Indonesian
Saturday 26th of September 2020
  41
  0
  0

Iman Abu Thalib

da diskusi menarik antara orang Syiah dan Suni tentang iman Abu Thalib, ayah Ali as. Orang Suni: “Dalam kitab-kitab kami banyak sekali riwayat tentang Abu Thalib yang bertentangan, sebagian riwayat memuji dan sebagian lagi mencelanya.”
Iman Abu Thalib

da diskusi menarik antara orang Syiah dan Suni tentang iman Abu Thalib, ayah Ali as.
 
Orang Suni: “Dalam kitab-kitab kami banyak sekali riwayat tentang Abu Thalib yang bertentangan, sebagian riwayat memuji dan sebagian lagi mencelanya.”
 
Orang Syiah: “Menurut ulama Syiah, Abu Thalib adalah orang beriman yang berjasa besar untuk Islam.”
 
Orang Suni: “Kalo begitu, mengapa banyak sekali riwayat yang menjelekkannya?”
 
Orang Syiah: “Menurutku dosa Abu Thalib satu-satunya adalah karena ia ayah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yag memiliki banyak musuh. Semua musuhnya menyimpan iri dan dengki di hati. Salah satunya adalah Muawiyah yang membayar siapapun yang mau menciptakan hadits-hadits palsu. Yang mengherankan, begitu parahnya sampai-sampai ada riwayat yang ditukil dari Abu Hurairah bahwa saat nabi menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali bin Abi Thalib dipotong.[1]
 
Oleh karena itu, tuduhan bahwa Abu Thalib adalah musyrik pasti tak jauh dari unsur politik.”
 
Orang Suni: “Dalam Al Qur’an, ayat 26 surah Al An’am disebutkan: “Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya…” Yang mana dalam kitab-kitab tafsir kami dijelaskan tentangnya bahwa sebagian orang ada yang berlaga membela nabi padahal dari segi iman justru menjauh dari beliau.”
 
Orang Syiah: “Bukan seperti itu penjelasan ayat tersebut. Kalaupun memang dapat dimengerti sedemikian rupa, hal apa dari ayat itu yang menjadi alasan kalian mengkafirkan Abu Thalib? Apa bukti maksud ayat tersebut mencakup Abu Thalib juga?”
 
Orang Suni: “Sufyan Tsauri meriwayatkan dari Habib bin Abi Tsabit bahwa Ibnu Abbas berkata, “Ayat tersebut diturunkan karena Abu Thalib. Karena ia membela nabi namun ia sendiri menjauhinya (dan tidak mengimaninya).”[2]
 
Orang Syiah: “Aku perlu menjelaskan beberapa hal:
 
Dengan memperhatikan ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut, yang mana berkaitan dengan orang-orang kafir, maknya ayat yang dapat dipahami adalah: “Mereka, orang-orang kafir, mencegah orang-orang untuk mengimani nabi, dan mereka sendiri pun juga tidak mau beriman.”[3]
 
Di ayat itu disebutkan kata “menjauhkan diri daripadanya…”, padahal Abu Thalib tidak pernah menjauhkan diri dari nabi, justru selalu dekat dengan beliau.
 
Mengenai riwayat Sufyan Tsauri, yang mana dinisbatkan kepada Ibnu Abbas dan ia berkata bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, riwayat ini perlu dipertanyakan dari berbagai sisi:
 
Pertama, Sufyan Tsauri adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan dikenal oleh para ahli hadits Suni sebagai pembohong.[4] Dan telah ditukil dari Ibnu Mubarak bahwa Sufyan dikenal suka mencapur adukkan yang benar dan yang batil.[5]
 
Adapun perawi lain yang meriwayatkan riwayat di atas, yakni Habib bin Abi Tsabit, ia pun juga sama seperti yang tadi, begitulah menurut pengakuan Abu Hayyan.[6] Lagi pula riwayat yang ini adalah mursal, yakni tidak jelas siapa perawi-perawi yang menjadi perantara antara Habib hingga Ibnu Abbas.
 
Ibnu Abbas adalah orang yang dikenal suka mengagungkan Abu Thalib dan menekankan keimanannya. Mana mungkin ia meriwayatkan sebuah riwayat seperti ini?
 
Di riwayat lainnya, justru ada riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang kafir mencegah semua orang untuk mengikuti Muhammad dan diri merekapun menjauhinya.
 
Sangkalan lainnya, jika ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, lalu mengapa ayat itu menggunakan kata “mereka”?
 
Yang masuk akal adalah maksud ayat itu mencakup paman-paman nabi, yang mana paman nabi ada banyak, namun tiga orang di antara mereka adalah orang baik, seperti Hamzah, Abbas, dan Abu Thalib, yang tidak dimaksud oleh ayat tersebut.
 
Lagi pula, bukannya kita tahu bahwa nabi selalu menjauhi orang-orang musyrik? Misalnya beliau menjauh dari Abu Lahab. Adapun dengan Abu Thalib, nabi sampai akhir hayat selalu dekat dengannya. Lihatlah tahun di mana Abu Thalib wafat di dalamnya, tahun tersebut dikenal dengan tahun kesedihan.[7]
 
Apa benar jika kita katakan bahwa nabi sangat mencintai orang musyrik dan saat orang musyrik itu mati beliau sangat bersedih karena kehilangannya? Justru aneh sekali jika demikian. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan beliau untuk menjauhi orang-orang Musyrik.[8]
 
 
 
CATATAN :
 

[1] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 1, halaman 358.
 

[2] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 128.
 

[3] Al Ghadir, jilid 8, halaman 115.
 

[4] Mizanul I’tidal, halaman 398.
 

[5] Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 115.
 

[6] Ibid, jilid 3, halaman 179.
 

[7] Tarikh Thabari, sebagaimana yang ditukil oleh kitab Abu Thalib, Mu’minu Quraisy.
 

[8] Seratus Satu Perdebatan, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 337.


source : alhassanain
  41
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

Apakah ruh dan jin dapat menggangu manusia?
Ujian Allah dan Musibah
Saat Umat Kristen Ikut Protes Film "Innocence of Muslims"
Kata-Penuh Hikmah Imam Ali, Pengenalan diri
Menengok Keabsahan Doa Kumail, bag II
Puasa Ramadhan dalam tradisi Islam Syiah (bag satu)
Mengingkari Konflik Agama
Hadis Pilihan : 5 Hal
Sifat Jamal dan Jalal Ilahi
Penggalan Doa Kumail

 
user comment