Indonesian
Sunday 29th of November 2020
  12
  0
  0

Hijrah Ke Eropa, Miniatur Persiapan Akhirat

Salah seorang teman berencana hijrah ke Salah satu negara Eropa. Sebelum keberangkatannya ia menyiapkan segala bekal dan keperluan yang pasti dan mungkin di hadapinya di sana. Mulai dari belajar bahasa, belajar merias rambut, kosmetik sampai merawat tangan dan menanam
Hijrah Ke Eropa, Miniatur Persiapan Akhirat

Salah seorang teman berencana hijrah ke Salah satu negara Eropa. Sebelum keberangkatannya ia menyiapkan segala bekal dan keperluan yang pasti dan mungkin di hadapinya di sana. Mulai dari belajar bahasa, belajar merias rambut, kosmetik sampai merawat tangan dan menanam kuku. Intinya semua keperluan hidupnya nanti sudah disiapkan sedemikian rapi dengan harapan di sana ia dan keluarganya jangan sampai menghadapi kesulitan dan kekurangan. Ia begitu serius dalam masalah ini.
 


Kini hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan mempersiapkan diri untuk masa depannya di sana. Hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan memikirkan bagaimana caranya ia hidup lebih baik di sana. Kini siang dan malamnya di penuhi dengan pikiran kapan kepastiannya ia harus pergi menuju dunia barunya. Pikirannya sudah tidak berada di sini, pikirannya senantiasa melayang di atas angan-angan dunia barunya.
 


Kondisi dan keadaan teman ini membuatku juga melayang berpikir dan merenung. Merenungi; sesungguhnya merupakan sebuah fitrah manusia, bila seseorang berencana pergi atau berhijrah ia tidak akan pergi secara tiba-tiba tanpa persiapan. Ia harus menyiapkan bekal untuk keperluan dirinya sedemikian rupa sehingga jangan sampai mengalami kekurangan di tengah perjalanan dan tempat tujuannya. Sebelum pergi menuju kehidupan barunya seseorang akan menyiapkan apa saja yang muncul di benaknya. Inilah gambaran persiapan orang yang mau melangkah menuju kehidupan barunya. Inilah bukti orang yang sadar dan menyadari akan pentingnya bekal dalam bepergian dan berhijrah.
 


Lantas... Bagaimana dengan diri kita yang sudah barang tentu akan berpindah dari alam duniawi ini menuju ke alam ukhrawi. Sudahkah kita menyiapkan bekal yang cukup untuk diri kita di hari nanti? Sudahkah kita memenuhi hari-hari kita dengan menyiapkan kehidupan ukhrawi? Sudahkah kita memenuhi hari-hari kita dengan mengumpulkan bekal ukhrawi? Sudahkah kesempatan siang dan malam yang masih dianugerahkan kepada kita, kita penuhi dengan memikirkan alam ukhrawi
 


Bagaimana kita tidak harus mengumpulkan bekal ukhrawi. Sementara masanya sangat panjang dan kekal. Dalam hal ini Imam Ali as berkata, "Min Qillatiz Zad Wa Thuuli at-Thariiq Wa Bu'dis Safar... Betapa sedikitnya bekal ini, sementara perjalannya panjang dan sangat jauh!"
 


Fenomena persiapan teman yang mau berhijrah ke Eropa ini merupakan sebuah miniatur yang mengingatkan kita menyadari akan pentingnya persiapan untuk kehidupan akhirat nanti.
 


Terkait masalah ini kita bisa menyimak ucapan-ucapan dan wejangan Imam Ali as dalam upaya mempelajari bagaimana seharusnya kita bersikap dan berbuat di dunia ini sehingga tergolong orang-orang yang betul-betul menyadari akan pentingnya menyiapkan bekal akhirat.
 


Suatu hari salah satu sahabat Imam Ali as bernama Dhiror bin Hamzah Dhabai yang disebut juga Dhiror bin Dhamrah ad-Dhabi pergi ke Syam (yang saat ini adalah Suriah) dan menemui Muawiyah. Kepadanya Muawiyah menanyakan keadaan Imam Ali as. Dhiror berkata, "Aku menyaksikan Ali di waktu malam ia menutup korden-kordennya dan berdiri di mihrabnya, memegang jenggotnya dan meringkuk serta menangis dengan sedih sembari berkata, "Hai dunia! Hai dunia! Jauhilah aku! Apakah kau memamerkan dirimu kepadaku! Ataukah kau mencintaiku agar suatu saat kau bisa menarik hatiku? Sama sekali, jangan sampai terjadi! Godalah selain aku! Aku tidak membutuhkanmu sama sekali! Telah aku cerai engkau tiga kali agar tidak kembali! Masa hidupmu pendek. Nilaimu sedikit. Harapanmu adalah hina. Ohh...betapa sedikitnya bekal ini dan panjangnya perjalanan serta jauhnya safar dan besarnya Hari Kiamata!" (Nahjul Balaghah, hikmah 77, hal 638. Muassasah Intisyarat Mashur, 1379 Hs, cetakan kedua)
 


Dalam sebuah perjalanan kembali dari perang Shiffin, ketika sampai di kuburan belakang pintu gerbang Kufah, Imam Ali as menghadap ke kuburan seraya berkata, "Hai para penghuni rumah yang menakutkan. Tempat-tempat yang kosong dan kuburan yang gelap! Hai para penghuni tanah! Hai orang-orang yang asing! Hai orang-orang yang sendirian! Hai orang-orang yang ketakutan! Kalian telah pergi mendahului kami dan kami akan menyusul kalian! adapun rumah-rumah kalian telah dihuni orang lain. Dan istri-istri kalian telah dinikahi orang lain. Dan harta-harta kalian telah dibagi kepada yang lainnya. Inilah kabar yang kami miliki! Lantas kabar apa yang ada pada kalian?"
 


Kemudian Imam Ali menghadap kepada para sahabatnya dan berkata, "Ketahuilah seandainya mereka diizinkan untuk berbicara, maka kepada kalian mereka akan mengabarkan bahwa "Sebaik-baik bekal adalah takwa!" (Nahjul Balaghah, hikmah 130, hal 638. Muassasah Intisyarat Mashur, 1379 Hs, cetakan kedua)
 


Sebaliknya terkait seburuk-buruknya bekal, Imam Ali berkata, "Bi'sa az-Zaadu Ila al-Ma'ad, al-Udwaanu ?Ala al-Ibad...Seburuk-buruk bekal untuk Hari Kiamat adalah berbuat zalim terhadap orang lain." (Nahjul Balaghah, hikmah 221, hal 674. Muassasah Intisyarat Mashur, 1379 Hs, cetakan kedua)
 


Wallahu A'lam...
 


Tehran, 3 Oktober 2012


source : irib
  12
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

Bagaimana Rusia Mengawasi Perilaku Masyarakat di Media Sosial?
Sampai Kapan Kita Berdiam Diri Melihat Kebiadaban ISIS Merajalela?
Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam Syiah
Dilarang Menunda Tobat, bag II
Empat Wasiat bagi Wanita Hamil
Sombong: Penghalang Terbesar Iman
Pengulangan Dalam Al-Qur’an
Asyura, Mengukir Semangat Juang dan Cinta
Apakah Sunnah dapat menasakh al-Qur’an?
Hadis Akhlak Ushul Kafi: Doa

 
user comment