Indonesian
Tuesday 16th of July 2019
  1555
  0
  0

Sedikit Tentang Keadilan

 

Oleh: Diding Sudirman

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah sekalipun (kesaksian ini) merugikan diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. (Karena) jika mereka kaya ataupun miskin, maka Allah lebih utama melindungi mereka. Oleh karena itu,  janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menyampaikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.” [QS. An-Nisa: 135]

Beberapa waktu yang lalu diketahui bahwa sebuah universitas terkenal di Amerika Serikat, Universitas Harvard, mengutip ayat al-Quran sebagai kata-kata emas. Universitas ini mengukir sebuah ayat al-Quran tentang keadilan dalam bentuk terjemahan di pintu gerbang fakultas hukum. Universitas Harvard bukanlah perguruan tinggi yang mengatasnamakan Islam. Hal ini membuktikan al-Quran bersifat universal dan tidak mengenal tempat serta komunitas. Al-Quran sesuai dengan nilai kemanusiaan di kalangan manapun. Keuniversalannya melingkupi segala bidang, termasuk dalam hal ini nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang disodorkan oleh konsep al-Quran.

Sejak kemunculannya, Islam menyodorkan konsep dan praktek dari keadilan universal. Sebagai penutup para nabi, Rasulullah saw mengemban misi dari seluruh nabi yang hadir sejak pertama kali manusia ada. Misi para nabi adalah menegakkan keadilan, sehingga manusia hidup dalam kebahagiaan dan pengabdian yang damai kepada Tuhan, kemanusiaan dan lingkungan. Allah swt dalam surah al-Hadid ayat 25 mengatakan, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”

Berbuat adil seperti memegang bara api. Jika api digenggam maka tangan akan terbakar dan jika api dilepas maka akan kehilangan cahaya. Demikian beratnya, sehingga sulit untuk berlaku adil sekalipun terhadap kawan sendiri, apalagi terhadap orang yang tidak sepaham. Terlebih lagi apabila keadilan diterapkan terhadap musuh yang jelas berseberangan dalam segala hal.

Keadilan tidak bisa dipisahkan dari kejujuran. Kejujuran yang harus ditujukan kepada diri sendiri dan kejujuran atas kebenaran yang seringkali justru berada di pihak lain yang terlanjur dideklarasikan sebagai lawan perjuangan.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dalam Ghurar Al-Hikam mengatakan, “Berbuatlah bijaksana kepada manusia, baik kepada diri sendiri, keluarga, orang-orang dekat dan orang-orang yang engkau sukai. Dan berbuat adillah kepada kawan dan musuh.”

Berlaku adil bagi para pemimpin merupakan hal yang sangat berat, baik pemimpin formal maupun orang yang kebetulan mempunyai massa. Kadang untuk menjaga imej dan loyalitas bawahannya ia sengaja menurunkan standar keadilan dan mengamini pendapat mayoritas agar tidak terdepak dari kekuasaan yang begitu manis melebihi gula-gula.

Imam Ali as adalah contoh keadilan setelah Rasulullah saw sepanjang zaman. Bahkan beliau adalah keadilan itu sendiri. Hingga di saat mendekati wafat dan kesyahidannya sekalipun, beliau senantiasa berlaku adil. Ketika itu Abdurrahman bin Muljam sang pelaku pembunuhan terhadap Imam dengan sabetan pedangnya di kepala suci Imam berhasil ditangkap. Imam Ali as berwasiat supaya berlaku adil dan tetap memperlakukan pembunuhnya dengan baik. Imam memerintahkan hukuman dilakukan sebatas melaksanakan qisas.

Amirul Mukminin as terkenal sebagai orang yang berbuat adil terhadap musuhnya. Dikisahkan ketika dalam sebuah peperangan, Imam Ali as berhasil mendesak seorang musuh dan hendak membunuh orang yang menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya tersebut. Namun, ketika Imam Ali as mengayunkan pedang hendak memenggalnya, orang itu meludahi beliau. Seketika juga beliau mengurungkan niat untuk membunuhnya dan kembali menarik dzulfiqar-nya. Ketika ditanya kenapa tidak membunuh orang yang jelas menjadi musuh Allah dan Rasulullah tersebut, beliau mengatakan bahwa harus tetap berlaku adil sekalipun terhadap musuh. Sewaktu beliau akan membunuhnya, hal itu murni karena menjalankan perintah agama memerangi orang yang melawan dan menyerang agama Allah. Niat memerangi musuh-musuh Allah hanyalah mengharapkan rida-Nya semata. Namun ketika musuh meludahinya, beliau khawatir proses perang dan membunuh musuh yang dilakukannya tidak lagi berdasarkan niat suci Ilahi, tapi karena emosi, sakit hati dan dendam pribadi kepada orang tersebut. Dengan demikian, membunuh musuh hanya akan didasarkan pada kepentingan pribadi dan bukan lagi sesuai parameter keadilan agama.

Beliau juga dalam setiap peperangan mengikuti ajaran Rasulullah saw dengan tidak pernah mengejar musuh yang lari, tidak menganiaya musuh yang menyerah dan tidak pernah berbuat berlebihan terhadap musuh yang lemah. Beliau membumikan agama Rasulullah saw yang mengatur perang dengan tindakan adil terhadap semua musuh, orang-orang tua yang lemah, para wanita dan anak-anak, bahkan terhadap hewan, tumbuhan dan lingkungan.

Sekarang kita melihat negara-negara yang disebut adidaya sangat senang melakukan tindakan sewenang-wenang dan berlaku zalim terhadap negara lain yang dinilainya lebih lemah. Mereka melakukan penjajahan dan pembunuhan-pembunuhan masal terhadap penduduk bumi. Tidak hanya melakukan tindakan represif terhadap setiap orang atau kelompok yang berlawanan paham dengannya, mereka juga dengan dalih “terorisme” berusaha menghabisi setiap pengkritiknya. Hegemoni dilakukan bukan saja dalam bentuk terselubung, bahkan serangan militer dan pelanggaran HAM juga menjadi program dan agenda resmi. Propaganda tentang terorisme dan kejahatan sosial diterapkan kepada lawan-lawan politiknya. Hak veto digunakan sesuai hati. Istilah resolusi menjadi senjata ampuh bagi mereka untuk menekan pihak lain dengan memberlakukan embargo ekonomi, teknologi dan informasi. Padahal embargo adalah bagian dari kejahatan kemanusiaan internasional yang disengaja. Khususnya embargo ekonomi merupakan tindakan di luar peri kemanusiaan. Hukum internasional sering menjadi alat kepentingan sekelompok negara, bahkan segelintir orang saja. Alih-alih menjaga keamanan dan ketertiban dunia, hal ini dilakukan sebagai dalil untuk melancarkan kejahatan sosialnya. Merekalah yang melakukan penjajahan kemanusiaan dan kejahatan lainnya yang menghancurkan perdamaian dan ketertiban dunia dengan serangan-serangannya terhadap negara lain.

Hal ini pun tidak jarang dilakukan oleh individu-individu untuk menjaga eksistensi kekuasaan dan pengaruhnya. Sebagian para pejabat negara hidup dengan politik yang rendah dan kotor. Mereka melakukan segala cara politis yang dianggapnya mungkin untuk melindungi posisinya. Mereka bersama orang-orang kaya lainnya hidup bermegah-megah dan mewah di tengah masyarakat yang hidup serba kekurangan. Dalam dirinya tidak lagi muncul perasaan terenyuh melihat kemiskinan dan kesengsaraan ekonomi, sosial dan pendidikan yang menimpa masyarakat di sekitarnya. Bahkan dengan tunggangan politiknya, mereka memanfaatkan kondisi realitas masyarakat dan dijualnya demi sebuah proyek proposal. Sebagai contoh kecil adalah program-program reality show yang marak di media elektronik dalam negeri. Mereka menjual kemiskinan negerinya sendiri untuk keuntungan sakunya.

Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah khutbah ke-209 mengatakan: “Allah swt mewajibkan para pemimpin adil untuk mencukupkan kehidupan mereka sesuai standar kehidupan orang yang tidak mampu, sehingga orang fakir tidak mengeluh atas kefakirannya.”

Memprihatinkan ketika kita menyaksikan bahwa ketidakadilan banyak terjadi di negeri-negeri yang terbilang dihuni oleh mayoritas muslim. Dan yang lebih menyedihkan sikap ini muncul dari orang-orang yang mengaku muslim sendiri. Seharusnya kita merasa malu dengan realitas kehidupan muslim yang penuh dengan ajaran keadilan, malah dikotori dengan meninggalkan ajaran agung tersebut. Mungkin saja hal ini karena ketidaktahuan atas ajaran luhur Islam. Namun, ironisnya justru di kehidupan orang-orang yang secara formal bukan muslim, ternyata mereka mengenal dan memiliki penghargaan atas nilai-nilai keadilan yang diajarkan Islam.

Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, media Republika Online (18/1) mengabarkan bahwa Universitas Harvard yang didirikan di Cambridge, Massachusetts, pada tahun 1636 mengukirkan salah satu ayat al-Quran sebagai bentuk penghormatan di tembok yang menghadap pintu masuk utama fakultas hukum. Universitas tertua di Amerika Serikat itu mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan dan menyebut ayat suci ini sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah. Kutipan yang dianggap terjemahan dari al-Quran surah an-Nisa ayat 135 tersebut berbunyi:

“O ye who believe! Stand out firmly for justice, as witnesses to Allah, even as against yourselves, or your parents, or your kin, and wether it be (against) rich or poor: for Allah can best protector both.”

Terlepas apakah Harvard dan orang-orang di luar Islam mengamalkan pesan ayat tersebut atau tidak, fenomena ini menyinggung pribadi kita untuk lebih memperhatikan lagi ajaran agama kita sendiri, terutama mengenai nilai luhur keadilan. Sehingga apa yang diajarkan Allah swt melalui Rasulullah saw dan para Imam Makshum as menjadi acuan dan parameter kita dalam mengejawantahkan sikap adil di tengah-tengah kehidupan ini. []


source : www.hpiiran.com
  1555
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

      Apakah ada ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kaum Israel dan Palestina?
      Bagaimana pandangan Islam terkait dengan asuransi?
      Manakah yang lebih utama membaca al-Quran secara langsung melalui lembarannya atau melalui komputer ...
      Bagaimana pandangan para ahli tafsir terkait dengan apakah ayat Bismillah merupakan bagian surah ...
      Berapa kalikah nama Nabi Isa disebutkan dalam al-Quran?
      Apa perbedaan antara waqâr dan sakinah? Saya ingin tahu apakah terdapat ayat dan riwayat tentang ...
      Apa makna dari kesadaran diri menurut al-Qur’an?
      Apakah ada dalam al-Quran sebuah ayat yang berbicara tentang estetika dan keindahan?
      20 Pesan Imam Ali as
      Syiah di bawah naungan Imam Ali as

 
user comment