Indonesian
Monday 8th of March 2021
70
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Esensi Takwa

Esensi Takwa

Oleh: Maman Abdurrahman

Kata takwa sering dimaknai dengan khasyyatullah (takut pada Allah). Selain itu, ia juga dimaknai secara definitif sebagai imtitsalul awamir wa ijtinabun-nawahi (melaksanakan segala perintah [Allah dan Rasul] serta menjauhi segala larangan-Nya).

Dalam membangun karakter bangsa, kata takwa ini harus menjadi fondasi. Karena takwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakter yang dibutuhkan. Dan, ibadah yang diperintahkan pun bertujuan untuk meraih predikat takwa.

Secara rinci, sifat-sifat takwa secara spiritual dan sosial diterangkan Alquran dan hadis Rasulullah SAW. Pada awal surah al-Baqarah [2], misalnya, masalah ketakwaan serta sifat-sifatnya, di antaranya, disebut pada ayat 2-4 (muttaqin). Orang yang bertakwa itu akan memperoleh al-falah (kebahagiaan), baik di dunia maupun akhirat.

Pada surah Ali Imran [3]: 133-135 disebutkan pula sifat takwa itu, yakni orang yang selalu menafkahkan hartanya pada waktu senang dan susah, menahan amarah, dan pemaaf terhadap orang lain, selalu zikir pada Allah, dan bertaubat ketika telah melakukan kesalahan.

Keberhasilan membangun karakter muttaqin adalah kesuksesan membangun umat dan bangsa. Takwa merupakan fondasi penting dalam membangun karakter bangsa ini. Ketakwaan harus menjadi bekal dalam kehidupan keseharian, baik sosial maupun politik.

Rasulullah SAW selalu membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan takwa ketika menasihati calon pengantin. "Takwalah kepada Allah dalam (menghadapi) perempuan-perempuan. Sesungguhnya mereka adalah "mitra" yang ada dalam penguasaan kalian.”

Haji adalah ibadah yang dilakukan pada waktu  dan tempat tertentu, serta dengan tata cara yang khusus dan banyak berinteraksi dengan yang lain. (QS al-Baqarah [2]: 197). Dalam ayat ini, jamaah dilarang berkata rafats (ucapan dan perbuatan tidak senonoh, walau pada istri); tidak fasiq (berbuat dosa), dan jidal (konflik). Maka, takwa harus menjadi bekal untuk para calon haji tersebut.

Tanpa bekal takwa ini haji yang mahal dengan menunggu waktu dan penantian yang panjang serta perjalanan yang jauh dan menguras tenaga, maka hajinya akan menjadi tanpa makna. Takwa yang dibawa ketika berhaji dan menjadi bekal utama, harusnya dibawa kembali ke tempat asal (daerah), sehingga ia menjadi pribadi muttaqin.

Karakter muttaqin ini sangat didambakan setiap para haji. Sebab, hanya dengan karakter takwa yang akan menjadi penjaga dan pemelihara dirinya, keluarganya, bangsa, dan negara.

Dengan takwa, tidak akan ada tindakan yang haram di negeri ini, seperti korupsi, perampokan, dan zina. Karena banyak yang sudah muttaqin dan bergelar haji yang sudah mampu memelihara ketakwaannya.

Haji mabrur adalah harapan setiap orang yang melaksanakan haji. Karena kemabruran itulah yang akan membebaskan dirinya dari api neraka, bahkan dijamin masuk surga. Nilai-nilai haji mabrur yang bersumber dari ketakwaan ini, hendaknya tertanam dalam setiap hati umat untuk membangun karakter bangsa yang maju dan kuat. Wallahu a'lam.


Redaktur: Chairul Akhmad

source : http://www.republika.co.id
70
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

George Jordac: Saya Menganggap Diri Saya bagian dari Syiah Ali As
Akhlak dan Ilmu Akhlak
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 7-10
Doa Nadi Ali dan kegunaannya
Kumpulan Fatwa Rahbar Seputar Taqlid
Asyura, Mengukir Semangat Juang dan Cinta
Mengapa pada surah al-Baqarah disebutkan, “Dzalika al-kitab” dan tidak disebutkan “Hadza ...
Tanda-Tanda Sebelum Kemunculan Imam Mahdi afs
Posisi Manusia dalam Sistem Penciptaan
Yazid dalam Timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah

 
user comment