Indonesian
Thursday 4th of March 2021
992
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Syafaat dan Optimisme

Syafaat dan Optimisme

 

Perjalanan hidup manusia terkadang berbuat keliru dan salah. Acapkali perasaan bersalah membuat orang pesimis dan putus asa atas rahmat Allah swt. Akumulasi tingginya tingkat putus asa menimbulkan sikap keliru yang justru kian hari semakin jauh dari Allah swt. Padahal dalam Islam, putus asa atas rahmat Allah merupakan dosa yang paling besar. Umat Islam diperintahkan untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah dalam kondisi terburuk sekalipun. Agama ilahi ini memberikan sejumlah solusi untuk mengatasi masalah tersebut seperti taubat, syafaat dan lainnya supaya manusia kembali ke jalan Allah swt.

 

Selain taubat, syafaat memberikan harapan kepada manusia untuk kembali ke jalan Allah. Mazhab Islam, baik Sunni maupun Syiah meyakini syafaat akan diberikan di hari kiamat sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran bahwa Rasulullah Saw merupakan pemberi syafaat terbaik di akhirat kelak. Allah swt dalam surat An-Nisa ayat 64 berfirman, "Dan Kami tidak mengutus Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

 

Fakhrurazi, ulama Sunni terkemuka dalam kitab Tafsir al-Kabir menulis, "Sebab mengapa ayat ini mengatakan, 'Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka', bukan 'kamu [Nabi Muhammad saw] memohon ampunan untuk mereka' sebagai bentuk penghormatan terhadap kedudukan Nabi. Ketika orang yang berdosa menghadap Nabi, mereka seperti memohon ampunan kepada Allah swt melalui perantaraan risalah beliau yang memiliki kedudukan khusus. Dengan wahyu yang dibawa Nabi, beliau menjadi perantara bagi hamba Allah. Untuk itulah, Allah tidak akan menolak syafaat beliau..."

 

Selain Nabi Muhammad Saw yang memiliki kedudukan tertinggi di sisi Allah swt, orang-orang mukmin dan malaikat juga bisa memberikan syafaat bagi orang-orang yang berdosa. Untuk itulah diperbolehkan memohon doa mereka supaya dikabulkan oleh Allah. Al-Quran memberikan penjelasan menarik dalam bentuk cerita tentang anak-anak Nabi Yaqub as yang memohon doa dari ayahnya. Surat Yusuf ayat 97 dan 98, menjelaskan, "Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Ya'qub berkata: 'Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'.

 

Di bagian lain, al-Quran menegaskan bahwa Allah swt memerintahkan kepada Nabi dan Rasul untuk memohonkan ampunan bagi umat mereka. Dalam surat Muhammad ayat 19, Allah swt berfirman, "Yakinlah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Mohonlah ampunan atas dosamu dan dosa orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tempat pergi dan tempat tinggalmu."

 

Berdasarkan penjelasan sejumlah ayat tersebut, al-Quran tidak melarang syafaat, yang jauh berbeda dengan klaim kelompok Wahabi yang menilainya sebagai ajaran syirik. Pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahab ini memandang syafaat bertentangan dengan tauhid dalam ibadah. Wahabi menolak adanya ruh yang terpisah dari badan. Mereka menganggap bahwa setelah seseorang mati, ruh akan binasa bersama badannya. Karena itu, menurut pemahaman Wahabi meminta syafaat mereka yang jasadnya sudah tiada adalah perbuatan sia-sia. Padahal ayat al-Quran menyebutkan dengan tegas bahwa ruh akan tetap hidup setelah berpisah dari badan.

 

Para ulama Ahlusunnah menolak pandangan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah ini. Khalil Ahmad Saharanpuri Hanafi (lahir 1346 H) mengatakan, "Kami dan para ulama kami meyakini bahwa dalam berdoa diperbolehkan berwasilah kepada para Nabi, salihin, para wali dan syuhada baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mati. Tak masalah jika seseorang mengatakan misalnya, ‘Ya Allah aku menjadikan si fulan wasilah di sisi-Mu supaya Engkau mengabulkan doaku dan memenuhi hajatku."

 

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Ada tiga kelompok yang memberi syafaat di sisi Allah, para nabi, ulama dan syuhada,". Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw bersabda, "Para Nabi, para washi, mukminin dan malaikat bisa memberi syafaat dan menjadi perantara untuk pengampunan." Imam Baihaqi menuturkan, "Di zaman khalifah kedua terjadi paceklik. Bilal bersama beberapa orang sahabat Nabi Saw datang ke makam Rasul dan berkata, ‘Ya Rasulullah! Mintalah hujan kepada Tuhanmu untuk umatmu." Imam Syafii mengungkapkan dalam syairnya yang terkenal, "Keluarga Nabi adalah pemberi syafaatku dan mereka menjadi jalan bagiku menuju Allah swt". (Ibnu Hajar Asqalani al-Sawaiq al-Muharaqah hal.274.).

 

Ulama Sunni lainnya seperti Ali bin Ahmad Samhudi menjelaskan tentang syafaat. Dalam kitab Wafa'a al-Wafa', ulama Sunni terkemuka ini menulis, "Meminta pertolongan dan syafaat dengan perantara Nabi Saw kepada Allah Swt adalah perbuatan yang diperbolehkan, baik sebelum beliau diciptakan, atau setelah kelahirannya maupun setelah kematian beliau, baik di alam barzakh maupun di alam akhirat."  Lebih lanjut Samhudi menceritakan bahwa Nabi Adam yang mengetahui bahwa kelak akan lahir seorang Nabi bernama Muhammad yang punya kedudukan teramat tinggi di sisi Allah, Adam berkata, "Ya Allah demi kedudukan Muhammad [di sisiMu] aku mohon, ampunilah aku." (Wafa'a al-Wafa' jil: 3 hal: 1371)

 

Islam menyebut syafaat yang sebenarnya adalah milik Allah Swt, dan Dialah yang mengizinkan sekelompok hambaNya seperti para Nabi, syuhada dan salihin untuk memberi syafaat kepada manusia yang lain. Pertanyaannya adalah mengapa Allah memberikan hak syafaat kepada sebagian hamba-Nya? Salah satu alasan seperti yang ditegaskan oleh para ulama adalah karena Allah berkehendak menunjukkan kebesaran dan keagungan mereka di sisiNya, bahwa mereka adalah orang-orang yang dekat kepada-Nya. Allah Swt menunjukkan kedudukan mereka di atas hamba-hamba Allah yang lain.

 

Syafaat adalah kesempatan yang terbentang bagi hamba-hamba Allah untuk menerima ampunan dan maghfirah.Tentunya untuk menerima syafaat ada serangkaian syarat yang mesti dipenuhi yang telah dijelaskan dalam berbagai riwayat. Di antaranya, orang terkait harus menyesali akan perbuatan dosa yang mereka perbuat. Syafaat juga menjadi sebagai sebuah solusi supaya manusia tetap optimis dalam menjalani hidup, dan tidak putusasaatas rahmat Allah swt yang maha luas.(IRIB Indonesia)


source : Irib Indonesia
992
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Iffah Dalam Pandangan Islam
Rahasia Keagungan Sayidah Fatimah as
Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 120-124
Larangan Allah Mendekati Perbuatan Keji
Mengapa Abdul Mutthalib memberikan nama anaknya dengan nama Abdul Uzza?
Adab-adab Berdoa
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 3-6
Studi Kritis Hadits "Berpegangan kepada al-Quran dan as-Sunnah"
Derajat Orang-orang Dermawan
Apa makna dari kesadaran diri menurut al-Qur’an?

 
user comment