Indonesian
Monday 14th of June 2021
157
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Mabats, Fajar Kesempurnaan Manusia

Mabats, Fajar Kesempurnaan Manusia

 

Allah Swt dalam Surat Ali Imran ayat 164 berfirman, "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. Dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

 

Hari ini merupakan Idul mabats atau hari pengangkatan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah. Di hari ini, lelaki suci dari keturunan Ibrahim sang penghancur berhala, ayah para nabi, muncul untuk menyelamatkan umat manusia. Ia dijuluki al-Amin yang berarti seorang terpercaya. Manusia agung itu diangkat menjadi utusan Allah pada 27 Rajab 13 tahun sebelum hijrah. Lelaki agung pembawa bendera tauhid itu adalah Muhammad. Dialah pewaris kapak Ibrahim, tongkat Musa, dan kalbu Isa. Ia begitu teguh seperti Nuh. Sangat tabah dan sabar layaknya Ayyub. Ketampanannya bahkan melebihi pesona wajah Yusuf.

 

Tiap kali hari mabats tiba, Muhammad seakan-akan datang menyapa. Dia datang dari gua Hira, membawa perintah dan ajaran ilahi, datang dengan membawa kitab hidayah demi tegaknya keadilan, merekatkan hati setiap manusia dengan sesamanya, dan menyatukan yang tercerai-berai. Dia datang untuk memusnahkan kejahilan baru. Ia datang menyeru kepada dunia dan bertanya, "Dengan dosa apa, manusia-manusia mazlum di berbagai belahan dunia, di Afrika, di Palestina, Irak, Afghanistan terus dibantai dan dianiaya?"

 

Muhammad adalah utusan Allah, penyelamat umat manusia, penyempurna akhlak dan guru segala kemuliaan. Ia lahir menyebarkan harumnya keadilan dan kasih sayang di tengah masyarakat yang dilingkupi kebodohan, ketidakadilan dan permusuhan. Sejak masa awal kenabiannya, ia membuka jalan baru bagi umat manusia untuk menuju dunia yang penuh dengan cahaya. Dan hingga kini, dunia pun tak akan bisa lepas dari ajaran sucinya.

 

Sejak sebelumnya, gua Hira merupakan tempat untuk menyendiri dan ibadah bagi Muhammad. Setiap tahun, selama sebulan penuh ia datang dan menetap di gua Hira untuk merenung dan mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta. Terkadang di bulan-bulan lainnya pun ia mengasingkan diri di gua itu selama beberapa waktu. Di bawah cahaya bulan dan bintang, jauh dari hikuk-pikuk kota Mekah, Muhammad menyepi di gua Hira, merenung dan berdialog dengan Tuhannya. Terkadang, ia begitu lama merenung dan mencari-cari rahasia dan hakikat alam semesta. Terkadang pula, dari kejauhan di atas bukit, ia memandang kota Mekah, kota yang diliputi kelamnya malam, begitu sunyi dan diselimuti kejahiliaan.

 

40 tahun sudah usia Muhammad berlalu. Malam itu sebagaimana malam-malam sebelumnya. Gua Hira menjadi saksi zikir dan doa Muhammad. Namun tiba-tiba, seberkas cahaya bersinar menyeruak dari kelamnya gua diiringi sibakan suara gaib. Jibril datang membawa wahyu. Kepada Muhammad, ia berkata, "Muhammad, Engkau adalah utusan Allah, dan aku adalah Jibrail". Dengan penuh keheranan, Muhammad menatap malaikat pembawa wahyu itu. Jibril berkata, "Bacalah". Muhammad menjawab, "Aku tak bisa membaca". Namun Jibrail tetap menyeru Muhammad berulang kali untuk membaca. Muhammad pun lantas merasa bisa membaca dan demikianlah bacaannya, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. al-Alaq: 1-5)

 

Maka Muhammad pun diangkat menjadi utusan Allah yang terakhir. Ia pun memulai gerakan dakwah tauhidnya. Sejak itu, mabats menjadi tonggak pertama revolusi manusia yang terbesar. Awal dari segalanya, Rasulullah mengajak umat manusia untuk menyembah hanya kepada satu Tuhan. Hatinya yang suci, laksana cermin yang begitu jernih memantulkan pesan Ilahi kepada umat manusia. Kendati ia tak mengenal baca dan tulis, namun dakwah pertamanya adalah ajakan untuk membaca dan belajar. Meski ia tak pernah memiliki seorang guru, namun ia adalah guru terbesar bagi umat manusia.

 

mabats merupakan fajar sejarah cemerlang manusia. Karena mabats merupakan titik awal bagi seluruh manusia. Manusia yang memiliki dimensi begitu luas dan tak pernah terikat pada penggalan sejarah. mabats telah menggariskan jalan hidayah dan kebahagiaan abadi bagi manusia.

 

Allah Swt begitu sempurnanya mendidik Rasulullah dan membimbingnya mencapai derajat akhlak dan spiritual yang paling mulia. Karena itu, jauh sebelum beliau diutus sebagai Nabi, jiwa Muhammad telah ditempa dengan melewati berbagai pengalaman ruhani. Sepanjang masa mudanya, ia lalui hanya dengan kesucian dan kejujuran. Dan ketika mabats tiba, konsepsi dan nilai-nilai terluhur pun lahir.

 

Jiwa Muhammad yang begitu luhur dan suci, sangat tersiksa melihat masyarakatnya didera kebodohan dan angkara murka. Di zaman itu, kebejatan moral dan kebodohan bercampur dengan kekuatan pedang dan kekerasan. Namun, berkat pertolongan Allah Swt dan kebesaran jiwa Muhammad, beliau pun berhasil menarik setiap kalbu yang terkeras sekalipun mengikuti jejaknya melangkah di jalan tauhid. Selama berdakwah, Rasulullah Saw selalu menyertakan akhlak mulia dengan keteguhan, ketegasan dengan kasih sayang, dan kemuliaan dengan rendah hati.

 

Salah satu tujuan utama diutusnya Rasulullah ialah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam al-Quran, menyucikan, mendidik, dan mengajari manusia serta mewujudkan keadilan merupakan salah satu tujuan mabats yang paling penting. Dalam surat al-Hadid, ayat 25 dinyatakan, "Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan."

 

Secara umum, Pengutusan Rasulullah Saw memiliki dua tujuan utama. Pertama, menciptakan perubahan batin dan mendasar dalam diri manusia. Lewat dakwahnya, Rasulullah mengingatkan akan tingginya posisi manusia. Beliau juga mengungkapkan bahwa seluruh alam semesta ini diciptakan hanya untuk kebahagiaan manusia. Tujuan lain mabats adalah mengajak manusia kepada tauhid. Rasulullah Saw mengajak manusia untuk tidak lagi menyembah sesembahan hasil ciptaannya sendiri.

 

Kini, tak ada siapapun yang bisa mengingkari bahwa para anbiya adalah kalangan yang paling berperang penting dalam membangun dan memajukan umat manusia. Kehadiran konstruktif mereka di tengah masyarakat, telah menciptakan potensi kemajuan spiritual dan material bagi umat manusia. Sebagaimana yang kita lihat dalam sejarah kenabian Rasulullah, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi kunci utama dakwah Islam.

 

Tak diragukan lagi, dimensi spiritual peradaban manusia banyak berhutang kepada jasa-jasa Nabi Musa as, Isa as dan Muhammad Saw. Tentu saja, kemajuan material manusia hanya terwujud dengan baik diatas landasan kemajuan spiritual. Karena itu, pasca mabats, ilmu pengetahuan berkembang maju pesat di ranah peradaban Islam hingga kemudia meluas dan menyebar ke seluruh dunia. (IRIB Indonesia)


source : Irib Indonesia
157
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Kemuliaan Akhlak Imam Sajad As
Etika Makan dan Minum dalam Pandangan Imam Ali as
Hadis Akhlak Ushul Kafi: Berbuat Baik dengan Orang Tua
Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu
Siapakah Muhammad Saw
Ali dengan Rasulullah bagai Harun dengan Musa
Zuhud dan Pengorbanan Sayidah Fathimah Az-Zahra as
Pengertian Aliran Maturidiyah
Hujr bin Adi, Korban Kesadisan dan Fanatisme Buta
Imam Mahdi as Dalam Al-Quran

 
user comment