Indonesian
Thursday 18th of July 2019
  608
  0
  0

Ada Upaya Identikkan Teroris dengan Islam

 

Terduga teroris Muhammad Thorik mengaku telah mempersiapkan dirinya sebagai eksekutor bom bunuh diri atau sebagai calon "pengantin". Rencananya, pengeboman bunuh diri akan dilakukan pada Senin (10/9/2012) ini. Saat menyerahkan diri di Pos Polisi Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Thorik diketahui membawa satu pucuk senjata api. Selain itu, di pinggangnya melingkar serangkaian pemicu bahan peledak.  Demikian dilaporkan Kompas.com.

 

"Bom bunuh diri dipersiapkan oleh Thorik untuk melakukan aksi teror hari ini," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Senin.

 

Boy menjelaskan, Thorik merencanakan aksi terornya pada empat lokasi, yaitu pertama, Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok; kedua, Pos Polisi di Salemba, Jakarta Pusat; ketiga, Kantor Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri; dan keempat, menyerang komunitas masyarakat Buddha.

 

"Ini terkait isu Rohingya di Myanmar. Hal-hal yang membuat ketidakadilan warga Muslim di Rohingya," terang Boy.

 

Seperti diberitakan, Thorik yang meracik bom rakitan di kawasan Tambora, Jakarta Barat, akhirnya menyerahkan diri ke Pos Pol Jembatan Lima, Jakarta Barat, Minggu (9/9/2012) sore.

 

Ia merupakan salah seorang buron dalam kasus meledaknya sebuah bom rakitan di Jalan Teratai 7, RT 02 RW 04, Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, pukul 14.30 WIB, pekan lalu. Awalnya, warga menyangka ada kebakaran. Warga sekitar lalu mendatangi rumah tersebut dan mendapati benda peledak yang diduga dimilik Muhamad Thorik (32). Saat warga mendekat, Thorik justru kabur dengan masih mengenakan sarung ke arah Jembatan Lima.

 

Tim Gegana langsung mengamankan benda berbahaya itu untuk diteliti lebih lanjut. Di lokasi, aparat kepolisian juga menemukan lembaran pembuatan racun, detonator, bahan-bahan kimia yang diduga black powder, belerang, sejumlah paku, dan lima buah pipa paralon yang berisi paku di kamar Thorik. Belum diketahui pasti tujuan Thorik memiliki bahan-bahan peledak ini. Thorik merupakan salah seorang warga yang masuk dalam pantauan kepolisian. Menurut Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Suntana, Thorik juga ikut terlibat dalam kelompok radikal yang dipantau kepolisian.

 

Thorik Terinspirasi Imam Samudra

 

Tempo dalam fokusnya menyebutkan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris, Ansyaad Mbai, menengarai pemicu aksi teror kelompok Thorik karena kekaguman terhadap tokoh teroris, seperti Imam Samudra dan Abu Tholut.

 

Bahkan, menurut dia, kekaguman itu bisa hanya melalui buku-buku ajaran radikal tentang jihad. "Tidak harus bertemu dengan Imam Samudra. Membaca buku yang berisi pergerakan radikal Imam Samudra saja, mereka sudah yakin terhadap yang akan mereka lakukan (jihad)," kata Ansyaad pada Senin, 10 September 2012.

 

Imam Samudra bersama Amrozi dan Muklas adalah trio bomber Bali I yang telah dieksekusi mati pada November 2008. Adapun Abu Tholut adalah terpidana 8 tahun penjara terkait dengan kasus persiapan latihan kemiliteran dan kelompok bersenjata di Aceh, Poso, dan Banten.

 

"Sulit jika seseorang sudah mengagumi tokoh-tokoh radikal seperti Imam Samudra yang memang menyebarkan ajaran radikal soal jihad," kata Ansyaad.

 

Ansyaad mengatakan, kelompok teror di Depok dan Solo merupakan bagian dari jaringan terorisme yang besar di Indonesia. "Teror Depok dan kelompok Thorik pun salah satu simpul," katanya.

 

Dia pun menilai Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) adalah organisasi teroris yang dibentuk setelah Jemaah Islamiyah bubar. Namun, menurut dia, JAT hanya mengganti "baju". Soalnya, Amir atau pemimpinnya tetap. "Sekarang di penjara, tapi masih terus memberikan provokasi yang radikal," ujar Ansyaad.

 

Ansyaad memang tidak menyebut nama. Namun, Amir Jamaah Anshorut Tauhid adalah Abu Bakar Ba''asyir. "Perintah berjihad bahkan kerap dilakukan lewat pesan singkat jihad yang dikirim dari penjara," ujar dia.

 

Adapun Ba''asyir sudah membantah tudingan adanya perintah jihad melalui pesan singkat. "Buktinya mana? Melalui sms? Kalau anak saya mengajurkan jihad, itu yang menyuruh Allah, bukan anak saya, bukan saya," ujar Ba''asyir melalui koleganya, Jumat lalu.

 

Ba''asyir menyatakan menolak revolusi atau jihad dengan senjata. "Kalau mau jihad harus di luar negeri, karena di Indonesia belum ada orang Islam yang siap untuk jihad," ujar dia.

 

Kepala Biro Penerangan Markas Besar Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan Thorik juga merencanakan aksi teror bom empat lokasi di Jakarta. Rencana itu terungkap saat Thorik diperiksa. "Thorik sendiri mengaku salah satu ''pengantin'' aksi bom bunuh diri penyerangan di empat lokasi itu," ujar Boy dalam keterangan pers di kantornya kemarin.

 

Boy mengatakan, kelompok teror ini memang menjadikan aparat kepolisian sebagai target penyerangan. Sedangkan penyerangan terhadap komunitas Budha, menurut Boy, karena rasa solidaritas umat muslim Rohingya di Myanmar. "Mereka mau menuntut ketidakadilan yang terjadi terhadap muslim Rohingya," kata Boy.

 

Para tetangga seakan tak percaya jika Thorik menjadi calon pengantin bom bunuh diri. Yanto menilai Thorik tak menunjukkan gelagat tersebut. "Dia kan juga punya tanggungan keluarga," kata Yanto, pemilik warung nasi di depan rumah Thorik, kemarin.

 

Keheranan tetangga bertambah karena Thorik berlatar belakang keluarga pengajar agama. "Saudara-saudaranya pengajar di bidang agama," kata Subagyo, Ketua RT 2 di kawasan itu.

 

Ada Upaya Identikkan Teroris dengan Islam

 

Menyusul maraknya kembali isu terorisme di Indonesia, anggota Fraksi PKS DPR, Indra, mengatakan, ada upaya sistematis yang terus- menerus mengidentikkan terorisme dengan Islam, pesantren, aktivis Islam dan simbol-simbol keislaman lainnya.

 

"Padahal tindakan terorisme, sebagai bentuk tindakan teror bisa dilakukan siapa saja dan agama apapun," kata Indra, di Jakarta, Senin (10/9).

 

Menurutnya, fakta yang ada, yakni tindakan teror berupa penembakan dan pembunuhan atas warga sipil dan aparat kepolisian/militer yang terjadi di Papua, tidak disebut sebagai tindakan teroris atau teror yang dilakukan RMS di Maluku juga tidak disebut sebagai teroris, dan sebagainya.

 

"Jadi jika sampai saat ini tindakan teror masih terus terjadi, jangan lantas pemerintah bersikap kalap dengan menyalahkan dan menyudutkan ulama atau agama Islam," katanya. Harus dipahami dan diingat terorisme tidak mengakar pada budaya Islam. "Islam adalah agama kasih sayang yang rahmatalil alamin," kata anggota DPR ini.

 

Indra juga apabila penanggulangan terorisme masih berorientasi "proyek dana asing" dan terus menyudutkan serta mengkambing-hitamkan umat Islam, maka terorisme tidak akan hilang di bumi pertiwi ini.

 

"Sangat mungkin kebijakan pemerintah melalui BNPT & Densus 88 justru membuat 'semakin marak' tindakan terorisme," kata Indra. Dia berharap pemerintah harus jujur dalam mengungkap dan menganalisa sumber serta latar belakang tindakan terorisme. (IRIB Indonesia/MZ/RM)


source : indonesian.irib.ir
  608
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

      Kemenangan Revolusi Islam Iran Terinspirasi dari Revolusi Ahlulbait as
      Rezim AS, Simbol Kekerasan dan Pengobar Perang
      Ayatullah Hakim Nasehati Pemuda Irak untuk Jaga Persatuan
      Kehadiran Regional Bagian Elemen Kekuatan dan Keamanan Iran
      Pentingnya Pencegahan UU Negara Bangsa Yahudi
      Iran Jadi Negara Kelima yang Mampu Produksi Mesin Mutakhir HPGR
      Kehancuran Israel dengan Upaya Bangsa-Bangsa Muslim
      Pengiriman 120 Tim Rukyat Hilal 1 Syawal di Iran
      Fatwa 10 Marja Taklid mengenai Besaran Nominal Zakat Fitrah untuk Masyarakat di Iran
      Salat Idul Fitri 1439 H di Tehran akan Diimami Ayatullah Ali Khamanei

 
user comment