Indonesian
Sunday 26th of June 2022
6075
0
نفر 0

Filosofi Peringatan Acara Hari Ketiga, Ketujuh, Keempat Puluh dan Haul Kematian

Sejak manusia menginjakkan kaki ke muka bumi dan tumbuh berkembang sebagai bagian dari anggota keluarga dan masyarakat, beberapa kali kita berduka karena menyaksikan salah satu anggota keluarga kita meninggal dunia, mulai dari ayah
Filosofi Peringatan Acara Hari Ketiga, Ketujuh, Keempat Puluh dan Haul Kematian

Sejak manusia menginjakkan kaki ke muka bumi dan tumbuh berkembang sebagai bagian dari anggota keluarga dan masyarakat, beberapa kali kita berduka karena menyaksikan salah satu anggota keluarga kita meninggal dunia, mulai dari ayah atau ibu, kakek dan nenek sampai famili dan tetangga serta kerabat lainnya.
 


Setelah mereka meninggal, kita menyaksikan adanya acara pembacaan surat-surat al-Quran dan tahlil yang pahalanya ditujukan untuk sang mayit. Acara tahlilan ini bahkan dilakukan setiap malam sejak malam pertama kematian sang mayit sampai tujuh harinya bahkan dikenal dengan acara ketiga hari, ketujuh hari, dan keempat puluh harinya dan setiap ulang tahun kematiannya juga diadakan acara peringatan yang dikenal sebagai haul kematian dengan mengundang para tetangga dan kerabat dekat.
 


Pertanyaannya di sini adalah apakah acara peringatan kematian pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh dan haul kematian sang mayit ini ada asal usul dan akar keagamaannya ataukah hanya sekedar tradisi sosial sebagai tradisi kearifan lokal (tradisi urf) di tengah-tengah umat Islam yang sudah diterima
 


Acara peringatan hari ketiga, hari ketujuh, hari keempat puluh dan haul kematian mayit selama ini dilakukan berdasarkan kebiasaan dan tradisi di kalangan masyarakat muslim. Di dalam riwayat tidak ditemukan secara khusus terkait masalah ini. Namun, yang ditekankan dalam Islam adalah berbuat kebaikan dan menghadiahkan pahala spiritualnya untuh ruh sang mayit. Bila acara pembacaan tahlil dan doa dilakukan pada hari-hari yang disebutkan di atas pasca kematian sang mayit, maka acara ini merupakan ajang:
 


1. Untuk mengingat Allah dan Hari Kiamat
 


2. Untuk mendidik diri tidak bergantung dan terikat kepada dunia.
 


3. Untuk mengenang sang mayit dan penghormatan kepadanya.
 


4. Untuk melakukan kebaikan seraya mengisinya dengan tahlilan, pembacaan surat-surat al-Quran dan doa serta menghadiahkan pahala spiritualnya untuk sang mayit.
 


5. Untuk menenangkan hati anggota keluarga yang ditinggalkan sang mayit dan turut berduka dan berbelasungkawa kepada mereka.
 


Pelaksanaan acara tahlilan dan menghadiahkan pahala spiritualnya untuk sang mayit tidak bertentangan sama sekali dengan ajaran agama Islam. Karena acara ini dilakukan untuk mengenang kebaikan sang mayit dan penghormatan kepadanya dengan cara melakukan kebaikan dalam bingkai acara tahlilan dan doa dan meniatkan pahala kebaikan ini untuk ruh sang mayit.
 


Muhammad bin Ali bin Husein berkata bahwa Abu Abdillah (Imam Jakfar Shadiq as) mendatangi sebuah kaum yang tertimpa musibah kematian dan kepada mereka beliau berkata, "Allah telah menebus musibah yang menimpa kalian. Dia telah memberikan pahala kebaikan kepada kalian atas musibah yang menimpa kalian dan merahmati mayit-mayit kalian." Kemudian beliau keluar dari majlis tersebut.[1]
 


Imam Jakfar Shadiq as tidak berlama-lama tinggal di dalam acara itu. Perilaku dan sikap beliau ini menunjukkan tentang pentingnya mengadakan acara duka secara sederhana. Para sahabat dan kerabat yang hadir dalam acara duka tidak perlu harus membebani keluarga yang berduka dengan berlama-lama tinggal di sana apalagi merepotkan mereka dengan cara mereka harus menyiapkan hidangan makanan untuk para sahabat dan kerabat yang hadir mengucapkan duka.
 


Perilaku Imam Jakfar Shadiq as ini menjelaskan tentang pentingnya memberikan ketenangan kepada para anggota keluarga yang ditinggalkan bahkan sampai pada masalah makanan pun jangan sampai mereka kepikiran harus menyiapkan makanan dan hidangan untuk dirinya sendiri apalagi untuk para tamu yang hadir, akan tetapi justru kita yang harus menyiapkan makanan buat mereka sampai tiga hari. Sebagaimana anjuran Rasulullah Saw untuk membawa makanan ke rumah anggota keluarga mayit yang sedang berduka selama tiga hari.
 


Setelah kematian Jakfar bin Abi Thalib, Rasulullah Saw kepada putrinya, Sayidah fathimah az-Zahra berkata agar beliau pergi ke rumah Asma' binti Umais bersama sejumlah wanita untuk membawakan makanan buat mereka sampai selama tiga hari. Dari riwayat ini para ahli fiqih menjadikannya sebagai dalil bahwa berduka untuk mayit batasnya sampai tiga hari.[2]
 


Dalam riwayat lain Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Makan di rumah orang-orang yang berduka merupakan perilaku di zaman jahiliah. Merupakan sebuah sunnah Islami bila yang lainnya menyiapkan makanan untuk mereka. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw terkait kematian Jakfar bin Abi Thalib.[3]
 


Riwayat lainnya juga dari Imam Jakfar Shadiq as mengatakan, "Seyogianya tetangga orang yang tertimpa musibah memberikan makanan kepada mereka yang tertimpa musibah sampai selama tiga hari." [4]
 


Peringatan acara hari ketiga, ketujuh, sejatinya secara syariat tidak ada dalilnya. Akan tetapi ia merupakan sebuah tradisi kearifan lokal (tradisi urf) yang diterima oleh masyarakat muslim dan diadakan untuk menghormati dan memuliakan sang mayit. Bila pelaksanaan ini tidak sampai menghambur-hamburkan makanan dan tidak ada unsur dosa, maka agama tidak melarangnya. Selain itu, pembacaan doa dan tahlil dalam acara ini pahala spiritualnya dihadiahkan kepada ruh sang mayit.
 


Dari penjelasan tersebut di atas tidak mustahil akan muncul sebuah pertanyaan bahwa apakah peringatan acara kematian pada hari ketiga, ketujuh dan ke empat puluh dan haul untuk mayit bukan merupakan sebuah bidah karena tidak adanya dalil syari terkait masalah ini? Sebagaimana yang diklaim oleh sekelompok orang ekstrim yang senantiasa menyebut sebagian umat Islam melakukan bidah dan mengklaim mereka kafir karena mengadakan acara tahlilan, ziarah kubur dan sebagainya
 


Jawabannya adalah di tengah-tengah masyarakat muslim ada acara-acara yang bersifat lokal dan nasional yang tidak ada kaitannya dengan agama. Bila acara-acara yang tidak ada kaitannya dengan agama ini dilakukan bukan atas nama agama dan tidak dikenalkan sebagai sesuatu yang bersumber dari agama sekaligus tidak bertentangan dengan akal dan logika bahkan tidak bertentangan dengan agama itu sendiri, maka boleh dan mubah hukumnya.
 


Sebagaimana kita tidak boleh menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, kita juga tidak boleh mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah.
 


Peringatan acara atau perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan agama akan dikatakan sebagai sebuah BIDAH bila dikenalkan dan diamalkan sebagai perintah agama. Dengan demikian, bila acara hari ketiga, hari ketujuh, hari keempat puluh dan haul dilaksanakan sebagai sebuah acara bukan atas nama karena diperintahkan oleh agama, bagaimana mungkin bisa dikatakan sebagai sebuah bidah? Dan begitu seterusnya dengan acara-acara lokal yang tidak ada kaitannya dengan agama. Bila ia dilakukan bukan atas nama karena perintah agama, maka bukan sebuah bidah. Apalagi bila tradisi itu diisi dengan pujian-pujian kepada Allah, doa dan munajat serta istighfar sebagaimana acara tahlilan itu sendiri.
 


Bila setiap acara dan perilaku serta hal-hal kecil kehidupan yang mubah harus sesuai dengan gaya kehidupan Rasulullah Saw, maka betapa banyak perkara mubah harus dianggap sebagai perkara yang bertentangan dengan agama, padahal kita tahu bahwa perkara itu halal dan mubah bagi kita. Misalnya mengendarai sepeda motor, mobil, acara empat atau tujuh bulanan ibu hamil (syukuran tingkepan), memakai pakaian warna kuning atau putih dan sebagainya, memakai sepatu bertali atau tidak bertali, menggunakan telpon seluler, bermain sepak bola atau bermain kelereng dan lain-lain akan diklaim sebagai perkara yang bertentangan dengan agama karena tidak sesuai dengan gaya kehidupan Rasulullah Saw di zamannya.
 


Melakukan penentangan terhadap peringatan acara semacam ini muncul dari pandangan ekstrim dan kolot sekelompok orang yang memandang Islam dari sudut pandangnya yang sempit.
 


Terkait acara empat puluh hari kematian seseorang, di kalangan para pemimpin agama hanya diadakan untuk memperingati acara empat puluh hari syahadah Imam Husein as cucunda Rasulullah Saw yakni acara Arbain Imam Husein yang jatuh pada tanggal 20 Shafar dan ini dilakukan setiap tahun selain acara haul hari Asyura, hari syahadah Imam Husein as di Karbala. Acara Arbain Imam Husein as ini diadakan karena keagungan peristiwa Karbala. [5]
 


Selain penjelasan di atas, pembacaan tahlil, surat al-Fatihah dan ayat-ayat al-Quran serta doa-doa dan istighfar itu sendiri hukumnya sunnah dan sangat bermanfaat serta berpengaruh bagi ruh sang mayit. Untuk membuktikan kesunnahannya mari kita simak riwayat-riwayat berikut ini:
 


Rasulullah Saw bersabda, "Mayit di dalam kubur bak manusia yang sedang tenggelam dan setiap saat menunggu datangnya pertolongan. Terkadang menunggu doa dari ini dan itu. Begitu dia melihat seseorang berdoa dan beristighfar untuknya dan untuk keselamatannya, ia lebih berbahagia daripada dikasih dunia dan seluruh isinnya."
 


Kemudian beliau bersabda demikian:
 
?? ????? ??????? ??????? ?????? ??????????
 


"Sesungguhnya hadiah orang-orang yang hidup untuk para mayit adalah doa dan istighfar." [6]
 


Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda, "Malam-malam yang paling sulit adalah malam pertama kubur. Kalian bisa mengasihi mayit-mayit kalian dengan cara bersedekah. Bila kalian tidak punya sesuatu untuk bersedekah, paling tidak lakukanlahshalat dua rakaat dan hadiahkan untuk ruhnya."
 


Imam Shadiq as ditanya, "Apakah bisa melakukan shalat untuk mayit? Beliau menjawab, "Iya. Terkadang mayit berada dalam tekanan dan karena shalat yang engkau hadiahkan kepadanya, ia berada dalam kesejahteraan. Dan dikatakakan kepadanya, "Keringanan dan kesejahteraan ini karena karena shalat fulan mukmin yang dihadiahkan kepadamu."
 


Kemudian beliau berkata:
 


?? ????? ????? ??????? ???? ? ????????? ?? ??? ???? ???? ??????? ???? ????
 
"Mayit akan merasa senang dan gembira karena doa dan istighfar yang dibacakan untuknya sebagaimana orang hidup merasa senang akan hadiah yang diberikan kepadanya." [7]  
 


Rasulullah Saw bersabda:
 


?? ????? ?????? ?? ?????? ? ?????? ????? ??????? ? ?????? ??????? ?????? ?? ??????? ???? ? ?? ?? ??????? ????? ??? ?????? ?????? ? ??????  
 


"Jangan lupakan mayit-mayit kalian yang ada di dalam kubur. Mayit-mayit kalian mengharapkan kebaikan kalian. Mayit-mayit kalian berada dalam tahanan mereka berharap kepada amal kebaikan kalian. Mereka sendiri tidak lagi bisa berbuat sesuatu. Hadiahkan sedekah dan doa kepada mereka!" [8]
 


Dan berkata, "Pahala shalat, puasa, haji, sedekah dan seluruh amal kebaikan serta doa akan masuk ke alam kubur mayit. Pahalanya akan dicatat untuk mayit dan orang yang melakukannya." [9]
 


Rasulullah Saw bersabda, "Sedekah memadamkan panasnya alam kubur..."[10]
 
Imam Muhammad Baqir as berkata, "Barang siapa menziarahi kuburan seorang mukmin dan membacakannya tujuh kali Inna Anzalna (surat Qadr), maka Allah mengampuninya dan mengampuni ahli kuburnya.[11]
 


Imam Shadiq as berkata, "Hendaknya membaca surat Tabarak (al-Mulk) di kuburan mayit untuk meringankan azab kuburnya. [12]
 


Berbuat kebaikan yang pahala spiritualnya dihadiahkan dengan cara membaca al-Quran, doa dan istighfar dalam bingkai acara tahlilan, dan bersedekah dengan niat menghadiahkan pahala spiritualnya untuk sang mayit merupakan manifestasi dari sekian kebaikan untuk mayit.
 


Bila kita menyimak riwayat terkait bagaimana sang mayit di alam barzakh sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan kedatangannya di hari hari tertentu kepada keluarga karena sangat membutuhkan doa dan pahala kebaikan dari mereka, maka bagi kita yang masih hidup seyogianya menyisihkan waktu dan tenaga serta pikiran untuk nasib mereka yang sudah meninggalkan kita ini.
 


Mari kita simak riwayat terkait masalah ini:
 


Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, "Setiap Jumat, arwah orang-orang mukmin datang di depan rumah-rumah mereka. masing-masing dari mereka dengan suara menyedihkan dan menangis, berteriak, "Hai keluarga dan anak-anakku! Hai ayah dan ibuku! Hai keluargaku! Kasihanilah aku! Hadiahkan dan berbuatlah kebaikan dengan apa yang kami tinggalkan untuk kalian yang sampai saat ini perhitungan dan azabnya buat kami berupa satu Dirham atau sepotong roti atau sehelai pakaian dan baju sehingga Allah memberikan pakaian surgawi untuk kalian." Kemudian Rasulullah Saw menangis tersedu-sedu sampai tidak mampu lagi berbicara.
 


Kemudian bersabda, "Saudara-saudara kalian yang sudah meninggal ini mengatakan, "Celakalah kami, seandainya apa yang ada di tangan kami dulu kami infakkan di jalan Allah, pasti sekarang kami tidak akan membutuhkan kepada kalian. Kemudian mereka kembali dengan penyesalan."
 


Di akhir beliau bersabda, "Segeralah bersedekah untuk mayit-mayit kalian!"[13]
 


Filosofi Pembacaan Surat al-Fatihah, Yasin dan al-Ikhlas
 


Salah satu bentuk kebaikan yang kita lakukan untuk mayit adalah membaca surat al-Fatihah, Yasin dan al-Ikhlas. Ini merupakan fenomena yang umum terjadi di tengah-tengah masyarakat muslim.
 


Pertanyaannya adalah mengapa surat-surat ini yang lebih umum dikhususkan untuk mayit? Filosofinya adalah karena kedua surat ini memiliki keutamaan lebih dari surat-surat al-Quran lainnya.
 


Terkait keutamaan surat al-Fatihah, kepada seorang lelaki Rasulullah Saw bersabda:
 


??? ?????? ???? ???? ?????? ???? ?? ????? ? ??? ???? ????????? ?????? ?????? ?? ???:?? ???? ?? ??? ??? ???? ??????? ? ?????? ?????
 


"Maukah kamu aku ajari surat yang paling utama yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Dia menjawab, "Iya. Ajarkan ia kepadaku. Kemudian beliau mengajarinya al-Hamdu (al-Fatihah). Kemudian beliau bersabda, "Ia adalah obat segala penyakit kecuali kematian." [14]
 


Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda:
 




? ???? ???? ???? ?? ???? ???? ?? ??????? ? ? ?? ?? ??????? ? ?? ?? ?????? ?????? ?? ?? ??????
 


"Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya! Allah tidak menurunkan di dalam Taurat dan juga tidak di dalam Zabur dan juga tidak di dalam al-Quran seperti surat ini yaitu Ummul Kitab."
 


Terkait riwayat-riwayat ini dan kandungan surat al-Fatihah, Ayatullah Makarim Shirazi dalam tafsirnya menjelaskan:
 


Pada hakikatnya surat al-Fatihah ini adalah daftar isi dari keseluruhan kandungan al-Quran. Mengapa demikian? Karena sebagian dari kandungan surat al-Fatihah berisi tentang tauhid dan mengenal sifat Allah. Sebagiannya lagi tentang Hari Kiamat. Sebagiannya lagi tentang hidayah dan kesesatan yang menjadi garis pemisah antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir dan mengisyaratkan tentang kekuasaan mutlak Allah dan posisi rububiyah-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang tak terbatas yang terbagi menjadi rahmaniyah dan rahimiyah sekaligus mengisyaratkan tentang masalah ibadah dan penghambaan dan ini khusus untuk zat-Nya yang suci.
 


Sejatinya surat al-Fatihah menjelaskan tentang tauhid sifat, tauhid af'al dan tauhid ibadah. Dengan kata lain, surat ini mengandung tiga tahapan iman yaitu imam dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkannya dengan anggota badan. Dan "Um" sendiri bermakna dasar dan pondasi. [15]
 


Oleh karena itu barang siapa yang membaca surat ini sama dengan membaca sepertiga al-Quran. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang berbunyi:
 


???? ???? ???? ????? ?????? ???? ?? ????? ????? ???? ???? ?????? ? ????? ?? ????? ????? ???? ??? ?? ?? ?? ? ?? ???
 


"Setiap muslim yang membaca surat al-Fatihah, maka pahalanya sama dengan ia membaca sepertiga al-Quran dan sama dengan ia menghadiahkannya kepada setiap mukmin lelaki dan mukmin perempuan.[16]
 


Adapun terkait surat Yasin, Surat yasin merupakan jantung al-Quran. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:
 


??? ???? ???? ??? ? ??? ?????? ??. ???? ???????
 


"Sesungguhnya setiap sesuatu itu memiliki jantung dan jantung al-Quran adalah surat Yasin."
 


Mengapa surat Yasin disebut sebagai jantung al-Quran? Karena dalam surat ini disebutkan tiga pembahasan akidah yang sangat penting dan urgen dalam Islam yaitu; tauhid, nubuwat dan ma'ad kemudian di akhir surat ini kembali disimpulkan dalam dua ayat terakhir yang berbunyi:
 


"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu yang dan kepada-Nya kamu dikembalikan."[17]
 


???????? ???????? ????? ??????? ??????? ??? ??????? ???? ??? ????????? ??????????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ?????????? ???????????[18]
 


Di dalam surat ini kita menyaksikan beragam fenomena, mulai dari penciptaan dan Kiamat, kehidupan dan kematian, peringatan dan kabar gembira. surat Yasin diibaratkan sebagai makhluk hidup, tanpa jantung, makhluk tidak akan hidup.
 


Yasin merupakan nama lain dari Rasulullah Saw. Terkait tafsir "Yasin. Wal Quraanil Hakiim", dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq as mengatakan, "Yasin adalah nama Rasulullah. Dalilnya adalah firman Allah Swt, "Innaka Laminal Mursaliin, ?Alaa Shhiraathim Mustaqiim. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) diatas jalan yang lurus,(ayat 3 dan 4).[19]
 


Keutamaan lain dari surat Yasin adalah sebagai perantara pengampunan dosa.
 


Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang membaca Yasin karena untuk mendapatkan ridha Allah, maka ia akan diampuni dan akan diberi pahala sama dengan orang yang telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua belas kali. Bila dibacakan untuk orang yang sedang menghadapi kematian (sakaratul maut) maka untuk setiap huruf dari surat ini akan berbaris sepuluh malaikat memintakan ampunan baginya (beristighfar) dan menyaksikan dicabutnya ruhnya dan mengantarkan jenazahnya dan menyolatinya dan menyaksikan proses pemakamannya. [20]
 


Rasulullah Saw bersabda, "Membaca surat Yasin untuk mayit menyebabkan ia diampuni dosanya dan dikurangi azabnya."[21]
 


Adapun terkait surat al-Ikhlas Rasulullah Saw bersabda:
 


?? ??? ?? ?? ???? ??? ??? ?????? ??? ??? ??????? ??? ????? ????? ?????? ??? ???? ??????? ??? ????? ???? ???? ?????? ??? ?????? ???
 


"Barang siapa yang membaca Qulhuwallah (surat al-Ikhlas), maka sama dengan ia membaca sepertiga al-Quran dan barang siapa yang membaca dua kali, maka sama dengan ia membaca dua pertiga al-Quran dan barang siapa yang menbaca tiga kali, maka sama dengan ia membaca al-Quran seluruhnya."[22]
 


Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda:
 


?? ?? ??? ??????? ? ??? ?? ?? ???? ???? ???? ??? ?? ??? ???? ??????? ???? ?? ????? ???? ???????
 


"Barang siapa yang melewati kuburan dan membaca Qulhuwalla (surat al-Ikhlas) sebelas kali, kemudian menghadiahkan pahalanya untuk para mayit, maka ia akan diberi pahala sebanyak jumlah mayit yang ada di kuburan itu." [23]
 

--------------------------------------------------------------------------------



[1]. Hur Amili, Muhammad bin Hasan, Wasail as-Syiah, jilid 3, hal 218, hadis 3451, Muassasah Alul Bait, Qom 1409 Hq.


[2]. Ibid, hal 235-236, hadis 3499.


[3]. Ibid, hal 237, hadis 3504.


[4]. Ibid, hal 237, hadis 3503.




[5]. Bisa merujuk pada tulisan di situs IRIB Indonesia, Kamus Karbala: Arbain Imam Husein as dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari.      






[6]. Mahajjah al-Baidha', jilid 8, hal 291, dinukil oleh oleh Dastanhaye Shegeft Anggiz Az Qab Wa Ajsade Salim, Haidar Qambari, Qom, Entisharat Shamim Kausar, 1386 Hs, cetakan keempat, hal 184.


[7]. Mahajjah al-Baidha', jilid 8, hal 291, dinukil oleh oleh Dastanhaye Shegeft Anggiz Az Qab Wa Ajsade Salim, Haidar Qambari, Qom, Entisharat Shamim Kausar, 1386 Hs, cetakan keempat, hal 184.


[8]. Ali Reza Sabiri Yazdi, terjemah Mohammad Reza Anshari Mahallati, Sazeman Tablighat Islami, hal 232 menukil dari, Sheikh Hasan bin Ali Yazdi, Anwar al-Hidayah, hal 115.


[9]. Syeikh Abbas Qomi, Mafatihul Jinan, hal 317.


[10]. Nahjul Fashahah, terjemah Ibrahim Ahmadiyan, percetakan Shahabuddin, cetakan pertama, 1385 Hs, hal 385.


[11]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 82, hal 169, mansyurat Chapkhaneh Islamiyah Tehran.


[12]. Iqbal A'mal, hal 651, dinukil dari Seiri Dar Jahan Pas Az Marg, hal 300.


[13]. Mafatih, hal 943, dinukil oleh Dastanhaye Shegeft Anggiz Az Qab Wa Ajsade Salim, Haidar Qambari, Qom, Entisharat Shamim Kausar, 1386 Hs, cetakan keempat, hal 182-183.


[14]. Mohammad bin Hasan Hur Amili, Hidayah al-Ummah Ila Ahkam al-Aimmah as, Astan Radhawiyah al-Muqaddasah, jilid 3, hal 80, hadis 449.   


[15]. Makarim Shirazi, Tafsir Namuneh, jilid 1, hal 1.


[16]. Abdu Ali bin Jum'ah Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 702.


[17]. QS. Yasin: 82-83.


[18].Rujuk ke: Tafsir al-Mizan dan Namuneh.


[19]. Abdu Ali bin Jum'ah Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, jilid 4, hal 375.


[20]. Majma al-Bayan, jilid 8, hal 256.


[21]. ?Iddah ad-Da'i, hal 133.


[22].  Abdu Ali bin Jumah Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 702.


[23].  Ibid.


source : irib
6075
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:
لینک کوتاه

latest article

Khotbah Wanita-Wanita Pejuang Karbala Pasca-'Asyura
Nabi Muhammad SAW Dalam Kitab Suci Agama Hindu!
13 Pertanyaan Sahabat yang direkam dalam Al-Qur’an
Apakah ada dalam al-Quran sebuah ayat yang berbicara tentang estetika dan keindahan?
Peringatan Asyuro'
SYAHADAH IMAM ALI BIN ABU THALIB AS
Waktu Kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Benar
Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham
Ritus Arbain, Long March Cinta
Siapa Husain bin Abi Thalib?

 
user comment