Indonesian
Saturday 16th of December 2017
code: 81613
Sayidah Fathimah; Ibu Ayahnya



Salah satu gelar Sayidah Fathimah adalah “Ummu Abiha”. Disebutkan bahwa sebab dipilihnya gelar ini untuk beliau adalah Sayidah Fathimah berperan sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang bagi ayahnya.

Sayidah Fathimah sangat mengkhawatirkan ayahnya. Sehingga orang-orang merasa bahwa Rasulullah Saw benar-benar terikat pada putrinya. Ketiadaan Sayidah Fathimah di sisi beliau, kerugian besar akan menimpa kehidupan beliau. Bila di tengah-tengah kondisi sulit dan membahayakan waktu itu, Sayidah Fathimah tidak berada di sisi ayahnya, maka bertahan di hadapan segala kesulitan menyampaikan dakwah agama Islam bagi Rasulullah lebih sulit.

Blokade ekonomi-sosial selama beberapa tahun di Sy’ibi Abu Thalib, kematian Sayidina Abu Thalib dan Sayidah Khadijah; ibunya Sayidah Fathimah dalam selisih waktu yang pendek, kekurangajaran para musuh Islam terhadap Rasulullah, sejumlah perang yang sulit dan terkadang berlangsung lama antara Rasulullah dan orang-orang musyrik, dan lain-lain. Semua ini adalah sedikit dari berbagai kesulitan yang dihadapi oleh Rasulullah dan Sayidah Fathimah selalu menjadi penolong yang berani dan pendamping yang penuh kasih sayang bagi ayahnya. Sebagai contoh bisa disebutkan beberapa kasus darinya:

Selama Abu Thalib; paman Rasulullah Saw masih hidup sedikit orang yang bersikap kurang ajar terhadap Rasulullah Saw. Namun sepeninggal Abu Thalib pada tahun kesepuluh hijriah, gangguan orang-orang Musyrik sangat tinggi. Sehingga suatu hari salah satu orang musyrik menumpahkan sampah ke atas kepala dan wajah Rasulullah Saw. Rasulullah tidak membalasnya sama sekali dan pulang ke rumah untuk membersihkan kepala dan wajahnya juga pakaiannya.

Sayidah Fathimah yang tidak tahan menahan kesedihan Rasulullah, karena kemazluman ayahnya, beliau menangis tersedu-sedu dan meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk membersihkan bajunya.

Rasulullah Saw bersabda, “Putriku! Jangan sedih dan menangis! Allah akan menjaga ayahmu dari kejahatan musuh dan mereka tidak akan bisa menciderai ayahmu.”

Putriku Bersabarlah!

Suatu hari Sayidah Fathimah berdiri di sisi kabah. Saat itu beliau melihat sejumlah orang musyrik sedang berbincang-bincang. Sayidah Fathimah merasa bahwa mereka sedang bermusyawarah tentang sesuatu dan ketahuan bahwa mereka sedang menyusun rencana jahat. Sayidah Fathimah penasaran dan ingin tahu apa rencana mereka, akhrinya tahu bahwa mereka bersumpah demi Latta dan Uzza; dua berhala besar orang-orang Quraisy untuk membunuh Rasulullah.

Sayidah Fathimah segera menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian yang ada. Rasulullah membelai putrinya dan menenangkan hatinya. Kemudian Rasulullah berkata, “Putriku! Sebentar aku akan berwudhu.”

Sayidah Fathimah segera mengambil air dan Rasulullah Saw berwudhu kemudian pergi di sisi Ka’bah. Ketika Rasulullah Saw pergi menuju Ka’bah, orang-orang Musyrik berkata, “Bersiagalah. Muhammad datang.”

Namun begitu Rasulullah Saw sudah mendekat, semuanya tercengang menyaksikan wajah Rasulullah yang bercahaya dan mereka tidak bisa bergerak dari tempatnya. Rasulullah mendekati mereka dan mengambil sedikit tanah dari bumi dan menaburkannya kepada mereka seraya berkata, “Laknat Allah atas kalian!”

Disebutkan bahwa semua orang yang ditaburi tanah oleh Rasulullah terbunuh di dalam perang Badar.

Pendidikan Anak-Anak

Sayidah Fathimah sangat antusias dalam beribadah. Sebagian besar umurnya dipakai untuk beribadah. Dikatakan bahwa terkadang beliau mengerjakan salat dari malam sampai pagi dan bermunajat kepada Tuhannya.

Rasulullah Saw mengatakan, “Setiap kali putriku berdiri salat di mihrabnya, para malaikat berkata, “Lihatlah! Ini adalah cahayanya wajah Zahra yang bersinar dari bumi.”

Sayidah Fathimah memahami nilai sejati ibadah. Beliau berharap anak-anaknya juga menjadi orang mukmin yang sejati dan memahami lezatnya ibadah. Itulah mengapa beliau memutuskan untuk membiasakan anak-anaknya; Hasan dan Husein beribadah sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu beliau mengajari mereka untuk berlatih ibadah supaya kelezatan iman memenuhi jiwa mereka sedikit demi sedikit.

Terkadang di malam-malam Qadar beliau berkata kepada Hasan dan Husein agar beristirahat dengan baik di sore hari. Kemudian membangunkannya di pertengahan malam dengan penuh kasih sayang seraya berkata, “Anak-anakku sayang! Malam ini adalah malam yang mulia! Allah senang bila hamba-hambanya tidak tidur di malam ini dan bermunajat kepada-Nya...”

Terkadang juga menyuruh Hasan dan Husein ikut ayahnya ke masjid supaya salat di masjid bersama ayahnya dan mempelajari jalan dan cara ayahnya.

Para Pecintamu sebagai Ahli Surga

Sayidah Fathimah adalah pendamping yang baik bagi suaminya, sebagaimana pendamping yang baik bagi ayahnya ketika dalam kondisi sulit. Dalam berbagai kondisi beliau membela suaminya.

Setelah pernikahan Sayidah Fathimah dengan Sayidina Ali, para wanita Madinah berkata kepada Sayidah Fathimah, “Ayahmu telah menikahkan kamu dengan seorang lelaki yang tidak punya harta kekayaan. Kamu adalah putri Rasulullah dan harus hidup lebih baik...”

Dalam kondisi seperti ini, beliau menjawab mereka, “Ali adalah orang dekat pada Allah dan pendamping Rasulullah dan aku sangat senang sebagai istrinya Ali.”

Beliau juga berkata kepada ayahnya, “Ayah! Aku adalah putrimu. Tapi seperti masyarakat biasa, maharku uang dan dirham.”

Rasulullah Saw bersabda, “Mahar apakah yang layak dan sesuai denganmu?”

Sayidah Fathimah berkata, “Saya meminta kepada Anda, agar maharku bukan uang dan perak. Sebagai gantinya, mintakan kepada Allah agar para pecintaku tidak disiksa dengan api neraka!”

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya para pecintamu berada di dalam surga.”

Kemudian bersabda, “Bumi sebagai maharmu. Oleh karena itu siapa saja yang memusuhimu dan berjalan di muak bumi, maka dia akan berada di dalam api neraka.”

user comment
 

latest article

  SHALAT DALAM HADIS RASULULLAH SAW
  3 Tips Al-Qur’an agar Doa Cepat Terkabul
  Makna Penyempurnaan Karunia Allah dalam Doa Arafah
  Syarat Terkabulnya Doa
  Agama dan Akhlak
  Ali bin Abi Thalib dan anak yatim
  Dimanakah pedang Dzulfiqar Imam Ali As sekarang ini?
  Negara dalam Perspektif Imam Ali
  Tawassul, Tanda Cinta Nabi pada Ummatnya
  Dosa-dosa Besar dan Dosa-dosa Kecil (I)