Indonesian
Thursday 4th of March 2021
922
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Penyebab Manusia Takut Mati

Penyebab Manusia Takut Mati

 

 

Dari berbagai faktor yang menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan bagi manusia tidak ada yang melampaui ketakutan terhadap kematian. Tampaknya begitu banyak manusia yang takut mati yang tidak pernah tahu kapan datangnya. Hingga kini manusia bermimpi mendapatkan "air kehidupan" atau "obat awet muda" dan "hidup abadi" yang senantiasa menjadi impian umat manusia sepanjang sejarah. Kebanyakan orang juga takut mendengar kata "kematian", atau"sakaratul maut". Dampak dari ketakutan ini muncul berbagai mitos seperti "hantu kematian", "cengkeraman kematian" dan istilah lainnya yang menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan terhadap datangnya kematian bagi kebanyakan orang.

 

Kini muncul pertanyaan, apa faktor pemicu dari ketakutan terhadap kematian ini? Mengapa umat manusia lari dari kematian, dan menilainya sebagai musibah yang paling besar bagi dirinya sendiri dan keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, mengingat kematian pun dianggap bukan tindakan baik dan dinilai sebagai masalah kejiwaan. Dalam acara ini kita akan mengupas mengenai masalah tersebut.

 

Secara umum ketakutan terhadap kematian terbagi menjadi dua, ada yang logis dan tidak logis. Dengan kata lain ada yang takut mati yang suci dan tidak suci. Ketakutan yang tidak logis dan tidak suci disebabkan oleh berbagai faktor seperti kebodohan, hilangnya iman dan kelemahan dalam diri manusia. Alasan terpenting dari ketakutan ini adalah kebodohan dan ketidaksadaran terhadap hakikat dari kematian.

 

Secara umum kebodohan terhadap segala sesuatu menyebabkan ketakutan. Misalnya, seorang supir yang mengendarai mobil di jalan yang gelap gulita sangat khawatir dan takut setiap saat akan terjadi peristiwa yang tidak dikehendaki di jalan. Manusia pada umumnya tidak memiliki gambaran yang baik mengenai kematian. Mereka menilai kematian sebagai kehancuran dan kefanaan. Segala sesuatu yang membuat dirinya tergantung seperti harta yang dihasilkan dari kerja kerasnya di dunia akan berpisah selamanya dengan dirinya, begitu juga dengan anak dan pasangan hidup yang ditinggalkannya.Gambaran demikian menyebabkan manusia begitu takut menghadapi kematian.

 

Sebaliknya, orang yang beriman dan memiliki keyakinan yang benar terhadap hari akhir  memandang kematian sebagai jembatan yang menghubungkan antara dunia ini dan kehidupan akhirat yang abadi kelak. Kematian seperti lahirnya jabang bayi dari rahim ibunya, sebuah kehidupan baru yang kekal. Kehidupan setelah kematian merupakan kehidupan yang paling sempurna dan abadi. Untuk itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kematian.

 

Penyebab utama ketakutan terhadap kematian yang menjadi masalah getir bagi manusia adalah ketergantungan manusia terhadap kehidupan dunia dan kekhawatiran hilangnya semua yang dimilikinya selama ini. Terkait hal ini ada sebuah kisah di zaman Rasulullah Saw. Seseorang menghadap Nabi Muhammad Saw, ia berkata, "Aku tidak suka kematian !" Rasulullah berujar, "Apakah engkau memiliki harta ?". "Ya", jawab lelaki itu. "Apakah engkau menafkahkan hartamu di jalan Allah ?, " tanya Rasulullah. Lelaki itu menjawab,"Tidak,". "Itulah sebabnya mengapa engkau takut mati sebab engkau tergantung kepada hartamu," ujar Rasulullah Saw.

 

Dosa juga menjadi faktor lain yang menyebabkan manusia takut mati. Kehidupan setelah kematian ditentukan oleh amal perbuatan kita di dunia ini. Kegelapan di alam kubur disebabkan oleh perbuatan buruk kita di dunia. Dahulu kala, seorang laki-laki bertanya kepada Imam Hassan Mujtaba, "Mengapa kami tidak menyukai kematian dan kami tidak mau mati ?" Imam Hassan menjawab, "Karena [pandangan] kalian salah dan keliru; kalian memakmurkan kehidupan di dunia ini, tapi merusak kehidupan di akhirat ! kalian takut meninggalkan tempat yang [dianggap] makmur menuju tempat yang rusak".

 

Orang yang mengetahui hakikat kematian melalui akal dan penjelasan al-Quran serta hadis Rasululllah Saw dan Ahlul Baitnya menyakini bahwa kematian merupakan fase untuk mencapai yang kedudukan lebih tinggi dari kehidupan manusia menuju alam keabadian. Untuk itu dalam kehidupan mereka di dunia senantiasa berbuat baik demi mencari keridhaan Allah swt, karena meyakini seluruh perbuatannya di dunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

 

Seorang mukmin takut terhadap kematian, tapi ketakutannya logis dan suci. Sebab ketakutan itu menjadi penjaga bagi dirinya untuk berhati-hati dalam perbuatannya di dunia ini. Ketakutan demikian akan membuat manusia lebih produktif dalam berbuat baik dan menebarkan kebaikan di dunia ini. Dalam ajaran Islam, ketakutan demikian disebut sebagai "Hauf" yang disandingkan dengan "Raja'(harapan)". Seorang mukmin selain memperhatikan  halal dan haram dalam kehidupannya, ia juga selalu mengharapkan ampunan dan rahmat dari Allah swt. Sejatinya, ketakutan demikian bukan takut terhadap datangnya kematian, tapi takut terhadap keagungan Allah swt dan pentingnya bekal di dunia untuk kehidupan akhirat kelak.

 

Berbeda dengan ketakutan tidak logis yang menyebabkan manusia justru menderita penyakit mental dan fisik, ketakutan yang logis dan suci justru sangat konstruktif. Sebab seorang mukmin yang senantiasa memohon ampunan dan hidayah Allah swt setiap saat menjaga kehidupannya jangan sampai melakukan tindakan yang merugikan orang lain dan melanggar ajaran agama. Mukmin senantiasa mengharapkan ridha Allah dan terus-menerus menyempurnakan dirinya. Hasil dari Hauf dan Raja' adalah kehidupan abadi manusia di akhirat kelak. Untuk itulah al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw serta Ahlul Baitnya menyerukan manusia supaya selalu mengingat kematian dan kelalaian manusia dari mengingat kematian akan menyebabkan kegelapan hati.

 

Untuk keluar dari ketakutan yang tidak logis diperlukan berbagai langkah seperti meningkatkan kesadaran terhadap hakikat kematian. Al-Quran menyebut kematian dengan istilah "Tawaffa", yaitu orang-orang yang dicabut atau diwafatkan, dan ditinggalkan sempurna, yang bermakna bahwa manusia selain memiliki dimensi jasmani, juga rohani.

 

Dalam riwayat disebutkan seseorang di zaman Imam Ali Naqi sedang menghadapi kematian. Orang itu terlihat menangis dan takut. Seseorang bertanya kepada Imam Ali Naqi, "Mengapa kita begitu takut terhadap kematian ?". "Ketakutan terhadap kematian disebabkan karena kita tidak mengetahui dan tidak mengenalnya... bagi orang yang berlumuran dosa dan kesalahan maka dirinya dibersihkan oleh kematian di dunia dan ia lepas dari berbagai kesulitan, " jawab Imam Ali Naqi. Mendengar penjelasan Imam Ali Naqi, lelaki yang sedang menghadapi sakaratul maut itu tenang, dan tidak lama kemudian dia meninggal dunia.

 

Sejumlah riwayat menjelaskan salah satu keindahan dari kematian mengenai datangnya Rasulullah dan Ahlul Baitnya kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut. Beliau menghiburnya dengan menunjukkan kedudukannya di surga, tapi orang yang di sekitar tidak mengetahui kejadian itu.

 

Allah swt dalam al-Quran surat al-Ankabut ayat 57, berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." Berdasarkan ayat ini, keyakinan yang benar terhadap kematian akan menyebabkan kehidupan manusia lebih damai dan tentram karena seluruh makhluk akan kembali kepada-Nya.Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Fajr ayat 27-30, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku"(IRIB Indonesia/PH)


source : Irib Indonesia
922
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Diantara Karomah Imam Ali bin Musa Ar-ridha as
Apakah Nabi Ibrahim memiliki seorang istri yang bernama Qanthura atau Qathura dan kaum Madyan ...
Kadar Kemukjizatan Al-Quran
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 7-10
Apakah ada literatur-literatur Ahlusunnah yang menyinggung masalah tahrif (distorsi) pada ayat-ayat ...
Iffah Dalam Pandangan Islam
Rahasia Keagungan Sayidah Fatimah as
Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 120-124
Larangan Allah Mendekati Perbuatan Keji
Mengapa Abdul Mutthalib memberikan nama anaknya dengan nama Abdul Uzza?

 
user comment