Indonesian
Friday 28th of January 2022
215
0
نفر 0

Imam Ali as dan Taubat

Imam Ali as dan Taubat

 

Sumber :

Buku : taubat dalam naungan kasih sayang

Karya : Ayatullah Husein Ansariyan

Dengan mengingat pengaruh dan efek besar yang terdapat dari taubat, seperti : meraih ampunan dan rahmat Ilahi, meraih kelayakan untuk masuk ke surga, selamat dari siksa api neraka, terjauhkan dari jalan yang menyimpang, berada dalam rel yang lurus, dan bersih dari dosa-dosa dan kegelapan, maka kita bisa simpulkan bahwa aktifitas taubat bukan merupakan sebuah kegiatan yang kecil dan biasa, akan tetapi taubat merupakan sebuah aktifitas besar, luar biasa  dan sangat penting.

Taubat tidak akan terealisasi apabila seseorang hanya mengucapkan “astaghfirullah” (aku mohon ampun kepada Allah Swt) dengan disertai rasa malu dalam dirinya dan tetesan air mata, karena banyak orang yang bertaubat dengan cara seperti ini, namun selang beberapa waktu, mereka kembali lagi jatuh ke dalam dosa yang sama.

“Kembali jatuh ke dalam dosa” merupakan bukti yang paling jelas bahwa taubat yang hakiki belum terealisasi. Taubat yang hakiki merupakan hal yang sangat penting dan agung, oleh karena itu, banyak dari ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis yang menyinggung persoalan tersebut.

 

Taubat Hakiki Menurut Imam Ali as

 

Suatu saat seseorang di hadapan Imam Ali as, mengucapkan "Astaghfirulloh" (Aku memohon Ampunan kepada Allah ), maka Imam Ali as berkata kepadanya, "Semoga ibumu meratapi kematianmu. Tahukah kamu, apakah Istighfar itu? Istighfar adalah derajat orang-orang yang tinggi kedudukannya. Ia adalah nama yang berlaku pada enam makna;

  1. Pertama, penyesalan yang telah lalu.
  2. Kedua, bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan dosa itu selamanya.
  3. Ketiga, mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya (tanpa hak) sehingga kamu berjumpa dengan Allah dalam keadaan terlepas dari tuntutan seorang pun.
  4. Keempat, hendaklah kamu memperhatikan setiap kewajiban atasmu yang sebelumnya telah kamu sia-siakan sehingga kamu dapat memenuhi kewajiban itu.
  5. Kelima, hendaklah kamu perhatikan daging yang telah tumbuh dari hasil yang haram, lalu kamu kuruskan ia dengan kesedihan sehingga kulit menempel pada tulang, lalu tumbuh di antaranya daging yang baru  (dari hasil yang halal).
  6. Keenam, hendaklah kamu rasakan badanmu dengan sakitnya ketaatan, sebagaimana kamu telah merasakannya dengan manisnya kemaksiatan. Maka, ketika itulah, kamu layak mengucapkan "Astaghfirulloh"

 Dinukil dari buku taubat dalam naungan kasih sayang, karya Ayatullah Husein Ansariyan.

215
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Bahasa rasulkan sudah fasih mengapa masih ada ilmu gharibil hadits? gharibil hadits ...
Apakah Allah Swt Penyebab Manusia Celaka
Syarat-syarat wajibnya puasa
Apa defenisi kemandirian ekonomi itu dalam satu negara?
filsafat penciptaan setan
Rezim Zionis Larang Perlombaan Menandai Hari Tahanan Palestina
Rahasia Puasa
Keberuntungan dalam Perspektif Islam
Menyoroti Perjanjian Lama
Apakah dalam tafsir Kasyf al-Asrâr karya Khaja Abdullah Anshari tertulis pembahasan ...

 
user comment