Indonesian
Saturday 6th of March 2021
837
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Imam Jawad, Teladan Kedermawanan Sejati

Imam Jawad, Teladan Kedermawanan Sejati

Hari-hari bulan Rajab, satu per satu terlewati. Bulan Rajab yang penuh berkah merupakan bulan mulia yang dianugrahkan Allah kepada hambanya. Bulan ini merupakan salah satu moment terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Bulan Rajab juga dihiasi dengan pelbagai peristiwa bersejarah penting yang erat kaitannya dengan Ahlul Bait Nabi as.

 

Imam Jawad, Teladan Kedermawanan Sejati
Dengan mempelajari kembali sejarah Islam, peran konstruktif Ahlul Bait as dalam memperkaya pemikiran Islam tampak begitu jelas. Ahlul Bait merupakan khazanah ilmu dan makrifat ilahi. Mereka adalah pasangan tak terpisahkan Al-Quran. Merekalah penafsir hakiki Al-Quran yang menjaga Al-Quran dan sunnah nabi dari berbagai penyimpangan dan bid'ah. Tiap kali kesucian agama terancam, Ahlul Bait as merupakan pihak pertama yang senantiasa bangkit mematahkan ancaman yang ada.

Tanggal 10 Rajab, merupakan hari kelahiran salah seorang tokoh utama Ahlul Bait as. Pada tanggal ini 195 H, Imam Muhammad Taqi Al-Jawad lahir di kota Madinah.

Setelah bertahun-tahun menanti, Imam Ridho as akhirnya dianugrahi seorang putra saat beliau berusia 47 tahun. Beliau memberi nama putranya itu "Al-Jawad", yang berarti seorang yang sangat dermawan. Perjalanan hidup Imam Jawad as penuh dengan pasang-surut. Belum genap 5 tahun, ayah Imam Jawad as, Imam Ridho as dipaksa oleh Khalifah Abbasiyah, Ma'mun meninggalkan Madinah dan hijrah ke Khurasan.

Setelah Imam Ridho gugur syahid, tampuk keimamahan berada di pundak Imam Jawad yang saat itu masih anak-anak. Peristiwa itu mengingatkan kita pada pengangkatan Isa as sebagai nabi saat usianya masih anak-anak atau pun nabi Yahya as yang diangkat sebagai nabi saat ia masih remaja.

Peristiwa itu merupakan juga bukti kebesaran Allah swt. Dengan izin-Nya, Allah swt bisa mengaruniakan kesempurnaan dan kematangan akal pada sebagian hambanya meskipun dalam usia yang masih kecil. Ali bin Asbath menuturkan, "Suatu hari aku melihat Imam Jawad as. Dengan cermat, aku menatap sekujur tubuhnya, sehingga aku nanti bisa menceritakan sifat-sifat beliau kepada para pecintanya di Mesir. Dalam hatiku aku berpikir, bagaimana mungkin seorang yang masih berusia sangat muda, mampu menjawab soalan ilmiah dan agama yang paling sulit dan pelik serta menjadi jalan keluar pemikiran. Pada saat semacam itulah, Imam datang menghampiriku dan ia memahami apa yang terbersit di benakku saat itu. Beliau berkata: Wahai Ali bin Asbath, Tuhan membawa bukti atas keimamahan para aimmah. Sebagaimana ia membawa bukti atas kenabian para anbiya. Kemudian beliau membacakan ayat 12 surat Mariam yang mengungkapkan keberadaan hikmat dan nubuwah Nabi Yahya di masa anak-anaknya. Ia pun berkata, Mungkin saja Tuhan memberikan hikmah kepada seoarang anak. Sebagaimana tidak mustahil juga ia memberikannya pada seseorang yang berusia 40 tahun."

Keistimewaan ilmu yang dimiliki Imam Jawad juga membuat takjub para tokoh agama non-muslim. Ketika mereka menyaksikan secara langsung kehebatan ilmu dan hikmah Imam Jawad as, mereka pun mengakui bahwa keistimewaan yang dimiliki Imam Jawad as itu merupakan anugrah ilahi.

Imam Jawad as hidup dalam suasana politik yang sangat sulit. Ia hidup sejaman dengan dua khalifah Abbasiyah, Ma'mun dan Mu'tasim. Para pemimpin dinasti Abbasiyah begitu ketakutan dengan hubungan dekat umat yang begitu dekat dengan Imam Jawad as. Sebagaimana para tokoh Ahlul Bait lainnya, Imam Jawad as juga senantiasa menentang kezaliman dan tipu daya khalifah Abbasiyah. Ia bahkan berani mengungkapkan hakikat kebenaran dalam kondisi sesulit apapun. Terkait masalah para pemimpin yang zalim, Imam Jawad as berkata, "Para penzalim, penolong orang yang zalim, dan mereka yang rela menerima kezaliman, mereka semua sama-sama bersekutu dalam dosa yang sama".

Sambutan luas masyarakat terhadap Imam Jawad dan hubungan dekat beliau dengan para ilmuan dan ulama di masa itu, membuat Ma'mun menarapkan kebijakan politik yang sangat licik dan penuh tipu muslihat. Karena itu, Imam Jawad pun akhirnya diasingkan ke kota Baghdad, pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah di masa itu. Namun hal itu tak juga membuat kecintaan umat pada beliau makin surut. Tapi sebaliknya, pengaruh spiritual Imam Jawad makin tersebar luas ke pelbagai penjuru negeri-negeri muslim.

Imam Jawad as dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Bahkan sebelum seseorang mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya, beliau telah terlebih dahulu mengabulkan permintaan orang tersebut. Tak ada seorang pun yang merasa putus asa dan pulang dengan tangan kosong, jika mereka mendatangi Imam Jawad untuk meminta bantuan. Sebegitu dekatnya hubungan Imam Jawad as dengan masyarakat, sampai-sampai siapapun yang memiliki persoalan pribadi ataupun keluarga, mereka pun datang langsung kepada beliau menyampaikan persoalannya dan meminta arahan. Dalam kesaksiannya, Bakar bin Saleh menuturkan,

"Aku menulis sebuah surat kepada Imam Jawad as. Aku menceritakan padanya bahwa ayahku bukanlah seorang muslim. Ia juga seorang yang sangat keras dan otoriter. Sikapnya pada ku sebagai pengikut Ahlul Bait as juga sangat keras. Berdoalah untukku Imam dan apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku harus bersikap lunak dengan ayahku ataukah aku harus meninggalkannya?"

Dalam jawaban suratnya, Imam menulis, "Aku mengerti maksud suratmu tentang ayahmu. Aku juga selalu berdoa untukmu. Ketahuilah bahwa bersikap lunak itu lebih baik. Dalam kesulitan juga ada kemudahan. Bersabarlah, karena akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa. Insyaallah, Tuhan akan selalu meneguhkan langkahmu". Bakar bin Saleh menambahkan, "Setelah itu, berkat doa Imam Jawad as, Allah swt mengubah hati ayahku menjadi sangat penyayang. Sampai-sampai ia tak pernah menentang apa yang kulakukan".

Menjauh dari orang-orang yang tidak beriman dan menghindari kawan yang tidak baik selalu ditekankan berulang-ulang oleh Imam Jawad as, hingga beliau mengibaratkan hal itu seperti menghindar dari ketajaman pedang. Beliau berkata, "Jauhilah berteman dengan orang-orang yang buruk. Sungguh mereka itu laksana pedang yang tajam. Lahirnya tampak baik namun tindakannya bisa berakibat buruk". Dalam ucapannya yang lain, Imam Jawad melarang pengikutnya untuk duduk bersama dengan orang-orang yang jahat. Sebab hal itu bisa memunculkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang baik. Beliau menuturkan, "Berkumpul bersama orang-orang yang jahat dan berprilaku buruk, bisa menimbulkan prasangka negatif terhadap orang-orang yang baik".

Dalam masa hayatnya sepanjang 25 tahun, Imam Jawad as selalu membaktikan umurnya untuk mengembangkan budaya dan pemikiran Islam sesuai dengan tuntutan zaman di masa itu. Karena itu, hingga kini karya-karya beliau masih bertahan hingga sekarang. Sekitar 100 ilmuwan dan perawi besar telah menulis beragam buku dan risalah yang bersumber dari hadis-hadis dan ucapan yang mereka nukil dari Imam Jawad.

Berikut hadis-hadis pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Jawad a.s. selama ia hidup.

1.Mukmin perlu kepada tiga hal

"Seorang mukmin perlu kepada taufik dari Allah, penasihat dari dalam dirinya dan menerima nasihat orang yang menasihatinya".

2.Kokohkan terlebih dahulu kemudian tampakkan!

"Mengeksposkan sesuatu sebelum diperkokoh tidak lain adalah kerusakan belaka".

3.Terputusnya nikmat akibat tidak bersyukur

"Tambahan nikmat dari Allah tidak terputus selama rasa bersyukur seorang hamba tidak terhenti".

4.Mengakhirkan taubat

"Mengakhirkan taubat adalah semacam menipu diri sendiri, selalu berjanji yang tidak pernah ditepati adalah semacam kebingungan (batin), mencari-cari alasan di hadapan Allah adalah kehancuran dan melakukan maksiat secara kontinyu adalah merasa aman dari makar-Nya. "Maka tidak akan merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang fasik".

5.Surat Imam Jawad a.s. kepada salah seorang sahabatnya

"Kami semua di dunia ini berada di bawah pimpinan orang lain. Akan tetapi, barang siapa yang sesuai dengan kehendak imamnya dan mengikuti agamanya, maka ia akan selalu bersamanya di mana pun ia berada. Dan akhirat adalah dunia keabadian".

6.Tanggung jawab mendengarkan

"Barang siapa yang mendengarkan kepada seorang pembicara (dan seraya mengikuti semua ucapannya) sesungguhnya ia telah menyembahnya. Jika pembicara tersebut berasal dari Allah, maka ia telah menyembah Allah, dan jika pembicara tersebut berbicara atas nama Iblis, maka ia telah menyembah Iblis tersebut".

7.Merelai sama dengan menerima

"Barang siapa yang menyaksikan sebuah perkara kemudian ia mengingkarinya, maka ia seperti orang yang tidak pernah melihatnya. Dan barang siapa tidak menyaksikan sebuah peristiwa lalu merelainya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya".

8.Wasiat Imam Jawad a.s.

"Jiwa dan seluruh harta kita adalah anugerah Allah yang sangat berharga dan pinjaman dari-Nya yang telah dititipkan (kepada kita). Segala yang dianugerahkan kepada kita adalah pembawa kebahagiaan dan kesenangan, dan segala yang diambilnya (dari kita), pahalanya akan tersimpan. Barang siapa yang kemarahannya mengalahkan kesabarannya, maka pahalanya telah sirna. Dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu".

9.Bersahabat dengan sahabat Allah

"Allah pernah mewahyukan kepada sebagian para nabi a.s.bahwa sikap zuhudmu terhadap dunia akan membahagiakanmu dan penghambaanmu terhadap diri-Ku karena Aku akan memuliakanmu. Akan tetapi, apakah engkau telah memusuhi musuh-Ku dan bersahabat dengan sahabat-Ku?'".

10.Sebuah nasihat

"Bertemanlah dengan kesabaran, peluklah kefakiran, tolaklah nafsu dan tentanglah segala keinginanmu. Dan ketahuilah bahwa engkau tidak akan lepas dari pandangan Allah. Oleh karena itu, periksalah keadaan dirimu".

11.Ulama yang terasingkan

"Ulama akan terasingkan karena banyaknya orang-orang bodoh (yang tidak mau memahami nilai mereka)".

12.Sumber ilmu Imam Ali a.s.

"Rasulullah SAWW mengajarkan seribu kalimat kepada Ali a.s. Dari setiap kalimat bercabang seribu kalimat (yang lain)".

13.Pesan Rasulullah SAWW kepada Fathimah a.s.

"Sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah berpesan kepada Fathimah a.s. seraya bersabda: "Jika aku meninggal dunia, janganlah engkau mencakar-cakar wajahmu, janganlah engkau uraikan rambutmu, janganlah berkata 'celakalah aku' dan janganlah mengumpulkan para wanita untuk menjerit-jerit menangisiku. Ini adalah kebajikan (ma'ruf) yang Allah firmankan dalam ayat-Nya: "Dan mereka tidak menentangmu dalam kebajikan". (Al-Mumtahanah : 12)

14.Imam Mahdi a.s.

"Al-qa`im dari keluarga kami adalah Mahdi yang wajib untuk ditunggu ketika ia menjalani ghaibah dan ditaati ketika ia muncul. Ia adalah anakku yang ketiga (Imam Mahdi bin Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Hadi dan a.s.--pen.)".

15.Bertemu sahabat

"Bertemu dengan para sahabat dapat memperluas dan mematangkan akal meskipun hal itu berlangsung sebentar".

16.Hawa Nafsu

"Barang siapa yang menaati hawa nafsunya, maka ia telah memberikan harapan kepada musuhnya".

17.Penyembah hawa nafsu

"Penyembah hawa nafsu tidak akan aman dari ketergelinciran".

18.Orang-orang yang berpegang teguh kepada Allah

"Bagaimana mungkin binasa orang yang Allah adalah penanggungnya, dan bagaimana mungkin dapat menyelamatkan diri (baca : lari dari keadilan Ilahi) orang yang Allah adalah pencarinya. Barang siapa yang bertawakal kepada selain Allah, maka Ia akan menyerahkannya kepada orang tersebut".

19.Mengenal awal dan akhir kehidupan

"Barang siapa yang tidak mengetahui jalan masuk, maka ia tidak akan dapat menemukan tempat keluar".

20.Hasil usaha

"Berusahalah sekuat tenaga hingga kau mencapai tujuan. Jika tidak, engkau akan hidup dalam kesusahan".

21.Mensyukuri nikmat

"Nikmat yang tidak disyukuri bagaikan dosa yang tidak akan diampuni".

22.Toleransi terhadap masyarakat

"Orang yang enggan bertoleransi dengan masyarakat, kesedihan akan selalu menghantuinya".

23.Akibat tidak memiliki pengetahuan

"Orang yang mengerjakan sesuatu tanpa didasari oleh pengetahuan, kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak dari pada perbaikan yang diinginkannya".

24.Qadha` yang pasti

"Jika qadha` yang pasti tiba, maka kehidupan menjadi sempit".

25.Masa akan bercerita segalanya

"Masa akan menyingkap rahasia-rahasia yang (selama ini) tersembunyi darimu".

26.Mawas diri

"Mawas diri bergantung kepada kadar rasa takut (yang dimiliki oleh seseorang)".

27.Janganlah menjadi demikian!

"Jangan engkau (berpura-pura) menjadi wali Allah di hadapan khalayak dan menjadi musuhnya di belakang mereka".

28.Empat faktor penggerak

"Empat hal dapat membantu seseorang untuk beraktivitas: kesehatan, kekayaan, ilmu dan taufik".

29.Sama seperti orang zalim

"Orang yang melihat kezaliman (sedang berlangsung), orang yang menolongnya dan orang yang merestuinya adalah sama (dengan orang yang melaksanakan kezaliman tersebut".
30.Dosa-dosa penyebab kematian

"Kematian manusia yang disebabkan oleh dosa lebih banyak dibandingkan dengan kematiannya karena ajal, dan ia hidup karena kebajikan yang dilakukannya lebih banyak dibandingkan dengan hidupnya karena umur panjang".

31.Faktor-faktor penarik kasih sayang

"Tiga hal dapat menimbulkan kasih sayang: memahami orang lain, saling menolong ketika masa kesulitan dan menjalani kehidupan dengan hati yang bersih".

32.Percaya kepada Allah adalah tangga kesempurnaan

"Percaya kepada Allah adalah harga untuk harta yang mahal dan tangga menuju kesempurnaan".

33.Cepat menuju Allah

"Menuju Allah dengan hati lebih jitu dan tepat dari pada menuju kepada-Nya dengan perantara amalan".

34.Menghindari orang jahat

"Janganlah bersahabat dengan orang jahat, karena ia bagaikan pedang yang telah dikeluarkan dari sarungnya; enak dipandang, buruk akibatnya".

35.Faktor-faktor ridha Allah dan manusia

"Tiga hal dapat mengantarkan manusia kepada ridha Allah: banyaknya istighfar, keramah-tamahan dan banyak bersedekah. Tiga hal jika dimiliki oleh seseorang, ia tidak akan menyesal: tidak terburu-buru, bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah ketika ia sudah mengambil keputusan".

 


source : www.abna.ir
837
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Dialog Fatimah as dengan Abu Bakar; Mengungkap kebohongan sebuah hadis politik
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 11-14
Menengok Keabsahan Doa Kumail, bag 1
Nikah Mut’ah Antara Hukum Islam dan Fitnah Wahhabi
Mengingat bahwa Allah Swt tidak akan dapat dilihat, lantas apa maksud dari “Lamahjubun” yang ...
Mengenal Ar-Rahman dan Ar-Rahim
Qadha dan Qadar
Pemaaf dan Sabar, Akhlak Nabi dan Orang-orang Saleh
Ghibah; Penghapus Amal Perbuatan
Apakah ada dalam al-Quran sebuah ayat yang berbicara tentang estetika dan keindahan?

 
user comment