Indonesian
Tuesday 9th of March 2021
691
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Qurban: Sebuah Refleksi Psiko-Historis

Qurban: Sebuah Refleksi Psiko-Historis

Dalam tafsiran gramatikal, qurban berarti upaya serius untuk mendekatkan diri dengan mempersembahkan bukti sebagai tanda kesungguhan. Dalam tafsiran psikologis, qurban merupakan ritual rutin yang cukup dramatis dan problematik. Dramatis, karena ritual qurban ini diadopsi dari persembahan nabi Ibrahim as yang rela menyembelih anaknya, Ismail as, sebagai bukti kecintaannya kepada Sang Rabb.

Oleh: Sabara Nuruddin*

Qurban: Sebuah Refleksi Psiko-Historis

"Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur yang sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata, " Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!". Ia (Ismail) menjawab; " Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS, Al-Shaaffat (37) : 102).

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya) (nyatalah kesabaran keduanya)." (ayat 103)

"Dan kami ganti anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (ayat 107)

Daging unta itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah dan tidak (pula) darahnya, tetapi takwa daripada kamulah yang dapat mencapainya... (QS. Al-Hajj (22) : 37).

Dalam tafsiran gramatikal, qurban berarti upaya serius untuk mendekatkan diri dengan mempersembahkan bukti sebagai tanda kesungguhan. Dalam tafsiran psikologis, qurban merupakan ritual rutin yang cukup dramatis dan problematik. Dramatis, karena ritual qurban ini diadopsi dari persembahan nabi Ibrahim as yang rela menyembelih anaknya, Ismail as, sebagai bukti kecintaannya kepada Sang Rabb. Ibrahim as, diuji oleh Allah kecintaannya dengan mempersembahkan semua kecintaan-kecintaanya yang lain sebagai bukti keseriusan kecintaan kepada Allah swt, Sang Kekasih sejati. Ali Syari'ati mendeskripsikan secara puitis, kondisi psikologis yang dialami nabi oleh Ibrahim as pada saat turun perintah qurban tersebut;

"Ibrahim mempunyai dua alternatif, mengikuti jeritan hatinya dan "menyelamatkan" Ismail, atau mengikuti perintah Tuhan dan "mengorbankan" Ismail. Ia harus memilih salah satu!. "Cinta" dan "kebenaran", sedang berkecamuk dalam hatinya (cinta yang merupakan kehidupannya dan kebenaran yang merupakan keyakinannya)."

Selain itu Syari'ati juga mendeskripsikan tafsiran reflektif qurban dalam konteks psikologis manusia secara umum:

"Kini engkau akan berperan sebagai Ibrahim, ia membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan. Siapa atau apa yang menjadi "Ismailmu"?. Jabatan, kehormatan, atau profesimukah?. Uang, rumah, ladang pertanian, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, seni, pakaian, ataukah nama?...Siapa pun atau apa pun, engkau harus membawanya untuk dikorbankan disini...yang harus kau korbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan imanmu, yang menahanmu untuk melakukan "perjalanan", yang membuatmu enggan untuk memikul tanggung jawab, yang menyebabkanmu bersikap egoistis, yang membuatmu tidak dapat mendengarkan pesan dan mengakui kebenaran dari Tuhan, yang membuatmu "melarikan diri" dari kebenaran, yang menyebabkanmu berkilah demi kesenangan, yang membuatmu buta dan tuli. Engkau berada di posisi Ibrahim, dan yang menjadi kelemahan Ibrahim adalah perasaan cintanya kepada Ismail... Bayangkanlah dirimu berada di puncak kehormatan, penuh dengan kebanggaan dan hanya ada "satu hal" yang demi hal itu engkau siap menyerahkan apa pun dan mengorbankan kecintaan lain demi meraih cintanya. Itulah Ismailmu! Ismailmu bisa berwujud manusia, obyek, pangkat, jabatan, atau bahkan "kelemahan".

Dengan kata lain, secara psikologis, ritual qurban mengingatkan manusia untuk memberikan segala hal berharga yang dimilikinya, yang berpotensi untuk memalingkan perhatian, kecintaan, dan pengabdiannya kepada Allah. Qurban mengajarkan kepada manusia untuk menjadi merdeka dengan tidak memperhambakan diri kepada segala sesuatu selain Allah. Qurban juga mengajarkan bahwa segala realitas selain Allah adalah nisbi dan hanya Dialah yang Mutlak. Orang yang berhasil menyembelih "Ismailnya" maka dalam Alquran "Ismail" itu diganti dengan "sembelihan yang besar". Dalam tafsiran gramatikal kata zibhil azhim bermakna sembelihan yang besar atau agung. Kata zibhil berarti menyembelih secara harfiah. Namun, jika ditafsirkan secara psikologis, "sembelihan besar" yang dimaksud adalah "ego subyektif" kita, yang kita sembelih untuk mencapai kemerdekaan sebagai hamba dan kedekatan kepada Allah. Itulah sebabnya dalam surat al-Hajj, Allah mengatakan yang sampai kepadaNya adalah takwa dalam artian kesungguhan dan ketulusan untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Secara historis-obyektif, binatang ternak, seperti unta dan domba pada dimensi nilainya di bangsa Arab di zaman nabi Muhammad saww merupakan harta kekayaan yang sangat berharga. Karena, semakin orang memilikinya, semakin kaya dan tinggi pula status sosialnya di mata bangsa Arab. Dalam konteks sosio-kultural bangsa Arab, daging binatang ternak merupakan konsumsi sehari-hari bagi bangsa Arab. Sampai di sini, secara historis dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa binatang ternak (unta, domba, dan kambing) pada masa nabi Muhammad saw merupakan barang yang sangat berharga dan simbol prestise sosial di tengah masyarakat.

Secara historis-obyektif pula, qurban yang dilakukan oleh sang bapak para nabi tersebut (nabi Ibrahim as) tersebut dipraktekkan secara seremonial oleh Rasulullah saw di masanya. Dengan mengajak umat Islam secara massif di zamannya untuk mengorbankan hewan ternaknya, yang pada saat itu merupakan barang yang sangat berharga sebagai perwujudan atas kecintaan dan ketaatan kepada Allah swt. Pengorbanan hewan ternak juga merupakan simbolisasi atas perwujudan rasa empati kepada sesama, dengan saling berbagi kenikmatan dan kebahagiaan yang disimbolkan dengan daging binatang ternak.

*) Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar

 


source : www.abna.ir
691
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Makna dan Hakikat Sabar
Tafakur
Tafsir Surah Al-Qadr
Kisah Bijak Sufi: Makin Bertambah Makin Hilang
Agama dan Akhlak
George Jordac: Saya Menganggap Diri Saya bagian dari Syiah Ali As
Akhlak dan Ilmu Akhlak
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 7-10
Doa Nadi Ali dan kegunaannya
Kumpulan Fatwa Rahbar Seputar Taqlid

 
user comment