Indonesian
Wednesday 22nd of September 2021
1342
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Mubahalah, Bukti Kebenaran Ahlu Bait as

Mubahalah, Bukti Kebenaran Ahlu Bait as

Definisi Mubahalah
Mubahalah berasal dari kata bahlah atau buhlah, yang berarti melepaskan sesuatu dari ikatannya. Akan tetapi secara terminologi, mubahalah adalah memohon kutukan kepada Allah Swt untuk dijatuhkan kepada orang yang berdusta, sebagai bukti kebenaran salah satu pihak. Mubahalah dilakukan ketika orang-orang berdebat tentang masalah penting agama, lalu berkumpul di sebuah tempat dan memohon kepada Allah Swt untuk menghukum mereka yang berbohong dan menentang kebenaran.

Pada tanggal 24 Dzulhijjah tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad Saw melayangkan sebuah surat kepada kaum Nasrani Najran untuk menyeru mereka kepada agama Islam. Mereka yang tidak bersedia menerima Islam pada akhirnya mengutus pembesar-pembesar Nasrani untuk datang ke Madinah, lalu Nabi Saw membacakan beberapa ayat al-Quran tentang Isa bin Maryam. Ketika mereka menolak kebenaran itu, maka turunlah surat Ali Imran ayat 61. Ayat ini memerintahkan Nabi Saw untuk melakukan Mubahalah dan delegasi Nasrani pun setuju untuk melakukan itu.

Keesokan harinya, Nabi Muhammad Saw mengajak orang-orang terdekatnya untuk bermubahalah dengan Nasrani Najran. Mereka adalah Ali, Fatimah serta Hasan dan Husein. Akan tetapi, para wakil Nasrani membatalkan niat mereka dan memilih membayar jizyah daripada melakukan Mubahalah. Najran adalah sebuah derah di barat daya Arab Saudi, dekat perbatasan Yaman. Pada permulaan Islam, kawasan itu dihuni oleh kaum Nasrani yang mengikuti ajaran Nabi Isa as daripada menyembah berhala.


Seruan Kepada Islam dan Kebenaran
Muhammad Saw yang diutus sebagai nabi akhir zaman dan berkewajiban menyampaikan risalah ilahi, telah mengirim banyak surat ke sejumlah negara dan penguasa pada masa itu. Nabi Saw juga mengutus sejumlah delegasinya untuk mengajak umat manusia menyambut seruan kebenaran dan pengesaaan Tuhan. Surat serupa juga dikirim kepada pembesar dan pendeta Najran, Abu Haritsah bin Alqamah untuk mengajak kaumnya memeluk agama Islam.

Dalam suratnya kepada pendeta Najran, Rasul Saw menulis, "Dengan Nama Tuhan Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub, surat ini dari Muhammad, Rasulullah Saw kepada pendeta Najran. Aku memuji Tuhan Nabi Ibrahim, Ishak, dan Ya'qub dan mengajak Anda untuk menyembah Tuhan daripada menyembah makhluk-Nya. Aku menyeru Anda untuk meninggalkan wilayah makhluk Tuhan dan bergabung ke dalam wilayah Tuhan. Jika Anda tidak menerima seruan ini, maka Anda wajib membayar jizyah demi keamanan jiwa dan harta benda Anda. Jika tidak demikian, Anda akan dihadapkan pada bahaya."

Delegasi pembawa pesan Rasul Saw itu memasuki Najran dan menyerahkan surat tersebut kepada pendeta Nasrani. Setelah itu, Abu Haritsah bin Alqamah membentuk sebuah forum untuk membicarakan masalah tersebut dengan pemuka-pemuka kaum Nasrani Najran. Salah seorang dari mereka yang dikenal sebagai pemikir, berkata: "Kita berulang kali mendengar dari pemimpin-pemimpin kita bahwa suatu hari nanti posisi kenabian akan berpindah dari keturunan Ishaq kepada putra-putra Ismail. Tidak menutup kemungkinan bahwa Muhammad – dari keturunan Ismail – adalah nabi yang dijanjikan itu." Atas dasar ini, forum Nasrani Najran memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Madinah guna bertemu Muhammad Saw dan menanyakan bukti-bukti kenabiannya.


Kronologi Peristiwa Mubahalah
Rasul Saw dalam sebuah diskusi dengan delegasi Nasrani, mengajak mereka untuk menyembah Tuhan Yang Esa. Akan tetapi, mereka tetap mempertahankan klaimnya dan bersikeras bahwa bukti ketuhanan al-Masih adalah kelahiran Isa as tanpa perantaraan ayah. Pada saat itu, turunlah wahyu kepada Rasul Saw yang berbunyi, "Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, sama seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah." (Ali Imran:59)

Dalam ayat tersebut, Allah Swt selain menjelaskan keserupaan penciptaan Isa dengan Adam, juga mengingatkan bahwa Adam diciptakan dari tanah tanpa perantaraan ayah dan ibu. Jika ketiadaan ayah bagi al-Masih adalah bukti ketuhanan Isa, maka Adam lebih layak menyandang posisi itu. Sebab, ia diciptakan tanpa ayah dan ibu. Meski Rasul Saw telah memaparkan argumentasi ini, delegasi Nasrani Najran tetap tidak puas dan kemudian Allah Swt memerintahkan rasul-Nya untuk melakukan mubahalah guan menyingkap kebenaran dan menghukum orang-orang yang berdusta.

Allah Swt sebelum menurunkan ayat mubahalah, terlebih dahulu menjelaskan tentang penciptaan Nabi Isa as dalam beberapa ayat sebelumnya. Langkah ini bertujuan mengajak Nasrani Najran menggunakan akal sehat dan logika dalam berdebat. Pada awal diskusi, Rasul Saw telah berusaha menyadarkan mereka dengan argumentasi-argumentasi yang kuat dan tegas. Namun, itu semua tidak membuat mereka sadar, tapi malah bersikeras pada keyakinannya. Pada akhirnya, Allah Swt memerintahkan Rasul Saw untuk bermubahalah dan berfirman: "Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (Ali Imran:61)

Setelah datang tawaran bermubahalah, delegasi Nasrani Najran meminta waktu kepada Rasul Saw untuk mendiskusikan masalah itu dengan pembesar-pembesarnya. Hasil musyawarah itu merekomendasikan bahwa jika Muhammad datang untuk bermubahalah dengan sebuah rombongan dan senjata, maka lakukanlah mubahalah dengannya, karena dapat dipastikan kebenaran tidak bersamanya. Akan tetapi, jika Muhammad hanya datang bersama orang-orang terdekatnya, ketahuilah bahwa dia adalah utusan Allah Swt dan jangan kalian bermubahalah dengannya, karena bahaya akan datang.

Mubalahah pun dibatalkan setelah Nasrani Najran melihat Rasul Saw datang bersama orang-orang terdekatnya. Abu Haritsah bin Alqamah berkata: "Aku menyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memohon kepada Tuhan, maka gunung-gunung akan berpindah dari tempatnya dan menuruti perintah mereka. Oleh sebab itu, janganlah kalian bermubahalah, karena kita akan binasa dan tidak ada seorang Nasrani pun akan yang tersisa di muka bumi."

Setelah pembatasan sepihak itu, Abu Haritsah bin Alqamah mendatangi Rasul Saw dan berkata kepadanya, "Wahai Abul Qasim! Urungkanlah niatmu untuk bermubahalah dengan kami dan kami siap berdamai atas segala sesuatu yang mampu untuk kami tunaikan." Rasul Saw akhirnya menerima tawaran perdamaian dan menetapkan pembayaran jizyah kepada pemerintahan Islam.


Mubahalah dan Kebenaran Ahlul Bait as
Mubahalah Rasul Saw dengan Nasrani Najran adalah bukti kebenaran risalahnya. Pertama, tawaran mubahalah diusulkan oleh Rasul Saw sendiri, yang mengindikasikan keimanan kuat beliau atas kebenaran risalahnya. Hanya orang-orang yang bersama kebenaran, berani menerima tantangan ini, sebab mubahalah memiliki implikasi serius dan mematikan. Dan kedua, Rasul Saw memboyong orang-orang penting dan terdekat dalam hidupnya untuk melakukan sebuah pertarungan final. Langkah ini sendiri menunjukkan dalamnya keimanan dan keyakinan Rasul Saw terhadap kebenaran misinya.

Para mufassir dan ahli hadis Syiah dan Sunni menyatakan bahwa ayat mubahalah juga bukti atas kebenaran Ahlul Bait Nabi as. Ketika mendatangi arena mubahalah, Rasul Saw hanya membawa putrinya, Fatimah az-Zahra as, kedua cucunya, Sayyidina Hasan dan Husein as, serta menantunya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib as. Oleh karena itu, maksud kata "Abnaana" dalam ayat mubahalah hanya terbatas pada Hasan dan Husein as, sementara "Nisaana" hanya tertuju pada Fatimah as, dan kata "Anfusana" hanya terfokus pada Ali as. Ayat mubahalah juga menyinggung sebuah poin penting yaitu, Ali menempati kedudukan jiwa dan ruh Rasul Saw.


Dua Riwayat Tentang Ahlul Bait
Dalam buku ‘Uyun Akhbar ar-Ridha tentang pertemuan diskusi yang diselenggarakan oleh Khalifah Ma'mun disebutkan, Imam Ali bin Musa ar-Ridha as berkata, "Allah menjelaskan hamba-hambanya yang suci dalam ayat Mubahalah. Menyusul diturunkannya ayat ini, Nabi Muhammad Saw mengajak Ali, Fathimah, Hasan dan Husein untuk bermubahalah. Ini merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan keutamaan yang tidak mungkin diraih oleh siapapun dan kemuliaan yang tidak pernah dimiliki seorangpun."

Sementara dalam buku Ghayah al-Maram mengutip dari Shahih Muslim disebutkan, suatu hari Muawiyah bin Saad bin Abi Waqqas mengatakan, "Mengapa engkau tidak memburuk-burukkan Abu Thurab (julukan Imam Ali as)? Dijawab, "Sejak aku mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw tentang Imam Ali as, aku sudah tidak lagi mengucapkan hal-hal yang buruk tentang Ali. Pertama, ketika ayat Mubahalah diturunkan oleh Allah, Nabi hanya mengajak Fathimah, Hasan, Husein dan Ali. Setelah itu Nabi berdoa, "Allahumma Haaulaai ahli" (Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku)."


Amalan Hari Mubahalah
Dalam buku doa Mafatih al-Jinan, ada sejumlah amalan khusus yang dilakukan tepat di hari ini seperti berikut:

1. Mandi, amalan ini menunjukkan upaya untuk membersihkan badan lahiriah dari kotoran dan menandakan kesiapan jiwa untuk berhias dengan doa-doa yang akan dibaca.

2. Berpuasa, amalan ini membuat batin manusia menjadi lebih segar.

3. Melakukan dua rakaat shalat.

4. Membaca doa khusus hari Mubahalah yang disebut doa Mubahalah yang agak mirip dengan doa Sahar bulan Ramadhan.

Begitu juga di hari ini ditekankan agar membaca ziarah Amirul Mukmini, khususnya Ziarah Jamiah. Berbuat baik kepada orang miskin, mengikuti apa yang dilakukan oleh Imam Ali as yang di hari ini memberikan cincinnya kepada seorang peminta saat tengah melakukan ruku. (IRIB Indonesia/RM/SL)

1342
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Wasiat Amirul Mu’minin as kepada Kumail ra, bag VII
Mabats, Fajar Kesempurnaan Manusia
Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis
Maktal Arbain
Zuhud dan Pengorbanan Sayidah Fathimah Az-Zahra as
Hujr bin Adi, Korban Kesadisan dan Fanatisme Buta
Ketaatan pada Ali dalam Puisi Fathimah
Imam Ali, Suara Keadilan
Bagaimanakah kejadian maskh, dan apakah binatang-binatang yang ada saat ini sebenarnya adalah ...
Keutamaan Hadzrat Fatimah Zahra AS

 
user comment