Indonesian
Thursday 20th of June 2019
  704
  0
  0

Mengenang 40 Hari Kesyahidan Hamamah

Mengenang 40 Hari Kesyahidan Hamamah

Hertasning Ichlas, SH. MH 

 

 

Dalam setiap kematian, kita yang hidup selalu dapat mengambil pelajaran. Kematian orang penting dan orang besar, atau kematian seorang buruh tani di sebuah dusun terpencil di Sampang, Madura.

 


Namanya Muhammad Hasyim, menurut kakak perempuan dan abangnya, usia Muhammad Hasyim sekitar 45 tahun. Biasa disapa dengan nama Hamamah yang dalam bahasa Arab berarti Burung Merpati.

 


Hamamah orang asli Sampang. Tepatnya di Kecamatan Omben sekitar Desa Bluuran dan Karang Gayam yang terpencil sekaligus terbelakang. Selama hidupnya dia nyaris bukan siapa-siapa. Sampai kemudian kematiannya datang memancarkan siapa dirinya.

 


Hamamah seorang petani penggarap yang dikenal ulet karena mau bekerja apa saja. Dia ayah yang pendiam tetapi suka menolong sesama warga. Hidupnya jauh dari berkecukupan. Ketika para warga hendak mengenangnya, dia lebih sering dikenang sebagai orang yang kekurangan dalam penghidupan tetapi sekaligus pekerja keras. Sebuah ironi khas petani dan buruh di Indonesia. 

Pada 26 Agustus 2012, sekitar pukul 11an, Hamamah tewas mengenaskan dikeroyok massa dalam sebuah penyerangan dan pembakaran rumah serta properti yang kedua kalinya terhadap warga Muslim Syiah di kampungnya di Karang Gayam dan Bluuran, Sampang.

 


Hamamah disabet celurit, parang dan lemparan batu dari para pengeroyoknya justru ketika dari mulut Hamamah keluar tawaran damai, permohonan maaf, dan sebentuk nasihat tentang Allah dan Rasulnya yang mengajarkan kasih sayang dan dialog tentang kebenaran. Tetapi kebenaran yang sama, yang diyakini Hamamah, telah menuntut pengorbanan dirinya.

 


Bersama abangnya, Tohir 48 tahun, yang mencoba melerai dan membela adiknya Hamamah dari pengeroyokan, keduanya roboh diterjang sabetan dari belakang tubuhnya. Dalam keadaan sekarat, anak Hamamah, Muhaimin 15 tahun dan anak Tohir, Zaini 21 tahun menarik tubuh keduanya dari amuk massa, memeluk dan membawanya menjauh.

 


Dari mulut Hamamah terdengar permohonan maaf kepada semua termasuk penyerangnya. Dia mewasiatkan anaknya untuk tidak mendendam kepada pembunuhnya dan memaafkan mereka karena kebodohan dan kegelapan (hati dan akal) mereka. Hamamah meninggal dunia. Kematiannya membebaskannya dari hidup yang begitu rumit dan menindas dirinya dan warga Muslim Syiah di kampungnya.

 





Tohir, abang Hamamah yang sempat mengalami kondisi kritis, menceritakan ulang apa yang terjadi seraya meneteskan air mata dalam keadaan tergeletak lemah bersama pengungsi Syiah lainnya di GOR Sampang. Air mata Tohir pecah mengalir tanpa disertai wajah sesugukkan apalagi meratap.

 


Matanya tegar menatap ke atas sambil mengatakan dalam bahasa Madura yang patah-patah (yang tak saya mengerti) yang kira-kira setelah diterjemahkan artinya “…saya ini orang awam, saya kosong, semua ini tak ada artinya, kami ikhlas. Kami hanya mengharap ridha Allah dan syafaat Rasulullah. Saya hanya ingin damai. Tak ada dendam. Saya orang awam. Mestinya saya yang mendatangi kalian, bukan didatangi seperti ini, maafkan saya.” 

 


Melalui Ustad Tajul Muluk, Ustad Muslim Syiah di Sampang, Pak Hamamah dikenal sebagai murid Tajul dan ayahnya Kyai Makmun yang sangat setia. Ketika Tajul Muluk diusir dari Sampang oleh para pembenci Syiah ke Malang setahun lalu, Pak Hamamah adalah orang yang kerap menemani Tajul Muluk dalam pengasingan. Hamamah setia mendampingi Tajul Muluk sampai kemudian gurunya itu dipenjara sekitar bulan Juli lalu karena dituduh melakukan penodaan agama, setelah sebelumnya menjadi bulan-bulanan diskriminasi dan penindasan.

 


Dari abangnya Pak Tohir, saya menemukan siapa Hamamah. Orang biasa dari sebuah kampung udik yang mengajarkan ketegaran iman. Melalui kematiannya saya menemukan pelajaran iman yang luar biasa. Iman orang awan yang jernih dan menerobos ke lubuk hati. Iman Hamamah dan Tohir masuk menghunjam hangat di dalam hati tanpa keruwetan logika dan akal. Dalam bening kejernihan kita tahu betapa tidak relevannya mempertikaikan bungkus formal Sunni atau Syiah di hadapan iman yang begitu privat dan personal seperti ketegaran iman Hamamah dan Tohir.

Kematian Hamamah adalah catatan kaki yang melukiskan keruwetan hidup di republik ini. Batu nisan Hamamah adalah saksi bisu ke sekian kalinya tentang negara yang lumpuh di hadapan kepentingan politik picisan yang membiarkan satu kelompok eksis sendirian memberangus kelompok minoritas lainnya dengan cara apa pun termasuk pembantaian dan pengangkangan secara telanjang terhadap hukum, konstitusi dan keluhuran Pancasila.

 


Kematian Hamamah memancarkan lebih terang lagi ketertindasan kelompok minoritas pada umumnya di negeri ini. Ketika semakin jelas bagi siapa pun warga negara yang berakal budi, betapa tak adanya sikap negarawan yang tegak dan jelas membela hak hidup orang seperti Hamamah; membela hak-hak kelompok minoritas; membela kemajemukan hidup bersama di negeri ini yang begitu niscaya. Yang muncul hanyalah watak politisi penghamba kepentingan-kepentingan sesaat dan suara mayoritas. Mereka hanya pejabat yang tergopoh-gopoh menyebut-nyebut hukum ketika kebrutalan telah terjadi.

 


Saya berdoa, dari rahim ketertindasan kelompok-kelompok minoritas di Indonesia seperti kematian Hamamah, akan lahir para pemimpin-pemimpin Indonesia yang akan menyelamatkan hidup bersama, menegakkan Pancasila sejati, mengedepankan agama yang membebaskan, mencerahkan, dan memberi keadilan.

 


Kematian Hamamah adalah pengorbanan orang awam yang telah memisahkan dusta dari kata, merobohkan benci dengan cinta dan iman, meninggikan kemanusiaan dari dendam dan materi. Kematiannya telah menjamin lahirnya kembali kehidupan, yang semakin jelas harus diperjuangkan dari tangan-tangan para perusak kemanusiaan bertopeng agama.[]

 

*Direktur Eksekutif LBH Universalia

 


source : www.abna.i
  704
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

      Apakah ada ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kaum Israel dan Palestina?
      Bagaimana pandangan Islam terkait dengan asuransi?
      Manakah yang lebih utama membaca al-Quran secara langsung melalui lembarannya atau melalui komputer ...
      Bagaimana pandangan para ahli tafsir terkait dengan apakah ayat Bismillah merupakan bagian surah ...
      Berapa kalikah nama Nabi Isa disebutkan dalam al-Quran?
      Apa perbedaan antara waqâr dan sakinah? Saya ingin tahu apakah terdapat ayat dan riwayat tentang ...
      Apa makna dari kesadaran diri menurut al-Qur’an?
      Apakah ada dalam al-Quran sebuah ayat yang berbicara tentang estetika dan keindahan?
      20 Pesan Imam Ali as
      Syiah di bawah naungan Imam Ali as

 
user comment