Indonesian
Saturday 13th of August 2022
0
نفر 0

Kelana Teologis (Sebuah Pengembaraan Yang Mencerahkan)

Kelana Teologis (Sebuah Pengembaraan Yang Mencerahkan)

Aku terlahir dari kedua orangtua yang sangat fanatik dengan ajaran Katolik. Ayahku adalah seorang pendeta yang banyak menghafal Injil. Ibuku, seorang Katolik ortodox, yang senantiasa memberikan kami kopi pagi setelah ia kembali dari gereja.

Bahkan semenjak masa-masa mudaku, aku diminta dan dikemas untuk menghafal beberapa ayat dari Injil. Pada masa yang telah ditentukan, aku berhasil menyelesaikan kajian dan pelajaran yang terdapat dalam empat kitab Injil (Matius, Yohana, Lukas dan Markus) dan menghafal ayat-ayat penting yang terkandung dalam keempat kitab tersebut.

Ayahku kadang-kadang mengajakku pergi bersamanya tatkala ia berkhutbah, dan memberikan tekanan dan perhatian khusus kepada titik-titik kontroversial dari ajaran tersebut kepadaku, dan mengajarku pelbagai metode dalam menjelaskan hal itu kepada orang lain. Sangat jelas bahwa ia menghendaki supaya aku dapat menggantikannya kelak menjalankan profesi sebagai seorang pendeta. Hasrat kuat dari buah kecintaan seorang ayah yang ingin membuatku sebagai seorang pendeta dilakukan dalam bentuk pengajaran kepadaku dengan pengetahuan yang mendalam dan luas ihwal Injil dan metode transformasi ajaran tersebut kepada orang lain.

Waktu berlalu, aku duduk di Form IV di sekolah yang membolehkan aku menkhutbakan Injil dengan caraku sendiri, namun tetap mendapatkan pengawasan dan supervisi dari ayahku. Banyak senior misionaris mengagumi pengetahuan yang aku miliki tentang doktrin-doktrin penting iman. Aku lalui Form IV dan bergabung pada sebuah College. Di tempat itu, aku berkenalan dengan beberapa teman sekelas yang menganut ajaran Protestan, beberapa dari mereka sangat mahir dan pandai dalam kajian Injil Protestan. Aku sering bertemu dengan teman-teman sekelas yang menganut ajaran Protestan dan mendiskusikan hal-hal yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan dalam iman kami dan praktik-praktik ritualnya.

Di tempat itu juga terdapat beberapa pelajar yang beragama Islam, namun aku hanya berjumpa dengan mereka di tempat bermain (play ground) lantaran aku kurang suka berkumpul dengan kaum Muslimin yang aku anggap sebagai orang-orang fanatik yang berbahaya.

Sesuai dengan jadwal, aku berhasil menyelesaikan tahun pertama di College tersebut. Pengetahuan yang aku miliki tentang iman Kristen yang dianut oleh Gereja Katolik cukup memadai dan pengetahuan yang lumayan ihwal pandangan kaum Protestan.

Sebagai bentuk apresiasi atas penguasaan iman Katolik ini, di masa mudaku aku diberikan beasiswa dari Gereja dan sebagai ganti dari beasiswa yang aku terima, aku diminta untuk mengikuti pelatihan khusus berupa bimbingan yang lebih mendalam tentang bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci, di bawah Pemimpin Pendeta Gereja yang sangat senang memberikan pelajaran kepadaku dan sangat akrab denganku.

Ia menggunakan metode kebaktian dalam beribadah kepada Yesus dan Ibu Kudusnya. Setelah tampak pada kelompok pertama bagi tingkat intermeditku, aku selalu duduk hingga larut malam mengikuti kuliah-kuliah yang ia sampaikan.

Suatu malam tatkala seluruh orang telah tertidur dan aku larut dalam pelajaranku, sebuah ide tiba-tiba terlintas dalam benakku yang memancing aku untuk menguji doktrin Trinitas, formula dasar iman Kristen. Pertanyaannya, bagaimana tiga hal yang berbeda menjadi satu dan sama, muncul dalam benakku misalnya, bagaimana segala yang tunggal bersifat mutlak dalam ketunggalannya dengan kesatuannya yang tak terbagi, dapatkah ia dengan sendirinya menjadi terbagi ke dalam tiga wujud dengan tiga varian asli bertentangan antara satu dengan yang lain, membenarkan pembagian menjadi tiga entitas yang berbeda.

Kegagalanku untuk mengingat keyakinanku dalam Trinitas dengan penalaran ilmu logika, telah menciptakan keresahan jiwa bagiku. Hari berlalu dan musim berganti, aku berpikir untuk bertanya kepada ayahku sehingga dapat membantuku memecahkan masalah ini yang membingungkan pikiranku. Namun aku tahu, ayahku tidak akan pernah mengapresiasi sekecil keraguan pun dalam dogma keyakinan ajaran Katolik dan usahaku untuk mendiskusikan segala sesuatu yang ditolak oleh iman Katolik, hanya akan menciptakan masalah yang lebih banyak dalam kehidupan pribadiku.

Akan tetapi, suatu hari ketika aku dapatkan ayahku dalam suasana hati yang baik, aku bertanya kepadanya bagaimana ia membela iman Kristiani tentang Trinitas terhadap serangan-serangan dari pemeluk agama-agama lainnya di dunia ini. Jawaban yang diberikannya sebagai berikut:

"Dalam urusan iman setiap orang harus berhenti bernalar. Setiap orang harus yakin terhadap ajaran ini hanya dengan hati dan pikiran."

Jawaban yang diberikan oleh ayahku membuat kekesalanku dan kekecewaanku semakin bertambah hingga tataran tertentu dan seluruh pikiranku terfokus pada pertanyaan yang telah menjadi masalah utama yang membingungkan pikiranku dan aku berkata:

"Apaan! Apakah hal ini yang menjadi landasan yang di atasnya dibangun graha raksasa keyakinan Kristen? Apakah dasar keyakinanku sendiri merupakan sebuah perkara ikut-ikutan secara membabi-buta dari keyakinan yang didiktekan yang tidak kuasa menahan gempuran penalaran (reasoning) independen yang cermat dan argumen-argumen netral dan tidak memihak dari hati nurani yang bersih?"

Aku menjadi semakin risau dan membulatkan tekadku untuk menemukan segudang argumen untuk membuat pikiranku yang banyak terusik, setidaknya, membayangkan bahwa seseorang bisa pada satu dan saat yang sama menjadi tiga person yang berbeda. Dan ketiga person yang berbeda pada saat yang sama tetap menjadi satu orang atau person.

Suatu hari Professor Matematika kami duduk sendiri di ruangannya dan aku meminta kepadanya untuk diperbolehkan masuk dan bertanya, barangkali ia dapat membantu untuk memecahkan suatu masalah yang bagiku sangat pelik dan membingungkan. Ia dengan senang hati bertanya gerangan apa masalah tersebut. Aku meminta kepadanya untuk menjelaskan dengan logika tentang satu orang dan sama dapat menjadi tiga wujud yang berbeda, dan tiga wujud sama yang berbeda dengan perbedaan individualnya bisa pada saat yang sama menjadi satu mutlak yang dapat dibagi?

Sang Professor tersenyum dan berkata:

"Apakah lantaran masalah ini engkau tidak betah tinggal di kolej ini?"

Aku bertanya: "Mengapa Pak?"

Ia berkata: "Menurutmu apa yang akan dilakukan oleh para pengurus College yang nota-bene merupakan orang-orang yang setia terhadap ajaran Katolik, jika salah seorang mengabarkan bahwa aku diskusi di ruangan pribadiku sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan Katolik dan Kristen secara umum? Akankah mereka tetap akan membiarkan aku menjadi staf di kolej ini? Jika engkau ingin mendiskusikan segala sesuatu di sini, engkau dapat melakukan hal itu namun berhati-hatilah, engkau harus membatasi diskusimu pada subjek studimu di College ini, kalau tidak, engkau akan melakukan sesuatu yang sangat merugikan diriku lantaran aku akan dipecat dari pekerjaanku."

Aku merasa ia benar berkata demikian dan membuat janji dengannya untuk berjumpa pada Minggu depan jam 3 p.m (petang) di rumahnya. Pada hari Minggu yang telah ditentukan ketika aku berjumpa dengan Sang Professor, ia pertama-tama bertanya kepadaku ihwal apa yang membuatku ingin mengkaji lebih dalam tentang doktrin Trinitas. Aku berkata bahwa aku ingin tahu seberapa jauh doktrin Trinitas sesuai dan sejalan dengan akal?

Sang Professor tersenyum dan berkata, "Mengapa engkau tidak bertanya kepada salah seorang pendeta yang kita miliki?"

Aku berkata: "Aku telah bertanya kepada mereka namun mereka berkata bahwa hal ini merupakan perkara iman dan keyakinan dan tidak selayaknya dibenturkan dengan masalah logika dan filsafat. Jawaban ini tentu saja membuat aku gerah. Jawaban ini memancing pertanyaan dalam diriku, jika apa yang aku yakini, merupakan sesuatu yang tidak logis dan tidak masuk akal, mengapa aku harus melakukan perbuatan taklid buta (ikut-ikutan) dalam masalah keyakinan? Apakah Tuhan sedemikian kejam dan tidak adil berharap kepada manusia untuk meyakini sebuah doktrin tentang-Nya, sementara tidak satu pun otak yang dapat menerimanya secara rasional? Aku meminta kepadamu, Tuan, untuk menjelaskan kepadaku beberapa metode untuk membantah adanya kemungkinan ekistensi semacam itu sebagaimana yang diinginkan oleh doktrin Trinitas untuk kita yakini dan imani!"

Sang Professor tersenyum dan berkata, "Joseph, anggaplah engkau menghendaki aku membuktikan beberapa formula matematika tentang bagaimana air dapat tetap menjadi air dan pada saat yang sama menjadi api, atau bagaimana sebiji batu tetap menjadi batu pada saat yang sama ia juga adalah air, bagaimana aku dapat melakukan hal tersebut? Aku pikir tidak seorang pun yang memiliki akal sehat di dunia ini dapat menerima kemungkinan seperti itu. Bagaimana Tuhan yang kekal abadi dapat menjadi, pada saat yang sama, tuhan yang fana (mortal) misalnya menjadi seorang manusia yang mengalami kematian di tangan manusia yang juga mengalami kematian? Dan bagaimana wujud yang mengalami kematian pada saat yang sama menjadi Tuhan yang mutlak dan kekal? Hal ini merupakan masalah yang dikehendaki oleh para pendeta untuk kita yakini dan kita harus sekedar meyakininya dan tidak satu pun orang yang memiliki pilihan untuk mengajukan pertanyaan praktikabelnya dogma yang tidak dapat diterima secara akal sehat ini."

Mendengar jawaban ini aku bertanya:

"Lalu, bagaimana dengan Anda, Tuan? Tidakkah Anda juga percaya kepada ajaran ini?"

Ia menjawab: "Hal ini merupakan pilihan dan keputusan pribadi dan individu setiap orang. Bahkan jika aku, atau dunia, meyakini doktrin semacam ini liabilitasnya masih tetap ada bagi orang-orang yang beriman untuk menjawab apabila ia dapat membuktikan doktrin ini sebagai sebuah fenomena rasional atau praktikal."

Ia melanjutkan ucapannya, "Kenyataannya adalah tatkala Tuhan, yang kita yakini sebagai satu. Apakah Dia adalah wujud Mutlak yang Satu dalam kesempurnaan unitasnya, yang bermakna bahwa Tuhan adalah tunggal dalam dzat wujud-Nya, terbebas dari segala macam perbedaan atau varian yang berkaitan dengan kesucian atau Kemutlakan unitas untuk menjustifikasi Wujud-Nya yang Mutlak Esa.

Pembagian menyiratkan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang Mutlak, namun merupakan sebuah rangkapan dari beberapa varian dan wujud yang memiliki rangkapan selamanya tidak dapat menjadi benar-benar esa dalam artian keesaan yang sebenarnya. Dan tentu saja esa yang eksistensinya bergantung pada komponen-komponen-nya yang berbeda tidak akan pernah menjadi mandiri dan independen dalam perbuatannya, sementara Tuhan merupakan Esa yang Mutlak, Mandiri, Mahakuasa atas Kehendak dan Perbuatan-Nya.

"Di samping itu bagaimana tiga hal yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya, dengan tiga variasi menjustifikasi wujud tiga entitas yang berbeda, dapat tetap menjadi tiga secara terpisah sebagaimana adanya dan pada saat yang sama dengan perantara mereka sendiri kehilangan perbedaan individual dan karakter aslinya yang membedakan antara satu dengan yang alin, dan menjadi satu yang mutlak dan tidak dapat dibagi, tanpa variasi sekecil apa pun dalam keesaan esensial.

"Sesuatu yang Mutlak haruslah secara total mandiri dalam wujudnya, Tuan Joseph, lantaran itu doktrin Trinitas mustahil dapat diterima secara akal sehat. Ilmu Matematika atau disiplin ilmu apa pun yang pernah dikaji dan dipelajari oleh manusia, hingga akhir hayat, tidak akan pernah dapat memecahkan teka-teki yang tidak dapat diterima oleh akal sehat ini."

Ia melanjutkan:

"Hanya satu hal bahwa tirai pelbagai sumber ilmu pengetahuan tentang kebenaran dan faktor-faktor yang lebih tinggi lagi dalam perkara keagamaan yang tersedia di luar agama kita, adalah tertutup bagi kita kaum Kristen. Dan mengutuk serta menyalahkan setiap non-Kristian atas kesalahan-kesalahan dan perbuatan-perbuatan jahat mereka. Kita kaum Kristian, Tuan Joseph, dalam kegilaannya dalam menaikkan kedudukan dan derajat, kita telah memainkan peran yang sangat memalukan sehingga orang besar seperti Sir Dennison Ross harus dengan susah payah menyingkap kebenaran tentang masalah ini dalam kata pengantar yang ia goreskan pada terjemahan kitab suci al-Qur'an yang digarap oleh George Sale."

Aku sangat takjub mendengar argumen-argumen yang dibeberkan oleh Sang Professor yang ia sendiri dikenal sebagai seorang Katolik dan pada saat yang sama aku sangat termotivasi untuk mengetahui bahwa keraguan dan kesangsianku tentang tidak rasionalnya doktrin Trinitas (unreasonable of the doctrine of Trinity) merupakan sesuatu yang telah membuat pikiran terdidik dan tercerahkan seperti Sang Professor Matematika juga tertarik untuk menyelidikinya. Saya sangat beruntung dapat berdiskusi dengan Sang Professor lantaran aku menjadi tahu argumen-argumen yang menjustifikasi keraguan yang tercipta dalam benakku.

Kajianku pada literatur Islam dan terjemahan al-Qur'an telah membuka mataku terhadap banyak faktor utama dan penting yang mempengaruhi hidup umat manusia di muka bumi. Suatu ketika aku mengunjungi Sang Professor di kediamannya dan yang semakin menambah keterkejutanku, aku mendapatkan ia memiliki sejumlah besar literatur tentang Islam di rumahnya.

Aku bertanya kepadanya:

"Boleh aku tahu, Tuan, jika Anda telah memeluk agama Islam?"

"Pertanyaan ini belum diputuskan jawabannya. Engkau tidak perlu risau tentang pilihan pribadiku. Aku, untuk sementara waktu, ingin dikenal sebagai seorang Kristen Katolik, lain tidak. Kelak aku akan memberi tahumu."

Aku mengambil naskah terjemahan al-Qur'an karya George Sale dan membaca kata pengantar yang disampaikan oleh Sir E. Dennison Ross. Kata pengantar yang ditulisnya perlu dibaca dengan perhatian khusus dan ekstra. Sir Ross berkata:

"Selama berabad-abad pengenalan mayoritas yang dimiliki oleh orang-orang Eropa tentang ajaran Muhammad adalah hampir kebanyakan bersandar pada laporan yang telah didistorsi oleh orang-orang yang fanatik terhadap ajaran Kristen yang menggiring munculnya diskriminasi dan fitnah yang besar. Apa yang baik pada ajaran Muhammad secara keseluruhan diabaikan begitu saja dan apa yang buruk dalam pandangan orang-orang Eropa dibesar-besarkan atau disalah tafsirkan.

"Keesaan Tuhan dan simplisitas ajarannya adalah barangkali lebih menjadi faktor menyebarnya ajaran Islam ketimbang pedang yang digunakan oleh patriot-patriot Muslim." (Terjemahan al-Qur'an G. Sale – Kata Pengantar)

Ungkapan ini disampaikan oleh seorang alim besar Kristen yang memiliki reputasi internasional, telah memunculkan rasa dahaga untuk mengetahui ajaran orisinal Islam, khususnya konsepsi Islam ihwal Tuhan.

Setelah empat tahun berlalu, dan selama masa ini aku mengenal kandungan al-Qur'an. Banyak hal yang telah menarik perhatianku. Aku mendiskusikan banyak hal-hal yang meragukan yang aku dapatkan di dalamnya dengan Sang Professor yang ternyata telah membaca al-Qur'an berulang kali dengan lebih baik dan lebih memiliki pandangan kritis. Kini, aku memiliki kerinduan untuk berjumpa beberapa ulama Muslim untuk melakukan kajian silang (cross examine) denganya ihwal beberapa keraguan tertentu tentang keyakinan Islam.

Suatu waktu aku berpikir tentang ajaran Hindu, namun apa yang aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri setiap hari, larangan-larangan yang tak-tersentuh, dan sistem kasta yang berlaku secara umum, dan di samping segalanya, ibadah berhala dan ketaatan-ketaatan ritual yang tak terbilang. Namun ini tidak menghentikan aku untuk menyelidik hingga ke ajaran-ajaran yang diyakini mereka, praktik ritual yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari jutaan Hindu yang hidup bersama kita.

Aku tidak pernah mengerti superioritas yang secara eksklusif dan sewenang-wenang diklaim oleh beberapa anggota kasta tertentu, hanya karena mereka secara kebetulan terlahir dalam kasta tersebut. Aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana orang-orang yang termasuk dalam kasta tertentu membayangkan diri mereka sebagai orang-orang rendah di dalam masyarakat dan diperlakukan sebagai orang-orang yang tidak boleh disentuh, bahkan tidak diperkenankan memasuki candi-candi yang dibangun oleh orang-orang Hindu. Aku melihat jiwa-jiwa malang ini bahkan dilarang untuk mengambil air dari sumur-sumur yang disediakan untuk mereka yang berasal dari kasta-kasta yang lebih tinggi.

Aku berjumpa dengan beberapa ulama Brahman tapi tidak seorang pun dari mereka yang mampu menjawab kritikan yang aku lontarkan terhadap beberapa konsep agama Hindu berkenaan dengan otoritas ratusan para dewa dan dewi dan ketaatan ritual yang sama sekali tidak menarik hati kecilku sedikit pun.

Petaka dalam kehidupan sosial yang dimainkan oleh ajaran Hindu yang membagi kemanusiaan ke dalam berbagai kasta dan sub-kasta dan superioritas irasional satu kasta atas kasta lainnya, apakah hal ini sedemikian repulsifnya sehingga tidak satu pun orang yang mau ambil resiko untuk mengkaji doktrin keimanan mereka.

Selagi mengeluhkan sistem kasta dan pemisahan sektarian dalam kasta-kasta Hindu, aku secara otomatis teringat pembatasan yang sama di kalangan pemeluk agama Kristen. Rasa benci kasta telah terbenam sedemikian dalam pada benak orang-orang Hindu sehingga bahkan setelah mereka memeluk agama Kristen, mereka tidak mampu mengatasi kebencian ini. Aku bertanya pada diriku sendiri:

"Mengapa mengkritik orang lain dan keyakinan mereka ketika agama yang aku peluk, memiliki pemisahan sektarian dari Kristian Brahman, Kristen Naidu, Kristen Chuckli dan perbedaan-perbedaan sekte yang sama, telah menggoncang secara hebat tatanan sosial? Apakah gereja-gereja dalam ajaran Kristen dimiliki secara eksklusif oleh anggota-anggota sekte tertentu? Apakah gereja-gereja itu tidak dimiliki oleh satu sekte tertentu yang tidak dapat digunakan oleh orang-orang yang berasal dari sekte lain? Tidakkah ajaran Kristen gagal dalam menyatukan kemanusian menjadi satu masyarakat? Apakah Yesus mendakwahkan segala perbedaan dan perseteruan ini yang kita kaum Kristen ciptakan? Bukankah kemudian kita telah melangkah terlalu jauh dari tujuan asli dari misi Yesus Kristus?"

Berseberangan dengan perbedaaan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan banyaknya perselisihan tatanan sosial dalam kasta-kasta agama Hindu dan Kristen, aku sangat tertarik dengan persaudaraan yang genuine (asli) dan riil yang dipraktikkan siang dan malam di kalangan Mulsimin. Aku temukan bahwa seorang Muslim, masjid adalah masjid dimiliki oleh setiap orang yang menyebut dirinya sebagai Muslim dan tidak ada reservasi tempat di masjid atau pemisahan sektarian apa pun di setiap tempat ibadah kaum Muslimin. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, kaum Muslimin dari setiap starata, sosial dan ekonomi, dari aneka dan corak kulit, atau ragam bangsa, seluruhnya berdiri di satu barisan, berpaling pada satu arah, menyembah kepada Tuhan yang Esa, dalam satu bahasa, segera setelah shalat, berjabat tangan erat satu dengan yang lain, persaudaraan atau kesetaraan sosial yang diklaim lebih pada tataran teoritis oleh mazhab pemikiran di dunia ini, aku jumpai hal ini teraplikasi dan terpraktikkan, dan sebuah realitas hidup dalam kehidupan sehari-hari dari kehidupan agama Islam.

Suatu hari aku dikabarkan oleh Professor yang sekarang ini telah menjadi seorang teman karib, bahwa seorang cendekia Muslim akan menyampaikan ceramah dalam bahasa Inggris ihwal kehidupan Nabi Islam (Muhammad Saw) di sebuah gedung pertemuan dekat Mesjid Agung Juma, di bawah naungan Muslim Youth Association of Trichinopoly Town.

Aku dan Professorku, menghadiri ceramah tersebut dan berjumpa dengan penceremah yang merupakan salah seorang kawan lama sang Professor. Kami terlibat dalam sebuah pembicaraan dari hati ke hati dengan penceramah tersebut dan ia menghadiahkan beberapa majalah serial lama "The Peace Maker."

Selama perjumpaanku dengan Dosen Muslim itu, aku bertanya bilakah ia sudi menjawab beberapa pertanyaan untuk melengkapi pengetahuanku. Ia menjawab:

"Tentu saja aku akan sudi."

"Apa yang Anda miliki di samping al-Qu'ran untuk membuktikan bahwa Muhammad adalah benar merupakan seorang Nabi Allah?"

Ia menjawab: "Apakah engkau membawa Bible bersamamu?"

Aku menjawab: "Iya."

Ia mengambil ayat berikut ini dan membacakannya kepadaku satu dengan yang lain:

"Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku; Dengarkanlah ia dalam segala sesuatu yang dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita. Dan semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. (Kisah Para Rasul 3 :22)

"Musa ini pulalah yang berkata kepada Bani Israil: Seorang nabi seperti aku ini akan dibangkitkan Allah bagimu dari antara saudara-saudaramu." (Kisah Para Rasul 7:37)

Dalam Yohanes 14:16, Yesus berkata: "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain – supaya Ia akan menyertaimu selama-lamanya."

Yohanes 26:17, "Namun demikian aku akan katakan kepadamu kebenaran: adalah bijaksana bagimu jika aku pergi sekarang, lantaran jika aku tidak pergi, sang penolong tidak akan datang kepadamu, namun jika aku pergi aku akan mengutusnya kepadamu."

Yohanes 16:12, "Masih banyak yang harus aku katakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya."

Yohanes 16:13, "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Ruh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang."

Aku membaca kalimat yang senantiasa aku baca berulang kali beberapa waktu yang lalu, namun kali ini konfiden sempurna menyertaiku dan yang diminta oleh Sang Dosen tersebut kepadaku untuk membaca ayat-ayat dari teks-teks suciku dalam menyokong klaimnya, melontarkan sebuah pelita baru atas ayat-ayat tersebut untuk aku mengerti permasalahan yang sebenarnya tanpa disertai dengan hawa nafsu. Namun aku menjawab:

Akan tetapi kenabian yang dimaksud pada ayat-ayat tersebut adalah kenabian dan kemunculan Yesus?"

Bacalah ayat tersebut sekali lagi! Tidakkah ayat itu berkata bahwa Tuhan akan mengutus seorang Nabi seperti Musa yaitu ia adalah seorang manusia yang lahir dari seorang ayah dan ibu sebagaimana Musa terlahir; sementara Yesus hanya terlahir dari seorang ibu. Di samping itu, Nabi yang dijanjikan Tuhan haruslah seperti Musa namun engkau sendiri yang menyebut Yesus sebagai putra Tuhan. Musa merupakan seorang Nabi yang memberikan hukum dan orang seperti ia haruslah juga seorang pemberi hukum, sementara Yesus hanyalah seorang yang mengikuti hukum, mengikut hukum dari Ten Commandments yang telah diperkenalkan melalui Musa. Di samping itu, seseorang haruslah mengkhianati akal sehatnya demikian juga pelajarannya untuk berkata bahwa, Aku dan Ia, dua orang yang berbeda, yaitu orang Pertama dan orang Ketiga bermakna sama atau orang yang meninggalkan nubuwwat tentang kemunculan orang lain menjadi satu dan sama."

Argumen yang disampaikannya cukup rasional dan tak terpatahkan.

Lalu aku bertanya kepada Dosen tersebut:

"Apakah Anda tidak yakin terhadap Yesus sebagai putra Tuhan? Tidak dapatkah Yesus dapat menjadi Tuhan sendiri dalam bentuk seorang manusia? Yesus menjadi Tuhan itu sendiri dalam bentuk seorang manusia?

Sang Dosen tersenyum dan dengan senang hati menjawab.

"Dapatkah seorang memiliki anak tanpa memiliki istri, sobat? Dapatkah atau engkau sendiri, yang meyakini keanakan (sonship) Yesus, pada saat yang sama dengan sadar membayangkan Perawan Maria telah diambil oleh Tuhan sebagai istri untuk menerima sebuah perintah? Kita berlindung kepada Allah dari segala pemikiran-pemikiran setani dari benak kita.

Keanakan, jika digunakan dalam Injil, yang dimaksud adalah seorang makhluk atau seseorang yang menerima kehidupan dari Tuhan. Selain itu, apa yang engkau katakan ihwal Yesus yang mengalamatkan dirinya sendiri sebagai seorang anak manusia.

"Kemudian anak manusia datang, ia makan dan minum, dan engkau berkata: Lihatlah, ia seorang pelahap, dan peminum, sahabat pemungut cukai dan pendosa." (Lukas 7:34)

"Anak manusia merasa malu." (Lukas 9:26)

"Yaitu Anak manusia harus diserahkan ke tangan-tangan orang berdosa." (Lukas 24:7)

"Anak manusia akan diserahkan kepadamu." (Yohannes 6:27)

"Yesus mengalamatkan Tuhan sebagai ayahnya dan juga sebagai ayah kita yang berarti bahwa Tuhan yang disebut oleh Yesus adalah sama Dia adalah ayah (atau pencipta) kita semua, oleh karena itu, keanakan Yesus dapat bermakna seorang makhluk Tuhan, terma putra Tuhan digunakan oleh Yesus dapat digunakan dalam artian seorang hamba Tuhan – sebagaimana Yesus sendiri menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan. Fakta ini dibuktikan oleh ayat-ayat yang dengannya setiap nabi Tuhan hingga Adam telah dipanggil sebagai putra Tuhan dalam Lukas, ayat 23 hingga 30, Yesus dipanggil sebagai putra Yusuf dan silsilah keturunan (geneologi) Yusuf ditelusuri hingga Adam dan Adam dipanggil sebagai putra Tuhan. Bacalah 30 ayat dari surah Lukas ini."

"Anak Enos, anak Seth, anak Adam, anak Tuhan." (Lukas 3:38)

(Jawaban yang terdapat di Bible ini menciptakan kesan yang mendalam dalam benakku tentang bilangan studi komparatif yang dilakukan kaum Muslimin dan betapa kuat dan rasionalnya iman mereka terhadap Kesatuan Tuhan (baca: tauhid). Seseorang dapat berkata bahwa iman kaum Muslimin bukanlah sebuah masalah taklid buta dari setiap iman yang didiktekan dalam sebuah dogma irasional, namun ia merupakan sebuah hasil dari studi banding yang dilakukan secara tulus dari sekian banyak ragam pemikiran agama).

Aku bertanya kepada Sang Dosen:

"Apakah Anda menjadi Muslim mengkaji setiap agama-agama sebelum Anda memeluk Islam?"

Sang Dosen menjawab:

"Tidak, bahkan ketika kami tetap sebagai Muslim, lahir dari kedua orang tua Muslim, kami telah diperintahkan Tuhan untuk membandingkan dan melakukan studi komparasi kebenaran, (Islam), dengan iman yang lain dan kemudian memilikinya untuk diri sendiri sebuah iman atau keyakinan hanya dapat diterima oleh Tuhan – lantaran mengikuti sebuah ajaran secara membabi buta, katakanlah dari orang tua, tidak akan menjadi sebuah nilai tambah bagi mukmin semacam itu. Bacalah apa yang diserukan oleh al-Qur'an terhadap mereka yang telah memeluk Islam sebagai iman hanya karena faktor keturunan.

Aku bertanya:

"Apakah Anda percaya bahwa Injil merupakan sebuah kitab samawi atau tidak?"

Dalam menjawab pertanyaanku tersebut, Sang Dosen memintaku untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:

1. "Apakah Injil, yang ada di tanganmu, merupakan kitab yang ditulis oleh Yesus disebut sebagai sebuah naskah yang diwahyukan oleh Tuhan atau kitabnya sendiri?

"Tidak."

2. "Apakah Yesus memerintahkan atau menghendaki untuk menulis kitab itu atas namanya?"

"Tidak."

3. "Apakah Injil yang berada di tanganmu itu ditulis selama masa hidup Yesus?"

"Tidak."

4. "Apakah Injil yang berada di tanganmu itu ditulis segera setelah wafatnya Yesus?"

"Tidak."

"Lalu" ia berkata," silahkan baca halaman 17, "The Founder of Christianity and His Religion" yang diterbitkan oleh Christian Literature Society, Madras. Dikatakan dalam buku itu, "Seluruh Injil memuat 66 kitab yang ditulis oleh pengarang yang berbeda selama kurang-lebih 15 abad.

Secara jelas disebutkan dalam buku itu, "Yesus sendiri tidak menulis apa-apa."

Pelajaran lisan untuk beberapa tahun lamanya – sebagai satu-satunya makna yang digunakan dalam menyebarkan ajaran Kristen. Penyebaran itu merupakan bimbingan bagi para pemuda yang baru memeluk Kristen, bahwa penulisan tercepat dari Perjanjian Baru - disusun."

Buku yang sama lebih jauh membeberkan bahwa, "Boleh jadi Injil ditulis kurang lebih 20 tahunan pasca kematian Kristus."

Pada halaman 18 disebutkan:

"Injil tidak menyuguhkan sejarah lengkap tentang kehidupan Kristus, ia hanya sebuah buku kenangan."

Aku berkata:

"Namun Injil merupakan ilham yang disampaikan Tuhan dan ditulis oleh murid-murid Yesus."

Ia kembali tersenyum dan berkata:

"Tuan Joseph, jika Injil merupakan kitab para murid dan Yesus, bagaimana engkau menjelaskan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam kitab itu, jika ia merupakan ilham dari Tuhan. Bukankah Injil Katolik memuat kitab-kitab yang tidak ada dalam Injil versi Protestan?

Apakah engkau pernah membaca apa yang dikatakan oleh Tuan Wilson tentang Injil, dalam kata pengantar yang ia tulis atas "Diaglot" – yang diterbitkan oleh Watch Tower Society?

"Sekiranya Injil tidak diterbitkan oleh penguasa kerajaan maka ia tidak akan dihormati oleh kaum Protestan Inggris dan Amerika, yang seakan-akan ia bersumber langsung dari Tuhan. Telah diakui bahwa kitab itu mengandung 20. 000 kesalahan. Terdapat hampir 700 manuskrip Yunani, yang diketahui dan sebagian darinya telah sangat kuno sementara penerjemah versi umum hanya memiliki 8 manuskrip yang tidak satu pun di antaranya lebihi cepat dari abad kedelapan.

Tidakkah Injil hanya bersandar pada 8 manuskrip sementara terdapat 700 manuskrip yang tersedia? Jika apa yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip semacam itu juga merupakan ilham dari Tuhan, mengapa manuskrip-manuskrip ini dibiarkan begitu saja? Dengan memandang seluruh kenyataan ini, jika engkau masih percaya bahwa Injil merupakan firman Tuhan, engkau dapat melakukan hal itu, namun engkau tidak dapat berharap seluruh dunia akan melakukan hal tersebut. Jika engkau melakukan pengkajian serius dan mempelajarinya tanpa ada bias (imparsial) Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, engkau akan temukan di dalamnya bilangan kutukan-kutukan yang dibuat oleh orang-orang Yahudi terhadap Luth, Daud, Nuh dan Ibrahim dimana mereka ini merupakan nabi-nabi suci utusan Tuhan, misalnya:

"Dan Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah minum anggur dan mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Dan Ham, bapak Kan'an, melihat aurat bapaknya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan menutup aurat ayahnya, lalu mereka berjalan mundur dan tidak melihat aurat ayahnya." (Kejadian 9:20-23)

"Luth melakukan zina dengan putri-putrinya sendiri." (Genesis 19:30-38)

"David mengambil istri tetangganya." (2 Samuel 11:4) Aku bertanya, "Apa? Apakah kalian kaum Muslimin percaya pada nabi Allah selain Muhammad sebagai orang yang betul-betul tanpa dosa dan suci?"

Ia menjawab dengan membaca ayat-ayat berikut ini dari al-Qur'an.

"Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya"." (Qs. al-Baqarah [2]:136)

"Nabi (Muhammad) percaya pada apa yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan demikian juga orang-orang beriman, mereka beriman kepada Allah (Tuhan) dan para malaikat, kitab-kitabnya dan para rasul-Nya; Kami tidak membedakan antara para rasul."

Ayat-ayat al-Qur'an di atas memberikan kesaksian, sebagai salah satu usul dari keimanannya, setiap Muslim harus percaya tidak hanya kepada Nabi Suci Muhamamd tapi kepada seluruh nabi-nabi sebagai orang yang benar dan suci dan tidak membuat perbedaan di antara mereka.

Ayat al-Qur'an berikut ini menginformasikan kepada kita kenyataan bahwa para nabi yang diutus oleh Tuhan, kepada seluruh bangsa di seluruh penjuru bumi.

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan."(Qs. Fathir [35]:24)

Hal itu meyakinkan aku bahwa Islam sendiri, adalah sebuah iman yang komprehensif yang mengenali semua agama yang lain dan dimana di dalamnya terdapat sebuah integrasi harmonis seluruh kebaikan, yang ditemukan pada sebagian di hierarki gereja yang lain dunia.

Kitab suci yang bersumber dari Tuhan dalam kesempurnaanya yang telah diwahyukan pada waktu yang berbeda, melalui naskah-naskah samawi lainnya, sebagiannya sesuai dengan konsepsi pemikiran manusia pada level dan tingkatan yang beragam.

Keterbatasan pemikiran manusia pada zaman yang berbeda, tidak mengijinkan bahkan para nabi seperti Yesus untuk menyampaikan seluruh kebenaran. Yesus harus wafat dengan meninggalkan banyak hal yang belum disampaikan kepada umatnya. (Yohanes 16: 14) Yesus harus menyampaikan kepada umatnya untuk menanti hingga kemunculan Ruh Kebenaran yang menyingkap seluruh kebenaran. (Yohanes 16:13)

Saya sangat terkesan dengan aspek universal agama Islam.

Setiap jawaban Sang Dosen yang ia sampaiakan adalah tak-terbantah dan merupakan sebuah argumen yang tak terpatahkan. Aku dibangunkan untuk membedakan antara kebenaran asli (genuine) dan lancung (fabrication) serta untuk mengetahui banyak faktor yang selama ini aku buta terhadapnya. Namun aku tidak tahu bagaimana mengumpulkan fajar kebenaran ilmu dari kebenaran dengan keyakinan dogmatisku dan iman kristianiku. Aku ingin mencari tahu cela dan aib dari jawaban Sang Dosen untuk menjawab dengan puas beberapa pertanyaan, sehingga aku boleh jadi memiliki alasan, meski alasan itu dibuat-buat, untuk mempertahankan kedudukanku sebagai seorang yang memiliki iman kristiani.

Sang Dosen melanjutkan setelah lama berselang dengan pertanyaan:

"Jika engkau tidak keberatan menjawabnya, boleh saya ajukan pertanyaan sebagai informasi tambahan bagiku?"

Aku berakata: "Iya."

Ia bertanya: "Apakah engkau menggangap Yesus itu adalah anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri?

Aku berkata: "Apakah Anda pernah menkonsepsikan seseorang menjadi Tuhan yang abadi (immortal) dan pada saat yang sama fana (mortal) yang terjerat oleh makhluk yang fana lainnya lalu kemudian mengalami kematian?

"Dapatkah sesuatu bersifat tinggi dan pada saat yang sama bersifat rendah, hitam dan pada saat yang sama putih? Dapatkah sesuatu itu adalah kegelapan dan pada saat yang sama adalah cahaya? Filsafat macam apa ini?"

Sang Dosen itu melanjutkan dan berkata:

"Apakah engkau pernah menimbang bahwa terdapat satu pertanyaan lain yang menebas doktrin Trinitas yang harus dijawab oleh setiap Trinitarian (orang-orang yang percaya kepada konsep Trinitas) bahwa jika tiga wujud yang berbeda yang merupakan tiga entitas yang berbeda, pada saat yang sama merupakan Satu entitas, dengan unitas mutlak dalam seluruh maknanya atau bermakna kesatuan, apa yang menjadi kendali umumnya (common control) yang membuat mereka tetap menjadi tiga dan pada saat yang sama menjadi satu? jika ada faktor lain seperti keajaiban dan fenomena yang tak terkonsepsikan yang menyebabkan efek yang menakjubkan ini, lalu kekuatan suprim sebab yang mengontrol bilangan dan kesatuan, akan menjadi Tuhan Yang Mahakausa dan bukan salah satu dari ketiganya yang sekedar merupakan komponen-komponen yang terkendalikan.

"Di samping itu, terdapat pertanyaan problematik lainnya yang muncul yang harus dijawab oleh seorang yang beriman kepada Trinitas, yaitu tentang siapa yang mengendalikan atau menentukan bagian yang terpisah hanya menjadi tiga bagian yang berbeda, tidak menjadi lebih atau kurang dalam bilangan?

Ia harus memiliki beberapa sebab lantaran efek (akibat) yang terkontrol ini dan faktor penyebab perbuatan suprim atas tiga entitas itu adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan bukan salah satu dari ketiganya yang sekedar menjadi akibat dari sebab kendali kekuatan suprim.

"Demikian juga, akan muncul pertanyaan, apa kekuatan sebab yang mempengaruhi ketiga untuk menjadi satu tatkala bergabung bersama dan tidak terbagi menjadi kelompok-kelompok wujud yang banyak dan jika terdapat sebab semacam itu, maka kekuatan suprim yang mengontrol sebab adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan bukan salah seorang dari tiga entitas tersebut yang hanya akan menjadi hamba.

"Dengan demikian tidak ada seorang yang berpikiran sehat yang dapat meyakini secara rasional akibat – apapun itu – tanpa adanya faktor penyebab yang melatari keberadaanya.

"Bagaimanapun, Trinitas Kudus adalah sekedar sebuah doktrin problematik yang diciptakan oleh Gereja dimana tidak satu pun akal sehat dan rasional yang dapat membuktikan kebenarannya."

Aku harus menerima pandangan-pandangan yang dilontarkan oleh Sang Dosen lantaran aku kini tidak percaya secara rasional terhadap keberadaan segala sesuatu yang menjadi dirinya dan pada saat yang sama menjadi lawan terhadap dirinya.

"Aku ingin, Tuan Joseph" kata sang Dosen, "Untuk sedikit menimbang keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri atau anak Tuhan, sedemikian takutnya pada saat penyaliban tatkala ia berteriak:

"Eli, Eli, Lama Sabachthani." Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku? (Matius, 27:46)

"Filsafat macam apa ini? Jika Yesus sendiri adalah Tuhan, apakah itu berarti bahwa Tuhan telah ditinggalkan oleh Tuhan sendiri dan dapatkah Tuhan yang merasa putus asa dan berseru untuk diselamatkan?

"Injil Anda sendiri, Tuan Joseph, melaporkan bahwa putra Tuhan telah ditinggalkan oleh ayahnya (Tuhan) dimana putra yang ditinggalkan secara otomatis dan sedikit natural mengorbankan keutamaan pribadinya sebagai seorang anak dan kekerabatannya sebagai seorang anak kepada ayahnya. Bagaimana pendapatmu? Apa manfaat yang bisa didapatkan dari seorang anak yang ditinggalkan? Tuan Joseph, katakan kepadaku."

Aku diam seribu basa – aku tidak tahu apa yang harus aku katakan dan lakukan dengan iman yang aku miliki sebagai seorang Kristen yang setia.

"Di samping itu," lanjut Sang Dosen: "Apakah engkau berpikir bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri ketika ia jatuh menangis, memohon kepada orang lain untuk menyelamatkannya dari kematian penyaliban?"

Aku bertanya: "Baiklah Tuan, bagaimana Anda menerima kekerasan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul Allah?"

Segera Sang Dosen memberikan jawaban, "Tuan Joseph, tolong sebutkan satu misal saja dari seluruh sejarah kehidupan Nabi Suci Muhammad yang menunjukkan bahwa ia pernah melakukan penyerangan, agresi atau satu contoh kecil saja dari inisiatif penyerangan yang ia lakukan terhadap seseorang.

Setiap ekspedisi perang yang ia pimpin atau ia izinkan semata-mata adalah bersifat bertahan (self-defence). Jika ia tidak membela sebagaimana yang ia lakukan, hari ini kemunculannya di dunia ini dan ajarannya tentang kebenaran ihwal Tuhan yang telah dipelajari oleh dunia hanya melalui misinya yang kudus, akan menjadi legenda dari zaman kuno yang penuh kutukan bagimu dan bagimu, hanya dapat dibaca di rak-rak buku dan kemudian dikecoh oleh kepalsuan sepanjang masa. Injil tidak mendakwahkan pembelaan diri (self defence). Injil hanya mendakwahkan penyerahan diri (self surrender) yang menyerahkan seluruh harta dan benda yang tatkala segala sesuatu yang berada di tangan seseorang telah diambil dan dirampas oleh setiap agresor. Apakah setiap penguasa Kristen mengikuti hal ini?

"Terlepas dari sejarah politik negara-negara Kristen Eropa, apakah engkau tidak mengingat metode yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh umat Kristen untuk menyebarkan imannya?"

Aku merasa malu mendengar apa yang dilaporkan sejarah dan aku harus mendengar pada catatan-catatan yang memalukan dari perilaku dan perbuatan orang-orang Kristen. Aku, pada akhirnya, memberanikan diri untuk mengajukan satu lagi pertanyaan. "Ada doktrin pengampunan dan penghapusan dosa-dosa manusia melaui darah Yesus. Yesus telah menebus dosa-dosa manusia. Apakah Anda memiliki akomodasi semacam ini dalam Islam?"

Sang Dosen tersenyum dan menjawab:

"Sobat, anugerah Tuhan yang mahabesar kepada manusia adalah akal sehatnya. Jika manusia mengorbankannya untuk kepentingan diri sendiri, maka tidak seorang pun yang akan menolongnya.

"Pertama-tama, biarkan aku tahu jika doktrin ini mengajak kepada rasio dan akal sehat. A, sebagai contoh, seorang Kristen yang beriman, dan ia misalnya, sebagai seorang yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai penyelamatnya, menjarah rumah B dan anggota keluarga B. Apakah akal dan perasaan sepakat dengan A dibiarkan begitu saja tanpa dihukum dan dieksekusi oleh hukum, khususnya Hukum Tuhan Yang Mahaadil bagi Semesta, hanya lantaran A menerima Yesus sebagai penyelamat?"

Aku harus berkata "Tidak" lantaran, apabila aku berkata sebaliknya, artinya aku telah kehilangan akal sehatku dan tidak berpikir rasional.

Ia melanjutkan: "Ada satu aspek dari doktrin pengampunan ini melalui darah Jesus, artinya, ketika kita membayar sesuatu, benda itu menjadi milik kita dan pemilik sebelumnya telah menghilangkan segala klaim atas benda tersebut lantaran harga yang telah ia terima. Tidakkah demikian?" Aku berkata, "Iya." Lalu ia berkata, "Jika dosa-dosa manusia telah dibayar atau ditebus, Tuhan tidak memiliki hak untuk menghukum setiap pendosa. Setiap pendosa yang dengan sekedar beriman kepada Yesus akan terbebas dari segala perbuatan yang telah ia lakukan di dunia ini, karena Tuhan Tuannya tidak memiliki hak bahkan untuk bertanya kepada setiap pendosa, karena Yesus telah membayar seluruh harga atas dosanya. Dapatkah hal ini diterima oleh akal dan logika sehat? Dapatkah doktrin ini menolong kehidupan di muka bumi ini untuk melanjutkan untuk sejenak dalam kedamaian dan keamanan?"

Ia melanjutkan: "Ingatlah, Islam menghendaki setiap orang dan individu waspada lantaran setiap orang akan ditanya ihwal perbuatan dan kebajikan yang ia lakukan, baik demi kepentingan kehidupan individualnya maupun demi kepentingan kehidupan kolektif di dunia ini, tidak hanya seseorang sebagai bagian dari umat manusia tapi juga sebagai bagian dari ciptaan Tuhan secara keseluruhan. Islam secara terus menerus mengajak dan memotivasi manusia untuk melakukan kebajikan dengan janji kehidupan bahagia pada hari kiamat, mengingatkannya untuk tidak melakukan kejahatan dan akibat azab yang pedih dari Sang Mahadil. Kitab Suci al-Qur'an mengingatkan, " (Qs. al-Baqarah [2]:48)

"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (Qs. al-Isra [17]:15)

"Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Qs. al-Hujurat [49]:13)

"Sembari mengingatkan manusia akan azab pedih sebagai balasan atas perbuatan jahatnya, al-Qur'an juga menegaskan kasih dan cinta nir-batas Tuhan Sang Mahapengasih, yang tidak ingin manusia, bagaimanapun, sebanyak apapun dosa seseorang, untuk patah hati atau berputus asa dari rahmat ampunan-Nya. Satu-satunya syarat bagi pengampunan yang ia perlukan, taubat si pendosa dari perbuatan jahatnya, dengan niat memperbaiki perbuatannya di masa mendatang, dan mengubah perbuatan tersebut dengan sepenuh hati taat dan merasa bersyukur kepada Tuhan atas rahmat-Nya yang tak-terbatas.

"Demi Tuhan, katakan kepadaku Tuan Joseph, menurutmu manakah yang lebih rasional dan masuk akal, apakah membuat manusia mabuk dan tak peduli dengan perbuatan dosa, seperti, membuatnya konfiden atas harga dosa yang dibayar oleh seseorang atau menjaganya dengan komitmennya untuk melakukan kebajikan dan meninggalkan kejahatan, seperti, membuatnya tetap mengingatkannya akan akibat natural mendapatkan hukuman dari Tuhan Yang Mahaadil, atas setiap perbuatan jahat dan pembangkangan?"

Aku rasa bahwa hari itu aku telah memahami kehampaan doktrin pengampunan yang menjadi landasan seluruh bangunan keyakinan dan iman agama Kristen. Rahmat Ilahi Tuhan menyingsing ke dalam hatiku, fajar cahaya bimbingan Ilahi terbit dalam sanubariku. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah membebaskan aku dari cengkeraman dan belenggu doktrin yang menyesatkan dan membimbingku kepada Islam yang telah aku temukan sendiri melalui sebuah pencarian dan penyelidikan imparsial yang merupakan Kebenaran dan Jalan Lurus menuju kepada keselamatan yang telah ditunjukkan Tuhan sendiri melalui Nabi Pamungkasnya Muhammad, semoga kedamaian dan ketentraman senantiasa tercurah kepadanya dan kepada keturunannya yang suci.

Ketika aku mengungkapkan penerimaanku terhadap argumen-argumen yang hak yang diajukan oleh Sang Dosen dan berterima kasih kepadanya, ia berkata kepadaku:

"Tuan Joseph! Engkau harus bersyukur kepada Tuhan yang telah memberkatimu dengan janji rahmat-Nya yang melimpah tercurah bagi setiap pencari kebenaran hakiki!"

Tuhan Yang Mahapengasih dengan rahmat-Nya yang tak-terbatas telah memenuhi janjinya untuk menganugerahkan petunjuk abadi melalui Nabi Suci Muhammad yang akan tetap ada dalam bimbingannya sepanjang masa. (Yohanes, 16:14)

Dalam wujud Muhammad telah terpenuhi janji Ilahi tentang kenabian dan janji Tuhan untuk membangkitkan Dua Belas Pangeran dalam benih Ismail telah tertunaikan ketika Tuhan membangkitkan Dua Belas Imam Suci dari keluarga Nabi Suci Muhammad yang merupakan pilihan Tuhan dalam kisah Ismail.

"Tentang Ismail, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa besar." (Kejadian 17:20)

Seluruh Imam Suci adalah orang-orang yang tersucikan dan sosok yang mencerminkan perbuatan Tuhan dan kendati mereka tidak pernah mengenyam pendidikan dari manusia yang lain, mereka seluruhnya, seperti Nabi Suci Muhammad, merupakan pelita hidayah dan sumber mata air pengetahuan tentang Tuhan semesta alam.

Kesebelas dari keduabelas Imam atau Pembimbing Suci hidup sebagai teladan paripurna bagi kemanusiaan dalam memenuhi tugas sesuai dengan kehendak Ilahi dan kesebelas imam tersebut telah mendapatkan syahadah. Jika seseorang ingin melihat teladan paripurna dari manusia yang menyerahkan segala yang dimilikinya, orang yang paling ingin merasakan penderitaan dan nestapa di jalan Allah, seseorang harus melihat Imam Suci Husain di Karbala.

Dunia tidak akan mendapatkan Husain berseru, Eli-Eli Lama Lama Sabachtani," atau berhasrat dienyahkannya kematian darinya, tapi ia meneguk cawan kematian dengan gembira, memuji Tuhan dalam shalat syukurnya yang terakhir sementara ia dipenggal dengan cara yang sangat keji.

Sebagai janji Tuhan untuk memberikan seorang nabi kepada manusia untuk tinggal selamanya telah terekam dengan baik dalam kitab Perjanjian Lama, pengorbanan agung ini juga telah dinubuatkan dalam Jeremiah 46:10, "Hari itu ialah hari Tuhan Allah semesta alam, hari pembalasan untuk melakukan pembalasan kepada para lawan-Nya. Pedang akan makan sampai kenyang, dan akan puas minum darah mereka. Sebab Tuhan Allah semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah utara, dekat sungai Efrat."

Setelah melalui sedemikian banyak argumen sehat dan tak terpatahkan terhadap ketidakbenaran doktrin Trinitas dan juga banyak lagi keyakinan Kristiani yang lain, aku hanya merasa takjub bagaimana sebuah iman dan keyakinan irasional semacam ini dapat menarik banyak pengikut di dunia. Suatu waktu aku jumpai ayahku tatkala pulang ke rumah dalam keadaan riang dan segera setalah ia tiba di rumah, ia memanggilku dan berkata:

"Engkau pasti akan sangat senang mendengarnya putraku bahwa hari ini aku mendapatkan 109 orang yang ikut aliran kita. Pada hari pembaptisan dengan melibatkan banyak orang seperti itu pada satu hari, Bapa Pendeta, Pemimpin Misi Kami sangat memuji perkhidmatan yang aku lakukan dan ia telah menambah total gaji sekaligus tunjangan perjalanan bagiku serta menganugerahkan hadiah yang banyak berkat usahaku dalam membaptis 109 orang-orang pada hari itu."

Aku bertanya: "Siapakah mereka, Bapa, yang dibaptis hari ini?"

Jawaban yang diberikan adalah: "Mereka berasal dari desa sekitar. Mereka terdiri dari pria, wanita dan anak-anak, jumlahnya 109 orang."

Aku bertanya, "Apakah mereka orang-orang yang berpendidikan?"

Jawabannya, "Tidak, mereka adalah orang-orang dari perkampungan miskin. Mereka hanya sekedar buruh-buruh di ladang dan sawah di kampung mereka."

Aku bertanya apakah mereka benar-benar mengerti tindakan mereka beriman kepada keyakinan Kristen? Akankah mereka dapat lulus tatkala diuji terhadap keputusan mereka meninggalkan agama mereka dan bergabung memeluk iman Kristen?"

Jawabannya, "Apa yang engkau maksud? Aku katakan bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang bodoh; buruh-buruh dari kampung miskin. "

Mendengar hal ini, aku tersenyum, dan melihatku tersenyum ayahku bertanya, "Mengapa engkau tersenyum, Joseph? Ada apa?" Aku berkata, "Tidak ada apa-apa ayah! Aku tidak melihat kebanggaan dan kegembiraan dalam perpindahan massif ini, dimana setiap agama atau keyakinan yang benar dan asli dapat mengklaim dirinya sendiri, selain itu kecuali mengeksploitasi orang-orang bodoh dan dungu dari kalangan buruh-buruh miskin. Hal ini akan menuntun orang yang jiwanya buta kepada sesuatu yang tak ia kenali dan ketahui. Menurut ayah, bahwa setiap orang yang berakal sehat merasa bangga ketika mendapatkan orang-orang dungu menerima gagasan-gagasannya dan dengan arif mengklaim sedikit jasa atau nilai atas pikiran-pikirannya?"

"Sementara entry sebuah keyakinan seperti Islam adalah berpengaruh hanya setelah sebuah pengkajian dan penyelidikan panjang oleh seorang yang terpelajar dengan iman sempurna, kita orang-orang Kristen merasa bangga atas keberhasilan kita dalam meninggikan kedudukan kita oleh perpindahan massif dari kalangan buruh-buruh yang bodoh, yang sesuai dengan keadaan, terpaksa menerima doktrin Kristen tanpa mengetahui apa yang mereka lakukan itu benar atau salah? Pikiran dungu adalah ibarat selembar kertas kosong, seseorang dapat menariknya sesuai dengan seleranya dan sekali ditulisi di atasnya seperti bahan mentah, setiap pelukis dapat merasa bangga atas gambar yang ia desain. Jika hari ini memenangkan simpati orang-orang bodoh, kita menggembar-gemborkan kemanusiaan dan pengorbanan diri demi menyebarkan iman kita di hadapan orang-orang bodoh yang baru memeluk agama kita, akankah dunia luar juga melupakan dekrit Milan, ayah, dan akankah seluruh catatan sejarah kebrutalan yang dilakukan umat Kristen atas orang-orang tak berdaya Yahudi, dalam nafsu hasrat yang bergelora dan kerisauan untuk meninggikan derajatnya, secara keseluruhan akan binasa?"

Aku lanjutkan, "Jika Anda izinkan ayah, aku ingin tahu darimu jika Injil yang berada di tanganmu itu hanya sekedar dihafal dan didakwahkan kepada yang lain atau harus dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Jika ia harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bolehkah Anda menunjukkan kepadaku, wahai Ayah, jika dunia Kristen dapat mempraktikkan ajaran menyerahkan pipi yang lain ketika satu pipi ditampar? Dapatkah seorang Kristen yang tulus hingga sekarang, memberikan bajunya ketika jaketnya diambil? Akankah engkau, wahai ayah, menyerahkan seluruh rumahmu jika seseorang menyerang kediaman kita dan mengambil setiap harta yang ada di kamar dalam bangunan ini?

Jika penguasa-penguasa Kristen dunia benar-benar percaya kepada doktrin penyerahan diri ini, mengapa mereka tetap memelihara kekuatan militer dan polisinya? Tolong katakan kepadaku, wahai ayah, apakah ada gunanya sekedar percaya kepada cita-cita emas yang hanya mengagumi beberapa halaman dari beberapa buku dan hanya dapat didakwahkan tapi tidak pernah dapat dipraktikkan. Mengapa kita tidak menerima secara rasional doktrin pembelaan diri (self-defence) yang diajarkan Islam, dan prinsip-prinsip pengampunan atas penyerangan kita apabila kita bertobat, dan memperbaiki perilaku kita?

"Demi Tuhan, beritahukanlah wahai ayah, bagaimana tiga hal yang berbeda pada saat yang sama menjadi satu yang mutlak, keduanya secara numerik dan bilangan dan juga dalam bentuk esensial dari kesatuan yang paripurna?

"Atas dasar rasional apa seseorang yang ditinggalkan Tuhan, dapat menjadi Tuhan itu sendiri dan jika Yesus diyakini sebagai putra Tuhan, klaim apa yang dapat diajukan dalam hubungan dengan ayahnya yang meninggalkan putranya?

"Hak apa yang dimiliki oleh umat Kristen dalam mengklaim kebenaran tatkala penyebarannya disebabkan oleh kebiadaban dan kekejian yang dilakukan pasukan-pasukan Kristen terhadap bangsa miskin dan tak berdaya Yahudi. Perbuatan brutal yang dilakukan atas nama suci Kristus, telah dilaporkan dengan lengkap oleh penguasa-penguasa Kristen dalam Dekrit Miilan dan oleh cendekia terkenal Kristen Gibbon dalam karyanya yang ternama, "The Decline and the Fall of the Roman Empire."

"Doktrin pengampunan melalui darah Kristus, secara natural akan menyerang para pendosa yang telah berbuat dosa dan tidak ingin menyerah dari berbuat dosa di bawah lindungan doktrin ini bahwa harga dosa-dosa mereka telah ditebus dan seburuk apapun dosa yang dipilih oleh si pendosa, mereka tidak akan dihukum akibat kejahatan dan kebengisan yang mereka lakukan, lantaran, setelah Yesus membayar dosa-dosa manusia, Tuhan haruslah melenyapkan klaim-Nya untuk menghukum para pendosa di hari kiamat kelak.

"Terdapat banyak hal yang harus dikaji dan diteliti dengan pikiran jernih dan penilaian imparsial, wahai ayah."

"Aku katakan kepadamu wahai ayah, bahwa apapun konsekuensi derita dan nestapa yang bakalan menimpaku, aku telah memutuskan untuk tidak menjual diriku atau mengorbankan nuraniku dan akal sehatku kepada keyakinan doktrin dogmatis dan tidak masuk akal. Aku telah memeluk Islam, dan jika engkau tidak marah kepadaku dan mempersilahkan aku untuk menjelaskan kepadamu hasil kajianku, aku akan lakukan hal itu bilamana aku diinginkan untuk hal tersebut. Aku tidak suka pikiran atau keyakinanku dirampas oleh orang lain dengan paksa. Lantaran agama Islam, yang secara terbuka aku deklarasikan sebagai agamaku, berseru bahwa tidak ada paksaan dalam perkara iman dan agama sebagai kebenaran yang telah diwahyukan melawan kepalsuan."

"Aku sangat terkejut mendapatkan ayahku sangat perhatian terhadap pandangan dan keyakinanku dan pada akhirnya ia berkata, "Anakku!" Jangan engkau sangka bahwa ayahmu adalah orang dungu. Aku telah sering berkonfrontasi dengan gagasan-gagasan semacam ini selama masa hidupku tatkala aku pada acara diskusi agama dengan sahabat-sahabatku yang beragama Islam. Akan tetapi kejujuran dan ketegasan yang engkau lontarkan dari keyakinanmu membuatku berani untuk memutuskan perkara itu. Aku akan katakan kepadamu nanti lantaran demi Tuhan jagalah masalah ini dengan ketat hanya untuk dirimu saja dan jangan sekali-kali engkau ceritakan kepada orang lain. Kalau tidak, engkau akan dilemparkan ke jalanan ibarat orang malang."

Berapa hari berselang ayahku berbicara panjang lebar dan ia memutuskan untuk menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim. Rincian penderitaan dan penganiayaan yang harus kami lalui merupakan sejarah tersendiri.

Aku kini, sebagai informasi dan bimbingan bagi setiap pencari kebenaran, secara terbuka mendeklarasikan penemuan aktual dari kajian tulusku bahwa Islam tidak hanya merupakan agama pamungkas yang telah merevolusi dunia dan mengubah nasib seluruh bangsa, tapi juga merupakan agama paripurna dan iman all-inclusive (serba meliputi) yang mengandung seluruh kebaikan dalam dirinya, yang ditemukan sebagian pada agama-agama yang lain yang telah mendahuluinya.

Salah satu karakter yang paling membedakan dan menarik dari Islam adalah meminta seluruh pengikutnya untuk meyakini seluruh agama-agama dunia yang mendahuluinya yang diwahyukan Tuhan untuk manusia pada masa itu. Salah satu iman fundamental ini adalah bahwa pengikutnya harus meyakini seluruh nabi-nabi yang diutus ke dunia ini sebelum Nabi Suci Muhammad sebagai orang-orang suci dan tanpa dosa (maksum, infallibles).

Muhamamd merupakan nama nabi suci yang melaluinya seluruh keyakinan dan iman komprehensif diwahyukan bagi kemanusiaan sepanjang masa dalam bentuk dan arti yang paling lengkap dan paripurna. Adalah Barat yang menamakan keyakinan ini sebagai Muhammadanisme mengikuti tren Kristenitas, Budhisme, Konfuncunisme, Zoroastrianisme dan Hinduisme. Selain itu nama aturan agama ini telah diberikan nama dalam al-Qu'ran sebagai ISLAM, yang cukup berbeda dengan metode penamaan aturannya mengikut kepada pendirinya, pendiri Islam sendiri adalah MUSLIM sebagaimana mukmin yang lain. lantaran banyak nabi mendakwahkan Kebenaran yang sama di antara bangsa-bangsa yang berbeda di setiap masa dalam bahasa yang berbeda, setiap Rasul Allah yang dikisahkan dalam al-Qur'an adalah Muslim.

Lalu aku telah temukan, di samping seluruh keraguan bahwa Islam merupakan agama yang diperlukan kemanusiaan bagi kehidupan material dan spritualnya, untuk mencapai keselamatan pada akhirnya.

Seorang Muslim harus meyakini seluruh nabi sebagai orang-orang benar, tanpa dosa, dan kitab-kitab mereka sebagai firman-firman Tuhan, yang diwahyukan untuk manusia dan untuk zamannya, dan juga meyakini Muhammad sebagai Rasul Allah yang terakhir dan kitabnya, yaitu al-Qur'an merupakan wahyu terakhir yang merupakan firman Tuhan untuk kehidupan sentosa.

Pendeknya, seorang Muslim, melalui al-Qur'an memeluk seluruh keindahan pada setiap agama, dan mengalihkan wajahnya dari agama yang telah disimpangkan oleh manusia.

Dengan penjelasan ihwal kebenaran yang memadai, akankah salah seorang dari kita mencintainya? Atau akankah setiap orang dari kita memeluknya?

Deklarasi syahdu ini aku buat demi menolong mereka yang secara tulus ingin mengetahui Kebenaran yang mereka perlukan untuk menjalani kehidupan di dunia ini untuk mencapai tujuan bahagia yang disebut sebagai keselamatan (salvation).

Tidak ada seorang pun yang mengingkari bahwa terdapat jalan lain untuk mencapai keridhaan Tuhan lebih lengkap dari menyerahkan diri seutuhnya kepada kehendak-Nya, sebuah tindakan (penyerahan diri) yang disebut sebagai ISLAM.

Kemudian janji Tuhan bagi keturunan Ibrahim telah terpenuhi dengan kemunculan dan keberhasilan Nabi Suci dalam membangun kebenaran sepanjang masa:

""Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku; Dengarkanlah ia dalam segala sesuatu yang dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita. Dan semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi diberkati. (Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 3:22-25)

Sekali lagi aku beberkan masalah ini sehingga kebenaran ini dan deklarasi putih tentang fakta dimaksudkan bukan bagia setiap orang yang tidak ingin mengetahui segala sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya yang tetap, tapi diperuntukkan bagi para pemikir bebas, yang serius mencari kebenaran dan siap untuk mengakui kebenaran yang termanifestasi di dalamnya.

Aku simpulkan dengan terima kasihku yang tulus dan puji syukur kupanjatkan kepada Tuhan yang Mahakasih karena aku telah menyadari penunaian janji-Nya untuk membimbing mereka yang secara tulus dan ikhlas mencari kebenaran. (Selesai)

0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:
لینک کوتاه

latest article

Ketika Nabi Saw Bercanda
program Imam Zainal Abidin as di Madinah pasca tertawan
Sekiranya Tiada Zainab....
Detail Seputar Peristiwa Mubahalah Nabi Saw
Fikih berkenaan dengan puasa
Pertemuan Sejumlah Mahasiswa Syiah Eropa dengan Pimpinan Majma’ Ahlul Bayt as
Imam Ali al-Ridha As Teladan Akhlak Sepanjang Zaman
Makna Lain dari Kata Al-Ishlah Dalam Al-Qur’an
Fathimah, Ibu Ayahnya
Tiga Hal yang Menjamin Segala Kebaikan dalam Kehidupan

 
user comment