Indonesian
Thursday 4th of March 2021
99
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Kezaliman, Penghalang Terbesar Memahami al Qur'an

"Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran ataukah hati mereka sudah terkunci?"

(Qs. Muhammad: 24)

 

Ismail Amin

Kezaliman, Penghalang Terbesar Memahami al Qur

Al-Qur'an al Karim adalah kitab tadabbur yang padat dengan ibrah dan pelajaran. Samudera tidak bertepi ma'arif Islam. Kitab petunjuk dan hidayah bagi semua umat manusia. Zahirnya indah, batinnya menakjubkan. Keajaibannya tidak berhingga, keutamaannya tidak terkira. Namun tidak semua manusia dapat mengambil pelajaran dan ilmu al-Qur'an yang menjulang dari palung terdalam hingga ars-Nya Allah SWT. Sebagaimana yang terungkap dalam ayat diatas, bahwa yang dapat mentadabburi dan mengambil ibrah dari Al-Qur'an hanyalah mereka yang hatinya tidak terkunci. Dalam ayat lain disebutkan, "Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (Qs. Shaad: 29). Terang, firman suci ini menyebutkan, bahwa al-Qur'an hanya akan sarat manfaat bagi mereka yang terbuka pikirannya dan sehat akalnya.

Tulisan ini, secara sederhana akan menyampaikan faktor penghambat dan penghalang seseorang sulit untuk memahami Al-Qur'an dan menghayatinya, apalagi sampai banyak mengambil manfaat darinya. Menurut penjelasan sendiri oleh Allah SWT, sebagaimana yang tersampaikan dalam surah al Isra ayat 82, "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim, (Al-Qur'an) itu hanya akan menambah kerugian." maka diantara penghalang terbesar bermanfaatnya Al-Qur'an bagi seseorang adalah kezaliman. Pada ayat lain disebutkan, " Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. " (Qs. Al Ankabut: 49). Lebih jauh lagi, Allah SWT menyebutkan, al-Qur'an tidak memberi manfaat bagi mereka yang mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman. Allah SWT menandaskan, "Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. Al An'am: 82).

Zalim yang dimaksud adalah, kejahatan, pergelutan dengan kebatilan, penyimpangan dari kebenaran, perampasan hak orang lain serta menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kezaliman bisa dibagi menjadi tiga bentuk, zalim kepada Allah, kepada orang lain dan zalim kepada diri sendiri.

Pertama, zalim kepada Allah

Pembangkangan, kedurhakaan dan ketidaktaatan atas perintah-perintah Ilahi, adalah misdaq dari zalim kepada Allah SWT. Jika seorang yang mengklaim diri beriman, namun melakukan amalan kesyirikan, pada hakikatnya, ia mengingkari tauhid, dan itu adalah zalim kepada Allah SWT. Dan bentuk dari kezaliman terbesar, adalah kesyirikan, menduakan Allah SWT dalam penyembahan dan peribadatan. Sebagaimana pesan hamba Allah yang saleh, Luqman al Hakim pada anaknya yang diabadikan dalam Al-Qur'an, " Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Qs. Luqman: 13).

Jika seseorang melakukan kesyirikan (mempersekutukan Allah) dalam kadar yang membuatnya tidak terdepak dari keislaman, maka itu akan menghalanginya untuk bisa mentadabburi dan menghayati Al-Qur'an. Seseorang yang mempelajari Al-Qur'an dengan niat yang riya, dengan tujuan hendak mendapatkan sanjungan dan tepukan pujian dari manusia ataupun demi gemerlapnya kemewahan duniawi dengan menjual ayat-ayat Allah, maka ia tidak mendapatkan petunjuk apapun dari apa yang dipelajarinya dari Al-Qur'an tersebut kecuali semakin menjauhkannya dia dari hidayah.

Namun jika amalan kesyirikannya sampai pada derajat yang bisa membatalkan syahadatnya, maka bukan saja Al-Qur'an tidak memberi manfaat baginya, bahkan Al-Qur'an menjadi sesuatu yang bisa membuat dia celaka dan binasa.

Bentuk kezaliman lain pada Allah SWT adalah, memutuskan perkara tidak berdasar pada petunjuk Ilahi, ia lebih memperturutkan hawa nafsu dan kepentingan pribadinya dibanding menuruti apa yang telah ditetapkan Allah dalam kitab dan petunjuk Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (Qs. Al Maidah: 45). Demikian pula, melanggar hukum-hukum Allah SWT termasuk bentuk kezaliman pada-Nya, " Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim." (Qs. Al Baqarah: 229).

Mengada-adakan dusta terhadap Allah SWT, diantara bentuk zalim kepada Allah SWT lainnya. Sebagaimana firman-Nya, "Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim." (Qs. Ali Imran: 94). Dusta adalah mengatakan tidak ada pada sesuatu yang ada. Sementara bohong, adalah menyatakan ada pada sesuatu yang tidak ada.

Kedua, zalim kepada orang lain

Merampas hak, melecehkan, menghina dan menjatuhkan kehormatan orang lain adalah diantara bentuk kezaliman pada orang lain. "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (Qs. Asy Syuura: 42)

Dalam pandangan al-Qur'an menghindarkan diri dari berbuat zalim kepada siapapun dalam kehidupan bermasyarakat adalah perintah tegas yang tidak bisa ditawar-tawar. Memberikan penghormatan pada hak-hak orang lain adalah diantara ajaran penting dari agama Islam. Zalim pada orang lain, pada hakikatnya menzalimi diri sendiri, sebab kezalimannya tersebut akan menjatuhkan kehormatannya ditengah-tengah kehidupan sosial. Bertahan pada kehidupan yang berlumuran kezaliman pada orang lain, harta yang didapat dari sesuatu yang bukan haknya, mulut yang penuh dengan makian dan celaan yang meremukkan hati orang lain dan lain sebagainya, akan menjadi penghalang untuk bisa mendapat hidayah dan petunjuk dari Al-Qur'an, seberapapun keras dan gigihnya ia mempelajari dan mentadabburi al-Qur'an. Sebab tujuan di turunkannya ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an justru untuk memerangi kezaliman dengan menyebarkan dan menegakkan keadilan (baca Qs. Al Hadid ayat 25). Mereka yang menginjak-injak keadilan dengan menebar kezaliman dan berbuat kerusakan, pada hakikatnya sedang berperang dengan Al-Qur'an. Jadi mungkinkah, Al-Qur'an akan memberi petunjuk pada mereka yang justru memeranginya?.

Ketiga, zalim kepada diri sendiri

Setiap diri punya potensi untuk bisa menjadi orang yang berhasil, sukses, berkembang, maju dan mencapai derajat yang tinggi dalam kemanusiaanya serta menjadi hamba Allah yang terkasih. Jika potensi tersebut dimatikan, dihambat ataupun dilarikan kejalur yang salah, dilumuri dengan dosa-dosa dan kedurhakaan, maka itu adalah kezaliman. Seseorang yang memilih kehidupan yang bergelut dengan dosa, pembangkangan dan kedurhakaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka ia hakekatnya menzalimi diri sendiri. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri." (Qs. Yunus: 44). Yang termasuk zalim pada diri sendiri, adalah tidak menggolongkan diri pada kelompok orang-orang yang bertobat, "...dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (Qs. Al Hujuraat: 11). Kepada mereka yang menzalimi dirinya, Allah memberi kesempatan untuk bertaubat, bahkan dengan bahasa yang romantik, Allah merayu, ""Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Tuhanmu. Sesungguhnya Tuhan mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Az-Zumar: 53). Namun ketika tawaran itu ditampik, maka itu artinya menzalimi diri sendiri. Kesimpulannya, mungkinkah Al-Qur'an memberi manfaat pada mereka yang justru membelakangi dan menolak seruan Al-Qur'an?.

Wallahu 'alam Bishshawwab

 


source : www.abna.ir
99
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Rahasia Keagungan Sayidah Fatimah as
Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 120-124
Larangan Allah Mendekati Perbuatan Keji
Mengapa Abdul Mutthalib memberikan nama anaknya dengan nama Abdul Uzza?
Adab-adab Berdoa
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 3-6
Studi Kritis Hadits "Berpegangan kepada al-Quran dan as-Sunnah"
Derajat Orang-orang Dermawan
Apa makna dari kesadaran diri menurut al-Qur’an?
Sifat Jamal dan Jalal Ilahi

 
user comment