Indonesian
Wednesday 26th of June 2019
  979
  0
  0

Agama dan kejiwaan


Mengenai bagaimana hubungan antara agama dan psikologi, di sini kita bisa membagi aliran pemikiran yang ada menjadi tiga kelompok:

 

Kelompok tradisional sederhana; kelompok ini memiliki keyakinan tertentu akan ke-mistis-an suatu benda dan mereka meyakini khurafat, sihir dan semacamnya.

 

Kelompok atau aliran yang bersandar pada prinsip-prinsip falsafi, seperti Buda dan Kofusius; mereka melihat kesehatan seorang manusia melalui sudut pandang penyucian jiwa, kesesuaian diri dalam ikatan kehidupan sosial dan penerimaan derita.

 

Kelompok bertiga yang bertauhid, meyakini hari pembalasan dan kenabian, khususnya agama Islam; mereka berkeyakinan bahwa kesehatan jiwa dan raga seorang manusia bergantung pada tiga hal mendasar di bawah ini:

 

Pandangan dunia yang logis dan jelas;

 

Kekhilafahan Ilahi adalah predikat manusia;

 

Kembali kepada Tuhan dan membenahi prilaku;

 

Menentang khurafat batil;

 

Menentang keputus-asaan dan nihilisme.

 

Oleh karena itu aliran-aliran bertauhid, terutama Islam, dikenal dengan perhatiaannya terhadap penanganan masalah-masalah kejiwaan umat manusia serta memberikan solusi terbaik untuk ketenangan ruhani.[1] Kenyataan ini pun juga diakui oleh pakar-pakar psikologi seperti:

 

 

1. William James, bapak ilmu psikologi berkata:

 

“Jika kita ingin menyimpulkan ajaran-ajaran agama di dunia ini, tidak ada satu kalimat kesimpulan yang lebih baik dari: “Tak ada satu pun di dunia ini yang tidak berguna dan sia-sia; meskipun dunia dan seluruh isinya seakan berbicara sebaliknya.”

 

Hidup di bawah naungan agama memiliki dua kriteria menonjol: penuh dengan aktifitas serta kesibukan, dan kegembiraan serta ketenangan jiwa. Agama lah yang menentang khurafat dan kesia-siaan. Agama lah yang memerangi ketidak-relaan terhadap takdir dan suratan. Memang sebagian dari agama-agama menganggap alam dunia sebagai medan kesengsaraan, tapi ajaran ini bertujuan pada pensucian jiwa yang berujung pada suatu keajaiban: harapan dan kebahagiaan.”[2]

 

2. Carl Jung berkata:

 

“Dari setiap pasien yang pernah saya hadapi, tidak ada satupun di antara mereka yang problem utamanya bukan karena mengabaikan pandangan religius terhadap dunia (pandangan dunia religius—pent.). Dengan penuh kemantapan dapat dikatakan bahwa mereka sakit karena mereka tidak memiliki apa yang ditawarkan oleh agama-agama kepada para penganutnya. Nyatanya tidak ada satupun di antara mereka yang mendapatkan kesembuhan sebelum berlutut di hadapan agama.[3]

 

Seseorang yang memiliki pandangan religius terhadap dunia memiliki satu permata berharga; yakni sesuatu yang merupakan sumber keindahan dan kebahagiaan hidup baginya; ia memandang manusia dan kehidupan ini dengan pandangan terbaik. Orang seperti inilah yang dapat meresakan iman dan ketentraman. Lalu bagaimanakah mereka menganggap kehidupan beragama sebagai kehidupan yang hina, mengingkari efektifitas agama dalam kehidupan dan menyebut keimanan sebagai khayalan?”[4]

 

2. Abraham Maslow berkata:

 

“Menganut agama atau berkeyakinan bahwa dunia dan penghuninya adalah satu keutuhan yang bermakna, teratur dan memuaskan, tak diragukan memiliki kaitan dengan motifasi untuk berkehidupan aman dan tentram. Di antara agama-agama, sebagaimana yang diutarakan Carl Jung, agama-agama timur lebih menonjolkan kesempurnaan budayanya daripada agama yang lain. Agama banyak memenuhi kebutuhan manusia dan mengisi kekosongan-kekosongan yang dirasakan wujudnya. Agama dapat memberikan jawaban dari soal-soal yang diutarakan; ia memperjelas permasalahan, memberikan arahan dan menghadiahkan ketenangan, kekuatan serta harapan bagi manusia.”[5]

 

3. Bergson berkata:

 

“Untuk menghadapi hantaman-hantaman penuh bahaya dalam kehidupan ini, kita memerlukan sandaran ruhani.”[6]

 

[1] Moshavere va Ravan Darmani (Konsultasi dan Psikoterapi), Sayid Ahmad Ahmadi, halaman 806.

 

[2] Din va Ravan (Agama dan Jiwa), William James, halaman 14 dan 15.

 

[3] Din va Ceshmandazihaye Nov, Legenhausen, halaman 162.

 

[4] Ravanshenashi va Din (Psikologi dan Agama), Carl Jung, mukadimah.

 

[5] Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), Abraham Maslow, halaman 77; Behdasht e Ravani (Kesehatan Jiwa), Shamlou, halaman 357 – 359.

 

[6] Din va Ceshmandazihaye Nov, Legenhausen, halaman 162.

 

 

 

Dari buku Stress dalam Al Qur’an

 


source : http://hauzahmaya.com
  979
  0
  0
امتیاز شما به این مطلب ؟

latest article

      Apakah ada ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kaum Israel dan Palestina?
      Bagaimana pandangan Islam terkait dengan asuransi?
      Manakah yang lebih utama membaca al-Quran secara langsung melalui lembarannya atau melalui komputer ...
      Bagaimana pandangan para ahli tafsir terkait dengan apakah ayat Bismillah merupakan bagian surah ...
      Berapa kalikah nama Nabi Isa disebutkan dalam al-Quran?
      Apa perbedaan antara waqâr dan sakinah? Saya ingin tahu apakah terdapat ayat dan riwayat tentang ...
      Apa makna dari kesadaran diri menurut al-Qur’an?
      Apakah ada dalam al-Quran sebuah ayat yang berbicara tentang estetika dan keindahan?
      20 Pesan Imam Ali as
      Syiah di bawah naungan Imam Ali as

 
user comment