Indonesian
Monday 8th of March 2021
1040
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

George Jordac: Saya Menganggap Diri Saya bagian dari Syiah Ali As

George Jordac: Saya Menganggap Diri Saya bagian dari Syiah Ali As

Menurut Kantor Berita ABNA, Hasan Sehhat, staff divisi kebudayaan Iran di Lebanon pada tahun terakhir usia George Jordac, sastrawan, pemikir dan penulis Kristen Lebanon yang menulis buku terkenal "Ali Suara Keadilan Manusia" sempat melakukan wawancara seputar aktivitas penulisan dan kegiatan sosial yang ia geluti.

Sebelum memulai wawancara Hasan Sehhat menginformasikan kepada George Jordac akan sambutan yang luar biasa rakyat Iran sebelum revolusi akan terbitnya buku "Ali Suara Keadilan Manusia" yang ditulis penulis Kristen Lebanon tersebut. Disebutkan pula betapa rezim Syah Pahlevi berupaya keras mencegah penerbitan dan peredaran buku tersebut dalam bahasa Persia di Iran.

George Jordac menanggapi kabar tersebut dengan mengatakan, "Ada dua alasan menurut saya mengapa Syah Pahlevi melarang penyebaran buku itu di Iran dan menentangnya habis-habisan. Pertama, karena saya menulis mengenai ciri-ciri dan sifat-sifat pemimpin yang zalim yang ditentang oleh Imam Ali dan kesemua ciri tersebut terdapat pada diri Syah. Dan yang kedua, karena saya menuliskan kepribadian Imam Ali As yang sedemikian besar memberikan perhatian dan pembelaan kepada masyarakat kecil dan kaum musthadafien yang tertindas. Yang sifat ini tidak dimiliki oleh Syah Pahlevi. Adanya dua alasan ini memancing pihak keamanan Negara Iran melarangnya karena menganggap tujuan penulisan buku itu adalah menyebarkan pemikiran dan ide-ide sosialis dan komunis di tengah-tengah masyarakat."

"Sementara yang saya tulis sepenuhnya hanya berkisar mengenai kehidupan Imam Ali As dan apa yang beliau perjuangkan. Semua perbuatan dan yang diperjuangkan Imam Ali berkaitan dengan hak-hak kemanusian dan tegaknya nilai-nilai keadilan. Bagaimana kebesaran jiwa beliau ketika memaafkan Muljam yang telah melalukan tindakan yang menyebabkan kematiannya, bagaimana beliau tetap bertindak adil meskipun menjadi penyebab kemarahan musuh-musuhnya yang kemudian mengangkat pedang untuk memeranginya, atau bagaimana beliau sedemikian hati-hati dan amanah dalam menggunakan harta Baitul Mal dan bagaimana dalam periode kekhalifaannya yang meskipun sangat singkat namun telah meninggalkan warisan besar dalam dunia Islam." Lanjutnya.

"Saya lahir di bagian selatan Lebanon. Sewaktu sekolah di tingkat dasar saya sama sekali tidak punya minat besar terhadap pelajaran di kelas. Begitu seterusnya sampai saya menyelesaikan sekolah tingkat menengah. Sampai kemudian suatu hari, kakak tertua saya membawakan kitab Nahjul Balaghah dengan maksud untuk menyemangati saya belajar dan agar saya punya minat terhadap ilmu. Sayapun kemudian membaca kitab tersebut, dan benar-benar membuatku sangat tertarik untuk menelaah dan mendalaminya. Saya membaca kitab itu berkali-kali sembari menggaris bawahi kalimat-kalimat yang menarik hatiku." Tambahnya lagi.

George Jordac lebih lanjut mengatakan, "Waktu itu, meskipun telah berkali-kali membacanya, masih banyak dari bagian Nahjul Balaghah itu yang sulit untuk saya pahami. Saat itu saya merasa Imam Ali sedang memperhatikanku dan saya serasa begitu dekat, sampai akhirnya saya putuskan untuk larut dalam kesibukan melakukan penelitian terhadap periode kehidupan Imam Ali. Saya kemudian mengumpulkan banyak kitab mengenai kehidupan Imam Ali dari Mesir dan sejumlah Negara lainnya. Namun dari kesemua kitab-kitab itu tidak ada satupun menurut saya yang memuat kehidupan Imam Ali secara lengkap dan komprehensif. Hal itulah kemudian yang mendorongku untuk menghasilkan karya sendiri mengenai biografi Imam Ali dan seluruh periode kehidupannya. Sampai akhirnya lahirlah buku "Al-Imam Ali Shaut al-Adalat al-Insaniyah."

Ketika ditanyakan, dengan sedemikian telitinya dan larut dalam penelaahan mengenai kehidupan Imam Ali, aktivitas dan ide-idenya apakah George Jordac tetap bertahan dengan iman Kristennya?.

George Jordac menjawab, "Saya adalah pecinta ideologi dan ajaran kemanusiaan Imam Ali, dan patut saya katakan, dengan pandangan dan keyakinan saya ini, maka saya menganggap diri saya adalah bagian dari Syiah [pengikut] Imam Ali As."

Pada Rabu [5/11], George Jordac meninggal dunia dalam usia 84 tahun di Beirut, ibukota Lebanon. Buku "Ali Suara Keadilan Manusia" yang telah membuatnya terkenal telah dicetak sebanyak 5 juta jilid dalam banyak bahasa seperti Persia, Urdu, Inggris, Perancis dan Spanyol.

Jordac menulis karyanya ini dalam lima jilid buku yang masing-masing berjudul Ali as dan Hak Asasi Manusia, Ali as dan Revolusi Perancis, Ali as dan Era-nya, dan Ali as dan Kaum Arab. Sebagai lampiran buku-buku ini, ia juga menulis Riwayat-riwayat Nahjul Balaghah.

Jenazah George Jordac setelah melalui proses ritual keagamaan, Jumat (7/11) di Gereja Ortodoks Roma di wilayah Achrafieh , Beirut, dan dibawa ke tempat kelahirannya di Marjeyoun, Selatan Lebanon untuk dikebumikan di pekuburan keluarga.

IRNA (6/11) melaporkan, Kedubes Iran di Lebanon, Kamis (6/11) dalam pernyataannya mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya sastrawan, pemikir besar dan penulis Kristen Lebanon yang melahirkan karya besar koleksi buku Imam Ali as Suara Keadilan Manusia.

Dalam statemennya, Kedubes Iran di Beirut menegaskan bahwa Iran layaknya Lebanon dan belahan dunia lainnya, merasa kehilangan seorang intelektual dan sastrawan yang telah memperkaya nilai-nilai kemanusiaan dengan sastra dan pemikiran kreatifnya.

Kedubes Iran juga menyampaikan duka cita yang mendalam kepada rakyat Lebanon dan keluarga George Jordac.

 


source : www.abna.ir
1040
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Akhlak dan Ilmu Akhlak
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 7-10
Doa Nadi Ali dan kegunaannya
Kumpulan Fatwa Rahbar Seputar Taqlid
Asyura, Mengukir Semangat Juang dan Cinta
Mengapa pada surah al-Baqarah disebutkan, “Dzalika al-kitab” dan tidak disebutkan “Hadza ...
Tanda-Tanda Sebelum Kemunculan Imam Mahdi afs
Posisi Manusia dalam Sistem Penciptaan
Yazid dalam Timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dialog Fatimah as dengan Abu Bakar; Mengungkap kebohongan sebuah hadis politik

 
user comment