Indonesian
Monday 8th of March 2021
99
0
نفر 0
0% این مطلب را پسندیده اند

Jawaban Imam Shadiq as Kepada Penyembah Dua Tuhan

Suatu hari seorang penyembah Dua Tuhan menghadap Imam Shadiq as dan berusaha untuk membela keyakinannya. Ia meyakini bahwa dunia ini memiliki Dua Tuhan; baik dan buruk.

 

Imam Shadiq as dalam menolak keyakinan Dua Tuhan mengatakan, "Bila engkau mengakui Tuhan ada dua, maka keyakinan ini tidak akan keluar dari tiga gambaran berikut:

 

1. Keduanya kuat.

2. Keduanya lemah.

3. Satunya kuat dan lainnya lemah.

 

Dalam gambaran pertama, mengapa yang satu tidak mengalahkan yang lain, sehingga hanya ia satu-satunya yang berkuasa atas dunia? Karena satu dunia satu pengelola, maka hanya Allah sebagai yang Maha Kuasa.

 

Dalam gambaran yang ketiga menunjukkan keesaan Allah dan ucapan kami menjadi buktinya. Karena yang satu kuasa dan yang lainnya lemah.

 

Dalam gambaran yang kedua, dimana kedua-duanya lemah, maka ada kemungkinan keduanya sama dari satu sisi dan dari sisi lain berbeda. Dalam hal ini harus ada titik perbedaan yang membuat satunya memiliki dan yang lain tidak . Titik perbedaan ini juga harus sesuatu yang ada dan qadim dan sejak awal ada pada keduanya, sehingga dualisme ini tetap benar. Dalam kondisi yang demikian akan terwujud tiga Tuhan. Dengan penjelasan sebelumnya, maka akan ada empat, lima dan seterusnya Tuhan. Artinya, kita haus meyakini jumlah Tuhan yang tidak terhingga."

 

Hisyam bin Hakam mengatakan, "Satu dari sejumlah pertanyaan orang penyembah Dua Tuhan itu tentang penyembah Dua Tuhan, tapi engkau membawa pembahasan ini pada masalah inti keberadaan Allah."

 

Ia kemudian bertanya kepada Imam Shadiq as, "Argumentasi Anda sendiri tentang keberadaan Allah seperti apa?"

 

Imam Shadiq as menjawab, "Keberadaan semua yang telah diciptakan ini menunjukkan ada yang menciptakannya. Begitulah ketika engkau menyaksikan gedung yang kokoh berdiri, maka engkau akan meyakini bahwa bangunan itu ada yang membangunnya, sekalipun engkau tidak melihatnya."

 

Orang penyembah Dua Tuhan ini bertanya, "Siapa Tuhan itu?"

 

Imam Shadiq as menjawab, "Allah sesuatu yang berbeda dengan segala sesuatu. Dengan kata lain, hakikat sesuatu tapi tidak berupa materi dan bentuk. Tidak dapat dipahami lewat panca indera dan khayalanpun tidak dapat menjangkau-Nya. Sementara berlalunya waktu tidak dapat mengurangi dan mengubahnya." (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Dastanha-ye Usul Kafi, Mohammad Mohammadi Eshtehardi, 1371Hs,  jilid 1.


source : http://indonesian.irib.ir
99
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 1-5
Apa manfaat belajar IPTEK (ilmu pengetahuan teknologi) untuk dunia akhirat?
Apakah maksud dari qaulan tsaqila (firman yang berat) dalam ayat “Inna sanulqi ‘alaika qaulan ...
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 103-106
Inilah Wujud Keadilan Allah bagi Makhluk-Nya
Konsep Insan Kamil dalam Perspektif Ibnu Arabi
BOHONG
Taqlid dalam Ajaran Ahlul Bait As (Bag. 1)
Putus Asa dan Hilang Harapan Adalah Ciri-Ciri Orang Kafir
Dibelahnya Dada Rasulullah saw: Fakta atau Fiksi

 
user comment