiri sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya sendiri, dan taat sampai mati, bahkan sampai mati dikayu salib..............."

Penjelasan tentang kondisi dan pemikiran Paulus diungkapkan dalam kitab Kisah Para Rasul dan beberapa suratnya. Demikian pula dengan awal dan akhir dari Injil Barnabas yang sangat keras mengkritiknya[xi]. Sebagian dari hadis-hadis Islam, menyebutkan bahwa Paulus adalah pemuka agama yang membawa kesesatan bagi kaum Kristiani.[xii] Paulus meninggal berkisar tahun antara 64 hingga 67 M.

Menurut keyakinan para penganut Kristen dan juga sejumlah peneliti, Injil-injil seirama selama puluhan tahun sebelum munculnya Injil Yohanes. Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 100 M, yaitu 30 tahun setelah kematian Paulus. Dengan melakukan komparasi global terhadap muatan isi ketiga Injil yang seirama dengan Injil Yohanes di sisi lain, nampak ketiga injil tersebut tidak terlampau berlebih-lebihan ketika mengupas sosok Isa. Namun, di beberapa sudut Injil akhir (Injil Yohanes), terdapat pembahasan yang berlebih-lebihan tentang Isa seperti klaim Ketuhanannya. Barangkali, inilah juga yang dijadikan alasan ketidak setujuan Yahudi terhadap Isa. Kaum yahudi, tidak meyakini bahwa diri Isa sendiri dipanggil sebagai Tuhan (Yohanes, 10:31-38).

Ketika mengikuti perkataan Isa Almasih yang terdapat pada keempat Injil, kita akan menemukan beliau beberapa kali menggunakan terma “Allah-Ku“ pada saat mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagaimana diutarakan dalam Injil Yohanes,"........dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu”. (Yohanes,20:17) Demikian juga dengan sembahyang, ibadah maupun doa beliau diharibaan Tuhan. Terutama setelah terjadi pertikaian, dalam beberapa tahapan ia bermunajat kepada Tuhan, sebagaimana dituturkan sendiri oleh Matius (27:46) dan Markus (15:34) pada akhir doa beliau, “Allahku, Allahku, Mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.


Trinitas
Terma “Trinitas” selamanya tidak akan pernah ditemukan dalam Alkitab kaum Kristiani. Pertama kali diketahui penerapan terma tersebut, dilacak pada sejarah agama Kristen sekitar tahun 180 M. Namun, menurut klaim para penganut Kristen, akar-akar dari konsepsi Trinitas tersebut bisa dilacak pada Perjanjian Baru seperti redaksi pemberian hak baptis yang direkam Matius menjelang akhir Injilnya, “Dan Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Ruh Kudus” (Matius, 28:19).

Para penulis kitab Perjanjian Baru, terbiasa memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa. Istilah ini, berasal dari agama Yahudi. Menurut penuturan keempat Injil, Isa mengajarkan kepada para muridnya bahwa dalam doa-doa mereka panggilah Tuhan dengan sebutan Bapa langit. (Matius, 6:9) Sebagaimana Isa mengatakan, .... dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan bapamu, kepada Allah-ku dan Allahmu”(Yohanes,20:17)

Para penulis Kristen Arab, memanfaatkan konsep inkarnasi dan kesatuan (ittihad) yang terdapat pada literatur para sufi, untuk memahami relasi Isa dengan Tuhan. Dengan adanya hubungan khusus tersebut, Isa di panggil dengan sebutan putra Tuhan, walaupun kaum kristiani tidak memahaminya sebagai produk jasmani. Dengan demikian, pemikiran tentang Tuhan yang memiliki anak, ditilik dari satu arah tidak diterima dalam Islam dan Kristen.

Pada umumnya, perjanjian baru menamakan Ruh Kudus dengan Ruh Tuhan. Konsep Ruh Kudus dalam Kristen, memiliki perbedaan yang mencolok dengan pandangan Islam terhadap hal tersebut. Lalu, apakah menurut tradisi Kristen dan Alkitab sendiri, Ruh Kudus Jibrail sebagai malaikat, ataukah pencipta dari pencipta yang tidak berpisah dari Tuhan sendiri.

Kaum Kristiani meyakini bahwa Ruh Kudus adalah Tuhan sendiri yang bersemayam dalam hati manusia dan dunia. Ia tengah sibuk dengan pekerjaannya tersebut. Ruh Kudus adalah eksistensi yang kuasa dan aktif di dunia. Melalui Ruh Kudus, Isa bersemayam dalam perut ibu. Sebelum terlahir menjadi manusia, berkat Ruh Kudus, Isa dibawa ke gurun sahara dalam waktu yang tidak terlampau lama, untuk mendapatkan pengalaman. Demikian halnya dengan penjelasan keempat Injil, Ruh Kudus dilukiskan menjelma menjadi seekor burung merpati, yang mendatangi Isa dan terus bersamanya setelah mandi baptis di sungai Yordania. Ruh Kudus membimbing jemaat Kristen, memberikan pengajaran, mengungkapkan berbagai rahasia Tuhan dan memberikan ilham kepada para penulis Alkitab. Dalam perjanjian baru, Ruh Kudus juga sering disebut sebagai Ruh pelipur Lara, Ruh Hikmat dan Iman, Ruh Keberanian, Ruh Kasih sayang dan Kebahagiaan.

Sepanjang sejarah merentang, gereja Kristen sejak awal hingga saat ini mengklaim bahwa secara natural, tiga wajah Tuhan merupakan sebuah rahasia yang tidak bisa diungkapkan dengan menggunakan redaksi manusia.

Sampai saat ini, para penulis Kristen dari kalangan teolog dan para mistikusnya, dengan bantuan Perjanjian Baru berupaya memecahkan berbagai problem seputar Dzat Tuhan. Namun nampaknya, tetap saja mereka tidak mengakhiri upaya untuk menjustifikasi Trinitas.

Untuk mengungkap rahasia Tuhan tiga wajah, para pemikir Kristen dalam berbagai generasi, meminjam berbagai konsep filsafat. Sebagian dari pandangan tersebut, diterima oleh Paus dan Dewan Gereja dan sebagian lainnya diumumkan tidak benar.

Dari sini, kaum kristiani meyakini bahwa Ruh Kudus sebagai pembimbing kesinambungan gereja. Dari dalam keimanannya, mereka mengatakan bahwa memahami rahasia Trinitas tersambung dengan bantuan para Paus, Dewan Gereja, para pemikir dan kaum mistis yang tumbuh dan berkembang terus-menerus. Dewan Gereja I mengumumkan bahwa Tuhan Esa, namun tiga ognum. Terma ognum, berasal dari akar kata Yunani yang berarti jalan eksistensi. Maka, makna dari tiga aganim (dalam bentuk plural) adalah tiga jalan untuk tiga kondisi bagi eksistensi Tuhan dan tindakan-Nya.

Para penulis kristen yang berbahasa Arab, menggunakan terma Yunani asli “ognum” dan dari kata “sifat” yang bermakna manifestasi. Padanan latin dari terma ognum adalah persona yang berarti tirai penutup.


Sang Penebus Dosa
Dalam keyakinan penganut Kristen, berbagai akibat dosa di luar dari natural manusia tidak aka tersisa. Dalam Zabur daud, beberapa kali muncul doa ini ”Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah Aku seluruhnya dari kesalahanku dan tahirkanlah aku dari dosaku!." (Mazmur, 51:3-4)

Orang yang terjerumus dalam lingkungan yang penuh dosa, dirinya tercemar dan nampak tidak suci. Menurut kebanyakan agama, mencuci badan merupakan tanda pengakuan terhadap noda dosa. Hal ini menunjukkan perlunya pensucian ruh melalui jalan taubat.

Mereka meyakini bahwa dampak situasional melanggar aturan Tuhan, alam semesta dan sistem moral, setelah taubat masih tersisa. Ketika seseorang melakukan dosa, semua umat manusia akan terkena nodanya. Hal ini menyebabkan perasaan ternoda dan diri memerlukan penyucian kembali. Dalam agama Kristen, ketika meremehkan dampak dosa terhadap sistem moral dan meletakkannya hanya persoalan pribadi yang berdosa, hal itu sama saja dengan tidak menghiraukan pengajaran yang dianugerahkan Tuhan, sebagaimana orang yang tidak menghiraukan pekerjaan buruk.

Karena semua orang berperan dalam berbagai pengaruh dosa, maka perlu seorang wakil dari manusia sebagai penebus dosa tersebut. Menurut kaum Kristiani, Isa menjadi penebus dosa tersebut, sekali dan untuk selamanya. Di sini, pengampunan sempurna dan ketaatan absolut, bisa mendobrak tembok dosa yang membatasi antara manusia yang membangkang dengan Tuhan yang tidak terbatas kebaikannya. Menjadi penebus dosa tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, kecuali orang yang dirinya secara penuh tidak berdosa dan bersatu dengan hikmah Ilahi.

Beberapa orang dari kalangan Kristen meyakini bahwa penebusan dosa yang dilakukan Isa ini, ditafsirkan sebagai pembawa kedamaian bagi Tuhan yang murka, menginginkan kematian orang terpilihnya. Namun mayoritas pemikir mereka, menolak pandangan seperti itu.

Sebagian dari kaum Kristiani mengatakan bahwa Isa dikorbankan. Pemikiran ini, berasal dari berbagai pengorbanan Yahudi. Para pemeluk Kristen tidak perlu berkorban, karena Isa telah menjadi tumbal yang dikorbankan selamanya. Kaum Katolik, meyakini bahwa roti dan anggur dalam ekaristi sebagai bentuk “pengorbanan”.

Ketika Para rahib Yahudi menjalankan upacara pengorbanan, sebagian dari tetesan dari tersebut menjadi altar -sebagai tanda Tuhan- sebagai tetesan yang dikucurkan kepada kaum tersebut. Tindakan ini, sebagai makna bahwa terjadi kesatuan pengorbanan antara Tuhan dan kaum Bani Israil. Pengorbanan setara dengan perjanjian. Maka, dengan pengorbanan dan perjanjian, Tuhan Yang Maha Esa menjadi Tuhannya dan mereka menjadi kaum-Nya !

Menurut kaum Kristiani, kematian Isa mempersembahkan Perjanjian Baru di antara Tuhan dan seluruh umat manusia, yang tidak hanya terbatas pada kaum Yahudi saja. Dengan klaim keberadaan Injil-injilnya, Isa pada saat jamuan terakhir, memberikan roti dan anggur kepada murid-muridnya seraya bersabda: “Ambilah cawan dan minumlah; inilah darahku pada perjanjian baru yang dalam jalan kalian dan banyak tumpah karena ampunan dosa-dosa”. Menurut keyakinan pemeluk Kristen, kehidupan baru dimulai sejak pengorbanan Isa, sebagaimana pengaruh dosa tidak bisa menjadi penghalangnya. Melalui wakilnya, yaitu Isa yang disalib, manusia bisa menemui Tuhan dengan damai.


Tujuh Sakramen
Menurut keyakinan pemeluk Kristen, Almasih bangkit di antara orang-orang yang telah mati, dan hidup di tengah masyarakat Kristen serta bersama mereka. Demikian pula ia melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagaimana yang ia lakukan dalam sepanjang hidupnya di Palestina; seperti mengajar, doa, melayani umat, mengobati orang yang sakit, memberikan makanan kepada orang-orang yang kelaparan, memaafkan orang-orang yang bersalah, tegar dalam menahan penderitaan dan kematian.

Pekerjaan-pekerjaan tersembunyi (yang tidak nampak) Almasih, dalam kehidupan gereja melalui sakramen terlihat jelas. Dengan kata lain, ketika seorang Kristiani mengikuti sebuah upacara keagamaan, dengan amal tersebut ia akan dianugerahi pertemuan dengan Almasih yang bangkit dari kematian dan emanasi Tuhan sebagai pemberi keselamatan akan tercurah kepadanya.

Nampaknya, seluruh penganut Kristen sepakat terhadap dua komponen sakramen pokok mereka yaitu baptis dan ekaristi. Para penganut Kristen Katolik dan Ortodoks meyakini adanya lima sakramen lainnya, sehingga seluruh doktrin sakramen tersebut menjadi tujuh. Sedangkan sekte Protestan berbeda pandangan terhadap ketujuh doktrin tersebut. Namun, kebanyakan mereka secara pasti menerima dua doktrin pokok kristen yaitu baptis dan jamuan terakhir. Walaupun demikian, ada sejumlah kecil ordo Protestan yang menolak semuanya seperti ordo Quakers dan salvation Army.


Baptis
Doktrin paling mendasar dari seluruh keyakinan Kristen adalah baptis. Melalui baptis, manusia memasuki jemaat kristen dengan memanggul risalah gereja. Risalah ini, bersaksi tentang keselamatan dari Tuhan melalui Isa. Menurut keyakinan setiap penganut Kristen, baptis merupakan sarana yang dianugerahkan Tuhan, dalam seluruh dampak kehidupan dan kematian Isa. Setiap penganut Kristen, hanya sekali dibaptis yaitu ketika memasuki jemaat Kristen.

Baptis pada prinsipnya dilaksanakan dalam bentuk pencucian. Dalam tradisi sebagian gereja, dengan mengucurkan air di kepala seseorang yang tengah dibaptis. Pada sebagian gereja lainnya, seseorang masuk ke dalam air lalu keluar. Beberapa gereja juga membaptis dengan air di alam seperti sungai dan danau. Pada saat pelaksanaan baptis, pendeta membaca sebuah doa yang dipetik dari bagian terakhir Injil Matius, sebagaimana kita membacanya, ”Dibaptis dengan nama Bapa, Putra dan Ruh kudus”. Sebagian dari gereja-gereja protestan, hanya memberikan baptis dengan nama Isa.

Hari raya Paskah merupakan ritual agama Kristen yang diperingati berkenaan dengan kemenangan Isa Almasih menemui akhir kehidupannya dan bangkitnya beliau dari orang-orang yang mati, pada hari ketiga dari penyaliban beliau ditengah jamaat Kristen.

Terma Perancis “Pasques” merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani “Pesach”, yang melalui bahasa Yunani dan Latin memasuki bahasa Perancis dan dalam rentangan zaman menemukan bentuk tersebut. Menurut penjelasan Injil, Isa disalib dan diangkat ke langit pada hari Pesach yahudi.

Hari raya Paskah pertama diperingati pada hari Minggu setelah pertama kali bulan purnama sesudah pertengahan musim semi. Berdasarkan hal ini, terjadinya mungkin pada 2 Farvardin hingga 5 Urdibehest yang bertepatan dengan 22 Maret hingga 25 April. Hari raya Pesach yahudi (peringatan keselamatan bani Israil dari tangan Firaun) yang berjalan sekitar seminggu mulai dari 16 hingga 21 (di luar Palestina mencapai 22) dilangsungkan peringatan simbol Ibrani. Pada sebagian tahun, berbarengan dengan perayaan Paskah Kristen.

Sebagian dari ritual kaum kristiani pada hari raya Paskah antara lain: menghidupkan malam, membaca Alkitab, munajat dan doa, menyelenggarakan upacara ekaristi, aksi teater mencari jasad Nabi Isa dan pengumuman pengangkatannya, pesta dan terang benderang lampu, memberikan hadiah telur berwarna dan lainnya.

Sebelum dan sesudah perayaan Paskah, terdapat ritual ibadah secara meriah berlangsung. Untuk mengenal mereka lebih jauh, pada waktu tertentu harus mengunjungi negara-negara Kristen seperti Italia supaya bisa menyaksikan dari dekat. Jika tidak, sebagian penjelasan dari berbagai buku maupun film, nampaknya tidak memadai bahkan terlampau banyak kekeliruan.

Bagaimanapun, peringatan hari raya Paskah terasa lebih religius dibandingkan hari raya Natal dan awal tahun baru. Selain itu, aspek ibadahnya lebih kentara. Adapun berbagai tindakan yang dilakukan antara lain:

1) Ketika menjelang terbenam matahari, melangsungkan upacara ekaristi.

2) Sekitar Dhuhur Jumat, kaum Kristiani memperingati kematian Isa yang disalib.

3) Dengan diangkatnya Isa serta kembali ke kehidupan baru, antara terbenamnya matahari hari Sabtu dan minggu, dirayakan hari raya Paskah.

Upacara ritual terpenting adalah peringatan hari raya Paskah yang dahulu kala dimulai menjelang terbenamnya matahari pada hari Sabtu dan hingga malam tiba. Ritual ini diakhiri ketika pajar menyingsing di hari Minggu, yang menurut injil merupakan saat dimana Almasih bangkit dari kematian. upacara ritual tersebut pada masa kini lebih singkat, yang menghabiskan hanya sekitar dua hingga empat jam. Pada perayaan ini, diumumkan orang-orang yang baru masuk jemaat Kristen dan pengambilan baptisnya. Anggota lama pun memperbaharui keimanannya dengan mengikat janji pada kehidupan seorang pemeluk agama Kristen yang baik.


Konfirmasi Keimanan
Pertengahan kedua dari jalan dan kemajuan dalam kehidupan Kristiani, disebut sebagai confirmation sebagai doktrin kedua dari tujuh sakramen Kristen.

Pada pertengahan pertama, (yaitu baptis) menegaskan terhadap keselamatan dari dosa. Dengan menjalaninya, Tuhan berdamai dengan para pendosa dan kehidupan dibimbing berdasarkan keimanan dan ketaatan.

Pada pertengahan kedua (konfirmasi) dari menegaskan aspek positif pengorbanan, dari apa yang Tuhan sampaikan, melalui Isa, kepada manusia. Selain itu, mengharapkan bantuan dari Ruh Kudus dalam menjalankan kewajiban tersebut. Maka, keselamatan tidak hanya berkaitan dengan pengampunan dosa, tetapi meliputi juga risalah Isa untuk merubah dunia berdasarkan kuasa Tuhan. Konfirmasi memberikan kekuatan kepada manusia untuk merenungkan dan menjalankan kewajiban di tengah masyarakat, sebagaimana layaknya seorang penganut Kristen sejati.

Konfirmasi diberikan oleh Uskup atau penggantinya. Dasarnya adalah mengusapkan orang yang dikonfirmasi dengan minyak, seraya mengucapkan “Ruh Kudus terimalah, hingga bisa bersaksi terhadap Almasih”. Di berbagai gereja, redaksi ini sedikit berbeda. Namun pada prinsipnya, semua memiliki makna yang sama.

Ketika seseorang melekatkan diri pada gereja sudah baligh, baptis dan konfirmasi secara bersamaan dilakukan, sebagai bagian dari ritual yang harus dijalaninya. Setiap orang yang sejak anak-anak di baptis, konfirmasi diundur hingga usia baligh yaitu antara 13 hingga 16 tahunan. Sebagian dari gereja Protestan tidak membaptis anak-anak, karena menurut mereka, sebelum dibaptis seseorang harus berdasarkan pengetahuan dalam mengikuti Isa.


Pernikahan
Para penganut Kristen, meyakini bahwa pernikahan bukan urusan dunia. Pernikahan merupakan bersatunya cinta kasih antara dua orang yang berjanji menempuh hidup bersama, dibarengi dengan kejujuran dan saling bekerjasama. Selain itu, pernikahan juga terbentuk untuk melanjutkan keturunan, mendidik anak dan membesarkannya dalam atmosfer iman dan kecintaan kepada Tuhan. Oleh karena itu, para penganut Kristen meyakini bahwa pernikahan sebagai formula dan ciri-ciri manusia, sebagai jalan perilaku Tuhan kepada manusia. Ialah Tuhan Yang Maha Suci, mencintai manusia, memperhatikan kehidupannya dan menepati segala janji-Nya.

Kaum Kristiani ketika menikah, menyatakan janji bahwa bersatunya laki-laki dan perempuan sebagai tanda yang jelas bagi kasih sayang Tuhan kepada manusia dan kecintaan Isa Almasih kepada murid-muridnya. Dengan dasar ini, pemeluk Kristen meyakini bahwa pernikahan merupakan perjanjian seumur hidup. Ketika pasangan masih hidup, mereka pun menolak talak, percerian dan pernikahan kedua kalinya.


Tingkatan Suci Para Ruhani
Dengan adanya tingkatan ruhani (Holy Orders), kehidupan manusia dipersembahkan kepada jamaat Kristen, dan berakhir dengan melayani semua umat manusia. Tingkatan pokok para ruhani, terdiri dari tiga bagian antara lain:

* Uskup yang merupakan wakil Almasih dalam koridor khusus yang disebut area uskup. Sebagai representasi dari Isa, ia memberikan pengajaran, memimpin upacara ibadah dan memberikan pelayanan lainnya.

* Pendeta, ia merupakan asisten Uskup yang membantu menjalankan tiga kewajiban khusus, dalam kelompok tertentu.

* Diaken, ia menyampaikan kalam Tuhan dan membantu orang-orang miskin, manula, orang-orang sakit dan orang-orang yang tengah menjelang sakarat maut.

Beberapa nama khusus lainnya dalam gereja seperti Paus, Patriarch, kepala Uskup, Kardinal, Arshimandariat, dan nama lainnya sebagai tanda kewajiban khusus dan tidak ada kaitannya dengan tujuh sakramen.


Pengakuan Dosa (Penance)
Para penganut Kristen, meyakini bahwa pengakuan dosa diperoleh melalui jalan taubat atau berdamai dengan kemurahan Ilahi. Maka, sebagaimana kaum muslimin dan Yahudi, mereka meyakini bahwa taubat menyebabkan pengampunan Tuhan. Kaum Kristen menjalani ritual taubat hingga pesan Tuhan terdengar dan selalu teringat curahan ampunan kepada manusia, melalui tindakan penyelamatan yang dilakukan Isa sepanjang hidupnya, untuk semua umat manusia. Dari sini, dosa tidak hanya bermakna tidak menghormati Tuhan. Namun, kesimpulan dari situasi dan kondisi yang juga berada dalam level masyarakat. Kaum Kristiani, meyakini bahwa ampunan diperoleh dalam jemaat gereja.

Doktrin penance, sepanjang sejarah Kristen mendapatkan berbagai serangan kritikan. Pada kurun pertama sejarah gereja, pengakuan dosa ini dilakukan secara terbuka. Namun pada kurun selanjutnya, doktrin ini diljalankan secara perorangan hingga menjadi tradisi sampai saat ini.


Extreme Unction (Mengulaskan Minyak Suci kepada Pesakit)
Ketika dosa yang menyiksa ruh, menyebabkan lesunya hubungan manusia dengan Tuhan, maka sakit jasmani pun demikian, menjadi masalah kehidupan manusia di bumi. Dalam dua kondisi tersebut, kaum Kristiani mempersiapkan diri untuk mendengar pesan keselamatan Tuhan. Karena, mereka meyakini bahwa Tuhan mengutus Almasih untuk menjenguk orang-orang sakit dan mengobatinya serta menyertai orang yang mempersiapkan diri pada kondisi hendak melepaskan nyawanya.

Doktrin extreme unction, sebagai simbol wujud Tuhan dan kasih sayang-Nya. Selain itu ajaran ini mengingatkan manusia, bahwa Tuhan tengah menguji melalui sakit tersebut dan tidak melupakannya.

Ketika merasakan kesendirian tanpa seorang pun, terutama ketika menjelang saat-saat terakhir badan sedikit demi sedikit berpisah dari ruh sampai menjelang kematian. Pada saat itu, mengusap pesakit dengan minyak suci, mereka bisa merasakan ada yang menemaninya dan Almasih pun bersama dengannya menuju Tuhan. Demikian pula, dengan saudara seiman yang menemani dan berdoa untuknya.


Ekaristi
Ekaristi atau jamuan terakhir dalam pandangan seorang penganut Kristen, tidak hanya menjadi bagian dari tujuh sakramen. Tetapi tindakan ini, merupakan masalah penting keimanan dan syiar ibadah Kristen. Inilah saksi menjadi peringatan saat terakhir pertemuan Isa dengan para muridnya pada malam menjelang kematiannya. Isa ketika itu, memberikan roti dan anggur sebagai simbol daging dan darah kepada murid-muridnya, hingga mereka memakan dan meminumnya. Para penganut agama Kristen menghadiri upacara tersebut, meyakini bahwa Isa dengan jasmaninya sendiri hadir di tengah mereka. Demikian pula, mereka meyakini bahwa perjanjian Tuhan dengan kaum Yahudi bersandar pada darah pengorbanan di gua Thursina. Dengan demikian, perjanjian baru antar Tuhan dengan manusia disandarkan melalui darah Isa Almasih.

Setiap gereja Kristen, dalam merayakan upacara ekaristi ini, melakukan berbagai inovasi masing-masing. Namun, terdapat dua unsur-unsur utama dari semua ritual tersebut.

* Membaca dua atau tiga bagian dari Alkitab

* Memakan pengorbanan suci

Ketika mengambil berkat dari roti dan anggur, pemimpin ritual membaca sabda Isa pada makan malam terakhirnya. Dalam berbagai gereja Katolik dan Ortodoks, tidak ada seorang pun yang bisa memulai ritual tersebut kecuali Uskup dan Pendeta. Selain membaca Alkitab dan memakan korban, membaca doa, munajat dan syukur bersama, dibarengi dengan pesan kehidupan (biasanya berdasarkan pada tingkatan bacaan yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari penganut Kristen) serta bersalaman. Banyak dari para penganut Kristen Protestan begitu meyakini upacara jamuan terakhir ini. Bahkan untuk menjalankannya secara benar dan sempurna upacara tersebut, harus memiliki kesiapan penuh. Oleh karena itu sebagian dari mereka, hanya pada momentum tertentu saja melakukannya. Banyak dari mereka melakukan ritual ekaristi tersebut dalam setahun empat kali, atau sebulan sekali. Para penganut Kristen Ortodoks, jamuan terakhir ini dilakukan pada hari Minggu dan hari-hari besar lainnya. Namun, para penganut Katolik mengatakan bahwa jamuan terakhir merupakan hati dari ritual ibadah harian, oleh karena itu upacara tersebut harus dilakukan setiap hari.


Sebab-sebab Tersebarnya Kristen
Dua sebab utama dalam pertumbuhan dan penyebaran agama menjadi penting. Pertama, sabar menghadapi berbagai cobaan dan rintangan Kedua, tabligh dan menyebarluaskan agama hingga titik darah penghabisan.

Para penganut agama Kristen sekitar dua ratus tahunan merasakan penderitaan tersebut, berbagai rintangan mulai dari cemoohan hingga banyak yang harus mempersembahkan nyawanya sendiri. Peristiwa ini, terjadi sekitar tiga ratus tahunan. Kunjungan berbagai kaum dalam periode tersebut, diiringi dengan berbagai kekuranganya masing-masing. Penambahan kuantitas jemaat Kristen pada emperium Roma, menyebabkan Kristen menjadi agama resmi di negeri tersebut. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan pertama kurun keempat masehi. Selain itu, berdasarkan dampak lainnya yaitu tabligh, kristen sejak saat itu tersebar keseluruh penjuru dunia.

Sebagian agama-agama seperti Yahudi tidak mengenal tabligh dalam agamanya, dan penambahan kuantitas pemeluk tidak dihitung sebagai arah menuju kesempurnaan. Namun agama lainnya seperti Islam dan Kristen, begitu meyakini peran penting tabligh. Berbagai tim misionaris Kristen dari dulu hingga kini memasuki berbagai tempat di seluruh pelosok dunia dengan membawa agama ini. Bersamaan dengan kuncup dan mekarnya peradaban Barat pada kurun akhir dan terjadinya imperialisme serta penyerangan budaya, Kristen di Barat mengalami perkembangan yang luas.[bersambung]


Catatan Kaki:
[i] Qs. Ali Imran:64

[ii] Davies, A. Powell, The Meaning of the Dead Sea Scrolls, New York: New American Library, 1956, pp.89-91.

[iv] Kalimat Khodavan Khoneh (tuan rumah) juga berasal dari sini.

[vi] Demikian halnya pada kurun akhir, Ghandi sang terkemuka pemimpin India menyebut “Para Putra Tuhan” kepada kubu sakit hati Najasian untuk menarik hati mereka.

[x] Miler, W.M. Tarikh Kalisa-Ye Qadim dar Imperatur Rum va Iran, terjemah Farsi Ali Nahastin, Tehran : Intisharat Hayat Abadi, 1981 hal 444.

[xi] Kaum Kristiani tidak mengakui Injil Barnabas

[xii] Sebagai contoh lihat Bihar an-Anwar Allamah Majlisi jilid 8 hal 311

0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis
Filsafat dari Nama Rasulullah Saw
Mengapa Allah Swt dalam al-Quran berfirman, “Inna ma’a al-usri yusra” tidak ...
Antara cinta dan benci kepada Imam Ali bin Abi Thalib
Hujr bin Adi, Korban Kesadisan dan Fanatisme Buta
Kemuliaan Akhlak Sayidina Hasan as
Siapa Ahlul-Bait Rasulullah (saw)?
Ali dengan Rasulullah bagai Harun dengan Musa
Mutiara Hikmah dari Imam Hasan Askari as
Siapakah Muhammad Saw

 
user comment