Indonesian
Sunday 20th of June 2021
186
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

10 Muharram, Hari Libur Nasional?

Di dunia, Indonesia dikenal sebagai negeri tropis yang terdiri dari kepingan pulau-pulau yang dihuni oleh beranekaragam spesies. Selain memiliki manfaat ekonomis, beraneka ragam flora dan fauna itu mempunyai manfaat ekologis dan budaya. Di samping keberagaman spesies
10 Muharram, Hari Libur Nasional?

Di dunia, Indonesia dikenal sebagai negeri tropis yang terdiri dari kepingan pulau-pulau yang dihuni oleh beranekaragam spesies. Selain memiliki manfaat ekonomis, beraneka ragam flora dan fauna itu mempunyai manfaat ekologis dan budaya. Di samping keberagaman spesies, Indonesia juga mempunyai kekayaan aneka adat istiadat dan budaya. Beragamannya tradisi dan kebudayaan yang ada di Indoensia merupakan hasil persentuhan budaya baik antarmasyarakat yang disebut ?asli', antara masyarakat asli dan pendatang, atau antara masyarakat pendatang.
 


Salah satu budaya yang menarik dan membumi di Indonesia adalah peringatan 10 Muharram. Tradisi peringatan ini sebenarnya adalah tradisi yang dibawa oleh intelektual-intelektual Muslim yang berasal dari daerah Timur Tengah ke Indonesia.  Dalam sejarah disebutkan bahwa orang yang pertama memperingati tragedi Karbala setelah Imam Husain bin Ali syahid adalah cucu Muhammad Saw yang bernama Zainab di pasar Kufa, Irak. Zainab melakukan orasi atas terbantainya al-Husain dan rombongan keluarga serta pengikutnya di tanah Karbala. Imam Husain yang tidak mau berbaiat kepada pemerintahan yang tidak sah yang dikendalikan oleh Dinasti Muawiyah, yaitu Yazid,  dibantai dengan sangat sadis di padang tandus kering kerontang Karbala bersama dengan keluarga dan pengikutnya.
 


Zainab sebagai saksi hidup meminta pertanggunganjawab masyarakat Kufa yang semula akan berbaiat kepada Husain, tetapi kemudian mengingkari dan bahkan terlibat dalam peristiwa pembantaian itu. Orasi Zainab ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai orasi yang paling heroik yang membangkitkan semangat perlawanan kaum muslimin terhadap pemerintahan yang zalim yang dikenal dengan gerakan Tauwabun (pertobatan).Tradisi Zainab dalam memperingati terbantainya Husain dan keluarganya dimanifestasikan oleh ulama Islam dalam berbagai parade budaya belasungkawa di manapun ulama itu menginjakkan kakinya dalam berdakwah.
 


10 Muharram dalam agama Ibrahimi
 


Pembantaian Imam Husain di padang Karbala bukan sekadar peristiwa historis biasa, tetapi ia merupakan peristiwa metahistoris. Peristiwa itu telah dinubuatkan oleh Allah swt sejak Nabi dan Rasul sebelum kedatangan Muhammad saw.  Ibrahim as ketika berhasil menuaikan tugasnya untuk menyembelih Ismail as yang kemudian digantikan domba, di dalam benaknya terbersit ?rasa bangga' bahwa dia adalah hamba Allah yang paling sanggup melaksanakan perintah yang berat.  Setelah itu segera saja Allah swt menyingkapkan ?tirai' antara Ibrahim dan persitiwa pembantaian Husain di Karbala. Serentak Ibrahim menangis sesenggukan menyaksikan peristiwa itu.  Ibrahim bertanya siapakah gerangan manusia mulia yang dibantai itu? Terdengar jawaban, "Itu adalah Husain bin Ali cucumu".  Tangis Ibrahim semakin pecah mendengar jawaban itu.
 


Para Ahli Taurat di kalangan kaum muslimin setelah meneliti dengan seksama teks-teks yang berkaitan dengan hari Sabat menyebutkan bahwa ada indikasi bahwa hari itu terjadi pada tanggal 10 Muharram.Jika data ini benar, maka pelarangan Musa as kepada bangsa Israel agar tidak melakukan aktivitas pada hari Sabat adalah perintah untuk menghormati tragedi menyedihkan bagi umat manusia, yaitu pembantaian Husain bin Ali cucu kinasih Muhammad Saw. Al Quran menyebutkan pelanggaran terhadap larangan Musa itu dampaknya sangat dahsyat yaitu mereka dikutuk jadi monyet. Data ini menunjukkan bahwa 10 Muharram merupakan hari-hari yang penting bagi kaum Yahudi.
 


Sekarang bagaimana dengan kaum Nasrani atau Kristen. Kristolog Thomas McElwain menyebutkan dalam buku The London Lectures bahwa Al Kitab (Yeremia 46:6,10) memuat peristiwa pembantaian di tepi Sungai Efrat yang sangat sulit dipisahkan maknanya dari tragedi pembantaian Imam Husain beserta keluarga dan pengikutnya. Teks itu adalah sebagai berikut: "Orang yang tangkas tidak dapat melarikan diri, pahlawan tidak dapat meluputkan diri; di Utara, di tepi Sungai Efratlah mereka tersandung dan rebah?.Hari itu islah hari Tuhan Allah semesta alam, hari pembalasan untuk melakukan pembalasan kepada para lawannya.  Pedang akan makan sampai kenyang, dan akan puas minum darah mereka. Sebab Tuhan semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah Utara, dekat sungai Efrat".
 


Seorang cendekiawan Kristen, Antaone Bara dalam bukunya Husain fi Fikril Masihi menyebutkan bahwa apa yang diperjuangkan oleh Imam Husain memunyai kesamaan dengan apa yang diperjuang oleh Jesus as.  Bahkan menurutnya Jesus as pernah bertandang ke Karbala dan memberi pesan kepada bani Israel bahwa barangsiapa yang menemui Husain di sana, hendaklah mereka menolongnya.
 


Data ini sekali lagi menunjukkan bahwa pembantaian Husain cucu Muhammad Saw juga dinubuatkan oleh al Kitab.  Dengan demikian Muharram juga bagian penting dari keagamaan kaum Nasrani.  Paling tidak apa yang diperjuangkan oleh Imam Husain as sangat relevan dengan apa yang diperjuangkan oleh Jesus as.
 


Muharram, antara Syiah dan Sunni
 


Dalam tradisi Syiah atau yang lebih kenal dengan madrasah Ahlul Bait, penghormatan terhadap 10 Muharram adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar baik dari sisi ritual, intelektual dan praksis sosial. Pernyataan yang terkenal tentang pentingnya 10 Muharram diungkapkan oleh Imam Jafar Shadiq, "Setiap hari adalah Asyura dan setiap jengkal tanah adalah Karbala". Imam Khomeini menyebut bahwa Revolusi Islam Iran adalah suatu revolusi yang diinspirasi oleh perjuangan Husain dan keluarganya di padang Karbala. Dalam pandangan madrasah Ahlul Bait, peristiwa heroik Karbala bukanlah kekalahan keluarga Nabi, tapi sebaliknya ia adalah peristiwa kemenangan keluarga Nabi.  Darah mengalahkan pedang, begitu realitas yang ditunjukkan para pengikut Mazhab Ahlul Bait.
 


Bagaimana dengan kaum Sunni? Kalangan Sunni sebagian besar juga mengakui bahwa tragedi 10 Muharram adalah tragedi yang menyedihkan, akan tetapi mereka tidak merefleksikan sebagaimana Syiah. Tampaknya, mereka lebih memilih untuk melihatnya dari sisi kemenangan hari itu.  Hal ini  berkaitan juga dengan peristiwa-peristiwa kemenangan di hari 10 Muharram seperti selamatnya Nabi Nuh as dari banjir, Nabi Musa as terselamatkan dari kejaran Firaun dan beberapa peristiwa lainnya yang mengindikasikan kemenangan para Nabi-Nabi. Meskipun buku-buku hadist Sunni menyebutkan pentingnya memperingati syahadah Imam Husain dengan peringatan duka, sebagaimana yang juga dilakukan oleh Rasulullah Saw.
 


Di sisi itulah menariknya 10 Muharram yang menjadi titik temu Sunni dan Syiah. Dua mazhab besar Islam Sunni dan Syiah mengakuinya sebagai hari yang Agung.
 


10 Muharram dan suku-suku di Indonesia
 


Penghormatan suku-suku yang ada di Indonesia tidak kalah serunya dengan yang dilakukan oleh para pemeluk agama-agama Ibrahimik (Yahudi, Kristen dan Islam). Sebagai contoh suku Jawa bahkan merubah nama bulan pada kalender mereka dengan nama Suro sebagai ganti nama Muharram. Suro dari kata Asyura yaitu tanggal ke 10 bulan Muharram. Mungkin terinspirasi dengan hadist dari Imam Jafar di atas, orang-orang Jawa ingin menyebut semua hari di bulan Muharram itu adalah hari ke 10, Asyura (Suro).  Di Tanah Jawa bulan Muharram adalah bulan yang sakral.  Spiritualitas bulan ini luar biasa sehingga pekerjaan suci seperti memandikan keris, mustika mesti dilakukan pada bulan ini.  Mereka juga memperingati 10 Muharram dengan membuat bubur merah yang mereka sebut sebagai bubur Suro.
 


Di Sumatra ada tradisi Tabot yang diselenggarakan dengan maksud memperingati duka nestapa Nabi dan Keluarganya yang dibantai oleh bani Umayyah. Menurut Assegaf pada Jurnal Al Qurba  (1:58-81), tradisi ini diperkenalkan oleh tentara India yang berafiliasi dengan tentara Inggris.  Di Sumatra tradisi ini diselenggarakan di Bengkulu, Pariaman dan Padang (Kuncoroningrat 1990).  Ada tradisi yang mirip dengan upcara Tabot juga ditemukan dilakukan di Ternate, Maluku (Assegaf, 2010).
 


Walhasil tradisi 10 Muharram merupakan hari yang bersejarah dan mempunyai arti penting bagi kehidupan masyarakat beragama di Indonesia dan juga diperingati oleh suku-suku yang tersebar di Seluruh Indonesia. Oleh karena itu alangkah indahnya  kalau 10 Muharram dijadikan sebagai hari libur Nasional mengingat pentingnya hari itu baik dari sisi agama dan budaya Indonesia. Sangat boleh jadi hari itu dapat dijadikan sebagai titik temu perennial agama dan budaya di Indonesia sedemikian sehingga karakter-karakter intoleransi bisa dikikis habis.(IRIB Indonesia/PH)
 


*Pemimpin Redaksi Jurnal al-Qurba


source : irib
186
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

MENELUSURI LATAR BELAKANG GERAKAN ASYURA
Apa alasan Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah ?
Aqiqah dalam Mazhab Ahlulbait
10 Muharram, Hari Libur Nasional?
Mutiara Hadis Imam Ali Zainal Abidin as.
Pernikahan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa
Buku "Kalky Avtar": mengajak kepada umat Hindu untuk segera memeluk agama Islam.
Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Sajjad (2)
Biografi Sayidah Fatimah az Zahra Sa
Sejarah Syiah: Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H

 
user comment