Indonesian
Wednesday 10th of August 2022
0
نفر 0

Syiah di bawah naungan Imam Muhammad Al-Jawad as



Telah kita katakan sebelumnya bahwa sesungguhnya Syi’ah di masa Imam Ali Ar-Ridha as telah mencapai kekuasaan politik yang besar, yang hal ini mendorong Al-Ma’mun untuk mengundang Imam Ali Ar-Ridha dan memaksanya untuk menerima jabatan resmi dalam kekhalifahan.

Meskipun Imam Ali Ar-Ridha as akhirnya menyetujui pengangkatannya itu, tetapi persetujuan ini dibarengi dengan syarat untuk sama sekali tidak mencampuri urusan politik resmi, bahkan yang berkaitan dengan mengimami orang-orang dalam shalat Id. Dengan syarat ini, Imam Ali Ar-Ridha as telah menggagalkan rencana-rencana dan tujuan-tujuan jahat Al‌-Ma’mun. Sehingga, Imam Ali Ar-Ridha as tetap menjadi simbol dan harapan bagi umat.

Imam Muhammad Al-Jawwad as tetap meneruskan jalan yang ditempuh oleh ayahnya ini, sebagaimana Al-Ma’mun juga berupaya menjalankan rencana yang sama terhadapnya.

Di antaranya, Al-Ma’mun menikahkan putrinya, Ummul Fadhl, dengan Imam Muhammad Al-Jawwad as guna memisahkan hubungannya dengan umat. Dengan pernikahan ini, Al-Ma’mun telah menanamkan mata-mata keluarga dalam rumah Imam Muhammad Al-Jawwad as yang mengawasi segala gerak geriknya.

Sebelumnya Al-Ma’mun telah berupaya menjatuhkan martabat Imam Ali Ar-Ridha as dan mempermalukannya di hadapan tokoh-tokoh agama, aliran, dan filsafat. Akan tetapi, dalam perdebatan itu, temyata Imam Ali Ar-Ridha as berhasil mengungguli mereka semua dengan sangat mengagumkan sehingga namanya, dan Ahlul Bait pada umumnya, justru tambah terkenal dan terangkat.

Kemudian Al-Ma’mun kembali berupaya menjatuhkan Ahlul Bait dengan mempermalukan Imam Muhammad Al-Jawwad as karena umumya masih tergolong anak-anak, yang saat itu masih berusia sembilan tahun. Al-Ma’mun mengumpulkan antara Imam Muhammad Al-Jawwad as dengan ulama-ulama terkemuka pada zamannya, yang paling terdepan di antara mereka adalah Yahya bin Uktsum, Qodhil Qudhot (Hakim Agung),

Dalam perdebatan ini, Imam Muhammad Al-Jawwad as telah mengalahkan Yahya bin Uktsum dengan kekalahan yang telak sehingga hal itu telah mencemaskan Al-Ma’mun.

Kemudian kita mendapatkan bahwa delapan puluh faqih (ahli fiqih) dari Bagdad dan kota-kota yang lain berangkat pada musim haji ke Al-Madinah Al-Muwarah untuk sengaja menemui Imam Muhammad Al-Jawwad as.

Di antara sahabat dan murid Imam Muhammad Al-Jawwad as adalah: Ibn Abi ‘Umair Al-Baghdadi, Abu Ja’far bin Sinan Az-Zahidi, Ahmad bin Abi Nushair Al-Bizanthi Al-Kufi, Abu Tamam Habib bin Aus Ath-Tha’i, Abul Hasan Ali bin Mahziyar Al-Ahwazi, dan Al-Fadhl bin Syadzan An-Naisaburi. Mereka semua ini merasa tertekan dan menderita karena diawasi dan terus-menerus dikejar-kejar oleh penguasa.

Imam Muhammad Al-Jawwad as di samping memiliki karakter keilmuan yang kuat, dia juga melakukan perlawanan terhadap pemerintahan saat itu secara politis. Hal ini mendorong Al-Ma’mun untuk menawarkan kepada Imam Muhammad Al-Jawwad as sebuah rumah di Bagdad (agar lebih mudah mengawasinya). Akan tetapi, Imam Muhammad Al‌-Jawwad as telah menggagalkan rencana Al-Ma’mun ini dengan menolak penawaran yang diajukan oleh Al-Ma’mun itu. Imam Muhammad Al-Jawwad as lebih memilih untuk tetap tinggal di Madinah Al-Munawwarah dan melakukan konsolidasi dengan Syi’ahnya.

Kemudian ketika Al-Mu’tashim naik takhta, dia memanggil Imam Muhammad Al-Jawwad as ke Bagdad dan memaksanya untuk tinggal di sana. Akhimya, dia berhasil melaksanakan rencananya untuk membunuhnya dengan cara meracuninya.

534
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:
لینک کوتاه

latest article

MENGENAL PRIBADI FATIMAH AZ ZAHRA
Jenis Kematian Yang Paling Buruk
Rahasia Keabadian Asyura
Syahidnya Imam Musa Al-Kadhim as
Wahabi Bukan Ahli Sunah dan Salafi
Para Pahlawan Sejati Asyura
Imam Hasan, Pelindung Kesucian Islam
Imam Husain dan Syahadahnya
Di negara manakah tempat dimakamkannya sayidah Zainab Sa?
Yazid dan Kebobrokan Pemerintahannya

 
user comment