Indonesian
Monday 8th of March 2021
452
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Melawan Stereotype, Membangun Harmoni Sunni-Syi’ah

Melawan Stereotype, Membangun Harmoni Sunni-Syi’ah

Penguatan isu perbedaan Sunni-Syi'ah yang selama ini terjadi di dunia Islam sejatinya memberikan pengaruh negatif dalam keberlangsungan persatuan ummat Muslim itu sendiri. Tariq Ramadan (2012), cucu dari Hasan al-Banna dalam sebuah kesempatan pernah menunjukkan betapa rapuhnya kita ummat Muslim dengan adanya isu ini. Saat masyarakat Lebanon berjuang melawan agresi militer Israel misalnya, pemerintah yang saat itu adalah Sunni tidak mendukung masyarakat karena menganggap mereka adalah Syiah. Hal yang sebaliknya juga terjadi di beberapa negara Timur Tengah lainnya.


Pembedaan Sunni-Syi'ah ini pada akhirnya menjadikan sebahagian ummat Islam memiliki kecendrungan untuk tidak menolong kelompok yang lain meski kelompok tersebut membutuhkan bantuan. Bahkan, perbedaan justru seringkali menjadi legitimasi terjadinya kekerasan atas kelompok yang berbeda.


Tariq Ramadan lalu menyampaikan sebuah gagasan menarik tentang isu Sunni-Syi'ah tersebut: "Tentu saja, ada perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam beberapa isu tertentu, tapi secara umum kita sama-sama Muslim. Jangan sampai pembedaan/pemisahan ini membuat kita mengkolonisasi cara kita berurusan dengan muslim lain. Saat kita membuat garis pemisahan, maka sesungguhnya kita telah mempromosikan diskrimansi. Dan dengan mempromosikan diskriminasi sama saja kita memelihara masalah."


Kemunculan kelompok anti perbedaan yang melihat Syi'ah bukanlah Islam tentu sangat disesalkan. Di saat sesama Muslim sudah seharusnya mencoba membangun hubungan baik antara Sunni dan Syi'ah, kelompok-kelompok ini justru cenderung untuk membesarkan perbedaan antara Sunni-Syi'ah dan bahkan memberikan pelabelan bahwa Syi'ah bukanlah Islam. Hal ini kemudian diperparah karena mereka yang membela Syiah dan setuju atau peduli dengan terwujudnya kerukunan hidup dan persatuan kelompok dalam Islam baik itu Sunni dan Syiah kemudian juga akan dicap sebagai Syi'ah, meski orang tersebut bukanlah orang Syi'ah.


Stereotype Menyesatkan


Pada suatu waktu, saya berkesempatan menjadi salah satu pendamping dua puluh tiga teman-teman asal Iran yang berkunjung ke UGM dalam rangka Summer Program, "Islamic Civilization, and Science." Tidak semua mahasiswa Iran tersebut adalah penganut Syi'ah. Sebahagian di antaranya adalah Sunni. Hal itu kemudian memungkinkan saya mendiskusikan banyak hal terkait di dalamnya soal dialog damai Sunni dan Syi'ah.


Diskusi itu mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa sepertinya masyarakat kita saat ini dipenuhi oleh banyak stereotype atau pandangan over-generalisasi terhadap suatu kaum yang hanya didasarkan pada perlakuan suatu kelompok tanpa perlu melakukan cross-check terlebih dahulu atas kebenaran pandangan tersebut.


Ada banyak cerita-cerita tentang Syi'ah yang sejatinya tidak benar adanya. Cerita-cerita tersebut entah siapa pembuatnya namun mendiskreditkan posisi Syi'ah sebagai golongan yang "menyimpang" dari Islam. Parahnya karena, cerita-cerita semacam inilah yang kemudian banyak beredar dan diyakini oleh masyarakat awam.


Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang orang-orang Syi'ah yang beranggapan bahwa Ali lah yang seharusnya menjadi Nabi terakhir. Saat mencoba mengkonfirmasi hal tersebut kepada teman-teman, sebahagian diantara mereka justru baru tahu akan adanya pemberitaan tentang hal tersebut. Padahal, dalam pandangan masyarakat Syi'ah, Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dan tidak ada lagi Nabi setelahnya. Sebuah keyakinan yang jelas sama yang dianut dengan masyarakat Sunni.


Ada pula cerita tentang orang-orang Syi'ah yang suka menghina sahabat-sahabat Nabi. Terkait hal tersebut harus diakui bahwa ada kelompok tertentu Syi'ah yang melakukannya. Namun itu tidak menjadi gambaran umum tentang orang-orang Syi'ah itu sendiri. Bahkan Ayatullah Khamenei pernah mengeluarkan fatwa pelarangan untuk menghina Abu Bakar dan Umar serta Aisyah istri Nabi.


Demikian halnya dengan nikah Mut'ah. Teman-teman saya itu mengakui bahwa menikah mut'ah itu ada namun tidak mudah bagi seseorang untuk bisa menikah mut'ah. Sama tidak mudahnya jika seorang Sunni ingin menikah hingga empat kali. Di Iran sendiri, tidak mudah menemukan wanita yang mau di mut'ah. Dengan sedikit bercanda teman saya mengatakan; jika ada seorang pria yang mendatangi seorang wanita di Iran dan menanyakannya apakah ia ingin dimut'ah, maka mungkin wanita tersebut akan menunjukkan tinjunya kepada sang pria.
Penjelasan-penjelasan di atas tentulah tidak akan saya temukan jika tidak melakukan dialog atau hanya bersandar kepada stereotype yang selama ini saya dengarkan.

Dialog-dialog singkat itu akhirnya bermuara pada sebuah keputusan menarik yang dilontarkan oleh teman-teman tersebut bahwasanya perbedaan paling mencolok antara Sunni dan Syi'ah sesungguhnya hanya pada konsep Imamah saja. Mereka mengangggap bahwa Ali lah yang pantas untuk menjadi pemimpin setelah Rasulullah karena menurut keyakinan mereka Sang Nabi Agung pernah mengutarakan dan meminta agar kaum muslimin mengikuti Ali setelah dia meningggal.

Dialog Damai


Di sinilah perlunya dialog agar kita tidak terperangkap dalam stereotype yang menyesatkan. Yang seringkai terjadi, dalam upaya untuk mengetahui suatu kelompok tertentu, kita mencarinya kepada orang-orang yang anti atas kelompok tersebut, bukan pada kelompok yang ingin kita tahu. Misalnya, kita ingin tahu tentang Syi'ah, namun bertanya kepada orang yang membenci Syi'ah. Akibatnya, yang kita dengarkan kemudian adalah hal-hal negatif tentang Syi'ah. Kenapa kita tidak mencoba untuk menanyakannya langsung kepada pemeluk Syi'ah itu sendiri.


Direktur The Middle East Institute, Zuhairi Misrawi (2013) dalam suatu kesempatan pernah mengungkapkan harapannya agar dialog penuh keakraban dan penghargaan perlu dikembangkan di kalangan masyarakat agar ketegangan yang muncul baik antar dan intra agama tidak meningkat.


Di sisi lain, eksklusifitas kelompok pun tak akan membantu upaya membangun dialog damai dan justru akan menyuburkan "stereotype" yang sesungguhnya tidak benar. Eksklusifitas hanya akan melanggengkan kesalahpahaman terhadap kelompok lain.


Kita sepakat bahwa baik Sunni dan Syia'h berbeda dalam beberapa hal. Tapi janganlah perbedaan itu menjadi alasan bagi kita untuk saling mengusir, melarang ibadah bahkan membunuh. Apalagi menggunakan legitimasi Tuhan dan ayat suci untuk menumpahkan darah "saudara" kita.


Semoga damai tercipta untuk semua. Karena kebenaran yang pasti hanya milik Tuhan. Amin.(*)

Oleh:
Syamsul Arif Galib
Pengajar di UIT Makassar /Alumni Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS)-UGM

[Sumber: Harian Tribun Timur]

 


source : www.abna.ir
452
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

NU Kembali Tegaskan Syiah Bukan Aliran Sesat
Ini Masjid yang Sering Dikunjungi Tokoh Dunia
Pertemuan Sejumlah Mahasiswa Syiah Eropa dengan Pimpinan Majma’ Ahlul Bayt as
Khazanah Trans 7 Memutarbalikan Sejarah Islam
Jet Tempur Saudi Hancurkan Gedung Sekolah di Sana’a
Warga di Timur Arab Saudi Siap untuk Gelar Unjuk Rasa Damai
Suasana Majelis Duka Husaini di Malaysia
Rahbar: Kami tak Akan Membiarkan Pengaruh AS Masuk ke Iran
Dicegah Memasuki Arab Saudi untuk Tunaikan Ibadah Haji, Ratusan Ribu Rakyat Yaman Protes
Haji, Simbol Keagungan Umat Islam

 
user comment